Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia

Kesempurnaan Cinta Daddy Mafia
Anakku gimana?


__ADS_3

Di Mansion Red devil


Setelah berpamitan dengan lukisan sang istri. Langkahnya tertatih namun tekadnya pasti. Alfonso berjalan menuju Mansion Ia menunduk sedih. Ia menggigit bibir bawahnya, sepasang mata beningnya berjuang keras menahan embun yang mendesak-desak keluar. kakinya  terhenti didepan pintu kamarnya, menarik napas mengumpulkan tenaga. Ini bukan masalah ia tidak mampu  melakukan kejahatan lagi tapi ini menyangkut sebuah janji. Alfonso, pria yang selalu menepati janjinya namun hari ini ia harus ingkar karena sebuah kejadian yang memaksa dia harus mengingkari janji itu. Sakit, kecewa terhadap dirinya tentu itu sudah pasti.


Merasa kecewa terhadap dirinya yang tidak bisa menjadi seorang Ayah terbaik semakin membuat kepalanya sakit. Merasa dirinya bukan Ayah yang patut dicontoh membuat hatinya pedih. Ketika jawaban Leticia kembali teriang ditelinganya, "Aku percaya kamu mampu melewati semuanya tanpa aku. Berjanjilah, kamu bisa tepati semua janjimu itu." Akhirnya ia kalah   mempertahankan butiran bening dari pelupuk matanya.


"Ahh..aku tidak patut menjadi seorang ayah. Nasib ku begitu buruk di dunia ini." kemudian ia perlahan berjalan menuju pintu Playground, sebelum  tangannya menarik handle pintu, Alfonso kembali menghela napas.Lalu, perlahan pintu itu didorong oleh Alfonso.


"Sudah?" Sapaan Glen, membuyarkan lamunan Alfonso.


"Hmmm... Sudah. Anak-anak gimana? Cari aku nggak? Waktu ku tinggal ke makam Leticia?" Alfonso duduk bersilang kaki diatas karpet bersama Glen dan Stefani. Matanya memandangi kelima bocah sedang bermain kejar-kejaran. Aleijo, bocah yang saat ini menjadi pusat perhatian Alfonso, sedang bersembunyi dibalik perosotan, jari telunjuknya  diletakkan dibibir mungil nya meminta ketiga orang dewasa itu tidak membocorkan kepada Alisha kalau ia sedang bersembunyi di bawah tangga perosotan itu. Seulas senyum bahagia terlukis di bibir Alfonso. Ia mengangkat dua jempol nya ke atas untuk mendukung anaknya. Aleijo mengangguk mengerti.


"Seperti yang lu lihat saat ini. Sejak Lu tinggal ke makam, Dia asyik bermain dengan keempat adiknya. Hanya sekali Aleijo mencari kamu. Tapi, Fani mengalihkan perhatiannya, ikut bermain dengan mereka. Akhirnya Jo pun asyik bermain lagi," cerita Glen.


"Syukurlah. Lega rasanya dengar begitu." Sambung Alfonso.


🌒🌒🌒🌒🌒


Jarum jam cepat sekali berputar. sore pun menua matahari yang perlahan terbenam mengintip malu dari gulungan awan.layaknya kehidupan Alfonso, Ia berharap Semoga besok tidak ada lagi hujan, menghantarkan badai tetapi untuk menambah indahnya warna kehidupan sama seperti pelangi. Walaupun, dia tidak menunjukkan bagaimana perasaan kwatir. Namun, sebetulnya dia rapuh dan terluka didalam hatinya.


Alfonso membawa anak-anaknya mandi satu-persatu dikamar mandi. ia pun menggantikan pakaian anak-anak. Keempat bocah itu begitu sabar menunggu giliran mereka, walau kadang terjadi dorong mendorong karena tidak sabar menunggu giliran. Tapi, akhirnya bisa diselesaikan Alfonso dengan baik. Kunciran rambut pun ia lakukan sesuai permintaan kedua anak perempuannya. tugas yang seharusnya dilakukan seorang ibu namun tugas itu kini diemban Alfonso dengan baik.Tidak ada keluh-kesah dihatinya ia lakukan itu dengan bahagia.


Malam pun tiba semua berkumpul di living room menunggu makanan malam dihidangkan oleh para pelayan.Stefani ikut membantu menyajikan makan malam , karena kelima bocah itu meminta masakan steak salmon potato.


Anak-anak seperti biasa mereka saling berebut remote untuk mencari saluran televisi kesukaan mereka. Suara bising keributan anak-anak menjadi hiburan bagi Glen dan Alfonso. Keduanya saling berpandangan tertawa lalu menggeleng. Sumpah mafia yang dulu mereka ucapkan akhirnya patah dengan kehadiran Malaikat-malaikat kecil ini.

__ADS_1


"Selamat malam. Cucu-cucu Oma dan Opa, ada Belinda juga?" Felisia, Mason juga Willy mereka pun datang. Felisia berjongkok merentangkan tangan menyambut kelima cucunya datang memeluk dia bergantian. Tidak ia bedakan mana anak Leticia atau anak Stefani. bagi Mason dan Felisia semua sahabat Alfonso dan Leticia itu anak mereka.


"Oma... Paman Wily nggak datang juga?" tanya Alonso. Ia melihat tidak ada paman Willy .


"Itu di depan pintu, masih terima telepon dari Mommy Karla," Felisia melepas pelukannya, ia pun berdiri lagi. Lalu, berjalan ke arah sofa untuk duduk.


Sedangkan anak-anak kembali bermain tentunya dengan pengawasan Alfonso walaupun dia sedang berbicara serius dengan Glen matanya terus mengawasi keempat anaknya juga Belinda.


"Nak...Giman kondisi Aleijo? " tanya Felisia kwatir. Ia meletakkan tasnya diatas meja lalu mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Lumayan sedikit lebih tenang, Mom. Itu, dia mau bermain dengan adik-adiknya. Tadi, Al tinggal ke makam Leticia juga dia tidak rewel." cerita Alfonso.


"Hmmm...syukurlah." Felisa menarik napas lega.


"Fani..di dapur. Anak-anak minta steak salmon." jawab Glen.


"Baiklah. Mommy ikut Fani di dapur dulu." Ia pun berdiri menyusul Stefani di dapur.


"Jadi? Rencananya seperti tadi siang?" Imbuh Mason.Ia duduk berhadapan dengan Alfonso.


"Iya, Dad. Al, sudah izin di Leticia. Al, yakin Leticia juga setuju. Apalagi kita tau, Leticiaku tidak pernah suka jika ada yang menyentuh keempat anaknya." Alfonso mengusap kasar wajahnya. Kedua sikunya di topang di paha, tangan kanannya ia topang didagu.


"Itu benar. Waktu sakit itu pun, dia tetap saja cari keempat anaknya," sahut Felisia, ia menghentikan langkahnya.


Air matanya pun luruh ketika ia menatap salah satu pigura yang tersusun rapi di dinding lorong menuju ruang makan. Leticia sedang menyuapkan cup cake kepadanya waktu itu ulang tahun Felisia.

__ADS_1


"Gadis polos!" Gumam Felisia. Tanganya pun menyeka air mata itu.


Ia meneruskan langkah menuju ruang makan dimana Stefani sedang menata makan malam diatas meja makan dibantu para pelayan.


"Mom..." Sapa Stefani ketika melihat Felisia menuruni anak tangga menuju ruang makan.


"Sayang...kamu sudah datang?" Jawab Felisia.


"Iya mom. Dari sore, kami antar Alicia dan Alonzo, Fani juga malam ini nginap disini temani si kembar." Jelas Fani dia memeluk Felisia, lalu mereka melakukan cipika-cipiki.


"Terima kasih. Maaf selalu merepotkan kamu." Felisia mengusap punggung Stefani.


"Nggak merepotkan Mom. Justru Fani sedih jika tidak ikut terlibat mengurus keempat anak Leticia. Leticia itu sudah seperti kakak perempuan Fani dan Nabila," Stefani berjalan ke arah wastafel.


"Senang dengar nya," balas Felisia.


Jam sudah menunjukkan pukul 19:00 waktu Spanyol. Namun, Dokter Cathlyn dan Psikiater itu belum juga datang.


Karena, semua makanan sudah dihidangkan. Alfonso beserta semuanya berjalan ke ruang makan untuk makan malam bersama.


Anak-anak seperti biasa mereka duduk di kursi masing-masing. Tentunya dengan pengawasan para pelayan.


Setelah satu jam, akhirnya makan malam pun selesai. Semua kembali ke living room.  Para pelayan kembali membereskan piring bekas makan majikannya serta membersihkan meja kotor.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2