
Jam cepat sekali berputar sekarang sudah pukul lima sore. Alicia mengerjap ia menyibak selimut putih yang menutupi tubuhnya. Tangannya meraih ponsel yang ia letakkan diatas nakas, lalu menekan tombol off alarm yang ia pasang diponselnya.
''Pukul lima sore. Perasaan aku baru saja tidur.'' gumamnya sembari bangun dari ranjang.
Alicia, gadis yang rapi tidak seperti adik bungsunya yang kadang suka malas mandi persis Leticia. Putri sulung Leticia itu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sesuai perkataan Aleijo hari ini Alicia ada tugas kelompok gadis jurusan akuntasi itu ada tugas kelompok mengerjakan jurnal umum yang ditugaskan guru.
Kebetulan teman-temanya setuju mengerjakan tugas kelompok di mansion Alicia. Rencananya setelah mengerjakan tugas mereka juga akan jalan-jalan bersama ke mall sesuai ucapan Alicia di restoran tadi.
❤️❤️❤️❤️
Sementara di makam Leticia, ada Alisha dan Alonzo yang menemani Alfonso bercerita dimakam Leticia. Pria itu setiap pagi dan sore selalu menghabiskan waktunya dimakam sang istri.
''Sha, kamu coba telepon Alicia.Pastikan kakakmu itu uda bangun atau belum?'' suruh Alfonso.
Alisha segera mengecek waktu diponselnya, ''Mungkin sudah bangun, Dad. Tapi, tumben banget hari ini Daddy tanya jam bangun kakak. Biasanya juga bilang udah biarin aja kakakmu tidur kenapa bangunin," ucap Alisah sembari menirukan ucapan sang Ayah.
''Bukankah kakakmu hari ini mengerjakan tugas sekolah di mansion, bersama teman-temannya.'' jawab Alfonso sembari mengusap foto sang istri.
''Iya. Pasti sudah bangun, Daddy,'' ujar Alisha.
''Dad, Sha mau jujur,'' ucap Alisha.
Gadis itu tadi bersama Alonzo sudah bertekad mereka akan jujur sendiri di Alfonso mengenai kejadian disekolah tadi.
''Hmmm, Ada apa?'' Alfonso mengangkat kepalanya dia menatap Alisha.
''Dad, sebenarnya anak lelaki yang tadi pagi nunggu Sha didepan pintu masuk sekolah itu dia menyukai Alisha." Alisha menunduk malu. Dia tahu Alfonso pasti tidak marah tapi Daddynya itu pasti akan menggoda dirinya.
__ADS_1
''Lalu kau menerima cinta dia? Apa kau lupa peringatan Daddy? Jangan mengenal lawan jenis dulu jika nilai pelajaran sekolahmu masih B.'' Alfonso kembali mengusap wajah sang istri.
''Dad, please deh dengarin dulu penjelasan dari Sha,''
''Okey. Sorry.'' lanjut Alfonso.
''Sha nggak terima cinta dia. Karena perbuatan dia yang memaksa kami ke kelas bersama. Sha ditertawain teman sekelas. Daddy, tahu sendiri anak itu culun, tidak keren penampilannya kuno teman-teman pada kaget lihat kami jalan berdua masuk kelas,.'' Sha mencebik. Ia mengingat lagi kejadian disekolah tadi.
Alfonso menganggukkan kepalanya, '' Sha, Daddy mengajarkan apa? Jangan menilai seseorang dari fisiknya, Daddy tidak suka. Daddy tidak pernah mengajarkan anak-anakku menghina fisik seseorang. Ingat mereka tidak sempurna di fisik tapi bisa saja mereka memiliki keistimewaan tersendiri yang mungkin Sha tidak miliki kelebihan itu.'' Alfonso mengusap-usap rambut Alisha, '' Sayang, lihat putri bungsu kita sekarang ada seorang pria yang tertarik dengan dia.'' lanjut Alfonso lagi.
''Sory, Dad. Bukan masalah itu tapi ini ada kaitannya dengan kakak Alonzo.'' Alisha menatap Alonzo.
Alonzo yang sedari terus menunduk dipusaran sang Mommy. Dia mengangkat kepalanya lalu berjalan mendekati Alfonso yang memang duduk bersebelahan dengan dia.
Alfonso tersenyum, Ayah empat anak itu semakin terlihat wibawa. Pria berkacamata dan identik dengan syal dilehernya itu penasaran dengan apa yang akan dikatakan putra keduanya itu.
Alonzo pun tidak menolak dia datang dan duduk disamping Alfonso.
"Dad, sebelumnya Al minta maaf. Al, punya alasan kenapa Al hajar dia. Karena, dia sudah membuat seisi kelas menertawakan Alisha. Al, juga nggak suka dengar dia lancang sekali menyatakan cinta kepada Alisha." Alonzo menunduk malu. Dia akhirnya menuruti saran sang kakak Aleijo untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Alfonso.
''Lalu apakah Al, sudah minta maaf?'' tanya Alfonso.
''Belum.'' Alonzo menggelengkan kepala.
''Besok minta maaf. Tidak baik bermusuhan, kalian itu harus bersosialisasi dengan lingkungan sekolahmu jangan mencari musuh di sekolah atau pun ditempat lain.'' ucap Alfonso.
Alonzo mengangguk, ia lega akhirnya semua yang mengganjal dihatinya sejak pulang sekolah tadi terasa plong. Alfonso pun tersenyum akhirnya anaknya mau berkata jujur.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️
Teman-teman Alicia sudah datang di mansion. Pelayan datang mengantarkan minuman dan camilan. Hampir dua jam mereka mengerjakan tugas. Sebagai Ayah yang baik dia tetap berada di kamar memantau lewat monitor cctv. Bukan tidak percaya tapi sebagai ayah dia was-was dengan pertumbuhan kedua anak perempuannya apalagi setelah tadi dengar perkataan Alonzo, kalau Putra nya itu sering menghajar teman sekolah karena mereka sering menggoda Alisha dan Alicia.
Alfonso tersenyum sinis ketika melihat teman lelaki Alicia mencuri pandang saat Alicia sedang sibuk menggaris jurnal dikertas kartun putih itu.
Anak-anak Alfonso memang terkenal sangat pintar. Keempatnya sering lompat kelas.
Usai mengerjakan tugas sekolah lima orang teman Alicia brdiri mereka menunggu Alicia meminta izin.
''Dad, Cia boleh masuk?'' izin Alicia dari depan pintu.
''Ya,'' Alfonso menekan tombol off. Lalu meletakkan remote televisi itu diatas meja.
''Dad, gimana jadi nggak?" tanya Alicia.
"Jadi, tapi Daddy yang antar." sahut Alfonso.
"Dad please deh, Cia uda enam belas tahun." ucap Alicia.
"Baiklah. nanti share lock pulang jalan-jalan Daddy yang jemput."
Mau tidak mau Alicia harus menyetujui saran sang Daddy. Karena jika melawan maka jalan-jalan Alicia bisa batal.
"Baiklah. Thanks Daddy." Alicia mencium pipi Alfonso.
"Take care, girls." Alfonso tersenyum, tangannya mengusap rambut sang Putri.
__ADS_1
"Of course." sahut Alicia.