Ketika BERONDONG Jatuh Cinta

Ketika BERONDONG Jatuh Cinta
S2 - Masih berjuang untukmu


__ADS_3

“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”


Author by Natalie Ernison


~ ~ ~


Semenjak berpisah dari Qiana, bahkan sudah dikirimkan surat cerai secara elektronik. Namun, Ead belum juga menandatangani surat tersebut. Ia masih berniat untuk kembali pada Qiana, dan menebus semua kesalahannya pada Qiana. Walaupun hingga saat ini, Qiana belum juga membalas pesan darinya. Hubungan mereka seakan tenggelam begitu saja.


***


“Kediaman keluarga Shyne”


“Apakah senior baik-baik saja?” Tanya Shyne cemas, sembari duduk di samping Ead.


“Yah, aku baik-baik saja dan bahkan jauh lebih baik lagi.” Ucap Ead sembari membasahi kerongkongannya dengan segelas air mineral.


“Syukurlah, istrahatlah jika masih belum pulih sepenuhnya.”


“Baiklah, terima kasih Nona Shyne.”


Ead meraih ponsel miliknya, dan mencoba untuk memberikan kabar pada sang nenek.


“Hallo nek, selamat malam. Aku akan terlambat pulang. Aku sedang di rumah rekan kerjaku. Baik nek.”


Ead menyimpan kemali ponsel miliknya, dan duduk sejenak untuk memulihkan tenaganya.


“Apakah keluargamu sedang tidak berada di rumah, Nona Shyne?”


“Yah, senior. Kakak lelakiku mengirimkanku pesan, jika mereka sedang pergi ke suatu tempat.” Jawab Shyne yang sedang membersihkan buah-buah segar dan akan memberikannya pada Ead.


“Senior, silakan disantap.” Shyne meletakkan buah yang sudah ia bersihkan di atas meja, tepat di hadapan Ead.


Setelah beberapa menit kemudian, Ead pun pamit pulang ke kediamannya.


***


“Apa yang kupikirkan.. gadis itu terlalu muda. Ia bahkan belum mengetahui kisah masa laluku..” Ead bergumam sepanjang perjalanan kembali ke kediamannya.


Ingatannya kembali tentang Qiana, namun sepertinya keluarga Qiana tetap memilih untuk menceraikan Qiana dan Ead. Ead pun sudah tak memiliki daya untuk meyakinkan keluarga Qiana.


Walau bagaimanapun, Ead masih berstatus sebagai seorang suami bagi Qiana. Hal itu pulalah, yang membuat Ead enggan untuk mencari pengganti Qiana.


“Kediaman Eadrick dan Nenek Ze”


Setiba di rumah, Ead di sambut hangat oleh sang neneknya.


“Bersihkan dirimu, dan makanlah. Ada hal penting yang ingin katakana padamu.”


“Hal apa nek?” ucap Ead, sembari mencium pipi sang nenek.


“Setelah kau selesai, kita akan bicara.”


“Baiklah nek, aku akan membersihkan diri terlebih dahulu.”


Usai membersihkan diri, Ead pun bergegas untuk menemui nenek Ze, seperti apa yang nenek Ze pesan padanya.

__ADS_1


Ead duduk di samping nenek Ze, tepatnya di sebuah ruang keluarga. “Edrick, apakah kau tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Qiana?” Tanya nenek Ze serius.


Ead terdiam sejenak, dan menghela napasnya perlahan. Ada sesuatu yang Ead selama ini tidak katakan pada sang nenek.


“Edrick, jawab nenek!”


Ead hanya menggelengkan kepalanya perlahan, sebagai tanda tidak dari pertanyaan nenek Ze. Nenek Ze menyentuh punggung tangan Ead.


“Jadilah pria jantan, jangan seperti ayahmu. Nenek akan sangat marah, jika kau seperti ayahmu. Terlepas dari semua kisak lalu kalian berdua.”


“Aku telah bercerai dengan Qiana nek.”


“Apa!” Nenek Ze sangat terkejut. Hal itu bahkan belum pernah ia ketahui sebelumnya.


“Bagaimana bisa Edrick.. lalu bagaimana dengan tekatmu untuk memperbaiki rumah tangga kalian berdua?”


“Qiana telah mengirimkanku surat cerai, dan aku dipaksa untuk menandatanganinya. Aku sudah menunda hal itu, namun Qiana terus mendesak bahkan mengancam akan bertindak nekad..” ucap Ead lirih.


Nenek Ze tidak tahu apa yang harus ia katakana pada Ead. Ead pun mengeluarkan lembaran salinana surat cerainya bersama Qiana. Di sana sudah terdapat tanda tangan resmi dari Qiana dan Ead.


“Aku sudah berusaha keras nek, namun Qiana tidak lagi mempedulikan pernikahan kami.”


“Edrick, mungkin saja Qiana sedang kacau. Kau seharusnya membujuknya, bukan mengabulkan keinginannya speerti ini..”


“Maafkan aku nek.. aku memang bukan suami yang baik..” Sesal Ead, Ead sangat menyesali semua perbuatan masa lalunya, namun ia juga tidak dapat memaksakan kehendaknya pada Qiana.


Nenek Ze terus menangisi perceraian Qiana bersama Ead. “Nenek tidak ingin kisah sedih keluarga kita terulang kembali, sayang..”


“Aku pun tidak ingin nek.. bagaimanapun Qiana adalah wanita yang pernah mengandung darah dagingku. Namun aku tidak berdaya dengan keadaanku saat ini. Aku bahkan tidak memiliki banyak kekuatan untuk memenangkan hati Qiana..”


“Apakah nenek harus meminta bantuan ayahmu, agar kalian dapat bersatu kembali?”


“Sungguh?”


“Yah, nek. Aku akan berusaha untuk menarik pernyataan ini.”


“Jangan kecewakan nenek.. kau harus berjanji!”


“Aku berjanji nek..”


“Baiklah, nenek akan ikut bersamamu.”


“Mengapa nek? Cukup aku saja.”


Ead tak ingin nenek Ze melihat, bagaimana keluarga Smitte merendahkan harga dirinya bahkan keluarganya. Selama ini, Ead menelan hinaan makian keluarga Smitte seorang diri, tanpa sepengetahuan dari nenek Ze.


“Nenek ingin banyak bicara pada Qiana,” nenek Ze terlihat begitu kekeh untuk dapat bertemu dengan keluarga Smitte.


“Baiklah, tapi tidak perlu katakan pada ayah semua ini. Aku ingin menyelesaikan permasalahanku sendiri.”


Selang beberapa hari kemudian, Ead pun kembali ke Negara A bersama sang nenek. Ia berniat untuk menemui pihak keluarga dari Qiana dan berharap Qiana dapat menarik pernyataannya untuk bercerai dengan Ead.


Segala tugas, ia serahkan pada Shyne, sebagai tangan kanannya yang membantu segala urusannya. Hal itu membuat Ead jauh lebih tenang untuk meninggalkan pekerjaannya.


Menjelang hari Ead akan pergi bersama sang nenek, Mr. El kembali menemui Ead bersama nenek Ze di kediaman mereka.

__ADS_1


……………..


“Edrick, sebagai hadiah dari ayah. Ayah ingin kau menruskan perusahaan yang selama ini ayah tangani.”


“Tidak ayah. Aku tidak akan melakukannya. Lebih baik, ayah cari saja orang lain.”


“Tapi, kau anak ayah satu-satunya Edrick. Tak ada lagi yang akan mewarisi seluruh asset dan saham ayah!”


“Aku lebih senang, jika menikmati hasil kerja kerasku sendiri. Bahkan, aku pun sudah terbiasa dengan mencari uang sendiri sejak aku masih sekolah.” Ketus Ead menolak tawaran ayahnya.


“Jehezkiel, kau tak perlu memaksakan kehendakmu. Edrick cucuku, bukanlah pria yang suka memanfaatkan situasi. Dia sudah terbiasa bekerja keras sendiri, itulah didikanku.” Timpal nenek Ze sinis.


“Maaf bu, aku tidak bermaksud.. namun, usiaku sudah semakin tua renta. Aku akan sangat tenang, jika anakku yang meneruskan semuanya.”


“Sudah kukatakan, jangan paksa kehendakmu!” Tegas nenek Ze yang terlihat tidak senang dengan keinginan dari ayah Ead, Mr. El.


Mr. El pun harus lebih bersabar untuk dapat memenangkan kembali hati ibu mertuanya yang telah tersakiti karena kesalahan masa lalunya.


***


Pembicaraan malam itu berlalu begitu saja, Ead pun pergi bersama sang nenek menuju Negara A.


“Negara A”


Hati Ead begitu tidak sabar untu segera menemui Qiana beserta keluarganya.


“Kediaman keluarga Smitte”


Tak butuh waktu lama, Ead langsung menemui Qiana beserta keluarga Smitte. Ead diam-diam menyiapkan sebuah cincin berlian bagi Qiana. Ia ingin melamar Qiana sebagaimana mestinya, dan ingin memulai segalanya dari awal.


Saat Ead tiba bersama sang nenek, Ead memang tidak membicarakannya terlebih dahulu. Ead ingin memberikan kejutan bagi Qiana.


Setiba di halaman kediaman keluarga Smiite.


“Mengapa ada mobil ini di sini..” Ead menatap mobil hitam pekat milik seseorang yang samgat ia kenal, yang masih sangat ia kenali.


Baru saja melangkah menuju pintu utama, salah seorang asisten rumah tangga terkejut melihat kedatangan Ead malam ini.


“Tuan Edrick! Nyonya Ze!” Ucap sang asisten terkejut, dan terlihat tidak tenang.


“Jangan katakana aku datang, aku ingin memberikan kejutan bagi Qiana.” Ucap Ead pelan, lalu melangkah menuju halaman samping bersama nenek Ze.


“Tuan Ead, apa tujuan tuan datang?” ucap sang asisten yang terlihat sangat gugup.


“Tentu saja ingin menemui istriku,”


“Bukankah tuan dan Nona Qiana sudah bercerai, dan nona Qiana..”


Ead tersenyum sendu. “Karena itulah aku datang.”


Ead melangkah kembali bersama nenek Ze, namun suasana halaman samping terlihat cukup ramai dengan dekorasi indah.


“Tuan Edrick!” Seru salah seorang anggota keamanan keluarga Smitte.


Ead perlahan memutar gagang pintu, bunga yang berada di tangannya perlahan terlepas seketika melihat keadaan di sana. Bahkan, seluruh pasang mata pun menatap ke arah Ead. Suasana yang awalnya terdengar ramai, seketika terdiam sejenak.

__ADS_1


“Apakah ini alasanmu menceraikan cucuku!” Ucap nenek Ze dengan nada setengah berteriak.


*****


__ADS_2