
”Kediaman Queen Smitth”
Ahk... Pekik Queen, dan mengaku dirinya sedang tidak enak badan. ”Sepertinya kepalaku sedikit pusing. Bisakah kamu mengantarkan aku sampai ke rumah.
”Yah, baiklah.” Ucap Edrick.
Queen begitu lihai memainkan perannya, dan berusaha membuat agar Edrick terus berada di dekatnya.
”Silakan, diminum.” Ucap Queen, sembari menawarkan secangkir teh hangat. Berusaha membuat Edrick berada di kediamannya lebih lama lagi.
”Sudah tampan, CEO lagi.. beruntung sekali kamu Qiana... Aku harus bisa merebut hati pria ini..” batin Queen.
”Sudah berapa lama, kamu mengenal Daisy? Apakah kamu tidak tahu, jika Daisy itu seorang janda?” tanya Queen.
”Yah, aku tahu. Raven adalah temanku semasa kuliah.” Balas Edrick sembari menyeruput teh hangat miliknya.
”Kamu menyukai Daisy?” tanya Queen lagi.
Dengan menghela napas perlahan, ”jika kukatakan, ya! Apakah itu membuatmu lega?” ketus Edrick.
”Gila! Pria ini sangat ketus! Pantas saja belum mendapatkan kekasih hingga saat ini..”
”Ah, tidak penting untuk dibahas. Lalu, bagaimana dengan perkembangan perusahaanmu, Edrick?” ucap Queen, mengalihkan pembicaraan, karena sepertinya jawaban dari Edrick adalah mutlak. Queen tidak ingin hal itu membuatnya seakan mundur dari rencananya untuk terus mendekati Edrick.
”Semua berjalan dengan baik dan lancar,” jawab Edrick, sembari memandangi jam tangan miliknya.
Edrick segera pamit dari hadapan Queen, dan tidak segera pulang. Edrick masih singgah di restoran untuk membeli makan malam yang akan Edrick bawa menuju kediaman Daisy tentunya.
***
”Kediaman Daisy Lau”
Edrick tiba di kediaman Daisy, dan sangat kebetulan Daisy sudah berada di rumah.
Menekan bel rumah, dan siap menanti Daisy untuk membukakan pintu untuknya.
”Edrick?” ucap Daisy, sesaat setelah pintu dibukakan.
”Mari, makan malam bersama!” Ajak Edrick, kemudian Daisy mempersilakan Edrick untuk masuk ke kediamannya.
•••
”Sudah selesai?” tanya Daisy, tentunya mengarah ke Queen yang beberapa waktu lalu pulang bersama dengan Edrick.
”Yah. Mari makan selagi hangat. Ini ada buah-buahan untuk penunjang kesehatanmu.” Ucap Edrick. Dengan segala kebutuhan makanan, buah-buahan yang ia bawakan untuk Daisy. Seakan sudah menjadi seorang bapak-bapak.
”Kau tidak perlu merepotkan dirimu seperti ini.” Ucap Daisy.
__ADS_1
”Tidak ada yang membuatku repot. Ini hanya sebagian dari apa yang dapat ku perbuat untukmu.” Ucap Edrick, yang memang tidak pernah merasa terbebani akan apa pun yang ia perbuat demi Daisy. Begitulah kalau seseorang sedang dilanda kasmaran.
”Baiklah, jika memang seperti itu, yasudah kita nikmati saja semuanya.” Ucap Daisy. Makan malam sederhana namun terkesan begitu romantis.
Drrttt... One calling is coming...
Ponsel milik Daisy bergetar, ternyata ayahnya lah yang meneleponnya.
”Daddy...” ucap Daisy, dengan hati yang ragu, Daisy pun menerima panggilan dari ayahnya.
Mr. Lau: ”Kemana saja kau selama ini? Apakah begitu sibuk dengan pria muda itu?” Ucap Mr. Lau ketus.
Daisy: ”Bukankah daddy sudah membuang ku dari daftar nama keluarga?” balas Daisy datar.
Mr. Lau: ”Lalu, ketika kau mempermalukan nama baik keluarga Laurenzo, apakah aku hanya diam saja. Ingat, dalam dirimu masih mengalir deras darah keturunanku!” Tegas Mr. Lau.
Daisy: ”Aku sudah bisa mengurus diriku sendiri, daddy tidak perlu repot-repot untuk mengurusku!”
Mr. Lau: ”Daisy! Kau sangat lancang pada ayahmu sendiri! Apa aku tidak merasa malu dengan dirimu sendiri? Setelah bersama pria yang usianya terpaut jauh, lalu kini kau bersama pria yang jauh lebih muda darimu? Sungguh memalukan!” Ketus Mr. Lau lagi.
Mendengar ucapan kasar dari ayahnya, Daisy pun mengakhiri panggilan dengan hati yang menahan rasa dongkol.
Daisy terduduk di kursi samping kamar mandi kediamannya, sementara itu Edrick datang dari arah belakang. Mendapati Daisy tengah menangis sedih seorang diri.
”Daisy? Are you oke?” tanya Edrick lalu menyentuh bahu Daisy.
”Yes, i'm fine,” balas Daisy, namun tetap saja air mata terus saja mengalir membasahi pipi mulusnya.
Edrick dengan inisiatif langsung mendekap tubuh Daisy, sebagai tanda untuk memberikan rasa tenang.
Tanpa banyak bertanya ini dan itu.. Edrick hanya mendekap Daisy dengan dekapan lembut dan hangat. Yah, karena ketika seseorang sedang berada di dalam rasa sedih, sebenarnya mereka hanya membutuhkan sebuah dukungan bukan komentar.
”Baiklah, jika kau masih tidak ingin membicarakannya, lebih kau beristirahat terlebih dulu. Aku akan pulang.” Ucap Edrick dengan penuh kelembutan.
Daisy hanya diam tanpa ingin berucap sepatah katapun. Kalimat demi kalimat dari ayahnya sungguh menyayat hatinya. Tak ada rasa pengertian sebagai seorang ayah, bahkan Daisy sendiri yang sudah di coret dari kartu keluarga masih saja menerim perlakuan tidak menyenangkan.
***
”Perusahaan Raw Group”
Siang nan cerah ini, Daisy terlihat sudah mulai bersemangat dengan segala tugas tanggung jawab yang sedang ia emban.
”Permisi, Nyonya Daisy, ada tamu yang sedang mencari Nyonya.” Ucap salah seorang sekretaris dari Daisy.
__ADS_1
”Mohon untuk meminta beliau menungguku, aku akan segera datang ke ruang tamuku.” Balas Daisy.
Namun setelah beberapa saat kemudian...
”Nyonya, maaf, tapi tamu ini memaksa untuk segera bertemu..--”
Daisy terkejut dan heran dengan sikap tidak sopan dari tamu yang dimaksud.
Baru saja berdiri, sosok seorang pria tinggi tegap sudah muncul dari balik pintu.
Tubuh Daisy seakan menegang dibuatnya. ”Daddy...” ucap Daisy dengan bibir bergetar.
Setelah sekian lamanya, baru kali ini ayahnya Mr. Lau datang untuk mengunjungi Daisy. Itupun disaat yang kurang menyenangkan dan tepat.
”Sudah tinggi rupanya jabatanmu dariku, sehingga aku harus menunggumu yang seolah jauh lebih sibuk dari pimpinan besar.” Ketus Mr. Lau, kemudian duduk di sofa tepat di dalam ruangan kerja Daisy.
”Maaf, daddy.. aku baru saja memeriksa beberapa berkas penting ” Ucap Daisy. Mendengar hal itu, Mr. Lau pun dibuat kian meradang.
”Ternyata kau sekarang jauh lebih sibuk dari yang kukira dari sebelumnya, Daisy putriku.” Ucap Mr. Lau.
”Wah.. wah... Apakah daddy sudah berubah pikiran untuk mencantumkan namaku di dalam kartu keluarga Laurenzo?” ucap Daisy, seakan sedang mengejek ayahnya.
”Aku pikir, kau hanya sibuk dengan pemuda itu saja.. Edrick Zearch, seorang CEO muda, namun sudah menyandang status duda di usianya yang masih tergolong muda.” Ucap Mr. Lau.
”Apa yang daddy ketahui tentang, Edrick?” balas Daisy tak senang dengan ucapan dari ayahnya.
”Itukan suatu prestasi untukmu? Pertama, Adolf adalah seorang konglomerat, lalu sekarang seorang duda muda yang juga CEO perusahaan cukup ternama. Itu adalah pencapaian terbaik selama hidupmu, bukan?” Ketus Mr. Lau.
Mr. Lau
”Yah, daddy. Terima kasih atas pujian daddy.” Balas Daisy tetap tenang.
”Lebih baik kau segera tinggalkan pria duda muda itu, aku tidak menyukainya.” Tegas Mr. Lau yang terlihat serius akan ucapannya.
”Apa maksud daddy? Mengapa masih saja mengaturku..--”
Plakkhh...
Mr. Lau menampar wajah Daisy, tepat di depan sang sekretaris yang baru saja tiba di depan pintu masuk.
”Walau bagaimanapun, kau tetap darah dagingku, Daisy! Selama aku masih hidup, tidak akan kubiarkan kau mempermalukan nama keluarga Laurenzo! Kau tetap anakku sampai kapanpun!” Tegas Mr. Lau, kemudian berlalu dari hadapan Daisy.
Daisy terduduk lemas, Mr. Lau nyatanya masih saja memberikan penekanan di dalam hidup Daisy.
__ADS_1
***