
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta”
Author by Natalie Ernison
Qiana mengira, dengan tindakan agresifnya akan mampu meluluhkan kerasnya hati Eadrick. Namun, apa yang ia pikirkan ternyata tidak sejalan dengan apa yang Eadrick pikirkan. Eadrick tidak mampu melupakan bayang-bayang Mrs. Daisy di hidupnya. Sehingga hal itu pulalah yang membuat Eadrick masih selalu menyalahkan Qiana.
~ ~ ~
Kehidupan rumah tangga yang selama Qiana idamkan hanyalah sebatas khayalan. Apapun yang ia perbuat tak pernah benar dimata Eadrick.
“Kediaman keluarga Eadrick Zeacrh”
Qiana terlihat begitu gelisah menantikan kepulangan Edrick dari pekerjaannya hari ini. Tidak hanya malam ini, malam-malam sebelumnya pun Edrick selalu pulang terlambat. Tanpa ada alasan dan kalimat yang menenangkan bagi Qiana, semua hanyalah diam dan tak ada komunikasi baik diantara mereka berdua.
Terkadang Qiana harus tertidur di sofa, hanya untuk menantikan kepulangan Edrick. Pada saat hal itu terjadi, nenek Ze tidak berada di kediaman mereka. Karena nenek Qiana terkadang pergi menginap di tempat kegiatan sosial bersama komunitas seusianya.
Edrick akhirnya tiba di kediamannya, saat membuka pintu Qiana sudah terbaring dan tertidur di atas sofa.
“Hei, sampai kapan kau akan berada di sini?” ucap Edrick sembari menepuk bahu Qiana.
Perlahan, Qiana mulai membuka sedikit penglihatannya. “Edrick, kau sudah pulang..” ucap Qiana setengah sadar.
Bangkit dari sofa tempat ia tertidur. “Kau sedang hamil, lalu kau berada di sini hingga tertidur. Jika kau sakit, siapa yang akan kau salahkan!” Ketus Edrick lalu melepaskan pakaian yang ia kenakan, melangkah menuju kamar mandi.
Qiana hanya menatap sendu punggung gagah Edrick. Ia tertidur di sofa bukan karena suka, namun karena menanti kepulangan Edrick suaminya, suami yang sangat ia cintai.
Tersenyum menahan pilu hatinya, melangkah menuju kamar mereka. “Aku akan menyeduh teh hangat untukmu,” ucap Qiana.
“Tidak perlu, aku sudah cukup kenyang.” Balas Edrick.
“Baiklah. Sepertinya hari ini pekerjaanmu sangat padat, bukan?” Qiana mencoba untuk mendekati Edrick.
“Yah, hal itu membuatku sangat kelelahan..” ucap Edrick, sembari menarik selimut miliknya dan berbalik badan membelakangi Qiana. Keduanya masih berada di kasur yang terpisah.
Qiana berada di kasur utama, sedangkan Edrick tidur di kasur tarik miliknya.
Berusaha untuk tetap tersenyum kuat, walaupun sebenarnya Qiana sudah mulai lelah dengan apa yang sedang terjadi di dalam rumah tangganya.
~ ~ ~ ~ ~
Malam-malam berikutnya, Edrick lagi-lagi pulang larut malam tanpa ada alasan yang jelas. Pada akhir pekan sekalipun, Edrick masih suka bepergian. Qiana pun mulai menaruh perasaan curiga pada suaminya.
Ingin menjaga kandungannya, Qiana kini bekerja dari rumah. Ia memiliki ruangan kerja pribadi, dan terkadang juga pergi ke perusahaan utama milik keluarganya.
Karena sudah terlalu curiga dengan gerak gerik suaminya, Qiana memutuskan untuk mengikuti Edrick secara diam-diam. Dengan segala resiko yang ada, ia tidak peduli lagi.
Hari ini, Edrick pergi begitu saja tanpa banyak kata-kata. Qiana sudah merencanakan kepergianya bersama seorang saudara dari ayahnya.
“Jemput aku pukul.15.00.. tentu saja, kita akan mengikutinya menggunakan mobil milikmu..--” ucap Qiana pada salah seorang saudaranya.
***
Qiana kini bersama seorang pria muda, yang merupakan saudara sepupu dari ayahnya.
__ADS_1
“Apapun yang terjadi hari ini, jangan pernah katakan pada siapapun, sekalipun itu Mom dan Dad.” Peringat Qiana pada Fanderz.
“Baik, kak Qiana. Namun, aku harap pencaharian hari ini memuaskanmu.”
Qiana duduk tenang, mengikuti arah mobil milik Edrick. Perasaannya mulai tak tenang, saat dilihatnya arah perjalanan mobil milik Edrick menuju sebuah area kuliner.
Mobil yang Edrick kendarai berhenti tepat di depan sebuah cafe mewah. Edrick pergi seorang diri, keluar dengan mengenakan jaket hoodie, namun masih mengenakan celana kerja miliknya.
“Kak Qiana, sepertinya kak Edrick bersama seseorang.” ucap Fanderz, sembari memandang ke arah tempat duduk Edrick.
Mata Qiana menatap tajam ke arah tempat Edrick berada. Yah, Edrick sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Wanita yang sangat Qiana kenal.
“Kak Qiana..” ucap Fanderz sembari menepuk bahu Qiana.
“Cukup jelas Fanderz, kita kembali.” Ajak Qiana, menahan sesak didadanya. Edrick menemui Mrs. Daisy dibelakangnya, dia yang sudah sah menjadi istri bagi Edrick.
***
Qiana berusaha menahan diri untuk tidak menangis dihadapan saudaranya, walaupun air matanya sudah terasa sangat penuh.
“Kau sudah mengambil waktu khusus untukku, bukan?”
“Yah, hari ini aku tidak pergi bekerja karena menamanimu.”
“Baiklah, kita akan pergi berbelanja pakaian.” Ucap Qiana, dengan wajah tersenyum sendu.
Keduanya pun pergi menuju pusat perbelanjaan, dan Qiana menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk menikmati hidup. Berbelanja, dan membeli barang-barang bermerek lainnya. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul. 22:45.
“Kita baru saja menikmati makanan penutup. Santai saja, Oke!” Ucap Qiana, sembari menyantap makan malam miliknya. Sesekali menatap layar ponsel miliknya, berharap Edrick akan menghubunginya atau sekedar menanyakan keberadaannya.
Namun, hingga pukul.23.05. ponselnya masih terlihat sepi, tak satupun pesan dari Edrick untuknya.
“Aku akan mengantarmu pulang kak.”
“Yah, aku sangat lelah hari ini.”
***
Keduanya pun kembali pulang, dan Qiana harus bersikap seolah tak tahu mengenai pertemuan antara Edrick dan Mrs. Daisy.
“Kediaman Eadrick Zearch”
“Terima kasih untuk hari ini!” Ucap Qiana pada Fanderz, sembari membuka pintu rumah. Dilihatnya, mobil milik Edrick sudah ada di tempat.
Membuka pintu sembari membawa seluruh barang belanjaan miliknya. Saat baru saja membuka pintu, Edrick terdengar sedang berbicara dengan seseorang melalui panggilan.
Pintu kamar mereka sedikit terbuka, memperlihatkan siapa saja yang berada di sana. Qiana melihat dari sela pintu yang sedikit terbuka, melihat ekspresi suaminya terlihat cukup girang saat sedang berbincang di telepon.
“Daisy, sampai kapan kau akan menghindariku, hmm! Bukankah, semenjak ada paman Adolfpun aku sudah menyukaimu..”
kekeh Edrick, sembari duduk di kursi.
Qiana hanya menelan ludahnya, dan barang-barang yang berada di tangannnya pun terjatuh. Edrick hanya menoleh ke arah pintu, lalu menyelesaikan panggilannya.
__ADS_1
Qiana membawa seluruh barang miliknya, meletakkan di atas meja. Pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tak ada lagi kalimat sapaan malam hari ini. Semua diam di tempat masing-masing.
Malam Pun berlalu begitu saja, permasalahan seakan berakhir begitu saja. Saat Edrick pergi bekerja, Qiana diam-diam mengajak Mrs. Daisy untuk bertemu denganya.
***
Semenjak kejadian hari hingga malam itu, Qiana tak banyak bicara namun ia benar-benar bertindak kali ini. Membulatkan tekatnya untuk pergi menemui Mrs. Daisy.
Suatu siang, Qiana pun benar-benar datang menemui Mrs. Daisy.
“Kediaman keluarga Rawley”
Qiana tiba di kediaman keluarga Rawley, tubuhnya sudah bergetar tak sabar untuk bertemu dengan Mrs. Daisy.
“Qiana!” Panggil Mrs. Daisy menyambut kedatangan Qiana. Keduanya duduk di area taman pribadi milik keluarga Rawley.
“Bibi Daisy, bibi tahu bukan, jika aku sedang mengandung anak dari Edrick?” ucap Qiana.
“Yah, bagaimana usia kehamilanmu?” tanya Mrs. Daisy ramah.
“Anda masih bisa bertanya mengenai kandunganku, setelah anda bertemu dengan suamiku?” Qiana menatap nyalang ke arah Mrs.daisy.
“Qiana,itu tidak seperti yang kau pikirkan!”
“Apa! Lalu panggilan kalian malam kemarin! apakah itu juga tidak seperti yang kupikirkan?” Qiana kali ini benar-benar marah.
“Kumohon, jauhi suamiku.. aku sangat mencintainya, tak ada lagi yang dapat membuatku bertahan.. kumohon…” isak Qiana, lalu menyentuh kedua bahu Mrs. Daisy.
Diwaktu yang sama, Edrick datang dan melihat apa yang terjadi di sana. Edrick berpikir, jika Qiana sedang menindas Mrs. Daisy.
“Qiana!” Seru Edrick. Qiana sangat tidak menyangka atas apa yang terjadi.
“Edrick bagaimana kau bisa datang kemari…”
“Qiana, sebenarnya..--” timpal Mrs. Daisy, namun Edrick menahannya untuk bicara.
“Sudahlah Daisy, tidak ada yang perlu kau jelaskan.” Tukas Edrick.
“Edrick, apa yang kau lakukan! Aku istrimu, dan kau datang ke tempat wanita lain tanpa sepengetahuanku..” isak Qiana tak mampu ia tahan lagi.
“Qiana, aku yang meminta Edrick untuk datang hari ini, dengarkan!”
“Cukup! Kalian benar-benar keterlaluan! Edrick kau sungguh kejam!” Isak Qiana.
“Hei! Jaga nada suaramu! Jika tidak, lebih baik kau pergi!”
“Edrick, jangan seperti ini!”
”Daisy, sudahlah.. kau jangan pedulikan dia.” Edrick berucap lembut pada Mrs. Daisy, sedangkan padanya selalu membuat sakit hati mendalam.
Qiana menggelengkan kepalanya, seakan tak percaya dengan keadaanya saat ini. Ia bahkan tak lagi berharga dimata suaminya sendiri. Tak tahu, apa lagi yang harus ia pertahankan kini.
****
__ADS_1