Ketika BERONDONG Jatuh Cinta

Ketika BERONDONG Jatuh Cinta
Menahan pilu seorang sendiri


__ADS_3

“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”


Author by Natalie Ernison


Eadrick berada didalam keterpurukan dan kesedihan mendalam, setelah apa yang ia alami. Ia seakan sedang berjuang seorang diri, dan tak ada lagi orang-orang yang akan menemaninya. Pergi ke sebuah bar, dan akhirnya ambruk dalam dekapan Qiana. Qiana yang selalu menjadi wanita mengagumi bagi Eadrick.


“Apartemen kediaman Qiana”


“Edrick, kumohon jangan begini..” isak Qiana.


Namun, Ead terus saja mencumbunya dan tak menghiraukan tangisan kesakitan dan kesedihan Qiana.


“Aku sangat merindukanmu, Daisy. Kali ini, kau hanya menjadi milikku! Kita akan memiliki anak dan hidup bahagia!” Racau Ead, sembari menindih tubuh Qiana yang berada di bawah tubuh kekarnya.


Tenaga Qiana bukanlah lawan imbang bagi Ead.


Ahkk! “Ed-rick..” ******* panjang penuh kesakitan Qiana. Ead mengoyakan seluruh pakaiannya, dan menembus selaput dara miliknya.


“Daisy, kau sangat luar biasa…” racau Ead terus menerus, dan terus menggempuri Qiana tanpa rasa belas kasihan.


“Edrick.. ini sangat menyakitkan..” isak tangis Qiana tak mampu ia tahan. Ead memperawaninya tanpa rasa cinta, dan hanya menganggapnya sebagai sosok Mrs. Daisy.


Setelah mencapai puncak kenikmatan, Ead pun ambruk di samping tubuh polos Qiana. Ead langsung tertidur pulas, dan Qiana lah yang harus menelan sakit, kecewa yang lebih lagi malam ini.


Qiana terus menangis dan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal. Malam panas yang sangat menggairahkan dan juga menyedihkan bagi Qiana. Qiana tidak tahu, apa yang akan terjadi setelah ini.


….…


Hmm.. ahk… Ead baru saja terbangun dari tidur pulasnya, dengan kondisi kepalanya yangs sedikit pening. Ead terkejut, saat mendapati dirinya sudah tak berbusana, dan Qiana yang baru membuka tirai jendela kamar.


“Sarapanlah, isi perutmu.” ucap Qiana dengan wajahnya yang sembab, sisa semalam.


”Mengapa aku di sini, dan..” ucap Ead heran.


“Kau meneleponku, saat kau sedang berada di bar. Kau mabuk tak sadarkan diri.” ucap Qiana.


Ead tak menghiraukannya, Ead meraoh seluruh pakaian miliknya yang berada di lantai.


“Mandilah, sehingga kepalamu segar.” Ucap Qiana, lalu melangkah ke luar.


Ead mengenakan seluruh pakaian miliknya, dan juga mendapati bercak darah kering, tepat di atas seprei putih yang ia tiduri.


Duduk sejenak, dan menjambak rambutnya.


“Apa yang sudah kulakukan, tidak mungkin..” Ead bergumam, dan seakan tidak percaya atas apa yang telah mereka lakukan.


Mendapati kunci kendaraannya sudah ada di atas meja, samping tempat tidur. Ead meraiih kunci miliknya, juga tas laptop, lalu melangkah ke luar.

__ADS_1


“Kau tidak ingin sarapan terlebih dahulu?” tanya Qiana, yang sudah menyiapkan sarapan bagi Ead.


Ead menghentikan langkahnya sejank, dan menatap nyalang ke arah Qiana. “Apa pun yang telah terjadi, anggap saja itu sebuah kesalahan, dan di bawah alam sadarku.” Tukas Ead, lalu melangkah ke luar.


Ucapan Ead pagi ini, bak pisau tajam yang menghujam langsung ke dada Qiana.


“Kesalahan…” air mata Qiana mengalir deras, sakit tak terkatakan lagi. Ia terus terisak pilu di sofa miliknya.


Bahkan setelah melewati malam panjang, Ead dengan mudah mengatakan hal itu padanya. Sungguh ucapan yang meyakitkan teramat sangat.


***


Setalah beberapa minggu kemudian, Qiana pun kerap kali kelelahan. Tak seperti dirinya yang biasa. Namun, semua ia abaikan saja, dan berpikir itu hanyalah karena masalah waktu istrahat yang kurang.


Akan tetapi, semakin ia biarkan, rasanya ada yang aneh. Hingga suatu saat, Qiana jatuh pinsan di ruangan kerja pribadinya. Ia dibawa ke sebuah klinik terdekat, dan diperiksa oleh seorang dokter khusus.


“Klinik 24 Jam XX”


“Nona Qiana, Nona baik-baik saja. Namun, alangkah baiknya jika nona mengatakan pada suami agar lebih memberikan waktu istrahat.” Ucap salah seorang dokter yang memeriksanya.


“Suami?” balas Qiana heran.


“Anda sedang mengandung seorang calon bayi. Selamat Nona Qiana.”


Qiana sungguh terkejut dan masih belum percaya, atas apa yang baru saja ia dengarkan.


“Benar Nona Qiana. Sekali lagi, selamat.”


Qiana seakan tak percaya, dan ia sangat panik.


Qiana berusaha untuk tetap menyembunyikan kehamilannya, ia tak ingin keluarganya tahu yang sebenarnya. Hingga usia kandungan Qiana pun sudah mencapai satu bulan, dan selama itulah Qiana harus menanggung bebannya seorang diri.


***


Hingga suatu saat, Raven datang menemui Qiana hendak mengajak Qiana pergi bersamanya.


Qiana menerima tawaran Raven untuk mengajaknya pergi bersama. Keduanya pun menikmati makan siang berdua di salah satu resto terdekat, tak jauh dari kantor tempat Qiana bekerja.


“Makanlah yang banyak, kau harus mengisi tenagamu, Qiana.” Ucap Raven, sembari menuangkan kuah sup di atas nasi milik Qiana.


“Raven, kau memang tidak pernah berubah.” Balas Qiana dengan tersenyum lembut.


“Andai kau tahu, jika aku bukanlah wanita yang baik..” Qiana merasa tidak layak duduk bersama dengan Raven, mengingat dirinya yang akan menjadi seorang ibu.


Prang!


Gelas yang berisi air minum tersenggol siku Qiana hingga jatuh pecah.

__ADS_1


“Qiana! Kau baik-baik saja?” tanya Raven cemas.


“Pelayan, tolong bersihkan sisa makanan ini!” Seru Raven kepada salah satu pelayan resto.


Qiana kembali teringat akan kondisinya dan statusnya yang akan berubah menjadi seorang ibu tanpa suami. Hal itu kian membuatnya tertekan dan bersedih hati.


Pandangan mata Qiana mulai kabur, dan ia pun mulai kehilangan keseimbangan tubuh.


“Qiana!” Pekik Raven, meraih tubuh lemah Qiana yang jatuh pinsan.


Dengan sigap, Raven membawa Qiana menuju sebuah klinik 24 jam. Tepat di klinik yang pernah Qiana kunjungi pertama kali.


***


“Klinik 24 Jam”


Raven sangat cemas bukan main, terlebih lagi ia sangat mencintai Qiana dalam diamnya.


Setelah diperiksa, Raven pun menerima hasil pemeriksaan dari salah seorang dokter.


“Tuan Raven, ini adalah kondisi yang sangat wajar bagi seorang ibu hamil. Ternyata, tuan adalah suami dari Nona Qiana?” ucap sang dokter.


Raven sangat terkejut dan tak tahu harus berkata apa lagi. Didapatinya Qiana sedang menangis di balik tirai, ranjang pasien. Raven mengantar Qiana pulang ke apartemen kediaman Qiana. Sepanjang perjalanan, Qiana dan Raven terdiam membisu.


***


“Apartemen kediaman Qiana”


Raven tak tahan untuk tidak menanyakan perihal kehamilan Qiana.


“Qiana, jujur padaku! Siapa ayah dari anakmu?” tanya Raven dengan bibir gematar, menahan rasa sesak dan amarahnya.


“Raven, pulanglah, kau sudah cukup membantuku.” balas Qiana lirih.


“Qiana, mengapa semua bisa seperti ini? Qiana kumohon, katakan padaku yang sebenarnya..” pinta Raven sembari tersungkur di hadapan Qiana.


Qiana tidak ingin mengatakam yang sebenarnya, namun Raven terus membujuknya. Hal itu membuat Qiana akhirnya berani berkata jujur, jika anak yang berada di dalam kandungannya ialah anak dari Edrick.


“Edrick bajingan!” Raven sudah sangat marah, ia hampir saja mengamuk. Belum sembuh luka hatinya pada Edrick, kini muncul lagi kisah yang jauh lebih memilukan hatinya.


“Edrick harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan padamu, Qiana.” Tegas Raven penuh amarah.


“Aku tidak memintamu untuk ikut campur Raven. Sudah cukup, jangan tambah bebanku!” Pekik Qiana, dan tak ingin Raven ikut campur lebih jauh. Namun Raven pun tidak dapat menahan rasa ingin menghajar Edrick.


Setelah mengetahui segalanya, Raven pun berniat untuk menemui Edrick, dan memberi perhitungan.


****

__ADS_1


__ADS_2