
Alfonso menyentuh tulisan itu, mengusapnya dengan lembut lalu menatap telapak tangannya tulisan itu sama sekali tidak terhapus, ia tersenyum," Sesuai cinta kita sayang. Abadi untuk selamanya." gumamnya.
''Sayang, aku ingin setelah anak-anak kita lahir. Kita ajak mereka berkeliling dunia dengan kapal ini. Ajak semua keluarga kita, aku ingin ke Indonesia menurut di laman pencarian, di Indonesia banyak pulau-pulau indah. Makanan Indonesia pun enak-enak.'' Leticia bergelayut dilengan Alfonso.
''Baiklah. Sekarang fokus dulu dengan keempat anak kita yang masih berada dalam sini." Alfonso berujar sembari mengusap perut Leticia, "Kamu, juga harus rajin menjaga pola makan agar waktu kita liburan tubuh kamu fit, sehingga kita bisa berkeliling dunia, aku tidak masalah sebulan ataupun setahun kita berada didalam kapal selagi itu membuat kamu bahagia, aku akan setuju, asal kamu sehat.'' Dia juga melayangkan kecupan di kening istrinya.
Alfonso tersenyum, ternyata waktu cepat sekali berlalu rasanya baru kemarin dia mengajak Leticia ke sini. Tapi, sekarang sang istri telah tiada, kini hanya dia bersama anak-anaknya saja yang berada didalam kapal besar ini.
Memikirkan anak-anak, Alfonso baru menyadari keempat anaknya tidak berada disampingnya.
''Anak-anak, dimana?'' Dia melirik disekitar dek pertama keempat anaknya tidak ada.
Deg...
Tidak meminta bantuan anak buahnya untuk mencari keberadaan anak-anak. Alfonso bergegas naik ke dek atas, bagaimana tidak kwatir kapal pesiar dengan ukuran besar memiliki dua puluh dek dengan fasilitas lengkap, apalagi ini pertama kalinya Alfonso mengajak keempat anaknya berlibur dengan kapal. Bisa bayangkan betapa kwatirnya Alfonso, dia mengumpat, memaki dirinya-sendiri.
''Sungguh bodoh!''
Sumpah demi apapun Alfonso berlari bak seekor citah hingga anak buah yang bersenjata lengkap pun ikut berlari menyusul di belakang Alfonso. Sementara yang dikwatirkan, asyik menjelajahi kapal. Keempat anak itu sedang berada stateroom.
''Kakak, yuk kita kebagian belakang buritan kapal.'' Alicia tidak sabaran.
''Kak, tunggu.'' Alisha masih berpose, lalu Alonzo dengan sabar mengambil gambar sesuai permintaan Alisha.
''Cepatan, Dek.'' Sembari menunggu Alisha. Alicia pun mulai memutar layar camera ponselnya.
Cekrek...cekrek...
"Dek, tadi kamu desak Alisha untuk cepat.Lihat, kamu pun sama aja uda didepan camera lupa segalanya." ujar Aleijo.
"Hehehe... sorry.Lagian ini pertama kali kita ke sini. Mengambil gambar itu harus, untuk dijadikan kenangan." Alicia mendekati Aleijo. Dia bergelayut dilengan sang kakak. Aleijo mengembalikan ponsel Alicia.
"Tapi, nggak setiap sudut kapal di foto dek," Aleijo mengusap rambut sang adik.
Dua gadis itu benar-benar tidak melewati setiap bagian kapal. Untung saja kedua saudara laki-laki dengan sabarnya mengikuti kemauan kedua gadis itu. Alonzo dan Aleijo hanya sesekali ikut berfoto.
Alfonso menghentikan langkahnya, Dia tersenyum ketika melihat Alicia
bergelayut dilengan sang kakak, ia terharu, pemandangan yang manis. Namun, kembali mengingat tadi dia yang ketakutan mencari keempat anaknya Alfonso memejamkan mata, kedua tangan mengusap wajahnya dengan kasar.
''Sayang, daddy hampir jantungan.'' Alfonso berdiri di belakang Alisha.
Alisha yang sudah selesai berfoto menoleh menatap Alfonso.
__ADS_1
"Daddy, lari?" Dia bertanya tanpa dosa.
"Daddy mencari kalian," matanya berkaca-kaca, rasanya lebih dia mati saja daripada harus mengalami hal buruk lagi. Dia benar-benar tidak ingin anaknya berada dalam bahaya.
Menyadari kesalahan, Alisha mendekati Alfonso, dia melingkarkan tangannya di pinggang Alfonso.
''Sorry, sudah membuat daddy cemas.'' Dia menempelkan Kepalanya dengan manja di dada Alfonso.
''Lain kali tolong izin daddy.'' Alfonso mengusap lembut rambut Alisha.
"Sorry. lagi-lagi kami sudah membuat Daddy cemas,'' lirih Alisha.
Dia bisa membayangkan, betapa kwatirnya Alfonso bisa dilihat dari keringat yang berada di pelipis Alfonso, detak jantung Alfonso pun tidak beraturan bisa dikatakan lima kali lipat dari detak jantung normal.
''Tuhan, terima kasih.'' batin Alfonso. Dia memnbawa tubuh kecil Alisha kedalam dadanya.
Alicia, Alonzo dan Aleijo, datang menghampiri Alfonso. Ketiganya juga memeluk Alfonso.
''Daddy, maafin kami.'' Alicia mengusap punggung Alfonso.
Alfonso mengangguk, dia tahu keempat anaknya tidak bersalah. Dia juga salah karena berlarut dengan tulisan didek satu.
''Maafin Daddy juga, semuanya karena kesalahan Daddy. Sekarang, kita makan dulu. Nanti, daddy akan ajak anak-anakku, masuk dikapsul udara.'' ujar Alfonso.
"Anak-anak Daddy nggak nakal. Tapi, Daddy yang salah.Daddy masih saja berlarut dalam kesedihan. Daddy melupakan tugas besar Daddy sebagai orang tua tunggal." Alfonso mengecup ujung kepala keempat anaknya berganti.
♥️♥️♥️♥️
Setelah bertemu dengan keempat anaknya. Alfonso bersama keempat anaknya sudah berada direstoran. Hari ini, Alfonso dan anak-anak ingin menikmnati sajian makanan otentik.
''Kakak, ingin makan apa?'' Alfonso bertanya kepada Aleijo.
''Hot pot.'' sahut Aleijo.
''Samain aja, daddy.'' sambung Alisha.
''Alonzo dan Alicia?'' Alfonso menatap keduanya itu.
''Ngikut aja, dad.'' Alicia menggulir layar ponselnya. Dia melihat lagi hasil jepretan tadi.
''Hot pot, semua aja.''
''Baik, tuan. Mohon ditunggu sebentar.'' Pelayan itu membungkukkan badan.
__ADS_1
Sembari menunggu makanan datang. Alfonso, mendengar keempat anak bercerita.
''Daddy, nanti ujian kelulusan sekolah boleh dong, rayainnya dikapal ini. Sha, ingin mengajak teman-teman kelas Sha semua kesini, boleh?'' usul Alisha.
''Setuju.'' Alonzo menjentikkan jarinya.
Alfonso menaikkan satu alisnya.
''Jo?''
''Jo?'' Aleijo yang asyik bermain ponsel kaget ketika ditanya Alfonso.
''Besok pagi udah balik.'' sahut Aleijo asal.
''Besok? Kakak, kamu itu ditanya daddy apa kamu jawabnya isi chatt mu.'' Alonzo tertawa.
''Ah...emang Aleijo tadi jawab apa?'' Aleijo salah tingkah.
Alfonso tersenyum, dia mengusap punggung Aleijo, '' Jangan lupa belajar. Bukankah, kamu sudah berjanji akan menjadi dokter? Daddy, tidak melarang hanya saja daddy ingin anak-anak daddy fokus belajar. Setelah cita-cita tercapai, barulah daddy merestui siapa saj yang dekat dengan anak-anak daddy. Asal_saling mendukung dalam hal positif.''
''Itu dengarin, kak.'' Alisha tertawa. Aleijo hanya bisa tersenyum dia tahu jika dia jawab maka perdebatan tidak akan ada akhirnya.
Saat kelimanya sedang bertawa bersama.Pelayan datang membawa pesanan mereka.
"Permisi, Tuan." Kemudian, dia meletakkan pesanan mereka, tidak lupa dia menyalahkan kompor portabel itu.
"Silakan," Pelayan itu menunduk.
Alfonso dan keempat anaknya makan.Tidak ada yang bersuara kecuali perpaduan alat makan mereka. Alfonso dan keempat anaknya sangat menikam makan siang mereka.
♥️♥️♥️♥️♥️
Sesuai janji Alfonso. Daddy empat anak itu mengajak anak-anak ke Buritan kapal di mana Ripcorn berada. Alfonso dan anak-anak akan menguji adrenalin.
"Dad, juga ikut?" tanya Alisha, dia menatap wajah Alfonso.
"Tentu.Daddy ikut." Alfonso tersenyum dia menatap Alisha.
"Daddy yakin? Jantung Daddy kuat?" Alisha seakan lupa dia sedang bertanya kepada siapa?
''Kamu tidak yakin? Atau kamu sementara meledek daddy?'' Alfonso menggelen gkan kepala.
''Ya, siapa tahu jantung daddy tidak kuat. Melihat usia daddy semakin tua, Sha kwatir, dad.'' gumam Alisha.
__ADS_1