
Alarm jam berdering Alonzo bergegas bangun dari ranjangnya. Sebenarnya dia masih sangat mengantuk mengingat tadi malam sebelum tidur Alonzo memilih berlatih sebentar di kamarnya ya tidak lucu jika kalah dengan seorang gadis.
''Pukul lima pagi.'' Suaranya serak khas orang bangun tidur. Tangannya mengucek matanya.
Setelah nyawanya berkumpul Alonzo beranjak dari ranjang dia berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual pagi. Setengah jam berada di kamar mandi Alonzo keluar dari kamar mandi.
Alonzo mengenakan baju lalu mengambil tas yang sudah berisi pakaian latihan bela dirinya. Ia membawa tasnya dan meletakkan di sofa ruang keluarga.
♥️♥️♥️♥️
Di ruang makan semua saudaranya sudah menunggu dia untuk sarapan bersama termasuk sang Ayah. Alfonso.
''Pagi...'' sapa Alonzo sembari menarik kursi ke belakang lalu duduk.
"Pagi, idih uda cakep bangat. Mau ke mana kak? Ikut dong bosen tau di mansion." sela Alisha.
Gadis itu memang tidak bisa melihat salah satu kakaknya keluar langsung menyambar seperti petir.
"Nggak boleh! Baru aja sehari libur dek masa kamu uda bosen?"
"Ihh...jahat bangat jadi kakak. Aku janji nggak akan ganggu kakak." Alisha masih berusaha merayu Alonzo.
"Nggak boleh dek. Kakak ada latihan bela diri."
Alfonso yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, ''Kenapa nggak latihan di mansion aja? Di sini ada ring biasanya juga kamu latihan dengan paman Gareth." Alfonso tersenyum. Tapi sorot matanya penuh selidik.
''Sesekali latihan di luar, Dad.'' Alonzo mengambil roti dia meletakkan diatas piringnya.
''Ajak teman-teman mu ke mansion latihan di sini nanti daddy bayar pelatih.'' tegas Alfonso.
''Dad...Sekali aja Al mohon kasih Al latihan di luar Al janji nggak akan buat keributan di luar.'' Alonzo frustasi.
Alonzo pikir tidak lucu kalau dia harus membawa Britney ke mansion lalu berduel di depan ketiga saudara kembar dan sang Ayah yang ada dia di ledek Alisha habis-habisan. Tau aja mulut Alisha cerewetynya seperti apa.
''Dad...Al sudah delapan belas tahun sebentar lagi juga kuliah masa iya di kekep daddy terus.'' Alonzo masih berjuang.
__ADS_1
Ini bukan berarti dia anak pembangkang tapi demi janji dan harga dirinya sebagai seorang pria sejati pantang baginya menyerah apalagi sampai mengingkar janji.
Alfonso menarik napas di tambah lagi tatapan meyakinkan dari Aleijo serta anggukan kedua anak perempuannya.
''Baiklah. Daddy izinin kau pergi latihan di luar tapi harus di antar sopir. Daddy nggak mau kamu nyetir sendiri.'' Alfonso mulai menerima sudah waktunya anak-anak mandiri. Tidak di kawal terus atau di kekang di mansion terus apalagi sebentar lagi mereka akan segera berangkat kuliah.
''Terima kasih, Dad.'' Alonzo akhirnya menyerah siap di antar sopir.
♥️♥️♥️😘😘
Mobil mini cooper hitam itu berhenti di depan salah satu gedung. Alonzo keluar dari mobil dia membawa tas berisi baju latihannya di taruh dipunggung nya. Alonzo menatapi gedung tinggi itu lalu membalikkan badan menatap sopirnya yang masih setia berdiri di belakangnya.
''Paman tunggu di sini aja. Saya, hanya latihan di lantai tiga.'' Setelah mengatakan begitu ia melangkah masuk lobby gedung itu.
Baru saja dua langkah masuk ada seseorang yang menarik lengannya.
''Akhirnya kau datang juga.''
Alonzo menoleh dia tersenyum sinis, ''Aku bukan pengecut. Daddy ku mengajariku harus menjadi pria sejati pantang bagiku mengingkar janji yang sudah ku buat.'' Ia tersenyum sinis menatap gadis centil yang sudah bergelayut di lengannya.
''Lepaskan, malu di lihat orang.'' suaranya dingin dan tegas.
''Dasar kulkas.'' gerutu Britney seraya melepaskan tangannya dari lengan yang mulai membentuk otot itu.
Sementara sang sopir hanya tersenyum sembari berjalan menuju mobil lagi, ''Latihan bela diri atau latihan cinta?'' sopir itu terkekeh geli.
♥️♥️♥️♥️
Alonzo sudah selesai mengganti pakaian bela diri berwarna putih dengan sabuk hitam melingkar di pinggangnya sementara Britney mengenakan baju bela diri berwarna biru dengan sabuk hitam melingkar di pinggangnya juga.
Keduanya berjalan masuk ke ring yang sudah siap untuk berduel. Namun sebelum masuk Britney menghampiri Alonzo yang masih melipat lengan bajunya.
''Apa kau siap jika kau kalah maka kau tidak ada alasan lagi menolak cintaku?" Britney melipat tangan di dada seraya menaik turunkan alisnya. Seakan menantang pemuda di depannya itu.
Alonzo berdecih ia merasa lucu, gadis ini benar-benar mengangap rendah dirinya.
__ADS_1
''Lihat saja nanti.'' Lalu berjalan meninggalkan Britney yang masih berdiri menunggu ajakan Alonzo.
Bukan mengajak Britney berjalan berdua masuk ke ring dia terus berjalan hingga akhirnya Britney menghentakkan kakinya lalu berlari mengejar Alonzo yang sudah siap di dalam ring.
Seorang pria dengan semprit di bibirnya juga sudah di dalam ring. Dia berdiri di tengah-tengah kedua manusia berbeda gender itu.
"Siap? Dengar aba-aba dari saya. Okey?" Pria itu menatap ke arah Alonzo lalu berpindah ke Britney ini kali pertama dia menjadi juri untuk lawan jenis.
Kedua anak remaja yang baru menginjak masa dewasa itu mengangguk mengerti. Alonzo melompat-lompat kecil memberi pemanasan.
Pertarungan di mulai. Kedua manusia itu saling menatap penuh ambisi tidak ada yang ingin mengalah. Harus menang!
Satu
Dua
Tiga
Priit...
Britney menghampiri Alonzo ia berdiri di depan pemuda itu dengan posisi kaki kiri didepan Alonso, tangan kiri ia lingkarkan dilengan kanan Alonzo dia melintir tangan Alonzo ke belakang alih-alih ingin membanting Alonzo tapi keadaan berbalik Alonzo dengan cepat membanting tubuh langsing itu ke bawah.
Brugh...
Britney tidak menyerah dia bangkit lagi ia menggerakkan lehernya ke kiri-kanan lalu melakukan pukulan lagi tepat di perut Alonzo.
Bugh...
Alonzo tidak membalas dia hanya berusaha menghindar tidak mau melukai gadis di depan dia ini.
Setengah jam bergulat Alonzo masih memegang skors. Britney mulai frustasi dia tidak rela jika cintanya harus bertepuk sebelah tangan.
Setengah jam duel selesai waktunya istirahat.
Ronde kedua di mulai.
__ADS_1