
''Benar sebelum aku kesini aku dan Alicia yang melerai Alonzo.'' Belinda duduk disamping Aleijo.
''Anak itu, tidak ada jeranya tiap hari dipanggil BK karena menghajar anak orang. Nanti pulang sekolah aku akan bicarakan masalah ini dengan dia dikamar aja. Tidak baik menegur dia di sekolah banyak teman-teman.'' Aleijo seperti itu dia tidak pernah gegabah. Aleijo selalu memikirkan akibat nantinya, dia tidak mau mempermalukan adik-adiknya di depan umum.
''Baiklah.'' Sikap tenang Aleijo ini yang membuat Belinda suka.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Alfonso sudah menunggu didepan sekolah. Seperti biasa dia yang selalu mengantar jemput anaknya. Walaupun mereka saati i sudah menginjak masa remaja tetap saja Daddy duda tidak mau anak-anaknya berangkat ke sekolah sendiri. Mafia itu seperti orang pengangguran yang selalu ada waktu untuk keempat anaknya. Padahal Aleijo dan Alonzo selalu minta untuk berangkat dengan kendaraan sendiri atau diantar sopir saja. Tapi, Alfonso selalu mengatakan 'Daddy tidak pernah merasa direpotkan.'
''Daddy." Alisha membuka pintu mobil depan. Gadis itu masuk dan duduk disamping sang ayah. Begitupun Alicia, Aleijo dan Alonzo pun masuk mereka duduk di kursi belakang.
''Bagaimana sekolah hari ini?'' tanya Alfonso sembari fokus menyetir. Sudah menjadi kebiasaan Alfonso menanyakan kegiatan anak-anaknya disekolah dari keempat anaknya masih TK sampai anak-anaknya sudah menginjak sekolah menengah atas kebiasaan itu masih Alfonso tanyakan.
''Baik.'' sahut Alisha.
Berbeda dengan Alonzo. Dia hanya diam, putra kedua Alfonso itu terus saja fokus dengan ponselnya.
''Bagus. Al, gimana?'' Alfonso melirik lewat kaca spion.
''Baik.''
''Bagus. Daddy mau ajak anak-anak daddy makan di restoran baru, kata papa Glen enak. Bagaimana?'' tanya Alfonso.
''Mau.'' seru kedua anak gadisnya.
__ADS_1
''Jo, Al, gimana? Setuju nggak?''
''Kami ngikut aja.'' sahut Aleijo.
Alfonso pun membelokkan mobilnya disalah satu restoran yang baru buka di kota Madrid itu. Sesampainya di restoran yang dituju, keempat anaknya keluar dari mobil begitupun dengan Alfonso. Seperti biasa Alisha bergelayut dilengan Alfonso. Alfonso membawa anaknya masuk ke dalam ruang VVIP.
Aleijo menarik kursi untuk Alfonso, ''Terima kasih, sayang,'' ucap Alfonso.
''Sama-sama, daddy.''
Pramusaji datang membawa menu makanan. Masing-masing anak mulai pilih menu makanan sesuai keingin mereka. Begitu pun dengan Alfonso.
''Ini saja?'' pramusaji menanyakan ulang pemesanan mereka.
Sembari menunggu pesanan mereka datang. Alicia menatap Alfonso.
''Dad, Alonzo ta..."
"Dek, katamu sore nanti kamu mau kerja kelompok?" Aleijo yang sudah menebak mulut Alicia dia memotong pembicaraan Alicia.
"Ya, sore nanti." jawab Alicia kesal karena kakaknya itu tidak senang jika dia melapor sang adik.
Alfonso menatap heran pada Alicia. Dia tahu ada yang disembunyikan Putri sulungnya itu tapi bukan Alfonso namanya jika tidak membiarkan anaknya jujur dengan sendirinya.
''Cia, tadi Daddy dengar kamu ingin mengatakan sesuatu? Kenapa mengalihkan pembicaraan?'' tanya Alfonso santai. Karena, tanpa sepengetahuan keempat anaknya. Orang kepercayaan Alfonso sudah melaporkan masalah Alonzo lebih dulu ke dia.
__ADS_1
''Nggak ada, Dad.'' Tenggorokan Alicia tiba-tiba kering. Dia cepat-cepat meraih gelas berisi jus dan meneguknya hingga tandas.
''Cia? Kamu haus?'' Alfonso tersenyum sembari mengusap kepala putri sulungnya.
''Iya, Daddy. Tadi, Cia mau izin Daddy nanti malam boleh nggak Cia jalan-jalan dengan teman-teman ke mall?" Alicia menunjuk puppy eyes nya.
''Pesan lagi minumnya." suruh Alfonso. Mafia itu menarik napas dia tidak bisa menolak permintaan anaknya apalagi kedua anak gadisnya itu pintar mengambil hati mereka selalu menunjukkan puppy eyes nya yang susah membuat Alfonso untuk menolak, " Boleh, tapi ada syaratnya." Alfonso tersenyum. Alisha yang sudah mengenal sang Daddy hanya tersenyum.
" Daddy yang antar," lanjut Alfonso.
"Daddy." Alicia mengerjap. Bukan tidak ingin ditemani sang ayah, hanya saja Alicia ingin sekali jalan bersama teman-temannya tanpa pengawasan dari sang ayah.
"Eit's tidak boleh menolak. Mau dapat izin atau malam minggu kita berlima jalan-jalan sendiri terserah mau kemana aja Daddy antarin." janji Alfonso.
Alisha terkekeh, " Huhuhu..ada yang batal ngedate." ledek Alisha.
"Ngedate? apa itu?" Alfonso yang memang dari dulu kaku dan tidak mengerti bahasa kekinian bingung dia mengernyit menatap keempat anaknya bergantian meminta penjelasan dari salah satu anaknya.
"Ups," Alisha cepat-cepat menutup mulutnya setelah Alicia melayangkan satu cubitan dipaha sang adik lewat bawah meja.
"Nggak ada yang mau jelasin untuk Daddy? Okey, semua akan mendapat hukuman." Alfonso memutar gelas didepannya seraya menunggu penjelasan dari keempat anaknya.
Alfonso hanya menautkan kedua alisnya. Dia tahu keempat anaknya memang saling melindungi tapi bukan dengan cara menyembunyikan kesalahan mereka dari Alfonso. Karena, bagi Alfonso semua masalah tidak akan selesai jika dibiarkan tanpa ada penyelesaian entah itu maslaah besar atau kecil. Alfonso tipe pria yang tidak suka membiarkan masalah berlarut-larut tanpa adanya penyelesaian. Mafia itu ingin mengajarkan anaknya bertanggungjawab dalam hal apa saja.
Namun, saat berdebat bersama keempat anaknya. Pramusaji datang membawakan makanan pesanan mereka. Seperti biasa Alfonso yang tidak suka masalah dalam rumah diketahui orang luar, Alfonso dan keempat anaknya langsung diam. Duda itu bersama keempat anaknya mulai menikmati makan siang mereka tanpa suara kecuali perpaduan alat makan yang mereka gunakan.
__ADS_1