
"Tuan!" Bale masuk menundukkan kepala.
" Hmm..ada apa, Bale?" Tanya Alfonso.
" Dokter Cathlyn bersama seorang wanita sedang menunggu didepan pintu." lapor Bale.
" Antar, 'kan mereka masuk," titah Alfonso.
Glen dan Mason saling menatap. Kenapa Cathlyn datang malam-malam seperti ini? Bukannya Alfonso sudah berulang kali menolak dia? Lalu?
"Dokter Cathlyn?" Glen menatap Alfonso dengan tatapan sulit di mengerti.
"Ya.Tadi siang aku minta tolong Cathlyn cari, 'kan psikiater terbaik untuk Aliejo dan Alisha," Jawab Alfonso cuek.
Glen hanya menjawa 'O' begitupun dengan Mason.
Melihat Bale masih berdiri mendengar pertanyaan tidak penting dari Glen dan Mason. Alfonso menatap tajam Bale.
"Masih ngapain, di sini?" ucap Alfonso menatap tajam Bale.
"Baik.Tuan." Bale bergegas pergi ke depan menemui Dokter Cathlyn dan wanita itu lagi.
"Dok, mari saya antar. Tuan, sudah menunggu di ruang keluarga." Bale mempersilakan Dokter Cathlyn dan wanita itu, masuk ke mansion.
"Terima kasih, pak. Permisi," ucap Dokter Cathlyn.
"Sama-sama." balas Bale.
Dokter Cathlyn bersama Wanita itu pun masuk menemui Alfonso di ruang keluarga. Alfonso, Mason, Glen berdiri menyambut kedatangan Dokter Cathlyn dan wanita itu. Sedangkan, anak-anak sedang belajar di ruang belajar ditemani Felisia dan Stefani.
"Selamat malam," sapa Dokter Cathlyn dan wanita itu bersamaan.
"Malam juga, Dokter," jawab ketiga pria mafia itu bersamaan.
"Perkenalkan ini Psikiater. Psikiater yang saya jelaskan kepada Tuan melalui sambungan telepon tadi," Jelas dokter Cathlyn. Lalu, ia melirik Merry sembari menganguk meminta Merry untuk berkenalan.
"Merry," ucap Merry, seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Alfonso. Samping kiri saya Glen dan samping kanan saya mertua saya bernama Daddy Mason,' Alfonso memperkenalkan mertua dan sahabatnya itu, seraya menyambut hangat uluran tangan Merry.
"Silakan duduk," sambung Alfonso lagi.
"Terima kasih," jawab dokter Cathlyn dan Merry bersamaan.
Mereka pun kembali duduk di sofa. Alfonso menggosok dagunya, matanya melirik Merry. Lama terjun di dunia hitam membuat Alfonso paham akan karakter manusia. Beberapa menit kemudian yakin akan semua ucapa Dokter Cathlyn Alfonso menghela napas.
__ADS_1
"Sudah lama jadi psikiater?" selidik Alfonso
"Saya jadi Psikiater anak, sejak saya berusia dua puluh dua tahun. Pendidikan terakhir saya strata tiga di sekolah psikologi Jerman. Kantor saya dua killo meter dari mansion tuan. Jika, Tuan, berkenan bisa mampir di kantor saya ajak juga anak-anak," lanjut Marry.
"Baik. Saya akan usahakan untuk mampir di kantor Ibu." jawab Alfonso.
" Jadi, gini saya minta dokter Cathlyn anggil Ibu ke sini karena anak saya Aliejo dan Alisha Anak saya, mengalami trauma mental. Siang tadi terjadi salah paham di Mansion mertua saya. Kami juga tidak menduga akan terjadi hal buruk itu." Cerita Alfonso panjang lebar.
Merry dan dokter Cathlyn fokus mendengar cerita Alfonso.
"Baik. Saya paham. Jika di izinkan bolehkah saya melihat anak Aleijo dan Alisha?" tanya Merry.
"Boleh. Mereka sedang belajar dikamar belajar. Apa saya ajak kesini atau kita ke kamar belajar mereka saja?" Alfonso balik bertanya.
"Sebaiknya kita ke kamar belajar saja, Tuan." Jawab Merry.
"Baik. Mari... silakan ikut saya," sahut Alfonso.
Alfonso, Dokter Cathlyn dan Marry. Mereka bertiga berjalan menuju ruang belajar anak-anak. Alfonso terus menceritakan mental Aleijo kepada Merry. Tapi, ada yang berbeda dengan Dokter Cathlyn. Wanita itu sedaritadi tidak fokus, tangannya keringat dingin berada di samping Alfonso.
"Dokter, Kenapa?" Tiba-tiba Alfonso bertanya.
"Tidak! Saya tidak kenapa-kenapa." bohong Dokter Cathlyn.
Alfonso tersenyum mendengar ucapan Cathlyn.
Merry tersenyum, " Untuk malam ini saya hanya lihta dulu besok sore saya ke sini lagi untuk lakukan terapi," sambung Merry.
"Baiklah. Ini kamar anak-anak," sambung Alfonso. lalu ia mengetuk pintu kamar belajar.
Tok..tok...tok...
Alfonso mengetuk pintu kamar.
"Oma..siapa itu?" tanya Alisha. Ia melirik kesana- kemari kemudian berlari ke arah Stefani.
"Mama gendong," rengek Alisha.
Begitu pun, Aleijo. Anak itu berlari memeluk Felisia ketika mendengar pintu diketuk. Matanya melirik kesana kemari ketakutan. Felisia mengusap lembut rambut pirang itu, lalu mendekap Aliejo hangat.
"Jangan takut, itu pasti Daddy," bisik Felisia.
Aliejo menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Felisia, "Nggak. Jo takut!" sahut Aliejo menggeleng.
"Sha...buka pintunya ini Daddy sayang," panggil Alfonso dari luar.
__ADS_1
" Daddy... Mama Fani!" ucap Alisha.
Alicia segera berlari menuju pintu tangannya menarik handle pintu.
Mata Aleijo mengawasi sang adik.
" Terima kasih sayang," ucapa Alfonso.
"Sama-sama Daddy. Loh ada dokter Cathlyn dan temannya," Alicia langsung menatap Dokter Cathlyn.
" Iya dokter Cathlyn mau bermain dengan anak-anak Daddy," jawab Alfonso.
Sementara Aleijo semakin mengeratkan pelukannya dipinggang Felisia. dia menyembunyikan wajahnya di dalam dada Felisia. Stefani sudah menahan air matanya, dia tidak tega melihat kondisi Aleijo.
Stefani pikir Aleijo, tidak takut separah ini terhadap orang asing. Tadi, mendengar cerita Alfonso , Stefani pikir takutnya anak-anak seperti biasa mereka melihat ular atau dimarah.
Alfonso, meraih Aliejo dari gendongan Felisia.
"Sini sama Daddy, hm?"
"No...Jo disini aja," tolak Aliejo. Ia masih terus menutup wajahnya .
"Hallo perkenalkan, nama tante, Merry!" Merry tersenyum manis.
Jika bertemu dengan anak kecil Merry selalu berubah menjadi teman anak kecil. Agar itu tidak takut atau segan bercerita tentang apa yang mereka rasakan.
"Nama saya Alisha. Purti Daddy Alfonso," Alisha memperkenalkan dirinya. Suaranya cempreng dan cedal khas anak-anak membuat Merry gemas ingin mencubit pipi chubby itu.
" Wow...nama yang indah." Merry mendekati Alisha dia meraih kedua tangan kecil itu lalu menggenggam. Tentunya sebelum menyentuh Alisha , Merry melirik Alfonso untuk izin apakah boleh atau tidak.
"Terima kasih. Kata Daddy, nama ini mommy yang pilih," cerita Alisha lagi.
"Oh..ya. berarti momy Alisha cantik dong," Merry mulai bertanya dia memperhatikan mata dan gerak gerik Alisha.
"Mommy ku tercantik." Alisah melepas tangannya dari genggaman Merry dia menunjukkan kearah di dinding dimana terpasang lukisan Leticia.
Mata Merry mengikuti jari telunjuk kecil itu. Ia menatap Leticia penuh kagum. Wanta cantik, penuh senyum.
" Wow cantik sekali," Merry menirukan bahasa anak-anak.
" Iya..mommy ku cantik karena itu mommy diajak Tuhan jalan-jalan ke surga. Di sana banyak bunga' yang disukai mommy. Makanya, mommy belum pulang berkumpul dengan kami lagi," suara cempreng dan melengking, akhirnya pelan berubah jadi lirihan diiringi tesam air mata.
"Alisha harus percaya. Mommy nggak pulang bukan berarti mommy nggak sayang Alisha atau kakak-kakak Alisha dan Daddy. Tapi, mommy di surga supaya mommy bisa mendoakan Alisha dari surga." Merry menyentuh kedua bahu kecil itu. Akhirnya Alisha menjatuhkan tubuh kedalam pelukan Merry dagunya itu topang di bahu lebar Merry.
Ruangan itu penuh haru. Anak berusia empat tahun itu mengungkapkan isi hatinya selama ini yang pendam. y Alfonso sendiri pun tidak mengetahui itu semua.
__ADS_1
Sementara Aleijo hanya melirik, wajahnya masih ia tutupkan didada Felisia.
" Oma...suruh mereka pergi . orang-orang jahat itu kenapa suruh ke kamar sini," protes Aleijo.