
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
~ ~ ~
Eadrick tak ingin menyia-nyiakan-nyiakan seseorang yang sangat tulus padanya, dan juga banyak berkorban baginya. Ia tidak ingin mengulang kesalahan dari ayahnya, Mr. Jehezkiel. Ia ingin menjadi sosok pria yang bertanggung jawab, walau seakan terlambat sekian tahun lamanya.
Datang kembali ke Negara A, hanya untuk menemui Qiana, wanita yang pernah menjadi calon ibu bagi anaknya.
Saat kedatangan Eadrick yang secara tiba-tiba dengan segala kejutan spesialnya. Hal itu membuat Qiana sangat terkejut dan tidak pernah menduga akan datang hari indah ini. Karena baru saja menjalankan proses kemoterapi, dan mengharuskannya untuk lebih banyak beristirahat. Qiana pun kehilangan keseimbangan tubuh, lalu jatuh terhuyung.
***
Ead secepat mungkin membawa Qiana menuju rumah sakit terdekat, cemas akan keadaan Qiana saat ini. namun, saat dalam perjalanan menuju rumah sakit Qiana terbangun kembali.
Menatap sekelilingnya, dan Ead yang masih setia menggenggam erat tangannya.
“Kemana, kita kemana?” ucap Qiana pelan, menahan sakit kepalanya.
“Kita akan memeriksa kesehatanmu ke dokter terdekat. Tenanglah, semua akan baik-baik saja, oke.” Ucap Ead, sembari mengusap puncak kepala Qiana.
Qiana menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak setuju. “Tidak, aku benci rumah sakit. Aku baik-baik saja, tolong putar arah!” Qiana memohon agar Ead tidak melanjutkan perjalanan mereka.
Ia tidak ingin Ead mengetahui kondisinya saat ini, ini masih belum bisa mempercayakan siapapun untuk mengetahuinya.
“Kenapa Qiana, apakah rumah sakit telah memberimu pengalaman buruk?” Ead baru saja teringat akan kisah duka masa lalunya bersama Qiana, yang berhubungan dengan rumah sakit.
Ead berpikir bahwa Qiana ada perasaan trauma dengan rumah sakit. Mengingat calon bayi mereka berakhir di rumah sakit, saat peristiwa jatuhnya Qiana dari anak-anak tangga beberapa tahun yang lalu.
“Baiklah, kita akan kembali. Maafkan aku Qiana.” Sesal Ead, lalu mereka pun kembali menuju rumah toko tempat Qiana bekerja.
“Terima kasih atas pengertianmu Edrick..” ucap Qiana dengan tatapan sendunya. Qiana membutuhkan waktu untuk lebih banyak beristirahat pasca kemoterapinya.
***
Rumah Toko Qiana Smitte
Mereka kembali ke rumah toko milik Qiana, Qiana harus berusaha untuk tetap tenang. Agar tidak ada yang mengetahui kondisinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
“Kau masih sama seperti dulu, selalu bekerja keras.” Puji Ead, saat keduanya sedang duduk di ruang tengah, lantai dua ruangan kerja milik Qiana.
__ADS_1
“Yah, aku harus tetap mandiri.”
“Apakah kau sudah tidak lagi bersama keluargamu?”
“Terkadang aku di sana, terkadang aku di sini bersama beberapa pegawaiku. Aku lebih nyaman berada bersama mereka.” Balas Qiana, dan sesekali ia batuk dengan sapu tangan berwarna biru tua miliknya.
“Kau terlihat sangat pucat, dan juga sepertinya berat badanmu sangat turun.”
“Ah, kau benar. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Hal itu membuatku terkadang lupa untuk makan siang.” Balas Qiana dengan wajah tersenyum tipis.
“Besok, aku ingin mengajakmu untuk pergi makan malam. Apakah kau bisa?” Ead menyentuh punggung tangan milik Qiana.
“Aku,” Qiana membalas tatapan mata Ead, dengan sorot matanya yang terlihat begitu sayup.
“Aku akan menjemputmu. Untuk hari ini, kau harus istirahat, oke!” Ead mengusap puncak kepala Qiana, dengan senyuman tulusnya. Qiana mengangguk menyetujui ajakan dari Ead.
~ ~ ~
Setelah sedikit berbincang, Ead segera pergi menuju tempat persinggahan sementaranya selama berada di Negara A. sembari mengurus segala pekerjaannya dari jarak jauh.
Sementara itu, Qiana sibuk dengan kegiatan memilih pakaian yang tepat untuk ia kenakan keesokan harinya. Qiana bahkan memesan beberapa dress dari toko pakaian kepercayaannya. Ia ingin terlihat istimewa dihadapan pria yang sangat ia cintai. Entah mengapa, Qiana begitu bahagia, hal itu pula menambah sekian persen semangat hidupnya.
Qiana akhirnya menentukan dress yang akan ia kenakan saat kencan pertamanya bersama Ead. Yah, kencan pertama kali, dimana Ead benar-benar mengajaknya untuk pergi bersama.
Qiana sudah duduk di lantai bawah rumah toko miliknya, rasa gugup tidak sabar sungguh tak mampu ia tutupi. Qiana kerap kali tersenyum sendiri, tatkala mengingat bagaimana Ead mengajaknya untuk pergi bersama.
Kembali terkejut, saat mendengar suara mesin mobil yang baru saja tiba di depan rumah toko miliknya. Bergegas melangkah menuju pintu utama, dan pria yang ditunggu-tunggu sudah membukakan pintu mobil baginya.
Berjalan dengan wajah berseri-seri, sungguh malam yang sangat membahagiakan bagi Qiana.
“You’re so beautiful.” Puji Ead, saat Qiana memasuki mobil miliknya.
Qiana hanya tersenyum tersipu malu, tak tahu kalimat apa yang harus ia balas untuk pujian ini. keduanya pun segera menuju tempat yang telah Ead persiapkan.
***
Selama dalam perjalanan, Ead menggenggam tangan milik Qiana, Qiana sebisa mungkin mengatur pernapasannya. Ini sangat aneh, ia tidak menyangka pria yang sekian lama ia dambakan akhirnya berlaku seperti layaknya seorang kekasih sejati.
Hotel XX
Ead membawa Qiana menuju sebuah hotel, hanya untuk makan malam bersama di tepi danau buatan. Di bawah sinar rembulan, dan gemerlap lampu-lampu indah di sana.
__ADS_1
Duduk berhadapan, dengan cahaya lampu meredup. Semua Ead persiapkan untuk pertemuannya bersama Qiana.
“Mengapa kau membawaku kemari?” Tanya Qiana heran.
“Semua ini untuk merayakan kebersamaan kita lagi.” Ucap Ead, meraih kedua tangan milik Qiana, mengecup punggung tangan milik Qiana.
Qiana bergetar saat menerima perlakuan istimewa dari Ead malam ini.
“Aku ingin kita mengulang kembali kisah yang sempat terputus ini. Aku sudah bekerja kesar untuk menunjukkan pembuktian, bahwa aku adalah pria yang mampu membahagiakanmu. Bukan hanya dengan cinta, namun dengan caraku memenuhi segala kebutuhanmu.”
“Edrick, maksudmu..” Qiana masih tak percaya jika Ead akan mengatakan hal ini padanya.
“Aku ingin kita menjadi pasangan suami istri yang bahagia. Aku ingin memperbaiki segalanya, dan memulai segalanya dari awal bersamamu, dan anak-anak kita.”
Qiana terdiam, saat mendengar pernyataan dari Ead. Ia sangat tahu mengenai kondisi kesehatannya saat ini, yang tidak memungkinkan untuk dapat memiliki seorang anak. Karena hal itu akan sangat berisiko besar bagi tubuhnya dan juga tumbuh kembang sang calon bayi.
Wajah bahagia Qiana pun tiba-tiba meredup tak lagi ada cahaya kebahagiaan di sana.
“Apakah kau tidak suka?’ Ead menyentuh wajah Qiana.
Qiana bangkit dari kursi yang sedang ia tempati. Ead menahan langkahnya, meraih tubuh Qiana menuju dekapannya.
“Apakah kau masih dendam padaku? Kumohon Qiana, beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya.” Ead masih menahan Qiana dengan pelukannya.
“Kau yaki, walau dikemudian hari aku tidak selalu bisa membahagiakanmu?” Qiana sudah menahan air matanya sedari tadi.
Ead tidak mengerti akan arti dan makna ucapan Qiana. Namun Ead yakin, jika Qiana mungkin masih menyimpan rasa sakit dimasa lalu mereka.
“Yah, aku akan berusaha menjadi pria yang selalu menjagamu.”
Air mata Qiana menetes membasahi pipi mulusnya, begitu pula halnya dengan Ead. Perlahan, Ead meraih tengkuk leher milik Qiana, mengecup bibir milik kepunyaan Qiana.
“Aku mencintaimu Qiana, jadilah istri dan ibu bagi anak-anakku..” ucap Ead tepat di daun telinga Qiana.
Qiana tak mampu menahan haru bahagianya, dan juga ketakutan untuk menghadapi masa depan mereka kelak. Qiana takut, jika kondisi kesehatannya akan berakhir mengecewakan.
****
__ADS_1