Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia

Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia
Balon rindu.


__ADS_3

Pukul 15:00 tepat.


Acara peringatan kematian Leticia sedang berlangsung keempat anak bersama Alfonso duduk dibagian depan makam, para tamu dan saudara serta sahabat mereka berada di tenda bagian sisi kiri makam.


Sepanjang proses misa peringatan, Karla, Stefani, Nabila dan Felisia tak hentinya menangis. Bagaimana tidak menangis, layar berukuran besar yang berada di depan mereka itu, menampilkan foto-foto Leticia bersama keluarga, bahkan di saat terakhir dimana Alfonso setia mengurus sang istri hingga Leticia pergi meninggalkan mereka semua untuk selamanya pun ada.


Alfonso berulang kali menahan butiran kristal itu, tapi lagi-lagi ia kalah. Butiran kristal itu jatuh membasahi pipinya.


Suasana haru menghiasi acara peringatan kematian Leticia. Akhirnya puncak acara pun tiba. Keempat anak Leticia dan Alfonso diminta berdiri lebih dulu, lalu disusul sahabat dan orang tua Leticia.


Lima balon dan lima kertas kosong disediakan oleh MC, dia memberikan kepada Alfonso, sebagai simbol sedangkan sahabat nserta orang tua Leticia mengambil balon dan kertas di tempat yang sudah di sediakan.


"Silakan, ditulis dulu isi hati Tuan dan anak-anak. Nanti kertasnya akan di ikatkan bersama balon lalu diterbangkan ke atas udara, semoga dengan cara ini Mommy Leticia, bisa tau betapa semua yang disini sangat merindukan dia yang disana."


Alfonso pun menganggukkan kepalanya, lalu ia menerima pena dan kertas itu, dia mulai menulis sesuai apa yang dia rasakan dihatinya selama ini.


"Sayang... apakabar? Pasti kamu ingin tau kabar aku dan anak-anak kita? kami baik-baik saja. Tapi, aku tidak baik-baik saja, aku merindukan dirimu. Sungguh, aku rindu semua yang ada pada dirimu. I love you Leticia ku, I Love you ibu dari anak-anakku, bahagia di surga tunggu aku di sana."


Alfonso mengikat kertas itu di balon berwarna putih. Begitupun dengan anak-anaknya mereka sudah selesai menulis walaupun tulisan acak-acakan namun isinya sangat menarik.


"Mommy...kapan pulang kami rindu Mommy. Mommy apa surga itu indah? Sehingga Mommy tidak ingin kembali?kami Kangen Mommy!"


Setelah melihat isi surat dari anak-anak, seulas senyum terukir di bibir Alfonso, ia pun mengusap rambut anak-anaknya.


Jujur seandainya boleh dia menangis dan berteriak, Alfonso ingin mengatakan kepada dunia, 'Sungguh dia merindukan istrinya, dia tidak tega melihat anak-anaknya percaya semua ucapannya, bahwa ibu mereka hanya jalan-jalan di surga.'


Semua kertas sudah di ikat di balon masing-masing, mereka mengikuti aba-aba dari MC.


"Satu....dua...tiga....terbangkan balon nya. Please say together,"


"'We Miss you Mommy'" seru anak-anak Alfonso.


Balon warna-warni itu dilepaskan ke atas udara bersama hembusan angin kencang, perlahan balon itu di bawa angin semakin tinggi dan tinggi. Semua memandangi balon itu mengikuti kemana angin membawa balon itu pergi. Bukan hanya lima balon namun semakin banyak balon menghiasin langit biru, banyak cinta, banyak rindu dari sahabat keluarga untuk Leticia. Balon-balon itu seakan berlomba-lomba siapa yang lebih dulu diraih dan dibaca oleh Leticia.


Akhirnya, mereka pun kembali ke kursi masing-masing, Alfonso menghela napas dia menganggukkan kepalanya kepada Alonzo, meminta anak lelaki keduanya itu mendekatinya.


"Are you okey?" tanyanya seraya membawa Alonzo kedalam pangkuannya. Alfonso tau yang Alonzo sangat sedih namun anak itu pintar mengendalikan emosinya.


"Yeah Daddy i'm little fine," bisiknya sembari menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa hanya sedikit? Ada apa dengan jagoan Daddy ini?" Alfonso mengecup lembut kepala Alonzo.


"Apa benar Mommy akan baca surat itu?" Tatapannya sendu menatap Alfonso.


"Iya sayang, Mommy pasti baca," Alfonso membawa Alonzo ke dalam dadanya. Rasanya dia ingin marah namun kepada siapa? Aleijo belum sembuh sedangkan dia selama ini mengabaikan Alonzo padahal anak ini juga membutuhkan perhatian dari dirinya. Alfonso pikir Alonzo anaknya kalem jadi dia pasti baik-baik saja. Tapi, nyatanya? Hari ini Alonzo bertanya, ' Mommy bisa baca surat dari mereka'


"Hufftt..." Alfonso menghembuskan nafas kasar.


Hingga ia tidak sadar ada Kevin yang sedang berdiri di belakangnya.


"Jangan pendam sendiri, ceritakan kepada kami juga siap tau bisa meringankan bebanmu." Kevin tersenyum, tangannya menepuk punggung Alfonso.


Alfonso melirik, dia mendongak menatap Kevin. Sahabatnya.


"Vin...bantu aku lihat para tamu undangan yang di mansion, jika ada yang mau pulang jangan lupa berikan mereka amplop dan bingkisan, semua harus dapat tanpa terkecuali," ucapnya lalu ia menundukkan kepalanya. Alfonso mengecup ujung kepala Alonzo.


"Baik. Aku ke dalam dulu. Jangan berlama-lama disini, kasihan anak-anak, ini sudah mulai senja," balas Kevin, dia menepuk pundak Alfonso lalu pergi meninggalkan Alfonso bersama keempat anaknya mungkin mereka butuh privasi sendiri di makam Leticia.


"Terima kasih," ucap Alfonso.


"Sama-sama," balas Kevin.


Di dalam mansion semua sedang menikmati makanan yang dihidangkan, dari chef ternama. Para tamu undangan yang mau pulang diberikan amplop serta bingkisan.


Setelah merasa cukup mereka berbicara dengan Leticia. Selain itu, matahari pun mulai mengundurkan diri dari peraduannya ia perlahan menghilang dari gulungan awan berpamitan kepada bumi. Alfonso berdiri, dia mengajak keempat anaknya pulang.


"Pamit sama Mommy dulu," ucap Alfonso kepada keempat anaknya. Dia pun memberi contoh mengecup lukisan sang istri lebih dulu.


Keempat anaknya mengikuti sang Ayah, mengecup lukisan Leticia lalu mereka pun kembali ke mansion.


"Daddy..."


"Iya..."


"Apakah Mommy sudah terima balon kita?" tanya Alisha.


"Sudah, " jawab Alfonso dia tersenyum.


"Pasti mommy sementara baca surat dari kita," sahut Alicia.

__ADS_1


"Iya itu pasti. Mommy pasti sedang tersenyum, mengecup satu-persatu surat dari kita." Mata Alfonso menerawang, membayangkan sang istri sedang duduk di sofa dengan kaki kanan di naikkan diatas kaki kiri lalu Leticia membaca surat dari dia dan anak-anaknya, kemudian Leticia mencium surat itu.


"Daddy...Daddy!" panggil Aleijo.


Putra sulungnya itu sedang menjerit karena tersandung tangga lalu jatuh. Alfonso yang sedang membayangkan istrinya menerima dan membaca surat dari dia dan anak-anak nya tadi, hingga tidak mendengar putra sulungnya memanggil dia.


"Daddy..." panggil Alisah, seraya menarik tangan Alfonso.


"Kakak jatuh," sambung Alisha sembari menunjuk ke arah Aleijo yang sedang menangis.


"Oh... sayang. Maafkan daddy. Sungguh, Daddy tidak melihat kamu jatuh."Alfonso menggendong Aleijo.


Aleijo mengangguk seraya tangannya memeluk leher Alfonso. Lalu, mereka pun tiba di dalam Mansion.


Setelah melihat Alfonso datang, Romo dan kelima belas anak panti pun pamit.


"Ayah...Terima kasih," ucap kelima belas anak itu, lau mengecup punggung tangan Alfonso.


"Okey... hati-hati dijalan. Jangan, lupa pesan Ayah tadi." Alfonso tersenyum seraya mengusap rambut anak panti itu bergantian, tidak lupa ia memberikan amplo serta bingkisan.


"Siap. Kami janji, Ayah pun janji nanti menjenguk kami di panti," sahut Felix.


"Siap!" Alfonso tertawa.


♥️♥️♥️♥️


Semua tamu undangan sudah pulang tinggal keluarga inti dari kelompok mafia Red Devil.


Para pria duduk di ruang keluarga, mereka menikmati wine serta membahas pekerjaan.


Sedangkan anak-anak sibuk dengan urusan mereka sendiri. Berkejaran ke manapun mereka mau, untuk menghindari teman lain menangkap mereka. Tidak terkecuali Clarinda.


Putri sulung Nabila itu,sedang menjadi pusat perhatian seorang pria. Pria itu. terus memandangi Clarinda, cangkir wine demi cangkir ia teguk tanpa melihat isi cangkir penuh atau setengah.


"Hei...anak cantik kemarilah," panggil pria itu kepada Clarinda.


Sayangnya. karena asyik bermain Clarinda mengabaikan panggilan pria itu. Kevin meremas cangkir wine nya, dia menatap pria itu penuh emosi. Bukan, karena pengaruh alkohol tapi dia tidak bisa menahan emosi melihat reaksi pria itu terhadap Clarinda.


"Anak manis...Kenapa kau mengabaikan ku? Kau tau? Sudah empat tahun lamanya aku menahan rindu ini." Air mata pria itu pun mengalir membasahi pipinya, cangkir yang berada di tangannya di letakan dengan sangat kasar diatas meja.

__ADS_1


plak....


__ADS_2