
Daisy kian bingung terhadap situasi yang sedang ia hadapi saat ini. Antara memilih jalan hidupnya sendiri, namun dengan risiko hubungan dengan ayahnya akan renggang terlebih sang ayah yang kerap kali mengalami sakit. Ataukah Daisy harus menerima dengan rela hati perjodohan dari sang ayah.
Daisy akhirnya kembali tinggal bersama keluarganya, keluarga Laurenzo. Mengingat, bahwa ayahnya Mr. Lau sudah tak lagi mudah dan gagah. Mr. Lau kerap kali mengalami sakit, dan hal itu juga membuat Daisy cukup cemas. Karena walau bagaimanapun juga, semua yang Mr. Lau perbuat ialah karena ia terlalu mencintai Daisy, putri semata wayangnya. Orang tua manapun tidak akan rela, jika harus melihat anaknya kesulitan.
Perusahaan Raw Group.
Di suatu siang, tanpa diduga-duga, Daisy mengumumkan perihal pengunduran dirinya dari perusahaan Raw Group. Semua rekan kerjanya tentu tercengang, karena posisi Daisy di perusahaan tersebut cukup menjanjikan diusianya yang juga tergolong masih muda itu.
Setelah mengumumkan hal itu, Raven pun menelepon Daisy.
Raven: ”Mom, apakah mommy sudah yakin dengan keputusan mommy? Perusahaan membutuhkan mommy..” ucap Raven, yang masih menghormati sosok ibu sambungnya itu.
Daisy: ”Semua sudah dijelaskan sebelumnya, Raven.. mommy harus kembali ke keluarga mommy. Tapi, bukan berarti mommy menjauh dari keluarga Rawley..”
Raven: ”Yes, mom. Beberapa pekan ke depan, aku akan kembali ke kota A, aku ingin bertemu dengan grandpa Lau, bolehkah?”
Daisy: ”Tentu saja, anak mommy..--”
Suasana hangat masih terasa, Raven yang sangat menyayangi ibu sambungnya, dan Raven tahu, betapa besar cinta Daisy pada mendiang ayahnya, Mr. Rawley
***
Baru saja melangkah keluar dari area perusahaan Raw Group, sebuah mobil sport hitam mewah berhenti tepat di hadapan Daisy.
”Nona muda, Tuan besar memintaku untuk menjemput nona dan membawa nona pergi.” Ucap seorang pria bertubuh proposional, tentunya dengan wajah yang tampan rupawan.
Daisy mengetahui bahwa pria ini ialah bawahan dari ayahnya, sehingga Daisy tidak ragu untuk ikut.
Mereka pun bergegas pergi, Daisy yang perasaan masih begitu kalut tak karuan, setelah apa yang ia lewati hari ini.
”Nona muda, ini adalah kendaraan pribadi untuk Nona. Tuan besar baru saja memilihnya untuk Nona, sebelum Nona memulai pekerjaan beberapa hari ke depan.” Ucap si pria yang merupakan asisten pilihan dari ayahnya Daisy.
Sebagai seorang keturunan bangsawan, tentu sudah sewajarnya Daisy mendapatkan fasilitas mewah ini, dan sebelumnya Daisy juga hidup dalam kegemilangan harta. Namun, hal tersebut tak membuat Daisy menjadi sosok yang congkak.
“Lalu kau akan membawa aku kemana?” tanya Daisy sembari membalas pesan-pesan dari Band.
”Kita akan memilih berbagai pakaian kerja maupun harian untuk Nona. Ini adalah perintah dari tuan besar.” Ucap Dave, dengan kacamata hitam yang melekat di wajahnya.
”Oh. Baiklah..”
__ADS_1
Daisy sedikit tertegun dengan segala perhatian dari ayahnya, mengingat ayahnya selama ini begitu dingin dan arogan dalam mendidik Daisy. Namun, sepertinya waktu telah mengubah segalanya. Di tambah lagi, ketika melihat Daisy sekarang ini yang bersedia kembali pada keluarganya meski dengan segala luka kecewa di masa lalu. Ayahnya tentu mulai tersadar, bahwa yang Daisy butuhkan ialah kasih sayang, bukan tuntutan banyak. Hanya saja, Mr. Lau terlalu kaku untuk mengekspresikan kasih sayangnya, karena keluarga Laurenzo sudah terdidik tegas juga menjaga martabat dengan baik.
***
Hari ini pun berlalu begitu saja, Daisy sudah melakukan apa yang sang ayah perintahkan.
Hingga di suatu malam, Daisy kembali diajak pergi oleh Band untuk makan malam bersama.
Daisy sepertinya mulai membuka diri untuk Band. Daisy pun berpikir, bahwa hubungan bersama Edrick cukup sulit dan Daisy sendiri pun masih ragu dengan perasaan pada Edrick. Mengingat ayahnya menentang keras hubungan Daisy bersama Edrick dan juga permasalahan lainnya lagi. Sedangkan Band, jalan mereka ke depan seolah terbuka sangat lebar dan cerah.
Mengapa tidak perlahan mencobanya...
Restoran XX.
Duduk berhadapan dengan Banddi sebuah meja makan yang hanya diperuntukkan untuk tamu VIP dan cukup untuk dua orang saja. Hal itu dengan sengaja Band lakukan, agar mereka bisa lebih dekat lagi.
”Akhir-akhir ini, Nona Daisy terlihat semakin ceria saja.” Ucap Band, mencairkan suasana.
”Ah, sungguh?” balas Daisy dengan wajah tersenyum, suasana canggung diantara keduanya pun seakan sirna.
”Yah, sungguh. Itu berarti, Nona Daisy sudah mulai berdamai dengan keadaan dan lebih rela hati.” Ucap Band, yang terdengar begitu bijak juha sopan itu.
”Yah, mungkin apa yang tuan Band katakan memang benar adanya. Aku sudah mulai berdamai dengan keadaan, aku tidak ingin menjadi anak pembangkang, terlebih lagi, daddy sudah tak lagi gagah seperti dulu. Semua tanggung jawab keluarga ada di bahuku.. aku tidak boleh egois.. lagipula, daddy pun sudah banyak berubah dan menyadari berbagai hal di dalam keluarga kami..”
”Terima kasih, sudah menjadi pendengar bahkan bahu bagi ayahku..” ucap Daisy, suasana seketika berubah sendu.
”Hei.. jika ingin menangis, silakan saja..” ucap Band, sembari menyentuh punggung tangan Daisy.
Daisy pun mulai terbuka atas pribadinya pada Band, dan seakan hal itu membuat Daisy nyaman.
Lantas, bagaimana dengan Edrick?
Mungkinkah selama ini, Edrick terlalu agresif dan terkesan terburu-buru atas perasaannya pada Daisy? Sehingga membuat Daisy tidak senyaman ketika sedang bersama Band?
•••
Mereka pun menyelesaikan makan malam hendak pergi menuju area parkiran.
Tanpa diduga-duga, Edrick berada di sana bersama beberapa rekan kerjanya.
__ADS_1
Melihat Daisy yang tersenyum riang ketika sedang bersama pria lain, sontak membuat Edrick gelap mata dan terbakar api gemburu.
“Daisy!” Seru Edrick, lalu menghadang langkah mereka.
”Edrick..” ucap Daisy terkejut, dan seolah tahu apa yang akan segera terjadi.
“Akhir-akhir ini kau terlihat menjauh dariku dengan berbagai alasan. Jika alasan karena ayahmu, maka aku akan m berusaha memahami. Namun, jika semua itu karena kau sudah memiliki pria lain, sungguh, aku begitu sulit menerimanya..” ucap Edrick yang terlihat menahan rasa amarahnya.
”Tuan, mohon pelankan volume suara anda ketika berbicara dengan seorang wanita. Jika anda merasa, anda mencintainya, seharusnya bukan seperti sikap seorang pria sejati.” Timpal Band.
”Hei! Kau tahu apa tentangku bahka pria sejati! Tidak perlu ikut campur!” Tegas Edrick.
”Aku tidak berniat ikut campur, aku hanya bersikap sebagai seorang pria yang sedang melindungi wanitanya.”
Mendengar kata tersebut, sontan membuat Edrick dibuat kian terbakar api cemburu yang kian membara.
”What? Wanitamu?” Edrick menatap ke arah Daisy dengan tatapan penuh kekecewaan, sungguh hal ini membuat perasaan Edrick kecewa berat.
”Daisy! Daisy katakan padaku!” Desak Edrick dengan nada yang sedikit naik. Tentu saja Band tidak terima, jika Edrick membentak Daisy di depan dirinya.
”Hentikan, tidak seharusnya kau bertindak kasar pada wanita, apapun alasannya..”
”Kau lebih baik diam saja!”
Bugh!
Edrick meninju wajah tampan Band, namun Daisy bergegas melerai mereka sehingga perkelahian pun terhenti. Edrick juga ditahan oleh beberapa rekannya.
”Sikapmu yang selalu terburu-buru sangat memuakkan, aku sangat kecewa atas tindakanmu yang selalu panas seperti ini. Pergi, dan jangan pernah hubungi aku lagi!” Bentak Daisy, lalu bergegas pergi bersama Band.
Malam ini, sungguh malam yang sial bagi Edrick dan Daisy pun terlihat sangat kecewa atas tindakan kasar dari Edrick terhadap dirinya juga Band.
Bagaimana jadinya Edrick setelah ini?
__ADS_1
Akankah, Edrick akan menyerah begitu saja, ataukah bertindak lebih beringas?
***