
Alfonso mendekati Felisia dan Aleijo.
"Mommy... Aleijo nya biar digendong Al," Alfonso melirik Felisia memberi isyarat.
"Baiklah. Sayang kamu digendong Daddy dulu ya.Oma masih ke kamar mandi sebentar, boleh?" bujuk Felisia. Aleijo mengangguk.
"Sayang...sini di gendong Daddy," panggil Alfonso.
Alfonso merentangkan tangannya. Awalnya Aleijo menolak tapi setelah Alfonso meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Akhirnya Perlahan Aleijo melepas pelukan dari pinggang Felisia.
"Nah...ini gini dong.Yuk...salaman dulu dengan onty Merry ." Pinta Alfonso.
Ia menggendong Aleijo mendekati Merry dan dokter Cathlyn. Aleijo menggeleng dia menolak.
"Dia jahat, nggak?" tanya Aleijo.
"Nggak sayang. Onty Merry ini temannya dokter Cathlyn. Onty Merry ke sini ingin bermain dengan Aleijo, Alisha, Alicia, Alonzo dan Belinda. Iya', kan Onty Merry?" Alfonso menjelaskan satu persatu agar Aleijo mau mengerti.
Merry dan Dokter Cathlyn mengangguk, sembari tersenyum. Akhirnya setelah bujukan yang menguras kesabaran. Aleijo mengangguk, dia pun mau mengulurkan tangannya bersalaman dengan Merry.
Psikiater itu menyambut hangat tangan Aleijo. Dia bersalaman dengan bibir melengkung membentuk senyum yang indah.
"Siapa namanya?" tanya Merry.
"Aleijo,"jawab Aleijo, suaranya hampir tidak kedengaran. Ia terus menunduk enggan menatap wajah Merry.
"Wah...bagus sekali namanya. akalu Onty nggak salah Aleijo itu artinya pemberani, pelindung. Benar nggak?" Merry memijit telapak tangan Aleijo.
"Benar!" jawab Aleijo. Ia mendongak menatap wajah Merry.
Setelah berkenalan Merry mengamati wajah Aleijo dengan seksama. Gerakan mata, gestur tubuh Aleijo saat dia bersalaman menunjukkan anak itu traumanya besar sekali, Merry mengangguk-angguk.
"Onty baik'kan?" Merry menyentuh kedua bahunya.
Aleijo hanya mengangguk.
"Onty boleh tau? Aleijo sekolah nya dimana?" Tanya Merry.
Aleijo menggeleng, kelihatan Aleijo tidak mau berbagi tempat dia bersekolah, dimana sekolah tempat ia menghabiskan waktu setengah hari di luar rumah.
"Okey. Onty nggak tanya Sekolah lagi. Tapi, Onty boleh tanya? Makanan sukaan Aleijo apa?" tanya Merry.
"Steak Salmon," jawabnya pelan.
"Wah sama dong, onty juga suka steak Salmon. Jo, mau nggak nanti kapan-kapan makan steak Salmon bareng Onty. Ada resto yang jual steak Salmon enak banget," ajak Merry.
Seorang psikiater akan bertanya seperti itu untuk mengetahui si anak akan mau diajak oleh sembarang orang yang artinya bukan lingkaran keluarga. Biasanya si anak terkenal psikiater mental akan menolak dan lebih tertutupz dia juga tidak ingin berbagi hal pribadi kepada orang lain.
Aleijo menggeleng, " Nggak! Aleijo biasanya suka steak salmon buatan Mommy tapi karena Mommy belum pulang, sekarang Mama Stefani yang masakin." ucap Aleijo serta melirik Stefani.
Stefani mengganguk tersenyum sedih. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Dia bergegas ke kamar mandi menumpahkan kesedihannya di sana.
__ADS_1
"Leticia...Lihat anak-anak mu sungguh mengiris hati." Stefani memukul pelan dadanya.
Merry menarik napas dia sudah tau Terapy apa yang besok akan dia berikan untuk Aleijo sedangkan untuk Alisha anak itu hanya butuh dua atau tiga kali terapi saja.
Merry melangkah mundur ke belakang dia berbisik pada Dokter Cathlyn.
"Baiklah." sahut dokter Cathlyn.
Setelah selesai berbicara berdua dengan Merry. Dokter Cathlyn melangkah mendekati Alfonso.
"Tuan," panggil Dokter Cathlyn.
"Hmmm..." Alfonso melirik menatap Dokter Cathlyn.
"Kita boleh ke depan sebentar? Tidak baik berbicara disini nanti di dengar Aleijo?" ucapnya pelan.
"Baiklah. Dokter dan ibu Merry keluar lebih dulu.Saya kan menemani anak-anak sebentar, biar nanti saya keluar meninggalkan Aleijo di kamar sini dia tidak takut." Alfonso sengaja mengajak kelima anak itu bermain.
Sementara Merry dan dokter Cathlyn keluar dari ruang belajar anak-anak.
"Jo...main di sini dulu ya. Nanti Daddy datang lagi. Daddy masih lihat Onty Merry dan dokter Cathlyn pulang. okey, jagoan Daddy!" Alfonso mengangkat tangan mengajak Aleijo 'Tos'.
"Okey. " Aleijo kembali bermain dengan keempat adiknya.
Alfonso berdiri dia melihat Felisia.
"Mom. Al tinggal ke luar dulu. Titip anak-anak sebentar." pesan Alfonso.
Alfonso keluar dari kamar. Ia berjalan kembali ke ruang keluarga untuk melanjutkan pembicaraan dengan dokter Cathlyn dan psikiater Merry.
🌷🌷🌷🌷🌷
Di ruang keluarga.
"Bagaimana kondisi anak saya setelah ibu lihat?" Alfonso mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Trauma mental Aleijo lebih besar daripada Alisha," jawab Merry. Dia memberi sebuah formulir untuk Alfonso.
"Silakan, Tuan isi formulir ini dulu." ucapnya. Kemudian dia meraih minuman di cangkir lalu menyesapnya hingga tandas lalu ia meletakkan lagi diatas meja. Jujur berbicara dengan Alfonso membutuhkan tenaga dan mental ekstra.
"Okey." Alfonso menerima formulir itu lalu ia mengisinya. Sebelum mengisi kolom-kolom kosong itu Alfonso membaca dengan seksama agar dia tidak salah menyerahkan anaknya kepada orang yang salah.
🌷🌷🌷
Di markas Pinus.
Para tahanan itu mengamok mereka menggerakkan tubuhnya. Hingga kursi yang di duduki bergeser menyababkan bunyi bising. Gareth dan Ethan yang berjaga diruang tahanan berjalan mendekati pintu besi itu.
"Kenapa? Bisa diam nggak?" bentak Gareth.
"Aku mau buang air kecil," sahut tahanan kursi pertama.
__ADS_1
"Lu tunggu jam mau mati aja masih mau ke toilet? Tahan, tunggu sebentar lagi malaikat pencabut nyawa mu segera tiba." bentak Gareth lagi.
Brugh...
Gareth melepas satu tendangan di perut Pria itu. Benar, Pria itu tidak berbohong sekali ditendang bukannya kantong kemihnya takut justru tetesan air mengalir dari bawah sana.
Gareth melirik, " Lu benaran ken**cing?"
Brugh...
Satu tendangan lagi melayang di bagian pipi.
"Ampun Tuan, sebaiknya aku ditembak mati sekarang saja," pinta pria itu.
"Hahaha nyali lu kecil. Bisanya mengancam nyawa bocah. Tapi, giliran disiksa lu menyerah minta mati? Tidak! Lu harus di siksa dulu!" Gareth tertawa jahat.
Pria itu hanya menggeleng. Lalu Ethan pun masuk ke ruang gelap itu hanya ditemani lampu remang-remang, dengan kasar Ethan melepas tutup mata dan sumpalan kain di mulut serta borgol ditangan.
Gareth mengernyit, " Mau kamu apa'kan para iblis itu?" tanya Gareth heran.
"Tuan Glen mengirim pesan. Tuan, suruh para penjahat ini diberi makan sebentar," jawab Ethan.
"Baiklah. Setidaknya jiwa mereka tidak kelaparan saat dikirim ke neraka, hahaha," jawab Gareth lalu ia keluar dari ruangan itu meninggalkan Ethan disana.
Benar, setelah melepas ikatan. Dua anak buah membawa lima piring makanan berisi lauk dan sayuran lengkap serta roti ukuran jumbo.
"Di makan! Isi perut kalian sampai kenyang," titah Ethan.
Kedua anak buah Alfonso itu meletakkan lima Piring didepan kelima penjahat itu. Para tawanan itu sudah duduk bersilah di lantai. Mereka tidak peduli lantai itu penuh bekas darah siksaan. Saat ini mereka butuh air dan makanan untuk mengisi perut mereka.
Karena, lapar mata kelimanya berbinar-binar. sesaat mereka melupakan kematian sadis yang akan mereka hadapi. Dengan, lahap kelimanya meraih roti ukuran jumbo diisinya dalaman roti dengan beef keju sayuran dan tomat. Lalu, melahap roti itu hingga tak tersisa dipiring bahkan sisa potongan sayur kecil-kecil dihabiskan semuanya.
"Gleg!" mereka bersendawa bersama. Menandakan perut mereka sudah kenyang.
Kelimanya saling menatap, Rona wajah senang terlihat jelas di wajah mereka.
Gareth dan Etha tertawa ketika mendengar mereka bersendawa serentak.
"Jorok!" umpat Gareth dan Ethan.
♥️♥️♥️♥️♥️
Mansion Red Devil.
Selesai mengisi formulir dan tanda tangan setuju. Alfonso mengembalikan formulir itu kepada Merry.
"Terima kasih, Tuan. Besok jam tujuh malam saya ke sini dan akan mulai melakukan terapi kepada kedua anak, Tuan," ucap Merry.
"Baik. Terima kasih. Saya berharap semoga anak saya bisa sembuh karena dia harapan saya untuk rumah sakit istri saya," jawab Alfonso.
Alfonso benar, jika mental Aleijo seperti ini apakah Aleijo mampu menjadi Direktur serta dokter spesialis Lupus untuk para penderita Lupus di rumah sakit LETICIA HOSPITAL?.
__ADS_1