
''Pagi, Dad.'' sapa keempat anaknya ketika Alfonso menarik kursi untuk duduk. Pagi ini Alfonso berencana setelah mengantarkan anak-anaknya ke sekolah ia akan ke kantor karena ada rapat Direksi akhir tahun yang mengharuskan Alfonso harus hadir.
''Pagi juga sayang.'' balas Alfonso. Ia duduk di kursinya.
''Yuk sarapan. Daddy harus ke perusahaan setelah mengantar kalian ke sekolah.'' ujar Alfonso sembari menyuapkan pizza ke mulutnya.
''Hari ini daddy ke perusahaan? Tumben daddy ingat kalau ada tanggung jawab diperusahaan.'' ledek Alisha. Matanya melirik ke arah sang ayah sembari tersenyum. Mafia itu balas tersenyum sejak ia ada ada istri dan anak image es kutub dan Mafianya sama sekali tidak berarti didepan istri dan keempat anaknya.
''Dek...'' Aleijo langsung menegur sang Adik bungsu. Dia tidak suka mendengar sang adik yang selalu bercanda tidak melihat siapa yang diajak bercanda.
''Ya, maaf. Dasar calon dokter kaku, bercanda aja nggak boleh.'' gerutu Alisha.
Alfonso hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan drama pagi anak-anaknya. Sudah menjadi sarapan Alfonso setiap pagi atau setiap siang pulang sekolah selalu ada drama saling debat siapa lagi jika bukan Alisha yang lebih dulu menggoda.
Selesai sarapan Aleijo, Alicia, Alonzo dan Alisha mengikuti langkah Alfonso berjalan ke depan Mansion menuju mobil. Hari ini mereka ujian terakhir yang artinya sebentar lagi mereka akan kuliah.
''Tapi siang Daddy tetap jemput, 'kan?'' Alisha berjalan cepat dia berjejer dengan Alfonso menuruni anak tangga menuju halaman depan mansion.
''Ya Daddy yang jemput. Rapat mungkin hanya satu atau dua jam, sayang.'' Alfonso menoleh menatap putrinya sebentar kemudian kembali melihat ke depan seraya membuka pintu mobil.
''Baiklah. Sha hanya memastikan saja. Kwatir tiba-tiba Daddy merubah rencanakan kita nggak tau.'' Alisha menaikkan kedua bahunya. Dia lalu masuk ke dalam mobil juga kemudian tangannya kembali menutup pintu mobil.
''Dek kamu itu ya pagi-pagi nggak bikin ribut nggak bisa ya?'' sela Alicia.
Karena, dia sudah tahu tujuan pembicaraan Alisha ke mana.
"Nggak bisa. Emang nggak boleh pastikan Daddy bisa jemput atau nggak? Jika ngga bisa kan Sha bisa minta tolong pacar Sha jemput kita pulang." sahut Alisha santai.
"Ehehm...sekolah dulu yang benar. Jangan pacaran terus Daddy kasih izin bukan berarti kalian bisa bebas dan melupakan tugas utama kalian sebagai pelajar." jelas Alfonso. Ia membelokkan mobilnya masuk ke halaman sekolah.
"Ya. Maaf." Alisha menunduk.
Akhirnya semua diam karena mobil sudah berhenti didepan sekolah. Security yang berjaga di depan pintu gerbang sekolah bergegas lari mendekati mobil Alfonso kemudian ia membukakan pintu mobil untuk anak-anak Alfonso.
"Pagi, Tuan." sapa Security itu kapda Alfonso.
__ADS_1
"Pagi."
"Pagi pak Pique." sapa anak-anak.
"Pagi juga Nona cantik."
"Semoga bisa." Alfonso mengecup ujung kepala anak-anaknya. Dia berharap anak-anak dapat menyelesaikan tugas ujian akhir dengan baik.
"Siap Bos." Alisha tersenyum. Dia lalu menempelkan kepala sebentar di dada sang Ayah.
Setelah memberikan kecupan di ujung kepala keempat anaknya. Alfonso kembali ke dalam mobil sementara keempat anaknya masuk ke dalam kelas masing-masing. Hari ini ujian terakhir di sekolah ini nanti mereka akan melanjutkan kuliah entah dimana Alfonso masih bingung.
***
Tadi pagi setelah mengenakan baju seragam sekolah. Seperti biasa Alisha dan Alicia berjalan menuju ruang makan namun ada suara obrolan melalui sambungan telepon yang menggangu pendengaran mereka.
''Ya nanti saya usahakan mampir di rumah sakit.''
''Ahhh...masa separah itu? Menurut kamu bagaimana?'' Alfonso menjawab lagi.
''Okey. See you.'' Alfonso kemudian mengembalikan ponselnya ke dalam kantong celananya..
Karena, tidak ingin tertangkap basah sedang menguping Alfonso menelpon keduanya menempelkan tubuh kecil mereka di dinding seraya menahan napas agar tidak ketahuan Alfonso.
Memastikan Alfonso kembali ke kamarnya keduanya berlari ke ruang makan seperti dikejar pocong.
''Dek, jangan lari entar keringatan belum juga nyampe sekolah udah bau asem.'' ledek Aleijo.
''Ih..kakak apaan sih? Orang kami hanya lari menghindari daddy aja.'' cebik Alisha. Gadis itu tidak terima dikatain bau asem.
''Tau ni kakak ada-ada aja.'' sahut Alicia kesal.
"Kakak, sepertinya Daddy nanti mau ke rumah sakit." Alisha mencondongkan tubuhnya ke depan ia berbicara pelan agar tidak didengar pelayan.
"Nggak apa-apa emangnya kenapa sih? Rumah sakit itu kan punya Daddy yang dibangun untuk mengenang mommy lalu mengapa Daddy nggak dibolehin ke sana?" Aleijo merasa heran dengan kedua adiknya.
__ADS_1
"Hiss...kakak itu nggak peka. Disana ada dokter Cathlyn. Si perawan tua dia kan paling senang goda Daddy apa Kakak mau ada ibu tiri. Ihh..seram." Alisha berbicara sembari bergidik ngeri membayangkan siksaan ibu tiri yang ia tonton di serial televisi.
"Sudah itu Daddy uda datang. Nanti aja pulang sekolah Kakak yang bicarakan ini dengan Daddy." Aleijo berbicara setenang mungkin.
Namun, sesungguhnya dia juga tidak menyetujui sang ayah menikah lagi. Mengingat Alfonso sudah tua ditambah lagi mereka sudah remaja tidak membutuhkan kasih sayang seorang ibu lagi. Bagi mereka ibu hanya satu yaitu mommy Leticia.
🥰🥰🥰🥰🥰
Ujian akhir hari ini berjalan dengan baik dan lancar. Alonzo keluar dari ruangan ujian dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celananya. Namun, tiba-tiba ia dikagetkan dengan sosok yang berdiri di sampingnya.
"Gimana hasil ujiaan kamu?" tanya gadis manis itu.
"Belum, tau lah kan belum ada pengumuman." Alonzo menjawab sekilas lalu ingin pergi dari hadapan gadis itu.
"Bukan begitu maksud ku apaa kamu bisa mengerjakan soal ujian?" Sebenarnya gadis itu Sudan tau kemampuan anak-anak Alfonso yang sering lompat kelas karena kejeniusan mereka. ingat bukan pintar ya jika pintar semua anak bisa pintar tapi jenius hanya anak-anak yang benar-benar prestasi dan batas kecerdasan IQ melebihi batas usia anak tersebut.
"Menurutmu? Aku nggak bisa?" Alonzo menoleh sebentar lalu tersenyum sinis. Iya mengayunkan kakinya hendak pergi.
"Terus kamu mau kemana?" Gadis itu langsung mencekal lengan Alonzo. Dia tidak terima mengapa susah sekali mendapatkan cinta Alonzo dia juga tidak ada waktu lagi mengingat ini hari terakhir mereka berada di sekolah ini. Nanti setelah hasil ujian keluar dia akan diajak orang tuanya kembali ke London. Merasa lengannya dicekal sedikit kencang membuat Alonzo menghempaskan tangan gadis itu.
"Jangan main-main sama aku!" Alonzo menatap tajam gadis itu, " Jika kau masih sayang nyawamu sebaiknya jauhi aku." lanjut Alonzo.
"Bagiamana jika aku nggak mau? Kau kenapa sih, selalu berusaha jauhin aku? Aku kurang apa? Aku cantik, jago bela diri pintar terus mau seperti apalagi yang kau inginkan?" Matany susah berkaca-kaca. Susah bangat mendapatkan cinta Alonzo padhal setiap hari ada saja cara dia mencari perhatian Alonzo tapi remaja itu seperti salju yang tetap membeku. Apa iya dia benar-benar titisan Alfonso?
" Aku menginginkan wanita yang selembut mommyku. Apa kau seperti dia yang ku rindukan? Tidak kan? Maka jangan bermimpi aku bisa jatuh cinta dengan kau." sela Alonzo dia lalu melepaskan cekalan tangan gadis itu lalu berjalan meninggalkan gadis itu di lorong sekolah begitu saja.
Gadis itu tidak menyerah dia berlari mengejar Alonzo, " Kasih aku waktu. Atau bagaimana kita duel di ring jika aku kalah aku akan menjauhi kau dan tidak akan menggangu kau lagi tapi jika Kau kalah aku berhak mencintai kau. Bagaimana setuju?" Alonzo berdecih. Dia tidak takut dengan tantangan gadis itu yang biasa di panggil Britney.
"Oke deal. Tapi ingat jika kau kalah enyahlah kau dari hidupku untuk selamanya. Karena jika kau melanggar janjimu aku tidak segan-segan membunuhmu." Alonso menaikkan satu alisnya. Lalu menunjukkan tangan membentuk pistol tepat dikepala Britney.
"Door..." Iya menirukan suara pistol.
Gadis itu berjalan mundur satu langkah sedikit merasa ngeri tapi dia masih ingin berduel dengan Alonzo. Britney tidak gentar karena dia juga pemegang sabuk hitam bela diri.
"Besok pagi kita bertemu di tempa latihan bela diriku." ujar gadis itu sebelum meninggalkan Alonzo di lorong kelas.
__ADS_1
"Siap. Siapa takut. kau belum mengenal aku, aku titisan daddyku itu yang selalu aku dengar dari paman Gareth." Alonzo menyugar rambutnya ia meneruskan langkahnya menuju kantin sekolah.