
Plak...
Gareth melayangkan satu pukulan di paha pria itu," Sadar! Jangan karena pengaruh alkohol kau mulai berbicara sembarangan!" Ia pun menarik tangan pria itu,namun tangannya di tepis pria itu.
"Jangan melarang aku, bukan kah aku berhak menemui dia sebagai pamannya?" Ia menatap nanar Gareth.
"Jika kau ingin bertemu sebagai paman, silakan. Tapi, caramu tadi salah, kau mengundang amarah Kevin," Gareth menatap tajam Pria itu.
"CK...aku kalah!" Pria itu mengangkat tangannya.
Alfonso melirik Kevin, dia memberi kode meminta Kevin pergi menemui Nabila. Wanita itu sudah mendengar semuanya, ia sedang berdiri dibalik tembok dengan kedua tangan menutup mulutnya, dia takut jika Kevin marah.
"Aku izin ke kamar dulu." Kevin pun berdiri mengikuti saran dari Alfonso. Benar, dia melihat Nabila sedang berdiri di balik tembok.
"Mama...kenapa berdiri disini? Anak-anak bermain bersama siapa?" tanya Kevin, seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping Nabila.
"Aku mau ambil air minum. Anak-anak ada Stefani, Karla, Dan Mommy yang jaga," sahut Nabila. Dia masih menatap tajam Reno.
"Di mana airnya?" Kevin tau Nabila berbohong.Dia tahu Istri nya itu sudah terpancing dengan omongan Reno.
"Aku uda meminumnya," sela Nabila.
"Hmmm...ikut aku ke kamar sebentar," ajak Kevin.
"Tapi anak-anak?" Nabila melirik Reno. Dia takut Reno membawa kabur Clarinda.
"Kita ajak mereka juga ke kamar, hmm?"
Nabila mengangguk.
Keduanya berjalan ke Playground mengajak kedua anaknya yang sedang asyik bermain bersama Keempat anak Alfonso, Fidel putra Karla, dan Belinda, putri dari Stefani.
"Sayang mainnya udahan ya, waktunya istirahat. Esok pagi kita harus pulang ke Paris. Mama kwatir jika kalian bermainnya sampai malam, nanti besok pagi dibanguni mama sama papa, kalian pasti rewel." Nabila merentangkan tangannya.
"Papa, please setengah jam lagi." Clarinda datang menghampiri Kevin dan Nabila.Dia bergelayut ditangan Kevin, senjata ampuhnya. Biasanya jika Nabila marah Clarinda selalu mengadu kepada Kevin.
Kevin tersenyum menatap Nabila, "Biarin aja, mereka baru bertemu lagi. Kasih mereka waktu untuk bermain bersama, ini baru pukul enam sore," Kevin menganggukkan kepalanya.
"Kamu, selalu seperti itu. Membela anak dan memberi kebebasan," protes Nabila.
Diego dan Clarinda kembali bermain bersama keenam sahabat mereka, " Terima kasih, Papa." Clarinda mencium pipi Kevin lalu ia pun kembali bermain bersama sahabat-sahabatnya disusul oleh Diego yang belum terlalu lincah berlari.
Kevin merangkul kembali pinggang Nabila, ia melayangkan satu kecupan di kening sang istri, " Jangan kwatir aku tidak akan membiarkan dia mengganggu kamu dan Clarinda,hmm?" ucap Kevin.
"Tadi jantungku hampir copot. Aku pikir kamu akan terpancing dengan omongan dia."Nabila menyenderkan kepalanya di bahu Kevin. Keduanya berjalan ke arah kamar mereka.
Kevin menutup kembali pintu kamar, ia mengunci pintu kamar kwatir Clarinda masuk tiba-tiba.
"Aku sempat terpancing. Tapi, ada Alfonso yang meyadarkan aku," Kevin tersenyum getir.
__ADS_1
"Maafkan aku," lirih Nabila.
"Kenapa?"
"Atas semua ucapan Reno tadi." Nabila langsung meraih kedua tangan Kevin, dia menggenggam erat tangan Kevin.
"Tadi sempat emosi.Tapi, begitu lihat wajah kamu hatiku langsung dingin." Kevin memeluk Nabila, dia menciu*m bibir Nabila sekilas, lalu menyentuh kedua bahu Nabila, kedua bola mata saling bertemu.
"Jangan kwatir sampai kapan pun hanya aku, papa dari Clarinda.Okey...I see dia__" Nabilla langsung mencium bibir Kevin.Tidak ingin suaminya melanjutkan pembicaraannya. Nabila tidak mau ia kembali mengenang masa sulitnya.
Kevin pun membalas, hingga keduanya perlahan melangkah mendekati ranjang, melupakan teman-teman mereka yang masih duduk di luar. Kevin dan Nabila kini telah berbaring diatas ranjang, keduanya memilih bertukar peluh di kamar untuk meredamkan emosi yang sempat tersulut.
♥️♥️♥️♥️
Alfonso sebagai ketua mafia di kelompok Red Devil. Dia mendekati Reno, "Lain kali jika ingin melepas kangen dengan Clarinda, pakai cara yang lebih sopan lagi. Jangan mengundang emosi Kevin atau jangan membuat Nabila marah dan pada akhirnya kamu yang rugi tidak diperbolehkan bertemu dengan anak kandungmu." Alfonso menghela napas.
Dia tidak bisa membela Reno, karena dulu Reno memang salah dia menolak Clarinda, hingga Nabila kabur ke Paris. Kevin lah pria yang selalu ada di samping Nabila mensupport Nabila hingga meyakinkan Nabila jika dia akan menjadi papa satu-satunya bagi Clarinda.
"Maaf, jujur tadi aku lepas kontrol. Awalnya aku ingin mendekati dan memeluknya sebagai paman. Namun, sakit rasanya melihat anak itu sangat mirip dengan aku." Reno menunduk sedih. Dia meremas pahanya begitu keras. Seluruh wajahnya memerah, menahan air matanya.
"Hmmm...Clarinda sangat mirip kamu. Dulu sebelum Leticia meninggal, Clarinda selalu diutamakan Leticia. Dia sangat mencintai anak itu, melebih kedua anak lainnya, Belinda dan Fidel." Alfonso menepuk pelan punggung Reno. Tersenyum sinis.
Dia tau perasaan Reno, orang kepercayaannya di perusahaan Katrindof itu saat ini sedang menyesali perbuatannya. Reno sadar akan perbuatan dia empat tahun silam.
"Tuan...jika boleh, nanti sebelum pulang izin kan saya memeluk putriku sekali saja. Bukan sebagai ayah biologis namun cukup sebagai paman." Reno menatap Alfonso penuh harap. Jujur dia sangat kangen dengan Clarinda, Reno terakhir bertemu Clarinda waktu Leticia meninggal tapi dia sama sekali tidak diizinkan mendekati Clarinda.
"Nanti setelah Kevin keluar dari kamar, saya akan bicarakan dengan Kevin," Alfonso menepuk punggung Reno, "Aku tinggal sebentar, mau lihat anak-anak ku. Bicara anak dengan mu, membuat aku kangen anak-anakku."
♥️♥️♥️♥️
Pukul 19:00
Dokter Cathlyn dan Merry datang di mansion.
"Selamat malam." sapa dokter Cathlyn dan Merry.
"Malam, silakan masuk." Alfonso mempersilakan Dokter Cathlyn dan Merry masuk.
"Terima kasih, Tuan. Maaf tadi tidak sempat hadir di acara ibu Leticia. Hari ini di rumah sakit, pasien banyak sekali," jelas dokter Cathlyn.
"Baik. Tidak masalah saya mengerti. Dokter orang yang sibuk." jawab Alfonso.
"Ibu Merry, apakabar?" tanya Alfonso.
"Baik. Gimana kondisi anak Aleijo?" tanya Merry.
"Hari ini dia melupakan kejadian itu, mungkin karena banyak saudaranya disini jadi dia asyik bermain hingga melupakan kejadian kemarin," jelas Alfonso.
Merry menganggukkan kepalanya, " Saya boleh bertemu anak Aleijo?" tanya Merry.
__ADS_1
"Boleh. Sebentar saya bawa ke sini, dia lagi sedang bermain dengan saudara-saudaranya." jelas Alfonso.
"Baiklah."
Alfonso pun berdiri ia berjalan menuju Playground untuk mengajak Aleijo datang menemui Psikiater Merry.
"Aleijo..."panggil Alfonso.
Aleijo menoleh dia berlari kearah Alfonso yang berdiri di depan pintu.
"Ada apa Daddy?" tanya Aleijo.
"Ikut Daddy sebentar," ajak Alfonso.
"Jo lagi main, dad." Aleijo menatap Alfonso.
"Sebentar aja, nanti Aleijo boleh bermain lagi." bujuk Alfonso lagi.
Akhirnya Aleijo pun menurut setelah Alfonso berjanji hanya sebentar saja. Alfonso menggenggam tangan Aleijo keduanya menemui Psikiater Merry.
Saat mendekati ruang tamu, Aleijo melihat Merry dan dokter Cathlyn, ia pun refleks langsung memeluk kedua kaki Alfonso," Daddy...Jo takut," Dia menutup wajahnya di kedua kaki Alfonso.
"Nggak apa-apa, sayang. Tadi, ditaman belakang Aleijo sangat berani," Alfonso menggendong Aleijo.
Merry tersenyum, "Nggak apa-apa, jangan takut.Tante orang baik." Merry merentangkan kedua tangannya.
Alfonso dan Aleijo duduk di sofa berhadapan dengan Merry dan dokter Cathlyn.
"Sayang...masih ingat dokter?" Dokter Cathlyn melambaikan tangannya.
Aleijo melirik, ia menganggukkan kepalanya.
"Tante Merry ini teman dokter Cathlyn, Tante ini orang baik. Aleijo jangan takut, nanti Tante ajak Aleijo bermain di Playground mau?" sambung Dokter Cathlyn lagi.
Aleijo hanya diam.
Merry mengeluarkan beberapa gambar dari dalam tasnya lalu menunjukkan kepada Aleijo. Awalnya Aleijo menolak tapi lama-lama dia pun mulai tertarik dengan gambar yang ditunjukkan Merry.
"Aleijo, cita-citanya mau jadi apa?" tanya Merry.
"Dokter!" tegas Aleijo.
"Wah...hebat. Kalau mau jadi dokter, Aleijo harus berani," ujar Merry.
Aleijo menganggukkan kepalanya.
"Kenapa Aleijo ingin jadi dokter? Padahal banyak loh cita-cita yang bagus," tanya Merry lagi.
"Aleijo ingin Mommy sembuh. Daddy selalu bilang Mommy sakit," lirih Aleijo.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️
Paling ada yang tanya kenap bab ini ada Clarinda? karena nanti dia ada hubungannya dengan keempat anak Alfonso.