
Mason meninggalkan Alfonso dan Glen, diruang keluarga. Ia berjalan ke halaman belakang untuk berjoging.
"Baik.Nanti kita bahas lagi. Malam nanti ada doa tiga bulan Leticia meninggal. Aku pikir, Stefani bisa bantu Mommy untuk urus semuanya. Aku mau ke kamar lihat anak-anak sebentar," Pamit Alfonso. Ia dan Glen berpisah di ruang keluarga mereka kembali ke kamar mereka masing-masing.
Tangan Alfonso mendorong pintu kamar perlahan. Sebelum masuk Alfonso menyebulkan kepala dulu, dia mengintip apakah keempat anaknya sudah bangun atau belum.
"Belum," gumam Alfonso.
Alfonso mengendap-endap, kwatir ada bunyi langkah kaki. Bisa membangunkan keempat anaknya, Ia mendekati ranjang mengecek anak-anaknya.
"Anak-anak Mommy yang hebat. Maaf, daddy tadi pergi lagi." Kemudian dia mencium ujung rambut seraya tangannya mengusap pipi keempat anaknya.
"Sayang...Aku sudah pulang. Lihat, wajah mereka semuanya mirip aku." Setiap dia pulang dari meninggalkan anak-anaknya, Alfonso selalu laporan kepada pigura cantik yang berada tepat di dinding kamar itu, tidak lupa celetukan kecil yang dulu membuat Leticia cemberut.
Alfonso seperti itu dia selalu mengatakan jika wajah keempat anaknya semua mirip dia. Dulu sebelum Leticia sakit, Istrinya itu akan marah.
Setelah berbicara dengan foto sang istri dan mencium keempat anaknya. Alfonso bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lagi. Benar, tadi markas dia sudah membersihakn diri di markas bahkan sudah mengganti pakaiannya. Tapi, bagi Alfonso itu tidak cukup.
Sepuluh menit berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, Alfonso keluar dari kamar mandi, dia berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian ganti lagi. Setelah mengenakan pakaian, Alfonso kembali ke ranjang, dia membaringkan tubuhnya di samping Aleijo, lalu ikut memejamkan matanya.
"Hmmm...." Alfonso menghela napas dia memeluk Aleijo masuk ke dalam dadanya. Matanya perlahan menutup. Lelah. Dia sangat lelah, menghukum kelima tawanan itu, ditambah lagi dia juga belum tidur sama sekali semalam suntuk. Akhirnya tidak menunggu lama ia pun mendengkur halus.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Mentari telah muncul di ufuk timur. Keempat anaknya mengerjap mereka melirik bersama melihat ke arah Alfonso.
"Ssttss...." Alicia meletakan jari telunjuk dibibirnya. Meminta ketiga adiknya untuk diam.
"Daddy masih bobo," Alisha cekikikan.
"Iya," Alicia menganggukkan kepala.
Lalu Putri bungsunya itu bukannya diam, dia segera mendekati Alfonso lalu duduk diatas perut sang Ayah.
"Daddy...wake up!" seraya melompat diata perut sixpack sang Ayah.
"Ahhh..." Alfonso kaget dia bergegas mengangkat kepala dari bantalnya.
"Morning. Sudah bangun?" tanya Alfonso.Lalu, dia meraih kedua bahu kecil Alisha, Ia membawa ke dalam pelukannya.
"Dimana ucapan good morningnya, sayang?" Ia menciumi pipi kiri dan kanan Alisha.
"Tadi Daddy masih bobo." sahutnya seraya tertawa, karena gelitikan sang ayah.
__ADS_1
Aleijo hanya diam, dia hanya menonton ketiga Adiknya bermain bersama Alfonso diatas ranjang.
"Sayang...sini bergabung." Alfonso memanggil Aleijo.
Aleijo hanya menggeleng, lalu kembali masuk ke dalam selimut. Waktu baru pukul enam pagi tapi suasan di kamar Alfonso sudah sangat ramai. Begitulah setiap paginya, Alfonso harus mengajak mereka bermain sebentar barulah memandikan keempat anaknya.
"Okey stop. Sekarang waktunya mandi, nanti setelah mandi sarapan. Terus Daddy antar ke sekolah." ucap Alfonso.
" No! Aleijo nggak mau sekolah. Aleijo maunya di kamar aja, bermain bersama Daddy di sini. Di luar sana banyak orang jahat!" ujar Aleijo.
Alfonso memejamkan matanya, hal ini yang dia takutkan benar terjadi kepada anaknya. Dia takut Aliejo pasti menolak ke sekolah. Ia memeluk putra sulungnya, "Sayang...orang jahat itu sudah di tangkap Spiderman. Jo, masih ingat? Tadi malam kisah Spiderman menangkap orang jahat yang mencoba menangkap empat anak kecil?" ujar Alfonso seraya mengelus belakang Aleijo.
"Ingat." Ia angguk-angguk kepalanya." Orang jahatnya sudah di bawa ke polisi lalu di hukum? Kedua tangannya di ikat? Kakinya di tembak?" Aleijo mengajukan banyak pertanyaan membuat Alfonso tertawa.
"Benar. Mereka ditangkap, diikat tangannya, lalu ditembak kakinya. Sekarang mereka lagi dihukum pak polisi," ucap nya pelan.
'Nak... seandainya kamu tau Spiderman itu Daddy. Apakah kamu akan membenci Daddy? Jika kamu tau Daddy bukan hanya menghukum tapi membunuh dengan kejam, apakah kamu mau memaafkan Daddy? Atau justru sebaliknya?' Ia bermonolog dengan dirinya sendiri sembari menghela napas.
"Daddy...Jo boleh minta satu permintaan saja?" Ucap Aleijo.
"Boleh.Kenapa sayang?" jawab Alfonso.
"Jika di sekolah nanti, Daddy boleh tetap berada disamping Aleijo?" tanyanya dengan hati-hati kwatir Alfonso menolak.
"Daddy...Ayo mandi," teriak Alonzo.
"Ya...ya..." sahut Alfonso.
"Sayang ayo mandi lihat ketiga saudaramu sudah menunggu didepan kamar mandi. Mereka sudah berbaris dengan rapi menunggu didepan kamar mandi," ajak Alfonso.
Seperti biasa Alfonso selalu menerapkan aturan menunggu giliran. Aleijo sebagai kakak berbaris paling terakhir. Nomor satu Alisha, Alonzo, Alicia terakhir Aleijo.
Sengaja Alfonso terapkan aturan berbaris. Untuk melatih keempat anaknya bersabar. karena, kebanyakan anak kecil selalu tidak sabaran menunggu giliran mereka.
Alfonso menggendong Aleijo ke kamar mandi. Lalu, ia menurunkan Aleijo dibarisan belakang. Ayah empat anak itu segera masuk ke kamar mandi.
"Alisha," panggil Alfonso.
Alisha segera masuk, dia pun dimandikan Alfonso dengan bersih, mafia itu sudah telaten memandikan anaknya dari Leticia masih hidup. Hampir satu jam menghabiskan waktu untuk memandikan keempat anaknya. Giliran mengenakan pakaian.
Seperti biasa kali ini Alonzo yang dikenakan pakaian lebih dulu, barulah Aleijo. Setelah itu, kedua anak perempuannya karena mereka cukup memakan waktu.
"Nanti pulang sekolah.Sore kita main ke rumah Mommy." ucap Alfonso seraya menguncir rambut Alisha.
__ADS_1
"Setelah berdoa kita bermain tangkap kupu-kupu," usul Alisha.
"Nggak. Kita hanya boleh duduk di rumah mommy aja, ngg boleh jauh dari rumah mommy berbahaya!" tekan Aleijo.
"Bosan. Alisha mau bermain sendiri." sanggah Alisha.
"Dek," bentak Aleijo.
"Tapi, Alisha maunya main di taman. Biasanya juga kita boleh bermain ditaman." Alisha cemberut.
"Baiklah. Nanti Alisha boleh main ditaman tapi di jaga paman berbaju hitam okey?" ucap Alfonso.
Keempat anak Alfonso selalu memanggil anak buah Alfonso dengan paman berbaju hitam. Karena, semua anak buahnya tidak pernah mengenakan baju berwarna lain selain warna hitam. Mereka juga bicara seperlunya.
"Horee..." girang Alisha.
"Daddy...i'm scared!" lirih Aleijo.
" Jangan kwatir. Daddy akan berubah menjadi Spiderman," jawba Alfonso.
Anak-anaknya Sudah rapi, cantik dan ganteng. Seperti biasa mereka berbaris keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sarapan.
Di ruang makan, sudah ada Belinda, Stefani, Glen, Oma, opa dan Paman Willy.
"Good morning everybody!" sapa keempat anak Alfonso serentak.
"Morning, anak-anak mama Fani," jawab Stefani.
Felisia, Mason, dan Glen takjub dengan didikan Alfonso. Keempat anaknya tumbuh dengan baik, selalu menghormati orang yang tua dari mereka.
"Cantik sekali rambutnya?" ucap Felisia.
Ketika melihat kunciran rambut Alisha dan Alicia. Rambutnya dikuncir seprti air mancur lalu dikasih pita kecil-kecil menambah cantiknya kunciran.
"Daddy yang kuncir," sahut Alisha bangga.
Stefani dan Felisia saling menatap. mereka salut dengan Alfonso walaupun dia mafia masih mau belajar menguncir rambut kedua Putrinya.
"Mama Fani, hari ini Belinda boleh berangkat bareng Alicia?" tanya Alicia.
"Boleh. Sayang," jawab Stefani tersenyum.
Semua sarapan tanpa ada suara sama sekli kecuali bunyi garpu dan sendok.
__ADS_1