
"Jalan!" perintah Gareth. Dia sudah tiba juga di markas hutan Pinus. Jomblo sejati itu menarik kasar tangan salah satu anak buah dari musuh mereka.
"Le...mm..pas..kaaann!" Pria yang berbadan kekar itu menolak. Dia tidak bisa bicara karena mulutnya sudah di sumpal kain.
"Jangan melawan!" Ethan langsung menendang di bagian pan***tat pria itu hingga tersungkur.
Lalu, Ethan menarik bagian belakang bajunya dengan kasar memaksa untuk berdiri dan berjalan lagi.
Berbeda dengan ketiga lainnya, mereka tidak menolak hanya menurut ke mana mereka akan dibawa.
Krakk....
Salah satu anak buah Alfonso membuka rantai yang terikat di gagang pintu besi itu. Ruangan pesakitan. Di mana ruangan ini tempat untuk menyiksa para musuh, disuntik racun, dipotong-potong bagian tubuhnya hingga tak berdaya lalu dikeluarkan organ mereka secara sadis.
"Masuk!!!" perintah Ethan.
Ethan dan Gareth mendorong kasar tubuh kelimanya masuk ke ruangan gelap itu. Bahkan kelimanya sampai tersungkur dilantai karena kerasnya dorongan kasar dari Ethan dan Gareth.
Anak buah Alfonso yang lainnya kembali berjaga didepan pintu dengan senjata siap menembak. Wajah mereka dingin seperti es balok tidak ada senyum sama sekali.
Gareth dan Ethan mulai mengikat kelimanya dikursi pesakitan. Mata mereka masih ditutup, mulut masih di sumpal. Berharap ada lampu untuk menerangi ruang itu pun percuma. karena, mereka tidak bisa melihat apapun.
Satu-persatu dipaksa duduk di kursi lalu tangan mereka diikat kebelakang rapat dengan kursi, bagian pinggang pun di ikat dengn tali rapat dengan senderan kursi hingga salah satunya memekik kesakitan. Bahkan, kakipun diikat rapat dengan kursi. Red devil akan kembali bangkit?
"Tunggu sang penentu nasib kalian masih merawat anaknya yang nyaris kena peluru dari kalian!" Gareth tersenyum sinis. Kemudian, satu kakinya melayang tepat di pipi salah satu musuh itu.
Brugh...
Pria itu jatuh bersamaan dengan kursi.
"Auh..." Runtuh pria itu.
Lalu dengan kasar Gareth mengangkat kursi. Kepala prianitu tertunduk, pasrah, sakit dan tak berdaya.
Ruangan ini sengaja Alfonso buat untuk menyiksa musuh sebelum diambil organ tubuh. Ruangan ini hanya di kasih satu buah kipas angin besar. Pergantian udara? Hanya masuk lewat sebuah ventilasi kecil yang bentuk bulat di dinding sekaligus untuk sinar matahari masuk sebagai penerang.
Setelah semua sudah diikat dengan benar. Gareth dan Ethan meninggalkan tawanan mereka.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Mansion Mason.
Drtthh...
Ponsel mahal milik Alfonso berdering.
Alfonso mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Dia menggeser layar ponsel itu lalu menempelkan di telinga bagian kirinya. Wajahnya tampak sangat kwatir.
(PENCETGAMBARNYA)👇.!!!
"Hallo..." jawab Alfonso.
"Al..semua sudah kami lakukan. Kira-kira kapan akan di eksekusi?" tanya Gareth melalui sambungan telepon seluler.
"Nanti aku kabarin lagi. Kamu bermain-main dulu dengan mereka.Aku masih tunggu Aleijo sadar. Kasihan jika aku meninggalkan dia disini, mentalnya akan semakin terganggu." Alfonso menyugar rambutnya.
Satu jam sudah Aleijo berbaring. Bola mata bocah empat tahun itu mulai bergerak, dahinya itu berkerut seakan dia sedang ketakutan. Alfonso segera berbaring di samping Aleijo, tangannya mengusap rambut Aleijo dengan lembut.
"Daddy..." lirih Aleijo.
"Sayang...Jangan takut Daddy disini."
Cup
Alfonso mengecup lembut kening Aleijo. Tangannya memeluk erat tubuh Aleijo masuk ke dalam pelukannya.
"Daddy disini...tenanglah anakku!" bisiknya pelan ditelinga Aleijo.
Aleijo membuka mata setelah merasakan napas sang Daddy tepat ditelinganya.
"Daddy kita pulang saja. Jo takut di sini." Matanya menatap dalam Alfonso. Ada ketakutan terpanxar di bola mata biru laut itu. Ayah empat anak itu tersenyum dia mengangguk setuju namun tidak bisa dipungkiri rahangnya kini mengeras, amarahnya tidak tertahankan lagi.
"Okey...tapi kita tunggu Alisha bangun dulu ya,hmm?" ujar Alfonso. Bibirnya terus melengkung manis.
__ADS_1
"Baiklah." Aleijo mengangguk.
"Jagoan Daddy...kamu tidak apa-apa?" Alfonso tidur menyamping tangan satu memeluk putranya masuk ke dalam dadanya. Tangan kanannya menopang kepalanya untuk menatap Putra pertama buah cinta dia dan Leticia itu.
"Tidak! Tidak ada yang sakit. Aleijo hanya takut," keluh Aleijo. Dia mendongak menatap wajah Alfonso.
"Mulai hari ini dan seterusnya jangan takut lagi, karena sampai kapan pun Daddy tidak akan mengizinkan kamu keluar tanpa pengawasan Daddy, hmm?" Alfonso tersenyum.
"Alisha? Dia tidak apa-apa?" Bocah empat tahun itu memikirkan adik bungsunya. Adik yang selalu menjadi pusat perhatian dia dan dua adiknya tidak lupa Daddy Alfonso juga.
"Tidak. Alisha hanya takut sama seperti kamu." Alfonso menggeleng lalu dia menarik hidung mancung Aleijo.
"Kamu harus berani karena Jo, anak laki-laki. Daddy juga dulu kecil seperti kamu takut suara pistol tapi semakin besar Daddy perlahan menghilangkan rasa takut itu karena Daddy harus___" Alfonso menghentikan ucapannya. Dia memejamkan matanya sesaat, hampir kejadian menakutkan itu diketahui Aleijo.
"Argh," Alfonso merutuki dirinya yang tidak bisa mengontrol emosinya.
"Harus apa, dad?" Aleijo menuntut jawaban dari Alfonso.
"Belum waktunya kamu tau. Jika sudah waktunya baru Daddy ceritakan semuanya untuk kamu dan ketiga adikmu." jawab Alfonso lalu mengecup lagi kening putra sulungnya.
Mafia itu menarik napas seraya mengepal. Dia sudah tidak tahan lagi membiarkan kelima pria itu terus bernapas lega di dalam ruang pesakitan.
"Daddy...are you okey?" Aleijo memanggil Alfonso yang tengah mengelamun.
"Hmm..i'm fine!" Alfonso bangun dari ranjang.
"Kamu, berbaring dulu disini.Daddy masih telpon papa Glen sebentar. Daddy kwatir dengn kedua adikmu di sana." ujar Alfonso.
" Okey...Daddy!" Aleijo tersenyum.
"Anak hebat," Alfonso mengusap rambut Aleijo.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Yang kepo visual dan keseharian Daddy Alfonso dan keempat anaknya♥️🥰.
__ADS_1