
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
Raven datang menemui Qiana ke kantor tempat Qiana bekerja. Namun, salah seorang asisten dari Qiana mengatakan, bahwa Qiana sedang pergi bersama Eadrick. Tidak hanya mengatakan tentang kepergian Qiana, sang asisten pun mengatakan kemana arah dan tujuan Qiana bersama Eadrick.
Tanpa ada rasa curiga sedikit pun, Raven pun segera menyusul kepergian kedua sahabatnya. Rave pun teringat akan perjanjiannya bersama Eadrick. Setibanya di lokasi tempat pertemuan antara Qiana bersama dengan Eadrick, Raven berniat untuk mengejutkan kedua sahabatnya.
Raven membawa beberapa camilan favorite mereka saat baru memulai kisah persahabatan. Betapa tulusnya niat hati Raven kepada sahabat-sahabatnya. Namun, Raven harus menyaksikan kenyataan yang cukup pahit untuknya.
~ ~ ~
“Di tepi Danau XX”
Dari balik pohon besar, Raven bersandar dengan hati penuh kepiluan. Rasa sesak kian berkecamuk dalam pikiran dan perasaannya.
“Eadrick, aku tahu.. kau adalah sahabat terbaikku. Kau tidak mungkin mengkhianati ku, bukan…” ucap Raven, sembari menahan sesak di dadanya.
Saat Raven masih bersembunyi dari Ead dan Qiana.
Eadrick yang masih bingung atas perlakuan Qiana padanya. “Qiana, apa yang kau lakukan?” ucap Ead heran, lalu berdiri di hadapan Qiana.
“Yah, aku tahu kau juga menyukaiku, bukan? Jika tidak, kau tidak mungkin memperhatikanku selama ini?” tegas Qiana, lalu meraih kedua tangan milik Ead.
“Maaf Qiana, aku tidak pernah menyukaimu, melebihi rasa saying sebagai seorang sahabat. Karena aku telah mencintai wanita lain.” Tegas Ead, lalu melangkah pergi dari hadapan Qiana.
Qiana tercengang atas apa yang telah Ead ucapkan. Ucapan singkat namun menyesakan baginya. Qiana telah salah memahami kepedulian Ead padanya selama ini.
“Edrick!” Serunya, Ead pun menghentikan langkahnya.
“Maafkan aku, aku salah mengartikan perhatian dan kepedulianmu. Namun kumohon, tetaplah menjadi sahabatku!” Pinta Qiana sembari menahan linangan air matanya.
“Tentu saja, tidak aka nada yang berubah diantara kita. Lebih baik sekarang kita kembali, karena besok kita harus bekerja.” Balas Ead acuh.
Keduanya pun pulang bersama, namun suasana tak sehangat sebelumnya. Saling diam dan tak berbicara sepatah katapun.
Setelah beberapa minggu kemudian…
***
“Kediaman keluarga Zearch”
Suara bel rumah terdengar jelas dari arah ruang televise. Nenek Ze sedang asyik menyulam kain, sedangkan Ead masih berada di dalam kamar pribadinya.
Nenek Ze melangkah menuju pintu utama, dan menyibak tirai kaca jendela ruang depan.
“Ravenn!” Ucap nenek Ze, lalu mendekap lembut Raven yang datang berkunjung.
“Aku sangat merindukanmu, nek.” Ucap Raven, yang duduk bersama nenek Ze.
__ADS_1
“Sudah cukup lama nenek tidak melihatmu berkunjung kemari.”
“Benar nek, aku dan Edrick sangat sibuk dengan pekerjaan kami.” Balas Raven dengan tersenyum lembut.
“Yah, nenek mengerti. Tunggulah, nenek akan memanggil Edrick.”
“Baik, nek.”
Raven duduk manis menanti kemunculan Ead.
“Raven!” Ucap Ead dengan tersenyum bahagia.
“Edrick, kau sudah semakin sibuk.” Ucap Raven, merangkul sahabatnya dengan hati yang sangat rindu.
“Duduklah, aku akan menunjukkanmu sesuatu.” Ucap Ead pada raven.
“Baiklah, aku akan menanti.” Ucap Raven antusias.
“Raven, lihatlah!” Ead keluar dari kamar pribadinya, dengan membawakan sebuah Maket.
“Edrick, apakah kau yang membuatnya?” ucap Raven penuh kekaguman.
Ead mengangguk, lalu meletakkan Maket karyanya di atas sebuah meja.
“Edrick, aku sudah lama mengingininya.” Ucap Raven penuh haru bahagia.
“Sejak dulu, aku sangat ingin menjadi seorang arsitek, dan..”
Sejak lama, Ead sangat ingin menjadi seorang arsitek. Namun, karena keterbatasan biayalah yang membuat Ead tak bias mencapai impiannya. Akan tetapi, kecerdasan yang ia miliki tak akan membuatnya mati berkarya.
“Selamat ulang tahun, sahabatku Raven Rawley.” Ucap Ead dengan tersenyum haru.
“Happy birthday, Raven..” ucap nenek Ze, sembari membawakan sebuah cake dengan lilin-lilin menyala.
“Nenek, Edrick, terima kasih.” Raven sangat terharu bahkan menangis bahagia atas kejutan yang diberikan Ead bersama nenek Ze.
“Maaf, aku terlambat memberikanmu hadiah. Hanya ini yang bias kuberikan.” Ucap Ead.
“Aku bahagia. Akhir pecan, kita akan membuat acara di kediamanku.” Ucap Raven.
Seketika itu pula, Ead mulai teringat akan sosok bidadarinya. Selama ini, ia terlalu focus pada pekerjaannya.
“Maksudmu, di kediaman keluarga Rawley?”
“Yah, tentu. Kita akan berpesta.” Ucap Raven antusias.
Raven sepertinya sudah mulai merelakan Qiana bersama Ead. Meskipun ia harus menelan pahitnya kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya. Namun, Raven lebih memikirkan tentang hubungan persahabatan mereka.
Raven sebenarnya masih menunggu pengakuan dari Ead, tentang hubungan Ead bersama Qiana. Itulah yang Raven pikirkan selama ini. Demi menjaga hubungan persahabatan mereka, Raven memilih untuk tetap diam.
***
__ADS_1
Hari berganti hari, hubungan persahabatan mereka pun kembali menghangat. Seperti janji Raven beberapa hari sebelumya, ia ingin membuat sebuah acara perayaan di kediaman keluarga Rawley.
“Kediaman keluarga Rawley”
Segala persiapan sudah begitu matang, dan mereka pun akan segera berpesta.
Beberapa rekan kerja, kuliah lamanya dan juga Qiana turut hadir dalam acara perayaan tersebut. Semua terlihat begitu bahagia, bahkan Qiana pun sedang berusaha berperang dengan rasa sakitnya.
Disaat semua orang sedang menikmati acara pesta bersama. Ead pun pergi ke toilet untuk buang air kecil dan membasuh wajahnya.
Karena udara di luar begitu sejuk, Ead memilih untuk berdiri di area balkon yang cukup luas milik kediaman keluarga Rawley.
Berdiri menatap indahnya pemandangan malam, focus Ead pun teralihkan oleh sosok bidadari tak bersayapnya yang sedang membawa beberapa cake dari luar anak-anak tangga.
“Daisy..” gumam Ead, lalu melangkah menuju kea rah Daisy.
“Kau!” Ucap Mrs. Daisy terkejut. Karena sudah cukup lama ia tak saling bertemu degan Ead.
“Perlu bantuan?” Ead menawarkan.
“Tidak perlu, menyingkirlah!” Tukas Mrs. Daisy sinis.
“Daisy, apa salahku! Mengapa kau terlihat begitu membenciku?” Ead menghalangi langkah mrs. Daisy.
Suasana balkon yang remang dan sepi, cukup mengundang suasana yang berbeda.
“Daisy, dengarkan aku!” Ead menghalangi langkah Mrs. Daisy.
“Edrick, kau bocah nakal! Menyingkirlah!” Mrs. Daisy mulai gugup, dan hampir membuat nampan miliknya terjatuh.
“Daisy, apakah aku perlu berbuat hal yang sedikit nakal?”
“Bocah nakal! Kau jangan main-main denganku!” Peringat Mrs. Daisy.
“Bocah nakal? Yah, aku aka menjadi bocah nakal hanya untukmu.” Ead semakin memojokkan Mrs. Daisy ke arah tembok.
Meraih wajah Mrs. Daisy, dan mengecup bibir seksi milik Mrs. Daisy yang terlihat begitu manis dengan lips blam yang ia gunakan.
Mrs. Daisy mengeratkan pegangannya di setiap sisi nampan yang berada di tangannya. Jika ia melepaskan pegangannya, maka seluruh cake mini itu pun akan terjatuh berserakan.
Sementara itu, Ead enggan untuk mengakhiri ciuman panas mereka malam ini. Sembari mencengkram bagian rahang milik Mrs. Daisy.
“Edrick, apakah kau yang ada di sana!” Seru Raven juga Qiana, hendak mengajak Ead untuk makan bersama mereka.
Namun…
“Edrick! Apa yang kalian lakukan!” Seru Raven dengan ekspresi yang sangat terkejut dan tidak menyangka atas apa yang telah Ead sedang perbuat bersama ibu samnbungnya.
“Raven…” ucap Mrs. Daisy yang sungguh terkejut. Terlebih lagi, Qiana pun turut serta bersama Raven.
Ead melepaskan pelukan dan kecupannya dari Mrs. Daisy…
__ADS_1
***