
Selesai sarapan. Aleijo, Alicia, Alonzo, dan Alisha pun pamit kepada Oma, Opa, Glen dan Mama Stefani untuk berangkat sekolah. Belinda pun ikut bersama Aleijo dan ketiga saudaranya atas permintaan Alicia.
"Bye..." Kelimanya melambaikan tangan mereka.
"Bye... see you next time," Felisia dan Mama Stefani membalas lambaian tangan lalu keduanya saling menatap sembari tersenyum.
Mobil pun melaju menuju sekolah. Dalam perjalanan menuju sekolah, Alicia, Alisha dan Belinda bernyanyi sedangkan Alonzo sesekali baru ikut bernyanyi. Berbeda dengan Aleijo walaupun ia sudah duduk di kursi depan samping Alfonso, tetap saja Aleijo diam saja. Setelah tiga puluh menit dalam perjalanan akhirnya mobil Alfonso pun tiba di sekolah.
Alfonso memarkirkan mobilnya di area parkir sekolah. Security sekolah menghampiri mobil Alfonso, Ia membantu membukakan pintu mobil.
"Aleijo, maunya dengan Daddy." tolak Aleijo ia menutup wajahnya di senderan kursi mobil. Saat security itu membuka pintu depan, ia mengulurkan tangan hendak menolong Aleijo turun dari mobil.
"Nggak apa-apa, nanti dia bersama saya saja." ucap Alfonso meminta security itu untuk tidak membantu Aleijo turun dari mobil.
"Baik. Maafkan saya, Tuan." Security itu membungkukkan badan dia meminta maaf.
"Nggak apa-apa. Anak saya memang lagi sensitif," ujar Alfonso.
Security pun kembali berjaga di pintu gerbang sekolah. Alfonso bersama keempat anaknya juga Belinda anak dari Glen, mereka berjalan masuk ke dalam kelas. Di sana sudah ada guru yang menunggu di depan kelas.
"Selamat lagi anak-anak," sapa guru itu.
"Selamat pagi, Bu guru," sapa Alonzo, Alicia dan Alisha serta Belinda. Sedangkan, Aleijo masih digendong Alfonso dengan kedua tangannya memeluk erat leher Alfonso.
"Bagus. Tasnya disimpan yang rapi ya diatas meja," ujar guru wanita itu lagi.
Mereka tidak mengistimewakan anak Alfonso. Karena, Alfonso sendiri ingin anak-anaknya belajar dan mendapatkan perlakuan yang sama dengan siswa yang lainya.
"Hallo...anak ganteng ayo turun. Sekarang waktunya masuk kelas." Guru itu mendekati Aleijo, Ia mengulurkan tangannya meminta Aleijo ikut bersamanya masuk ke kelas namun Aleijo menolak dia menyembunyikan wajahnya lagi didada Alfonso.
"Nggak apa-apa untuk sementara waktu, saya akan menemani anak saya di dalam kelas sampai Aleijo mau ditinggal sendiri lagi." Alfonso berbicara seraya mengelus kepala putra sulungnya, " Nggak apa-apa, sayang. Itu gurunya Aleijo, lihat dia baik dan cantik." ucap Alfonso. Namun, Aleijo menggelengkan kepalanya.
"Baik. Kami mengerti." Guru itu pun melangkah mundur ia memberi jalan untuk Alfonso masuk ke kelas bersama Aleijo. Sementara ketiga saudara Aleijo dan Belinda sudah ikut bernyanyi bersama teman-teman kelasnya. Aleijo masih tetap berada di pangkuan Alfonso.
Alonzo datang menghampiri Alfonso dan Aleijo, " Kakak yuk nyanyi bersama." Tangan kecilnya menarik tangan Aleijo.
Aleijo menggelengkan kepala seraya menyingkirkan tangan Alonzo, " Nggak mau. Aleijo maunya sama Daddy." tolaknya.
"Sayang...kamu nyanyi lagi aja bersama teman-teman. Aleijo biar sama Daddy duduk disini, okey anak gantengnya Daddy." Alfonso menyentuh dagu kecil Alonzo seraya tersenyum. Putra keduanya itu memang berbeda dari sejak Leticia meninggal, dia lebih banyak diam dan tidak terlalu merepotkan Alfonso. Mungkin karena dari kecil Alonzo lebih dekat dengan Leticia.
"Okey, dad." Lalu Alonzo kembali bernyanyi bersama teman-temannya lagi.
Alfonso menghela napas, dia pun mengajak Aleijo ikut bernyanyi mengikuti teman-teman Aleijo walaupun Aleijo tetap berada di pangkuannya.
__ADS_1
♥️♥️♥️
Sementara di Mansion.
Semua sibuk mempersiapkan tiga bulan kematian Leticia. Felisia dan Stefani dibantu oleh para pelayan menyiapkan makanan. Memang Alfonso memiliki banyak pelayan, namun Felisia dan Stefani ingin ikut terjun langsung di dapur. Sejak dulu Felisia, Stefani, Leticia, Karla dan Nabila. Mereka selalu ingin mengerjakan urusan dapur sendiri apalagi memasak untuk suami dan anak, pelyana cukup membantu apa yang mereka butuhkan saja.
"Mommy...nanti setelah doa kita terbangkan balon. Fani ingin sekali kirim pesan untuk Leticia. Fani ingin cerita banyak hal lewat surat yang akan diterbangkan bersama balon nanti.," ujar Stefani sembari memotong daging.
"Mommy juga pikir begitu. Mommy juga ingin sekali cerita banyak dengan Leticia." Felisa menghela napas. Dia memang seperti itu, setiap kali berbicara soal Leticia, Felisa pasti diam dan murung. Felisia selalu berpikir, Leticia meninggal karena kelalaiannya meninggalkan Leticia dari usia dua minggu.
Sementara sibuk menyiapkan bahan makanan, ponsel Stefani berdering.
"Mom...bentar ya Fani terima telepon dulu," izin Stefani.
"Baik, Nak." jawab Felisia.
Stefani pun segera meraih ponselnya. Dia menggeser layar ponselnya.
"Nabila yang nelpon, Mom." Fani tersenyum senang, seraya menempel benda pipih itu di telinga kirinya.
Felisia mendekati Stefani. Dia ikut menyimak pembicaraan Stefani dan Nabila melalui sambungan telepon.
"Halo...Nabila, apakabar?" tanya Stefani senang.
"Lagi di mansion utama. Kamu nggak ke sini?" tanya Stefani.
[Nggak deh. Mana Diego rewel bangat. Clarinda pun belum pulang sekolah,]
Stefani mencebik. Namun, tiba-tiba ada tangan lembut memeluk Stefani dari belakang. Ada satu tangan lagi menutup mata Felisia.
"Apakabar?" Terdengar suara bisikan tepat ditelinga Stefani.
Stefani, menoleh kebelakang. Ia membulatkan matanya seraya tangannya menjauhkan ponsel dari telinga. Sedangkan, Felisia memukul pelan tangan yang menutup matanya.
"Nabila?" Stefani langsung memeluk Nabila. Air matanya mengalir begitu saja. Begitu pun dengan Felisa dia langsung memeluk Putri keduanya Karla.
"Sayang... kenapa nggak kabarin kalau mau kesini? Bukannya tadi, di telepon kamu bilang nggak jadi datang?" Felisa memukul pelan bahu Karla.
"Mommy...sesibuk apapun Karla. Pasti Karla akan datang, ini hari kematian kakak Leticia mana mungkin Karla absen? Sudah cukup Karla kehilangan waktu bersama Kakak waktu kakak sakit," jelas Karla.
Felisa memeluk lagi Karla, dia mencium pipi kiri-kanan Karla bergantian, " Sudah, jangan menyesal lagi. Kakak mu pasti senang kamu hari ini datang." Felisia menangkup kedua sisi wajah Karla, dia menatap putrinya itu.
"Di mana Fidel? Mommy nggak lihat cucu Mommy disini," Felisia mencari keberadaan Fidel.Putra semata wayang Karla.
__ADS_1
"Itu sama papanya lagi cerita dengan Kevin, dan Glen di ruang keluarga. Di mana si kembar? Kakak Ipar juga dari tadi kami datang belum bertemu," tanya Karla. Dia pun mencari keberadaan Keempat anak kembar Leticia juga Alfonso.
"Sama. Aku juga dari tadi cariin mereka tapi nggak lihat," sambung Nabila.
"Mereka masih di sekolah. Kasihan Aleijo itu masih ketakutan," jelas Felisia.
Karla mengeraskan rahangnya. Rasanya dia ingin mencari musuh itu jika mereka belum di bereskan Alfonso dan teman-temannya.
"Sayang banget kejadian itu Karla lagi di California." Karla memukul-mukul meja.
"Sudah. Masalah itu sudah selesai. Ingat jika ada Nak Alfonso disini jangan bahas masalah itu lagi," Felisia memperingati Karla.
"Baikla." Karla menghela napas.
Stefani masih memeluk Nabila, dia kangen moment kebersamaan ini dimana dulu ada Leticia kemana-mana mereka selalu bertiga.
"Kamu makin cantik." Stgani menatap Nabila lalu memeluk lagi.
"Kamu juga makin cantik. Bentar, aku sama anak-anak ke makam Leticia dulu." Nabila menepuk pelan bahu Stefani.
"Baiklah. Benar, Cia pasti sedih jika kamu nggak jenguk dia juga," lirih Stefani.
♥️♥️♥️♥️♥️
Waktu pulang sekolah pun telah tiba. Alfonso dibantu Security menuntun keempat anaknya dan Belinda menuju area parkir mobil. Alfonso membuka pintu mobil anak-anak dibantu Security masuk ke dalam mobil. Sebelum berangkat Alfonso memperhatikan anak-anaknya, dia memakaikan sabuk kepada anak-anak dengan benar.
"Sekarang kita pulang," ucap Alfonso, seraya menginjak pedal gas mobilnya.
"Daddy...nanti sampai mansion kita boleh,' kan makan es cream?" ucap Alisha.
"Boleh. Tapi, ingat setelah bangun tidur siang," Jawab Alfonso.
"Baiklah. Nggak apa-apa asal dibolehin," jawab Alisha senang.
Alfonso pun melajukan mobilnya menuju Mansion. Tidak menunggu lama mobil Alfonso masuk ke halaman Mansion. Bale bergegas membukakan pintu mobil.
"Tuan." Bale membungkukkan badannya.
"Hmmm," sahut Alfonso.
Para pelayan datang menyambut anak-anak mengambil tas dari dalam mobil untuk dibawa ke dalam mansion. Sementara anak-anak sudah lari lebih dulu masuk ke dalam mansion.
"Mommy Karla?" Alisha menaruh kedua tangan dipipinya dengan kedua mata melotot. Alisha melirik ke ketiga saudaranya.
__ADS_1
Siapa yang datang?" sahut Alfonso dari depan pintu mansion.