Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia

Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia
Nona Bird.


__ADS_3

Suara berisik para maid membersihkan mansion, ditambah kicauan burung menyambut sang mentari pagi, membangunkan Alisah. Ia mengerjap, perlahan membuka matanya. Seperti biasa Putri bungsu Leticia itu selalu bangun lebih pagi mendahului ketiga saudaranya.


"Oh sudah pagi, bukannya hari ini Daddy mengajak jalan-jalan menggunakan kapal pesiar Mommy?" Tangannya menyibak selimut, Alisha gadis periang. Putri bungsu nya itu tidak bisa diam. Dia melompat turun dari ranjang, berlari ke kamar sang kakak. Hari ini, ia sangat bahagia, karena ini pertama kalinya dia dan ketiga saudaranya diajak Jalan-jalan menggunakan kapal pesiar. Walaupun hanya dari Madrid ke Barcelona tapi cukup menyenangkan. Alisha penasaran, dia ingin tahu semewah apa kapal itu hingga Alfonso tidak pernah mengizinkan sembarangan orang masuk ke dalam kapal itu. Karena itu, semalam dia tidak bisa tidur, bahkan sang ayah harus berulang kali mengingatkan dia untuk cepat tidur.


Jump!


Sekali lompatan ia sudah turun dari ranjangnya.


Tok...tok...tok...


Tidak membutuh waktu lama Alisha sudah berada didepan pintu kamar Alicia. ia berdiri sembari menggerakkan kakinya, tidak sabaran menunggu pintu kamar dibuka oleh Alicia.


"Kakak.... Alicia De Armando." Dia membungkuk matanya mengintip lewat lubang kunci pintu, bibirnya ia dekatnya di celah pintu agar suaranya bisa menembus batas pintu itu.


Alfonso yang baru saja datang dari halaman belakang hanya bisa menghela napas, ia mengamati putri bungsunya.


"Hello...gadis Pemalas bangun." Kali ini dia menempelkan telinga dipintu berharap sang kakak bisa bangun.


Alfonso mendekati Putrinya. Gadis berusia dua belas tahun itu tidak menyadari kehadiran sang ayah. Alfonso berjalan mengendap-endap berusaha putrinya itu tidak mendengar langkahnya. Tangannya mengetuk-ngetuk punggung Putrinya.


"Ais...ganggu aja." Alisha menyingkirkan tangan itu dari bahunya tanpa ia menoleh, siapa yang sedang berada di belakangnya.


Alfonso menggelengkan kepala, dia tidak habis pikir kenapa Alisha tidak bisa diam, atau sekali saja tidak mengganggu ketiga kakaknya tidur?


"Bukannya hari ini, hari minggu, Nona Bird? Lalu mengapa kamu sudah berada didepan pintu kamar kakakmu?" Alfonso menautkan kedua alisnya, dengan kedua tangannya dilipat didadanya. Pria paruh baya itu memiliki panggilan nama kecil khusus untuk Alisha. 'BIRD' yang artinya burung kecil.


Benar. Alisha seperti burung, tidak bisa diam terbang dari dahan satu berpindah ke dahan yang lainnya, belum lagi ia mengibas-ibaskan ekornya sembari bersiul memamerkan suara indahnya. Sama seperti Alisha, beruntung gadis itu tidak memiliki sayap seperti julukan yang diberikan sang ayah, jika tidak bayangkan saja betapa repotnya Alfonso mengatasi Putrinya itu.

__ADS_1


Pria itu baru saja pulang dari makam sayang istri. Rutinitas Alfonso setiap pukul lima pagi, mengunjungi makam Leticia. Ini yang ia lakukan sejak ditinggal mati sang istri delapan tahun silam.


"Daddy?" Perlahan dia membalikkan tubuhnya menatap sosok pria paruh baya itu.


"Hmmm..." Alfonso menaikkan satu alisnya.


"Sorry, Sha hanya ingin bangunin Kakak." ucapnya sembari memamerkan deretan gigi putihnya.


"Kenapa? Bukannya hari ini, hari libur sekolah? Hari Minggu, 'kan?" Alfonso tersenyum.


Dia selalu dibuat kewalahan mengatasi kecentilan putri bungsunya. Bahkan di sekolah banyak guru sering mengeluh tentang Alisha. Bukan nakal, tapi dia selalu menghajar teman kelasnya jika ada yang berani mengganggu dia atau sang kakak Alicia.


"Daddy? Daddy tidak sedang bercanda, 'kan? Bukannya Daddy sudah janji hari ini kita akan jalan-jalan menggunakan kapal Mommy?" cebik Alisha. Raut wajah kecewanya terlihat jelas.


"Daddy, pernah janji? Kapan? Ahh..Daddy lupa." Alfonso menahan tawanya. Duda mafia ini sangat senang menggoda keempat anaknya.


"Ternyata, Daddy benar-benar sudah tua!" Bagaimana dia tidak kesal, Daddy Alfonso dengan mudahnya melupakan janji? Apakah dia tidak tahu? Alisha sudah menyusun banyak rencana. Dia bahkan sudah menyiapkan camera terbaiknya. Alisha, memang sangat menyukai di potret, bahkan baru berusia tujuh tahun pun dia sudah menjadi model sabun mandi anak, parfum bahkan kemarin menjadi model di sebuah les privat bahasa asing anak-anak.


"Ya, Daddy memang sudah tua. Anak Daddy sudah berusia dua belas tahun Daddy sudah lima puluh delapan tahun. Wajar, jika Daddy sekarang pelupa."


"Sungguh? Daddy butuh obat?" Alisha Benar-benar percaya. Dia menatap wajah sang ayah, sosok yang menjaga dia dan ketiga saudaranya dari bayi hingga sekarang mereka berusia dua belas tahun. Cinta Alfonso laksana air yang mengalir tanpa henti didera musim. Dua belas tahun menjadi sosok ayah, delapan tahun menjadi sosok ayah sekaligus ibu. Banyak hal yang sudah diberikan oleh sang ayah kepada mereka. inspirasi mengenai apa yang harus dilakukan ataupun hal lainnya menjadi pemandangan yang begitu umum. Mereka berempat tumbuh dengan meniru apa yang Alfonso lakukan karena Alfonso adalah panutan.


Alfonso memang memiliki cara tersendiri bagaimana ia akan mencintai anaknya. Cinta yang diberikan oleh seorang ayah memang berbeda dengan cinta dari seorang ibu. Hanya saja cinta seorang Alfonso mampu menguatkan mereka dari kesedihan yang mendalam di delapan tahun silam itu.


"Tidak. Daddy hanya ingin secangkir kopi panas." Alfonso tertawa dia membawa putrinya ke dalam dadanya.


"Daddy, bercanda nya nggak lucu" Alisha ingin menangis. Dia baru sadar di kerjain sang Ayah.

__ADS_1


"Maafin Daddy sayang." Alfonso mengecup ujung kepala Alisha.


♥️♥️♥️♥️


Aleijo, sudah selesia mandi. Walaupun hari minggu dia masih menyempatkan diri untuk belajar sebentar. Sementara ketiga saudaranya sudah menunggu dia di ruang tamu bersama Alfonso, bersiap-siap untuk berangkat menuju pelabuhan.


"Alonzo, tolong lihat kakakmu dikamarnya, apakah sudah bangun atau belum? Jika belum, biarin aja mungkin kakakmu semalam belajar sampai pagi,"


Alfonso memang tahu, karena setiap malam sebelum tidur dia selalu mengawasi anak-anak.


"Baiklah." Alonzo pun berdiri dari sofa, ia berjalan ke kamar sang kakak.


Tok tok tok...


"Kakak, yuk berangkat." panggil Alonzo.


Namun, terdengar dari depan pintu. Ada suara yang sedang menelpon. Mungkin kah itu Aleijo?


"Aku hanya dua malam. Apa kamu juga ingin ikut bersamaku?" ucap Aleijo melalui sambungan telepon.


"Izin dulu kepada kedua orang tuamu. Jika, mereka mengizinkan aku akan bilang ayahku untuk menjemput kamu juga,"


Alonzo mengernyit, kakak nya itu menelpon siapa? Bukankah usai mereka baru dua belas tahun lalu kenapa terdengar dari percakapan tadi kakaknya begitu dewasa? Siapa yang ditelepon Aleijo?


"Kakak, yuk berangkat." ucapnya sekali lagi.


"Ya, ya! Kakak datang," Aleijo membuka pintu.

__ADS_1


Brugh....


__ADS_2