
Masih di Markas Pinus.
Lima tawanan itu tidak berani menjawab pertanyaan dari Alfonso. Mereka saling menatap lalu menundukkan kepala lagi.
"Baiklah. Jika tidak ada yang jawab pertanyaan aku. Sekarang, rasakan kemarahanku." Alfonso mengayunkan sabuk berduri itu mengenai tubuh kelimanya.
Plak...plak..plak...
"Argh..." Rintih kelimanya bersamaan, Mereka mendongakkan kepala menatap Alfonso memohon belas kasihan dari Alfonso. Namun, Alfonso mengabaikan mereka, Sakit yang teramat membuat kelimanya menggigit bibir bawah mereka sekuat mungkin, menahan perihnya luka sabuk dibelakang mereka, darah mulai mengucur menembus baju yang mereka kenakan.
Alfonso tidak berhenti di situ, dia menatap tajam Ethan.
"Kemari kau! Lepaskan ikatan mereka semua. Aku ingin lihat seberapa mampu mereka melawan aku. Aku ingin tau sanggup kah peluru mereka menembus dadaku." Alfonso menahan sesuatu yang menyiksa di dadanya.
"Baik, Tuan."
Ethan berlari masuk ruang penyiksaan, dia mulai melepas semua ikatan rantai para tawanan itu. Dari tangan hingga kaki, membiarkan tawanan itu jatuh tersungkur dari kursi yang tadi mereka duduki.
Brugh...
Kelima tawanan itu jatuh dari kursi. Benar, saat ini mereka bebas dari ikatan rantai. Mereka bisa membalas pukulan Alfonso atau menembak Alfonso. Namun, bagaimana bisa membalas? Sedangkan, untuk menolong diri sendiri saja mereka tidak mampu. Bahkan, berusaha untuk bangun saja mereka tidak memiliki tenaga.
"Shi*ft!"
Mendengar salah satu dari mereka memaki, Alfonso tersenyum.
"Bangun! Lawan aku! Raihlah pistol di depan kalian semua. Lalu, arahkan senjata itu di dadaku lalu tembaklah aku. Kita akan bertempur disini. Daripada kalian hanya berani dengan anak kecil berusia empat tahun. Lebih baik, bangun serang aku!" Alfonso melempar lima pistol berisi peluru ke arah mereka. Setiap pistol berisi dua buah peluru.
Para tawanan itu tidak bergerak mereka masih tertidur di lantai dengan posisi nungging. Tenaga mereka telah habis setelah siksaan sabuk tadi. Hanya satu yang berani, dia mulai mengulurkan tangannya, untuk meraih pistol kira-kira jarak sepuluh jengkal jari orang dewasa dari hadapan dia. Namun, baru saja dua kali ia berusaha tubuhnya kembali ambruk di lantai.
__ADS_1
Alfonso kembali mengayunkan sabuk di tubuh mereka, luka sayatan duri sabuk penuh dibagian belakang bahkan pipi juga tidak luput dari goresan sabuk berduri itu.
Karena, tidak kuat menahan sakitnya siksaan, salah satu tawanan menangkup kedua tangan di dadanya, dia memohon, " Tuan, lebih baik Tuan membunuh kami lalu melemparkan potongan tubuh kami untuk binatang buas peliharaan Tuan, daripada Tuan menyiksa kami layaknya binatang." Tawanan itu menangis, sumpah dia tidak ingin hidup, dia tidak ingin terluka lagi, dia juga tidak berharap di beri ampun lalu pada akhirnya dia dibunuh perlahan dengan kejam.
"Nggak! Ikuti aturan aku, jika kau sudah di tawan di markas Red Devil maka seperti ini hukuman yang kau terima. Sekarang Kau berani mengatur aku di markas aku sendiri? Apakah kemarin kau memikirkan bagaimana mental anakku di kemudian hari? Kau pernah berpikir sedikit saja, bagaimana sakitnya perasaan aku melihat anakku saat itu jika aku tidak cepat datang menolong anak ku? Apakah kau pikir anak usia empat tahun mampu menahan sakitnya peluru yang kau targetkan di kepalanya?" Alfonso menjentikkan jarinya.
Plak...plak...
Dua kali pukulan sabuk melayang mengenai tubuh mereka lagi. Alfonso mengingat lagi trauma mental anaknya saat ini.
"Kau tidak pernah tau perasaan seorang ayah jika melihat anaknya menderita seperti itu! Karena kau ayah terbodoh di dunia ini, lebih memilih uang dan mengorbankan anak istrimu menjadi tahanan bos mu! Dasar tidak berguna! Tapi, aku tidak! Aku lebih mengutamakan anakku dari pada harta. Jawab aku, apa tujuanmu menyerang anakku? Demi harta? Jika itu tujuan mu kenapa tidak kau datang ke markasku , lalu minta kepada kedua temanku. Aku yakin mereka dengan senang hati memberi kalian uang tanpa melukai kalian sama sekali," ujar Alfonso.
Setelah mengatakan demikian, Dia pun berjuang melawan butiran kristal itu yang akan keluar dari pelupuk matanya. Dia mafia, namun jika berbicara tentang anak dan istri hati Alfonso tidak sekuat perbuatan dia terhadap musuh. Dia sering membunuh tapi demi Tuhan Alfonso tidak pernh membunuh wanita apalagi anak kecil atau sekedar menjadikan target. Justru sebaliknya Alfonso selalu menyelamatkan anak kecil dan wanita, aturan itu sejak dari dia terjun ke dunia hitam. Benar, Pembaca pasti protes dia pernah membunuh Bela dan menyiksa Karla itu karena sebuah alasan .
Karla, anak Sergio dimana ayahnya telah memperkosa Katrine ibu dari Alfonso hingga tewas, lalu tubuhnya di cincang kecil-kecil dilempar ke kandang singa didepan mata Alfonso kecil. Bella, wanita yang hampir saja menembak Leticia waktu Leticia hamil besar keempat anak Alfonso. Untung saja waktu itu Alfonso menyadari arah peluru ia berlari menghalangi peluru itu, dan akhirnya peluru Bela bersarang di dada Alfonso, Leticia dan keempat anaknya selamat.
Karena, mereka menyentuh lebih dulu orang-orang yang sangat berarti dalam hidup Alfonso. Maka, waktu itu pun Alfonso tidak segan membunuh mereka. Karla selamat karena Karla waktu itu hanya dijadikan tameng untuk umpan Sergio keluar dari persembunyiannya, dan jebakan Alfonso tepat Sergio keluar dari persembunyiannya, lalu dia ditangkap oleh Alfonso dan para sahabat Alfonso. Karla pun memilih bekerja sama dengan Alfonso karena dia kecewa dengan perbuatan Sergio. Ayahnya.
Setelah meneguk Winenya Glen segera mematikan rokoknya lalu membuang di dalam asbak. Dia pun masuk ke ruang penyiksaan bersama kedua sahabatnya lagi .
"Al... kapan di eksekusi? Waktu sisa dua jam lagi," tanya Glen.
Alfonso melirik jam yang melingkar ditangan kirinya benar bentar lagi pagi dia harus kembali ke mansion.
"Sekarang!" Alfonso segera mengambil belatih miliknya diatas meja depan para tawanan. Dia mendekati ke lima tawanan itu, wajahnya bak iblis pencabut nyawa. Kelima tawanan itu bergidik ngeri, mereka membayangkan mungkin Alfonso akan memotong telinga mereka lebih dulu atau?
"Nggak di suntik?" tawar Glen seraya mengambil jarum suntik diatas meja.
"Tidak perlu! Lebih baik ambil organ, di saat mereka sadar seperti ini. Sakitany lebih terasa," jawab Alfonso tersenyum sinis.
__ADS_1
Dia mulai berjongkok di depan para tahanan itu. Glen, Gareth dan Andre berdiri di belakang Alfonso untuk berjaga-jaga kwatir musuh bangun dan balik menyerang Alfonso.
Srett...
Alfonso menggoreskan belatih di pipi salah satu tawanan nomor satu.
"Argh," Pria itu menatap penuh mohon.
Teman-temanya memejamkan mata mereka. Sadis, dan sungguh mengerikan.
Sebelum mengeluarkan organ tubuh tawanan, Alfonso melirik Ethan. Anak buah kepercayaannya itu sudah paham, dia bergegas masuk lalu memasangkan sarung tangan di kedua tangan Alfonso.
Alfonso menarik tubuh tawanan yang tadi pipinya terluka, lalu menghempaskan hingga terpental dilantai lagi.
"Ouh...Help me!" Air matanya mengalir membasahi pipinya. Alfonso sama sekali tidak peduli, dia justru tertawa jahat.
Srett...
Alfonso menggoreskan lagi di bagian mulutnya hingga kelihatan bagian gusi pria itu. Salah satu tahanan tidak sanggup melihat siksaan itu akhirnya dia pun mengeluarkan isi perutnya.
"Huekk..."
Alfonso balik dia menatap tajam tawanan yang mengeluarkan isi perut itu. Sorot matanya sulit dimengerti.
"Ethan tarik keluar si brengsek ini." Alfonso berdiri lalu melayangkan satu tendangan tepat diperut tawanan itu.
Andre menyikut Gareth, "Katanya mafia, mencium bau muntah saj dia tidak bisa," bisik Andre.
Gareth hanya melirik tidak berani tersenyum. Karena, dia tau saat situasi sedang tegang seperti ini Alfonso tidak segan untuk marah kepada siapa saja termasuk sahabatnya sendiri. Apalagi kasus ini bersangkutan dengan Aleijo.
__ADS_1
"Ehem..." Alfonso tau apa yang dibisikkan Andre, lalu ia pun segera keluar dari ruang penyiksaan.
Andre menggarukkan kepalanya. Ia pun segera membantu Ethan membawa para tawanan keluar dari penyiksaan.Para tawanan itu dibawa ke ruang eksekusi letaknya dekat kandang harimau.