
Melihat Felisa dan Mason masuk ke kamarnya untuk menemani keempat anaknya. Alfonso dan Glen segera pergi ke ruang bawah tanah, untuk mempersiapkan diri mereka, kwatir dijalan ada musuh yang tiba-tiba menghalangi urusan mereka setidaknya mereka ada persiapan untuk melawan.
"Tuan!" ucap salah satu pengawal berbaju serba hitam seraya membungkuk badannya.
Dua orang berbaju serba hitam datang menghadap Alfonso dan Untuk melaporkan semua sudah siap terbang. Kedua Mafia baru saja keluar dari ruang bawah tanah mempersiapkan diri.
"Hmmm..." Alfonso melipat lengan Hem warna toscanya.
"Semua sudah siap. Heli sudah siap di halaman belakang mansion." lanjut anak buah itu ia masih terus membungkuk.
Alfonso memang menyediakan landasan helikopter dibelakang mansion nya.Untuk berjaga-jaga jika ada keperluan mendesak, seperti malam ini.
"Hmm..Ayo berangkat," Alfonso mengangguk kepada Glen. Malam ini mereka pergi ke markas Pinus sengaja menggunakan helikopter untuk mempercepat waktu. Alfonso tidak ingin anaknya bangun dia tidak ada di kamarnya. Karena, jarak Mansion ke Markas Pinus memakan waktu tiga jam. Alfonso sudah menghitung Semuanya karena itu dia memutuskan menggunakan transportasi udara.
Kedua Mafia itu berjalan ke halaman belakang dengan di kawal dua orang pengawal. Waktu sudah menunjukkan pukul 02:00 pagi waktu Spanyol. Suara bisingnya baling-baling helikopter sedikit mengganggu telinga mereka. Alfonso dan Glen segera memasang earphone ditelinga mereka.
Kaki keduanya mulai menaiki tangga kecil yang tersedia. Alfonso duduk bersebelahan dengan Glen.Mereka berbicara melalui radio earphone karena bisingnya baling-baling heli. Tidak menunggu lama hanya dua puluh menit Heli itu mendarat di landasan markas Pinus.
Ethan segera berlari keluar menyambut kedatangan Bos Mafia itu. Dia menunduk kan kepalanya.
"Tuan!" sapa Ethan. Ketika Alfonso dan Glen menginjak kaki di tangga turun dari Heli.
"Hmmm..." Alfonso hanya berdehem.
Glen memukul pelan bahu Ethan, "Di mana, Tuan mu? Tidur kah, atau sudah tidak sadarkan diri?" tanya Glen.
"Mereka berdua sedang minum di bar," jawab Ethan.
"Kebiasaan." gumam Glen.
Kedua sahabatnya itu memilih jomblo karena tidak ingin pusing. Menurut mereka menikah itu hanya bikin repot diri. Istri pasti akan melarang ini dan itu belum lagi jika hamil istri akan mengalami morning sickness. karena, itu Gareth dan Andre memilih menjomblo bagi mereka melihat anak-anak Alfonso, Glen dan Kevin sudah cukup menghibur mereka.
Alfonso, Glen berjalan masuk ke markas. Keduanya jalan berjejer hentakan sepatu boots yang dikenakan keduanya mengguncang jantung para tawanan dimarkas itu. Ethan mengawal dari belakang dengan senjata lengkap.
Tak...tak..tak...
Bunyi sepatu.
__ADS_1
Para tawanan yang sedang tertidur diatas kursi segera mengangkat kepala mereka. Mata yang sudah tidak tertutup kain lagi membuat kelimanya saling berpandangan. Menunggu nasib apa yang akan mereka terima.
"Dia iblis berwujud manusia itu," bisik ketua tawanan itu kepada keempat anak buahnya. karena sinar lampu yang mengenai wajah Alfonso terlihat sangat jelas dari ruang tahanan.
"Sebaiknya kita jujur!" sahut salah satunya.
"Tidak! Nyawa keluarga kita dalam bahaya jika kita jujur. Biarlah kita mati asal anak- istri kita selamat," sahut satunya lagi.
"Al..." Gareth dan Andre keluar dari bar menyambut kedatangan Alfonso dan Glen.
"Bagaimana dengan mereka?" Alfonso menunjuk dengan gerakan kepala kepada tawanan nya.
"Sudah diberi makan dan minum." jawab Andre.
"Bagus!" Alfonso mulai mendudukkan tubuhnya diatas sofa. Aura Mafianya kembali muncul.
Didepan ruangan penyiksaan sengaja Alfonso sediakan k
sofa dan meja.Untuk Dia dan para sahabatnya menyaksikan penderitaan para tawanan.
Alfonso tersenyum ketika melihat ketiga sahabatnya saling bersulang merayakan awalnya mereka membunuh musuh lagi. Bos Mafia itu memang sudah berhenti merokok dan minum dari sejak dia merencanakan menikahi Leticia. Alfonso mengetahui Leticia lupus disitu ia berjanji tidak menyentuh Rokok, obat terlarang dan minuman hingga saat ini.
Ethan dan Jose berjaga di depan pintu ruang tahanan. Menunggu perintah dari Bos mereka.
"Sudah di interograsi? Mereka suruhan siapa?" tanya Alfonso dia menggosok dagunya.
"Mereka tidak pernah jujur. Sekalipun Andre menyiksa mereka tetap mereka tidak mau mengaku," jelas Gareth.
"Sh*ift...Mereka kangen iblisku bangun." Alfonso menggertakan gerahangnya.
Tak...
Satu hentakan sepatu saja. Alfonso, sudah berdiri dari sofa. Dia berjalan dengan langkah pasti menuju pintu tahanan.
"Ethan...Buka pintunya," perintah Alfonso. Duda itu mengeluarkan belatih dari ujung sepatu Bootsnya. Dia memutar-mutar belatih kecil berwarna keemasan sedikit berkarat ujungnya sangat tajam, keatas. Ethan segera membuka rantai yang dipakai untuk melilit di gagang trali ruang tahanan.
__ADS_1
Kletek...
Pintu terbuka.
"Nyalakan lampunya," lanjut Alfonso lagi.
Setelah lampu ruang tahan menyala. Alfonso masuk, dia berjalan mengintari kelima pria itu sesekali kakinya menendang kaki kursi hingga membuat salah satu tawanan terjatuh.
"Kalian suruhan siapa? Jika ada yang berani Jawab, aku kurangi satu hukuman. Tapi, Jika, berbohong aku tambah dua hukumana!" Alfonso terus memainkan belatihnya kali ini dia memainkan dengan memindahkan dari tangan kiri ke tangan kanan. Kelima tawanan itu gelisah kwatir belatih itu jatuh dan tertancap di kepala mereka. Itu sungguh menyiksa.
Mereka tidak menjawab, kelimanya saling menatap lalu menggeleng bersama.
"Jawab!!!" Lagi-lagi Alfonso melakukan tendangan di kaki kursi.
Brugh...
Kali ini bukan jatuh dengan badan hanya miring bersama kursi. Tetapi, Pria itu jungkir kebawah dengan tubuhnya ditendes kursi buatan dari bahan kayu itu.
"Argh," rintih Pria itu.
Brugh...
Satu kali tendangan lagi mengenai kening Pria yang sudah terjungkir dibawah lantai itu. Karena, kerasnya tendangan, kursi yang tadinya jungkir itu kembali tegak dengan posisi tawanan itu tetap terikat di kursi.
Darah segar mengalir dari kening pria itu karena kerasnya tendangan ditambah ujung sepatu boots yang keras bahan khusus desain dari pembuat sepatu ternama di Spanyol. Tawanan itu menggerakkan kepalanya agar darahnya tidak mengalir masuk ke matanya. Mengerikan bagi keempat temannya yang melihat. Namun, sangat menghibur bagi Alfonso.
Bos Mafia itu seperti menemukan mainan baru. Empat tahun dia berpuasa menyiksa tawanan apalagi membunuh secara sadis. Alfonso terakhir membunuh secara sadis itu waktu ia membunuh musuh bernama Bella. Waktu itu dipernikahan Glen dan Steward.
"Jawab atau aku gunakan sabuk!?" Alfonso masih menawarkan hukuman.
"Bunuh saja kami." sahut salah satu tawanan. Dia menatap Alfonso tidak ada sedikitpun ketakutan terlihat dimatanya.
"Tidak bisa! Aturan disini tawanan harus melawan tuan markas. Kalian datang, aku sambut. Mari kita bertarung siapa kuat dia menang." tawar Alfonso.
Jose sudah menyiapkan semua alat penyiksaan. Sabuk berduri terbuat dari besi diolesi minyak Zaitun lalu dipanaskan di atas api hingga panas. Jarum suntik berisi racun toksi botulinum, tidak lupa dua belatih kecil sebagai cadangan. Semua tersusun rapi diatas meja depan para tawanan itu.
"Lihat...pilih yang mana terlebih dahulu? Jarum suntik, belatih atau sabuk?" tawar Alfonso dia tertawa jahat.
__ADS_1
"Okey...tidak ada yang jawab? Aku akan menggunakan sabuk, siapa yang mau aku siksa lebih dulu? Mana ketuanya?" bentak Alfonso. Ia menggertakan giginya.
Alfonso pembunuh berdarah dingin. Dia merasa tertantang jika musuhnya berani melawan di saat dia melakukan penyiksaan. Namun, kali ini semua tawanannya pasrah siap mati. Karena, untuk melindungi anak istri di luar sana.