Ketika BERONDONG Jatuh Cinta

Ketika BERONDONG Jatuh Cinta
Semua tak seperti dulu


__ADS_3

“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”


Author by Natalie Ernison


Raven sangat mencintai Qiana sejak lama, namun harapannya pun pupus saat ia mengetahui perasaan Qiana bukanlah untuknya. Raven berusaha merelakan segalanya, demi persahabatan mereka. Semua hancur, setelah Raven mengetahui Eadrick memperlakukan ibu sambungnya secara berlebihan. Tak hanya sampai itu saja, Raven kini kian meradang saat mengetahui kebenaran pilu mengenai Qiana.


~ ~ ~


Argh! Raven berteriak saat sedang mengendarai mobil miliknya. Memukul setir mobil miliknya, dan menangis sejadi-jadinya.


“Edrick bajingan! Mengapa kau menghancurkan segalanya!” Isak Raven.


“Apa maumu Edrcik!” Arghh!! Perasaan Raven sungguh hancur setelah mengetahui kehamilan Qiana, dan segala yang Qiana alami selama ini.


Setelah mengemudi dalam keadaan yang sangat kacau, Raven pun tiba di perusahaan tempat Edrick bekerja.


***


“Perusahaan BX”


Raven mengepal kedua tangannya, dan berusaha tetap menahan amarahnya untuk mengamuk. Ia melihat Edrick sedang berbicara dengan seorang pegawai, dan Raven pun bersabar untuk tetap menunggu.


“Edrick!” Seru Raven sembari melangkah ke arah Edrick.


“Raven..” ucap Ead dengan tersenyum canggung.


“Kurasa, kita harus bicara berdua.” Ucap Raven setengah berbisik.


“Tentu saja, ingin di ruanganku?” Ead menawarkan dengan sopan. Ead sempat berpikir, bahwa Raven sudah mulai bias menerima segalanya.


Keduanya pun memasuki sebuah ruangan kerja yang Ead tempati.


“Duduklah, Rav!” Ead mempersilakan Raven untuk duduk di sebuah kursi.


Raven menghela napasnya perlahan, dan..


Bugh!


Satu tinjuan berhasil membuat pinggir mulut Ead terluka hingga mengeluarkan sedikit darah, karena terlalu kerasnya tinjuan Raven.


Ead bahkan terjatuh di atas kursi miliknya, sembari menyentuh mulutnya yang terasa begitu nyeri.


“Rasanya, aku sangat ingin membunuhmu Edrick! Tapi karena aku memikirkan ayah bagi bayi yang Qiana sedang kandung. Aku menahan niatku!” Ucap Raven dengan menahan segala amarahnya.


“Apa maksudmu Raven?”


“Kau masih berlaga bodoh! Atau otakmu memang sudah bergeser sekarang!” Raven mengeratkan cengkeraman tangannya pada bagian kerah leher baju milik Ead.


“Kau melakukan hal yang sangat kejam, lalu setelah Qiana hamil, kau mengabaikannya!” Pekik Raven, melepaskan cengkeraman tangannya.


Ead terdiam, dan tak mampu lagi berucap.


“Kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan. Qiana sedang mengandung anakmu.” Setelah mengatakan hal itu, Raven pun pergi begitu saja dari hadapan Ead.


Ead hanya duduk di kursi kerja miliknya, tubuhnya lemas setelah mendengar berita tersebut. Namun, ada rasa benci yang muncul di hatinya saat mengingat Qiana.

__ADS_1


Sementara itu, Raven pun merasakan hal yang jauh lebih menyakitkan lagi. Ia kehilangan sahabatnya dan juga wanita yang sangat ia cintai. Ia kehilangan sosok yang sangat berharga baginya, yang kini menjadi sosok yang justru menyakiti secara dalam.


Semenjak kematian Mr. Rawley mendiang ayahnya, Raven selalu menghabisi waktunya untuk berbisnis. Terlebih lagi, semejak ia mengetahui kejadian antara Ead bersama ibu sambungnya.


***


Tak bisa diam saja, Ead ingin segera mencari kebenaran berita yang ia telah terima. Ia tahu, kemana harus pergi dan mencari kebenaran. Ead pun memutuskan untuk pergi menuju apartemen kediaman Qiana dengan panas hati. Pikirannya kini penuh dengan kekacauan tak karuan lagi.


“Apartemen kediaman Qiana”


Ead mengunjungi apartemen Qiana dalam kondisi pikrian yang kacau, ia belum damai dengan dirinya sendiri.


Mengetuk pintu dengan tidak sabaran, Qiana pun muncul dengan kondisi kesehatannya yang mulai menurun.


“Edrick, masuklah..” ucap Qiana ramah dan berusaha untuk tetap tersenyum.


Ead pun masuk dan duduk. Menatap dalam ke arah Qiana, tatapan yang penuh dengan kemarahan.


“Kau ingin minum?” Tanya Qiana ramah.


“Kau tidak perlu mengulur waktuku, aku bahkan tidak berniat untuk menemuimu jika bukan karena masalah kehamilan palsumu!” Tukas Ead dengan ketus.


“Kehamilan palsu, apa yang kau maksud Edrick?”


Tsk.. “Kau mengatakan tentang kehamilanmu pada Raven. Namun, aku curiga mengenai siapa ayah dari anak itu, jika memang kau sedang mengandung.”


“Yah, aku hamil, dan ini anakmu Edrick.” Ucap Qiana memberanikan diri.


“Omong kosong! Kau pikir aku akan percaya begitu saja! Bagaimana jika ini hanyalah akal busukmu saja!”


“Jika saja sebagai wanita kau memiliki harga diri yang tinggi, mungkin kau tidak seharusnya menyeretku ke dalam hidupmu. Semenjak berurusan denganmu hidupku menjadi kacau. Ditambah lagi dengan kemahilanmu!”


“Aku tidak yakin, jika ini anakku.”


Qiana terkejut dan hatinya semakin terluka atas apa yang Ead baru saja ucapkan padanya.


“Malam saat kau mabuk, aku membawamu kemari karena aku menerima panggilan darimu. Semua kulakukan, karena aku sangat mencintaimu Edrick. Namun, aku tidak tahu, jika kau akhirnya akan memaksaku untuk melakukannya.” Isak Qiana.


“Kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu! Kau terlalu banyak drama! Atau kau sengaja menjebakku Qiana!” Bentak Ead.


Qiana menutup telinganya, ia tak sanggup mendengar bentakan Ead padanya. Hal itu jauh lebih menyakitkan baginya, segala yang Ead ucapkan terlalu menyakitkan.


“Aku belum siap menjadi seorang ayah, bahkan hal itu terjadi dibawah kendaliku. Kau yang menyebabkan segalanya menjadi sangat kacau.”


“Aku pun tidak tahu..” Isak Qiana.


“Aborsi saja anak itu, karena aku tidak akan mengakuinya.”


“Apa.. aborsi..” kali ini, ucapan Ead jauh lebih menyakitkan. Bahkan setiap kata bak ucapan penuh duri yang melukai Qiana secara perlahan.


“Tidak Edrick! Aku tidak akan mengaborsi anak ini, tidak akan!” Qiana beranjak dari tempat duduknya, tangisannya kian terdengar pilu.


“Jika kau tidak bersedia untuk bertanggung jawab, setidaknya jangan katakana hal yang jauh lebih menyakitkan padaku. Kau tahu! Kaulah pria pertama dan satu-satunya yang pernah berhubungan denganku!”


“Cukup sudah drama hari ini, kita akan aborsi anak ini!” Ead menarik paksa tangan Qiana, membawa Qiana keluar.

__ADS_1


Keadaan lorong apartemen yang cukup sunyi, membuat suara tangisan Qiana terdengar jelas dari arah lift.


Diwaktu yang sama, Raven datang untuk mengunjungi Qiana. Setelah mengetahui tentang kehamilan Qiana, Raven menjadi lebih peduli dan kerap kali mengantarkan makanan sehat.


“Semoga Qiana menyukai ini.” Ucap Raven dan baru saja keluar dari dalam lift.


Namun raut wajah Raven kini berubah tegang, saat mendengar suara tangisan pilu Qiana. Tangisan yang tidak biasa dari biasanya.


“Aku tidak akan menggugurkan anak ini, tidak akan!” Isak Qiana terdengar jelas.


Raven yang mendengar dan melihat Qiana ditarik secara paksa oleh seorang pria yang tak lain ialah Ead. Sungguh membuat Raven kian meradang karenanya.


“Edrick bajingan!” Ucap Raven, berjalan setengah berlari ke arah Qiana dan Ead.


“Apa yang kau lakukan bajingan!” Raven meraih tangan Qiana menarik Qiana ke dalam pelukannya.


Menatap tajam kea rah Ead, tatapan penuh kebencian.


“Aku memang patut mati!”


Bugh! Bugh!


Tinjuan beruntun ke arah Ead, namun kali ini Ead tidak hanya diam. Secara bobot dan perawakan Ead lebih unggul. Ead pun cukup menguasai ilmu bela diri, dan selama ini ia tidak tunjukkan untuk membalas pukulan sahabatnya Raven.


“Raven, kau sudah cukup ikut campur! Jika kau menyukai wanita ini, kau ambil saja beserta bayi itu!” Tukas Ead sembari meletakkan tangannya di atas dada Raven.


“Kau bahkan hanya percaya atas apa yang kau lihat selama ini! Aku hanya diam, karena aku masih menganggapmu sahabatku! Tapi kau tidak pernah melihat dari sisi lainnya, sisi kebenarannya!” Tegas Ead lalu melepaskan tangannya.


“Dan kau, urusan kita masih belum selesai!” Ead menatap ke arah Qiana, dan melangkah pergi.


Qiana masih terisak hingga terperosot di dinding, tepatnya di lorong jalan apartemen kediamannya.


Raven meraih tangan Qiana, menuntun Qiana menuju ruangan kediamannya. Raven berusaha untuk memberi Qiana ketenangan saat bersama dirinya.


“Qiana, aku siap menjadi ayah bagi bayimu.” Ucap Raven penuh keyakinan dan tanpa ragu sedikitpun.


Qiana menetapnya dengan heran. “Kau tahu apa yang kau ucapkan Raven, ucapan itu bukanlah main-main. Kau harus berpikir jernih.” Balas Qiana.


“Aku sangat yakin Qiana, aku akan bertanggung jawab menggantikan posisi Edrick.” Meraih tangan Qiana, dan mengecup punggung tangan milik Qiana.


Qiana menarik kembali tangannya, “aku tidak bisa Raven. Aku akan tetap mengurus anak ini, kau jangan cemaskan aku.” Balas Qiana, dan suasana pun kembali hening.


Raven tersenyum dan ia tahu posisi Ead tidak aka pernah tergantikan di hati Qiana.


“Baiklah, aku akan tetap menanti jawabanmu dan saatnya tiba hatimu akan mengijinkanku untuk hadir.” Raven beranjak dan menepuk bahu Qiana.


“Kau harus menjaga kesehatanmu, dan bayi itu. Aku bersumpah, bayi itu akan tetap memiliki kedua orang tua yang utuh.” Setelah mengatakannya, Raven kembali dari apartemen kediaman Qiana.


Qiana tak mampu membendung air matanya yang tak hentinya mengalir. Semua terlalu menyesakkan baginya, namun semua harus ia jalani.


Sementara disisi lain lagi, Raven berniat untuk mengatakan pada nenek Ead apa yang terjadi sebenarnya pada Qiana dan Ead.


Mungkinkah Nenek Ze akan tetap tenang setelah menerima berita mengejutkan ini, di usianya yang sudah renta bahkan kesehatannya pun sudah kian menurun...


*****

__ADS_1


__ADS_2