
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
~ ~ ~
~Masih kilas balik~
Mr. El/ Jehezkiel akhirnya menikah dengan Rebeca, dalam keadaan Rebeca yang sudah mengandung terlebih dahulu. Rebeca mengira, pernikahan mereka akan berjalan dengan baik dan lancer-lancar saja.
Namun, pada akhirnya ia harus menahan perih hidup saat menjadi seorang istri Mr. El. Kehidupan pernikahan mereka penuh dengan pertengkaran dan tak ada keharmonisan.
Mr. El selalu meninggalkan Rebeca hingga larut malam. Ia bahkan bermain-main dengan wanita di luar sana. Saat Rebeca mencoba untuk berbicara pada ibu Mr. El, ia pasti mendapatkan kalimat makian, hinaan kejam. Semua itu ia sembunyikan dari ibunya, Nenek Ze.
Tak ingin Nenek akan terluka akan hal ini.
Hingga suatu saat, Rebeca dengan sengaja membuka isi pesan-pesan dari dalam ponsel milik suaminya, Mr. El
Hal yang ia dapatkan ialah sakit hati. Pesan-pesan sang suami dengan beberapa wanita, pesan yang tidak biasa, dapat dikatakan mereka kerap kali melakukan Phone ****.
Bertambah-tambahlah duka hati Rebeca, dan ia pun semakin terluka karenanya.
“Kak El, apa ini? apa ini?” Ucap Rebeca, lalu melempar ponsel milik suaminya ke atas tempat tidur.
Mr. El terlihat acuh dan merapikan dasi miliknya sembari berucap. “Semakin kau mencari tahu, maka kau akan semakin hancur.. aku sangat tidak melarangmu melakukan tindakan seperti ini. namun, risiko ditanggung sendiri.” Ucap Mr. El santai.
“Kak El, aku istrimu, dan mengandung anakmu. Mengapa kau tega seperti ini! mana janji manismu dulu!” Isak Rebeca, sembari menyentuh perut buncitnya.
“Itu salahmu sendiri! Kau yang terlalu bodoh percaya pada ucapan lelaki!”
“Kau! Kau kejam!” Rebeca berteriak nyaring, dan membuat kandungannya terasa sedikit nyeri.
“Ingat kandunganmu! Jika terjadi sesuatu, kau akan kembali menjadi miskin sama seperti ibumu.”
“Kau!”
Plak!.
“Tidak ada yang boleh menghina ibuku! Sekalipun kau memiliki segalanya!” Tegas Rebeca dan memukul wajah suaminya.
“Ingat posisimu hanya sebatas istri menikmati segala jerih payah suamimu. Jika bukan karena menikah denganku, kau akan tetap menjadi pegawai rendahan!”
Argh!
Rebeca menutup kedua telinganya, saat suaminya hendak melayangkan pukulan padanya.
Mr. El berusaha menahan dirinya agar tidak memukul, sehingga hal itu membuatnya mencengkeram kedua bahu Rebeca dan menekannya hingga Rebeca berteriak kesakitan.
“Ingat posisimu!” Bentak Mr. El, lalu pergi dari begitu saja.
“Kau pria bajing*n!” teriak Rebeca dengan berliangan air mata.
__ADS_1
“Ibu.. aku tidak sanggup bu.. tapi demi anakku, aku akan tetap bertahan..’ ucapnya lirih.
~ ~ ~
Usai pertengkarannya bersama Mr. El, Mr. beberapa hari tidak kembali ke mansion milik mereka. Mr. El memilih untuk tetap tinggal bersama ibunya, di mansion utama mereka.
Suatu kali, ibu dari Mr. El datang berkunjung, dan melihat Rebeca sedang tertidur pulas. Efek kehamilannya, hal itu membuatnya cepat lelah bahkan mengantuk hingga tertidur lelap begitu saja.
“Hei pemalas!” Bentak ibu dari Mr. El, smebari menggebrak meja samping tempat tidur pribadi Rebeca dan Mr. El.
“Ibu, selamat siang bu.” Ucap Rebeca sembari membenarkan posisinya hingga duduk.
“Siang! Apa karena terlalu banyak bersantai dan menikmati hidup, sehingga kau melupan hari sudah menunjukkan sore hari!” Ketusnya, sembari menoyor kepala Rebeca, seakan begitu hina.
“Anakku bekerja hingga malam hari, kau hanya tidur hingga bodoh! Pantas saja hidupmu dan ibumu selalu miskin!” Celanya.
“Maaf bu, apakah ibu baru saja menyebut ibuku?” Rebeca terbangun mendengar ucapan ibu mertuanya.
“Yah, kau dan ibumu yang miskin!”
Rebeca mengepal kedua tangannya dan sangat ingin memukul wajah ibu mertuanya. Hal itupun disadari oleh ibu mertuanya.
“Kau ingin memukulku!”
“Mommy! Apakah Mommy di dalam?” Seru Mr. El yang baru saja tiba. Mendengar suara anaknya, ia pun tersenyum licik pada Rebeca.
“Jadi kau ingin memukul ibu mertuamu sendiri! Kau berani memukulku! Hah!” Mrs.
Berd semakin menaikan nada bicaranya, sehingga Mr. El dapat mendengarkannya dengan baik.
“Mommy!” Mr. El tak dapat menerima hal itu, iapun sudah tak peduli dengan kebenaran sebenarnya.
“Rebeca, kau wanita jal*ng murahan!”
Plak!
Mr. El mendaratkan pukulan tangannya pada wajah Rebeca, hingga Rebeca terjatuh ke pinggir ranjang. Beruntung masih sempat bertumpu pada tiang ranjang, dan tidak membuat kandungannya berada dalam bahaya.
“Mom! Maafkan perbuatannya! Mom baik-baik saja?” Tanya Mr. El cemas.
Rebeca menangis menahan sesak di dadanya, dan ia harus menerima pukulan yang bahkan bukan kesalahannya.
“Sayang, kau siapkan mobil, Mommy ingin pulang saja.” Ucap Mrs. Berd lirih.
“Baik mom, tunggulah!” Mr. El bergegas pergi dari hadapan ibunya.
Tersisa rebeca bersama sang ibu mertua.
“Itulah akibatnya, jika kau berani padaku. Hanya sedang berteriak saja, kau sudah mendapatkan pukulan dari anakku. Bagaiman jika aku melukai tanganku menggunakan pisau, mungkin kau akan..” Celanya, dan terkekeh di hadapan Rebeca.
***
__ADS_1
Kejadian malam itu telah melukis luka baru di kehidupan Rebeca, ia pun tiba di puncak kesabarannya. Mengemasi seluruh pakaiannya, dan pergi ke kediaman ibunya, Nenek Ze.
Tak sanggup lagi menghadapi kekejaman keluarga Zearchberd.
“Ibu.. bawa aku pergi dari kota ini, kumohon…” Rebeca terus terisak di hadapan ibunya.
“Kak Jehezkiel sudah sangat berbeda, dia berubah bu.. ibu…” isak Rebeca, yang terbaring di atas pangkuan ibunya.
“Rebeca anakku, Jehezkiel tidak berubah.. dia hanya menunjukkan sifat dan karakter aslinya, yang selama ini belum semuanya ia tunjukkan..” ucap Nenek Ze, dan berusaha menahan rasa hancurnya.
Terlebih lagi hancur hati seorang ibu yang harus menyaksikan penderitaan anak perempuannya. Namun, Nenek Ze sungguh wanita berhati malaikat, ia selalu sabar dan sangat lembut mendidik anak-anaknya, sekalipun telah bersalah.
“Kau tidak perlu kembali lagi ke sana! Kita akan pergi setelah cucuku lahir. Ibu akan membawamu juga cucuku pergii dari kota ini, kita akan mulai kehidupan yang lebih baik.”
Selama beberapa minggu bahkan bulan, menjelang kelahiran anak pertamanya. Mr. El tak sekalipun datang berkunjung, hingga akhirnya Rebeca mulai mengalami depresi berat menjelang kelahiran anak pertamanya. Menangis setiap harinya, dan terlalu meratapi kesedihannya.
***
Saat sedang berjuang melahirkan anak pertamanya, Rebeca harus berjuang sendiri melawan segala rasa sakit, hanya ibunya yang setia mendampingi selalu.
Lahirlah seorang putra tampan, yang diberi nama Eadrick Zearch. Namun, takdir berkata lain, Rebeca harus menghembuskan napas terakhirnya, ketika Eadrick kecil lahir dan berada di dalam pelukannya.
“Anakmu sangat tampan, nak.. lihatlah sayang..” ucap Nenek Ze lirih, dan mendekap tubuh tak bernyawa Rebeca yang sudah terbujur kaku.
Sebuah pukulan besar di dalam hidupnya, harus menyaksikan kematian Rebeca setelah segala penderitaan yang Rebeca alami, dan meninggalkan seorang anak lelaki yang sangat tampan.
***
Tak ingin keluarga Zearchberd merebut cucu lalakinya, Nenek Ze pun menyembunyikan kebberadaan Ead, dan mengatakan bahwa anak yang Rebeca lahirkan sudah tiada lagi.
Tubuh kaku Rebeca dimakamkan di kota B, dan tak lama kemudian Nenek Ze pun pergi ke Negara A untuk meneruskan hidupnya. Berjuang untuk dapat menghidupi Ead seorang diri dengan penuh kasih sayang yang tulus pada Ead.
Nenek Ze bahkan berpesan pada penerus rumah kediamannya untuk mengatkan tentang kematian Rebeca juga anak yang dilahirkan. Semua berjalan lancar, karena Ead kecil belum sempat ia bawa ke kediamannya. Semua ia jual untuk modal pergi ke Negara A dan modal usaha.
***
Sekian lama tak ada kabar, Mr. El akhirnya mulai mencari keberadaan Rebeca istrinya. Pergi ke kediaman lama Nenek Ze bersama Rebeca, dan yang ia temukan ialah penghuni baru. Info yan sama seperti apa yang diucapkan Nenek Ze pun di sampaikan. Mr. El bahkan datang ke makam mendiang istrinya.
Sejak saat itulah penyesalan besar menghantui hidupnya. Ia bertengkar dengan ibunya, setelah mengetahui kebenaran kisah sebelum kepergian Rebeca waktu itu.
Mr. El sangat prustasi, usai kematian istri bahkan anaknya, menurut info yang ia dapatkan. Tak lama setelahnya, ibunya pun meninggal, karena serangan jantung. Semua pergi dan menghilang begitu saja. Saat itulah, Mr. El merasakan kesepian dan penyesalan mendalam.
Ia berkendara dengan tidak hati-hati, dalam keadaan mabuk berat. Dalam perjalanan ia menubruk sebuah bus besar, dan menyebabkan mobil miliknya hancur. Ia bahkan mengalami patah tulang yang sangat serius.
Mr. beranggapan, bahwa semua itu adalah hukuman Tuhan baginya. Ia pun memutuskan untuk tetap tidak menikah, dan hanya mengurus semua kekayaan asset milik peninnggalan keluarganya. Hidup dalam penyesalan mendalam, dan cacat tubuh.
Ia baru menyadari, bahwa taka da wanita yang setulus dan sebaik istrinya, Rebeca. Namun penyesalan tinggal penyesalan, tak ada yang dapat diperbaiki lagi. Semuaya telah pergi. Terlebih lagi, ia adalah seorang anak tunggal.
~ ~ ~
~Kilas selesai…
__ADS_1
“Ibu.. maafkan aku bu…” isak Mr. El, sembari berlutut di kedua kaki Nenek Ze.
****