
Setelah mendapat persetujuan sang Daddy, Alicia dengan gembira berlari keluar dari kamar Alfonso.
"Jangan lari, sayang. Nanti jatuh!" ucap Alfonso. Ayah empat anak itu kwatir anaknya jatuh.
Alicia tidak menjawab entah gadis itu kelinci atau kancil dia sudah berada di kamarnya dalam hitungan detik. Gegas Alicia mengambil tas dan ponselnya lalu keluar dari kamar miliknya.
Didepan pintu Alicia bertemu Alisha yang melipat tangan didada dengan tatapan intimidasi.
'' Mau kemana?'' tanya Alisha.
''Mau malam minggu,'' sahut Alicia terus berjalan.
Alishe berlari mengejar Alicia.
''Emang daddy udah kasih izin?'' tanyanya sembari menelengkan kepalanya menatap Alicia menelisik bola mata coklat sang kakak.
''Sudah. Mana mungkin aku bisa jalan jika tanpa izin dari daddy?'' sahut Alicia.
''Ikut!'' Alisha lngsung merengek, dia menarik lengan sang kakak. Ini moment langkah tumben sang Ayah kasih izin.Kapan lagi jika tidak manfaakan moment ini.
''Kamu izin dulu didaddy. Kakak tunggu diruang keluarga cepatan ya,'' suruh Alicia.
''Nggak mau, yang ada nggak dapat izin.'' Alisha mencebik.
''Terserah kamu jika nggak izin nggak boleh ikut, aku nggak mau nanti aku yang diomelin daddy.'' Alicia meninggalkan Alisha yang bergeming di koridor.
Dengan kesal Alisha memutar badan dia ingin ke kamar sang ayah. Namun, tubuh kecilnya menabrak dengan tubuh sang ayah. Alfonso memang sudah didepannya dia sejak tadi mendengar percakapan kedua anak gadisnya sembari menahan tawa
''Kamu kenapa?'' tanya Alfonso.
''Daddy, tumben baik bangat ngizinin kakak pergi sendirian bareng teman-teman kelasnya. Padahal itu ada cowoknya loh, dad.'' Alisha mulai mengompori sang daddy.
__ADS_1
Alfonso hanya tersenyum, nanti kita susul dari belakang atau kamu mau ikut kakakmu?'' Alfonso menautkan kedua alisnya.
''Ya udah Sha bareng daddy aja. Lagian mungkin mobil si Rey penuh mereka ada delapan orang.'' sahut Alisha sembari bergelayut di lengan sang ayah.
''Rey?'' Alfonso menatap Alisha.
Alfonso heran tumben ada anak bernama Rey, setahu dia orang Spanyol jarang ada nama KEASIAAN.
''Ya, Rey anak dari Asia. Dia jadi rebutan cewe-cewe sekolahku loh, Dad.'' jawab Alisha antusias.
Ya siapa yang nggak kenal Rey? Pria tampan asal korea itu sangat familiar di sekolah Alicia, dia selalu menjadi rebutan para gadis namun Rey sama sekali tidak tergoda pemuda berusia tujuh belas tahun itu lebih tertarik dengan salah satu anak gadis Alfonso. Alicia.
🌵🌵🌵🌵🌵🌵
Sementara didalam perjalanan menuju mall Alicia bersama teman-temannya asyik bersandung didalam mobil mereka mengikuti musik yang diputar Rey didalam mobilnya.
''Eh, Cia. Kamu tumben Daddy mu kasih izin.'' tanya Tania temannya.
''Betul, jangan-jangan daddymu lagi jatuh cinta.'' sahut yang lainya.
''Sembarang aja kalian daddy itu cinta banget sama mommy nggak mungkin ada yang bisa gantiin posisi mommy dihati daddy.'' sewot Alicia.
Benar Alicia, Alfonso selalu melarang anak-anaknya bepergian sendiri bukan karena tidak percaya anak-anaknya hanya saja Alfonso kwatir ada hal buruk menimpa anak-anaknya. Alfonso masih trauma kejadian Aleijo sebelas tahun lalu.Alfonso juga tahu siapa dirinya dimasa lalu dia tidak ingin anaknya mendapat akibat dari perbuatannya dimasa lalu. Karena, sejujurnya tidak ada orang tua yang mau anaknya hidup seperti kehidupan mereka.
Setengah jam perjalanan akhirnya Alicia dan teman-temanya tiba di mall tujuan mereka. Kedelapan anak remaja itu turun dari mobil tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang mengikuti mereka dari kejauhan siapa lagi kalau bukan Alfonso.
Sesekali Alfonso mengeraskan rahangnya ketika matanya menangkp Rey hendak menggenggam tanga Alicia.
''Kita duduk disini aja awasi kakakmu dari kejauhan aja.'' ucap Alfonso.
''Tapi, dad. Sha mau beli skincare di toko kosmetik itu boleh?'' tunjuk Alisha ditoko kosmetik ternama yang tidak jauh dari tempat Alfonso duduk.
__ADS_1
''Boleh tapi usahakan kakakmu tidak melihat kamu. Daddy tidak mau kalau kakakmu tau kalau daddy awasi dia,'' pesan Alfonso.
''Daddy, sama aja nanti juga lama-lama pasti kakak tau.'' Alisha memutar bola mata malas.
''Nggak apa tahu terakhir dia tidak seberapa marah.'' celetuk Alfonso.
''Terserah daddy aja. Sha mau belanja make up dulu. Calon model itu harus glowing,. Daddy, transfer dong.'' tambah Alisha dia menatap sang ayah dengan tersenyum.
"Ya, sudah!" Tanpa banyak basa-basi Alfonso langsung mengeluarkan ponselnya dan mengirim nominal yang lebih dari cukup untuk Alisha. Dia menunjukkan bukti bahwa transaksi berhasil.
"Thanks Daddy." Ia berlari ke toko Make-up sembari memikirkan sikap sang ayah. Alisha heran daddynya itu aneh suka ngawasi anaknya tapi takut anaknya tahu. "Dasar ayah posesif." gumamnya.
''Mommy hebat bisa nemani daddy selama lima tahun. Apa mommy nggak pusing dengan sikap daddy yang posesif seperti ini?'' Alisha menaikkan bahunya tidak mengerti.
Dia melupakan sikap sang ayah, lalu masuk ke toko yang dia maksud untuk mencari skincare.
Alfonso hanya tersenyum sembari mengawasi kedua anaknya.
♥️♥️♥️♥️
Berbeda dengan Alonzo putra nomor dua Alfonso itu memilih di mansion. Pemuda itu sibuk berlatih taekwondo bersama paman Gareth.
Ya Alonzo memilih Gareth karena jomblo karatan itu selalu mengikuti kemauan Alonzo.
''Kamu harus selalu waspada. Ekor mata ini harus tajam perhatikan musuh. Lihat gerak kaki dan tangan mereka. Jadi, kunci utama itu fokus,'' ucap Gareth saat keduanya istirahat untuk minum sebentar.
''Baik paman. Jangan bilang daddy ya kalau tadi aku belajar menembak,'' jawab Alonzo.
''Tenang paman tidak kan bilang tapi ingat itu bukan untuk kamu sembarang memukul teman-temanmu.'' pesan Gareth
''Nggak lah. Aku hanya untuk menjaga diri dan ketiga saudaraku," timpal Alonzo.
__ADS_1