Ketika BERONDONG Jatuh Cinta

Ketika BERONDONG Jatuh Cinta
Hancur karena terlalu mencintaimu


__ADS_3

“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”


Author by Natalie Ernison


~ ~ ~


Qiana terus melangkah mundur, dan karena lantai yang cukup licin, membuat langkahnya tak lagi seimbang. Didukung dengan rok miliknya yang menyentuh lantai, Qiana menginjak ujung rok miliknya hampir membuatnya terjatuh.


“Tenanglah Qiana, kau jangan gegabah.”


Edrick pun berhasil merebut pisau di tangan Qiana. “Lepaskan aku Edrick bajingan!”


“Yah, yah, aku tidak akan memaksamu.”


“Aku sudah tidak tahan lagi dengan kalian, aku sangat lelah!”


“Qiana, kau harus bisa mendengarkan penjelasan dari seseorang terlebih dahulu, sebelum kau berpikir jauh.”


“Apa yang harus kudengarkan! Tentang hubungan kalian! Yah, aku ucapkan selamat!” Qiana mendorong Edrick.


“Qiana!” Seru Mrs. Daisy.


Qiana berlari dari hadapan Edrick dan Mrs. Daisy.  Karena emosi, Qiana lupa jika ia akan melewati anak-anak tangga. Ia pun terjatuh dari tangga teratas, terguling hingga anak-anak tangga bagian bawah.


“Kak Qiana!” Teriak histeris Fanderz, saat mendapati Qiana terguling dan ia belum sempat meraih tubuh Qiana.


“Qiana!!” Edrick membulatkan kedua matanya, mendapati kondisi Qiana sudah tak sadarkan diri dengan keadaan pendarahan hebat.


“Apa yang telah kalian lakukan pada kak Qiana, kalian sungguh menjijikan!” Bentak Fanderz, lalu mengangkat tubuh tak sadarkan diri Qiana.


“Fanderz ini bukan saatnya untuk kita berdebat. Kita harus selamatkan Qiana.”


“Diam! Jangan pernah berlagak peduli setelah apa yang telah kalian perbuat pada kak Qiana.

__ADS_1


Tak ingin terus berdebat, mereka pun membawa Qiana menuju sebuah rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi kediaman keluarga Rawley.


***


“Rumah Sakit XX”


Fanderz tak henti menangis, ia sangat mencemaskan keadaan Qiana. Sementara Edrick pun tak tahu apa yang harus ia perbuat lagi.


Sebenarnya, kedatangan Edrick menemui Mrs. Daisy, hanyalah untuk membuat pengakuannya. Bahwa ia telah berhenti untuk berharap dan mengejar cinta Mrs. Daisy. Selama ini ia telah salah mengartikan rasa cintanya pada Mrs. Daisy.


Semua hanyalah sebatas kekaguman, karena Mrs. Daisy seorang wanita anggun keibuan dan sangat lembut. Sementara itu, Edrick hanya hidup bersama nenek Ze. Ia sangat merindukan pelukan kasih sayang dari ayah dan ibu seperti anak pada umumnya. Sedangkan hal itu tidak pernah ia dapatkan.


Pertemuannya dengan Mrs. Daisy telah membawa sesuatu yang berbeda. Pada awalnya ia mengira Mrs. Daisy seorang wanita single. Namun nyatanya, Mrs. Daisy adalah ibu sambung dari Raven sahabat baiknya. Melihat dan mengetahui kepribadian dari Mrs. Daisy, Edrick benar-benar tertarik dan cukup menggila.


Ia sangat fokus untuk mengejar cintanya pada Mrs. Daisy tanpa peduli akan hal lainnya lagi. Ia bahkan mengabaikan perasaan orang-orang yang sangat peduli dan tulus padanya. Edrick menutup pintu hatinya pada siapapun, bahkan Qiana yang telah menjadi istri baginya.


Namun, Mrs. Daisy pun berusaha untuk membantu Edrick menyadari sesuatu. Bahwa ia hanya terjebak dengan rasa kagum secara berlebihan. Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari siapun. Rasa kasih sayang, cinta, ketulusan semua ada pada Ms. Daisy.


Pada siang itu, niat hati Edrick ingin mengakhiri segalanya dan memulai ksiah barunya bersama Qiana. Akan tetapi, sesuatu kesalah pahaman besar harus terjadi diantara mereka.


Qiana kini dipindahkan ke ruangan VIP, dan Qiana tidak ingin melihat wajah Edrick berada di sana.


“Aku tidak ingin melihat pria ini, juga wanita iblis ini! jangan biarkan mereka kemari!” Peringat Qiana tanpa menoleh ke arah Edrick juga Mrs. Daisy.


“Qiana! Qiana!” Edrick memanggil, namun Fanderz menahannya.


“Kak Edrick, kau harus tahu diri! Gara-gara kakak, kak Qiana harus kehilangan bayinya!” Bentak Fanderz.


“Maaf tuan-tuan, jangan buat keributan di sini. Tolong mengerti keadaan pasien di sini.” Peringat salah seorang security.


“Maaf tuan Edrick, tapi kondisi emosional Nyonya Qiana sedang buruk. Tentu saja, semua adalah reaksi normal seorang wanita yang baru saja kehilangan calon bayinya.” Ucap sang dokter yang merawat Qiana.


“Apa dokter, istriku kehilangan bayinya?” Edrick menegang mendengar pernyataan sang dokter.

__ADS_1


Sang dokter mengangguk. “Yah, Nyonya Qiana terjatuh dari tangga dan menyebabkan pendarahan hebat. Hal itu membuat janin yang berada di dalam kandungannya pun harus gugur.”


“Apa?” Edrick sungguh terpukul dengan apa yang kini menimpa Qiana.


“Tuan Edrick, selama ini kandungan Nyonya Qiana pun mengalami kelemahan. Apakah tuan juga tidak tahu?”


“Sudah cukup dok, sudah cukup jelas. Jangan buang-buang waktu anda untuk memberikan penjelasan pada bedebah ini!” Timpal Fanderz.


“Sekarang kalian puas, bukan? Lebih baik kalian pergi dari sini, sebelum aku memuklmu!” Peringat Fanderz, lalu menutup pintu ruangan rawat inap Qiana.


Edrick begitu terpukul bukan main. Sekadar kata menyesal pun tidak akan mampu memperbaiki keadaan. Qiana telah kehilangan calon bayi bagi mereka, dan kini juga harus melalui masa-masa sulit hidupnya.


Qiana mengalami goncangan hebat, dan juga menuju depresi berat. Rasa bersalah Edrick sungguh tak terkatakan lagi.


Wanita yang selama ini selalu mencintainya dan menerimanya dengan tulus. Penuh rasa sabar dan masih tetap setia bertahan ditengah badai rumah tangga mereka. Semua perbuatan Edrick dapat Qiana maafkan. Namun, kali ini Qiana sudah tak mampu lagi bertahan. Ia sudah kehilangan banyak hal berharga didalam hidupnya.


Sementara iru, Fanderz masoh berjuang untuk mmberikan ketenangan pada Qiana.


“Kak Qiana, makanlah, kakak harus makan. Jika tidak, aku tidak tahu harus berkata pada paman dan bibi. Kak kumohon..” ucap Fanderz lirih.


Qiana hanya diam saja, tatapan matanya begitu kosong, wajah pucat dan bibirnya terlihat sangat kering. Qiana enggan untuk berbicara dengan siapapun. Tak ada satupun yang dapat menenangkannya.


Untuk saat ini, Fanderzlah yang merawatnya, dan keluarganya pun belum mengetahui permasalahan yang sedang terjadi pada Qiana saat ini.


Tentu keluarganya akan sangat murka, bahkan jika tahu penyebab dari semua hal yang terjadi pada Qiana.


“Kak Qiana, kau harus sehat dan ceria. Sehingga kita akan pergi berbelanja kak..” Fanderz sudah hampir kehilangan akal untuk membujuk Qiana.


Qiana diam tanpa bicara, dan terkadang hanya air mata yang mewakili perasaan hancurnya saat ini.


Kehilangan sang buah hati yang selalu ia jaga, tentu bukan hal mudah baginya. Qiana sedang berada di titik terendah didalam hidupnya. Segala yang telah ia perjuangankan berakhir sia-sia.


Kesedihan kini tak dapat ia hentikan, dan tersisa hanyalah rasa kecewa dan sakit teramat sangat.

__ADS_1


****


__ADS_2