Ketika BERONDONG Jatuh Cinta

Ketika BERONDONG Jatuh Cinta
Pahitnya Kenyataan


__ADS_3

“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”


Author by Natalie Ernison


Eadrick begitu terobsesi dengan sosok wanita yang jauh lebih dewasa dari dirinya. Eadrick tak henti-hentinya kagum dengan makhluk Tuhan ini. Rasa ingin untuk memiliki yang begitu kuat dan tak terbendung lagi.


~ ~ ~


“Kediaman Eadrick Zearch family”


Sudah hampir satu bulan, Ead tak lagi saling bertemu dengan wanita tercintanya. Ead kini disibukkan dengan segala tugas tanggung jawab yang telah dipercayakan padanya. Namun, tak jarang ia sangat merindukan wanitanya. Meskipun harus melalui berbagai penolakan secara langsung. Hal itu sungguh tak mambuat Ead mundur.


“Kemarin, Raven datang berkunjung bersama Nona Qiana. Namun, kau masih belum kembali dari kantor.” Ucap nenek Ze, sembari meletakkan beberapa mangkuk sup hangat di atas meja.


Ead menyeruput kuah sup hangat kesukaannya, dan menatap ke arah sang nenek. “Yah, kemarin aku benar-benar sibuk. Sehingga waktuku tak cukup untuk bermain lagi.”


Nenek Ze menyentuh punggung tangan milik Ead. “Nenek bangga memiliki cucu sepertimu. Kau sangat pekerja keras tak kenal kata mengeluh. Namun, nenek akan sangat sedih, jika karena pekerjaanmu, kau tak memiliki waktu cukup untuk menikmati hidup.”


Setelah mengucapkan hal yang mengharukan, raut wajah Ead terlihat sendu.


“Nenek, apakah aku terlalu sibuk! Dan apakah, aku sudah mulai tidak seperti cucu nenek yang dulu?”


“Tidak sayang, kau tetaplah cucu nenek. Namun, nenek ingin kau lebih banyak menikmati hidupmu.”


Ead bangkit dari tempat duduknya, melangkah mendekati nenek Ze, dan mendekap erat nenek Ze.


“Maafkan aku nek, maafkan aku yang terlalu sibuk.” Ucap Ead lirih, sembari menelusup kan wajahnya di antara bahu dan batang leher nenek Ze.


Sembari mengucap lembut puncak kepala milik Ead, mengecup lembut pipi Ead. ”Terima kasih, karena kau telah sangat bekerja keras untuk kita.” Keduanya pun saling berpelukan satu sama lain.


Ead harus bekerja keras mempertanggung jawabkan segala tugas yang telah ia emban. Sekalipun harus kehilangan banyak waktu istirahat, namun Ead cukup menikmati kehidupannya.


Sementara di sisi lainnya…


***


“Perusahaan DS”


Semejak kejadian di kediaman keluarga Rawley, Qiana kerap kali kehilangan fokusnya saat bekerja. Qiana sangat menyukai Ead sejak lama, dan terus menaruh harapan besarnya pada Ead. Akan tetapi, kenyataan kini sungguh membuatnya bingung.


“Nona Qiana, ini adalah proyek terbaru dengan perusahaan majalah B.” Ucap seorang pegawai pria, dengan membawakan beberapa berkas kontrak kerja.


Qiana ialah seorang designer ternama, dan kemampuannya dalam bekerjapun tak diragukan lagi.

__ADS_1


“Nona Qiana!” Panggilnya lagi, dan seketika membuyarkan lamunan Qiana.


“Ah! Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Qiana terkejut bahkan tidak menyadari kehadiran sang pegawai.


“Ini adalah proyek kerjasama terbaru kita bersama perusahaan B.”


Qiana mulai membuka halaman per halaman dari isi berkas kontrak kerja tersebut. Ia tak dapat bekerja sefokus biasanya, dan bayangan Ead pun terus membayanginya sepanjang waktu.


“Apa yang aku pikirkan, sangat bodoh!” Qiana merasa kesal dengan perasaannya sendiri. Ia tahu, Ead tidak pernah memandangnya sebagai seseorang yang istimewa selain sahabat.


Meraih ponsel miliknya, hendak menelepon Ead saat itu juga. Namun, sebuah panggilanpun mendahului niat hatinya.


“Raven..” gumamnya, saat melihat nama Raven di layar ponselnya. Qiana tidak menerima panggilan tersebut, dan terus mengabaikannya.


Sebuah kisah yang cukup pelik, antara ketiga sahabat lama ini. Menyukai sosok yang justru tidak pernah menyukai mereka. Qiana akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Ead untuk bertemu dengan dirinya. Beruntungnya, Ead pun menerima tawaran tersebut, dengan niat ingin membicarakan perihal perasaan suka Raven terhadap Qiana.


“Tolong selesaikan segala hal yang telah kukerjakan. Aku akan pergi menemui seseorang.” Ucap Qiana pada salah seorang asistennya.


Ia pun bergegas menuju sebuah resto terbuka, dan merupakan tempat ia biasa bersama kedua sahabatnya, Raven dan Ead.


Ia pun mengenakan pakaian yang sedikit ketat, dan memperbaiki make up tipisnya. Tersenyum sepanjang saat, sebelum ia bertemu kembali dengan Ead.


***


Tak lama setelahnya, Qiana pun tiba di lokasi tempat ia akan bertemu dengan Ead.


Karena terlalu semangat, Qiana hampir saja jatuh tersungkur saat akan melangkah ke arah Ead.


“Qiana!” Pekik Ead, lalu meraih tangan Qiana degan sigap. Qiana tersipu, saat Ead meraih tangannya dengan lembut.


“Te-terima kasih Edrick,” ucap Qiana. Keduanya pun menuju meja yang berada di ruang terbuka.


“Sepertinya, kau sangat sukses sekarang.” puji Ead, sembari menyeruput kopi panas miliknya.



Qiana tersenyum malu, “tidak juga Ead. Aku pun masih sangat pemula.” Balas Qiana merendah.


Menyantap makan siang dan membicarakan perihal pengalaman bekerja masing-masing. Ead terlihat cukup menikmati arah perbincangan mereka, begitu pula dengan Qiana.


“Sepertinya Edrick sudah fokus dengan pekerjaannya, dan tidak mungkin mengganggu bibi Daisy…” Qiana mulai merasa ada kesempatan baginya untuk mendekati Ead.


Tak hanya sekali, bahkan berkali-kali sudah Qiana bertemu berdua bersama Ead. Ead pun merasa cukup nyaman dengan pertemuan mereka, walau sesungguhnya Ead menganggap Qiana hanyalah sahabatnya.

__ADS_1


***


“Perusahaan DS”


Qiana mulai terlihat ceria kembali, tatkala dirinya bersama Ead sudah mulai menjalin hubungan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Setiap panggilan maupun pesan dari Qiana, tak perah sekalipun terlewat menerima balasan dari Ead.


Menyentuh layar ponsel miliknya, dan mulai mengetik pesan.


“Selamat siang Mr. Edrick, apakah sore ini kau bisa menemaniku bepergian?”


Drrtt…. satu pesan baru…


“Tentu saja, dan ada hal yang ingin kubicarakan denganmu..” Edrick.


“Oo my God!” Qiana berteriak kegirangan, saat menerima balasan pesan dari Ead.


“Hari ini aku harus mengenakan pakaian yang bagus..”Qiana mulai membuka lemari pribadi miliknya, tepatnya di dalam ruangan kerja miliknya. Qiana selalu menyiapkan pakaian ganti di kantor, tempat ia bekerja.


Keduanya kembali melakukan pertemuan di pinggir sebuah danau, tempat mereka biasa bertemu sebelumnya.


Satu jam setelah kepergian Qiana bersama Ead, Raven pun tiba di kantor tempat Qiana bekerja. Raven mencoba untuk menanyakan keberadaan Qiana dari salah seorang asisten Qiana. Setelahnya, Raven memutuskan untuk mengejar Qiana ketempat pertemuan Qiana bersama Ead.


Sementara itu….


***


“Di tepi Danau XX”


Ead sebenarnya berniat untuk mengatakan perihal perasaan Raven pada Qiana, namun Ead sedang memikirkan kalimat yang tepat.


“Qiana, sebenarnya,”


Sehhttt… Qiana membungkam mulut Ead menggunakan jari telunjuknya. “Aku tahu apa yang ingin katakan. Yah, aku juga mencintaimu.” Tegas Qiana, dan langsung meyambar bibir Ead.


Qiana Smitte



“Qiana!” Ucap Ead heran, dan ia sangat bingung dengan apa yang telah Qiana lakukan.


Diwaktu yang sama pula, Raven baru tiba di sisi utara. Berniat untuk mengejutkan kedua sahabatnya, dan yang ia dapatkan justru hal yang teramat menyakitkan. Raven sudah sekian lama menyukai Qiana, mempercayakan Ead untuk menyampaikan tanda-tanda perasaannya.


Kini, Raven benar-benar terluka atas apa yang baru saja ia saksikan…

__ADS_1


****


__ADS_2