
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
Eadrick berniat untuk mengakhiri harapan dan impiannya pada Mrs. Daisy. Namun, ia melakukannya tanpa sepengetahuan dari Qiana, istrinya. Disaat hubungan mereka sudah mulai membaik, Qiana harus melihat apa yang Eadrick perbuat dibelakangnya. Meskipun, apa yang Qiana lihat tidak seperti kejadian yang sebenarnya.
~ ~ ~
Setelah terjadi pertengkaran hebat antara Qiana, Edrick dan Mrs. Daisy. Qiana sangat kecewa, ia tidak bisa menerima perbuatan Edrick kali ini. Semua luka yang Edrick buat, sungguh sudah diambang batas kesabaran Qiana.
***
Setiap harinya, Edrick datang ke rumah sakit tepatnya di depan ruangan VIP tempat Qiana dirawat saat ini. Namun Fanderz tidak mengijinkan Edrick untuk menemui Qiana.
Menunggu di depan pintu, bahkan menghabiskan waktu untuk menanti Qiana di luar ruangan.
Edrick sebenarnya menyayangi anaknya bersama Qiana, namun Edrick masih bimbang dengan perasaannya pada Qiana. Ia pun tidak ingin Qiana banyak berharap padanya. Terlebih lagi, sejak awal Qiana pun sudah mengetahui mengenai hubungan Edrick bersama Mrs. Daisy.
Kini, disaat keadaan sudah tak sebaik dulu, Edrick baru menyadari suatu hal yang sangat berharga. Qiana sangat mencintainya, rela berkorban banyak hal. Bahkan, setelah pernikahan mereka, keluarga Qiana seakan tidak lagi mempedulikan Qiana. Qiana dianggap mempermalukan martabat keluarga Smitte.
“Rumah Sakit XX”
Fanderz duduk di samping Edrick, tepatnya di kursi area lorong ruangan VIP tempat Qiana sekarang dirawat.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya diantara kalian. Tapi, aku sangat sedih, jika kak Qiana harus mengalami luka lagi dihidupnya.” Ucap Fanderz dengan wajah sendunya.
“Sejak kecil, kak Qiana selalu dipaksa untuk terus belajar. Tak peduli apapun yang menjadi minatnya, kak Qiana harus menjadi juara kelas. Jika tidak, paman Smitte akan menghukumnya di dalam kamar, dan tak jarang pula kak Qiana mengalami kekerasan fisik..--” Fanderz mulai mengatakan perihal masa lalu dari Qiana.
Yah, Qiana yang dikenal sebagai gadis ceria sejak kecil hingga ia sekolah. Namun, dibalik senyuman cerianya, Qiana sebenarnya menyimpan luka batin mendalam. Ia selalu dituntut untuk menjadi unggul dalam akademisnya, maupun bidang lainnya. Mr. Smitte maupun Mrs. Smitte termasuk orang tua yang sangat otoriter dalam mendidik anak.
Saat berada di rumah, Qiana harus menghabiskan waktunya untuk terus belajar tanpa ada kata bermain.
Sehingga, Qiana begitu menikmati waktunya saat berada di sekolah. Terlebih lagi, semenjak Qiana mengenal Raven juga Edrick, Qiana sangat bahagia memiliki sahabat yang begitu baik padanya.
Raven adalah sosok pria yang baik juga lembut memperlakukan dirinya. Akan tetapi, hati Qiana pun memilih Edrick, pria yang tidak pernah mencintainya dan hanya menganggap dirinya seorang sahabat.
~ ~ ~
“Pernah suatu ketika, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kak Qiana menerima pukulan dari paman Smitte. Namun, Qiana sudah sampai titik, tidak lagi mengeluarkan air matanya. Aku sangat berharap, kak Qiana akan bahagia setelah menikah dengan kakak.” Fanderz menatap Edrick dengan tatapan penuh pilu.
__ADS_1
“Aku tidak tahu, jika semua akan berakhir seperti ini. Sebisaku, aku akan berusaha memperbaiki segalanya dan menebus kesalahanku pada Qiana.” Edrick tak mampu menahan rasa bersalahnya, namun apa daya, semua sudah terjadi dan tidak mungkin kembali seperti semula lagi.
“Paman Smitte!” Ucap Fanderz sembari menatap ke arah lorong pintu masuk. Mr. Smitte sudah tiba bersama sang istri.
“Selamat malam paman,” Fanderz dan Edrick menyapa.
Mr. Smitte menatap rendah ke arah Edrick. “Sekarang, apa lagi yang terjadi pada anakku.” Mr. Smitte bergumam sembari membuka pintu ruangan tempat Qiana sedang dirawat.
Menatap Qiana yang sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien, dengan berbagai peralatan medis yang melekat pada tubuhnya.
“Apa yang terjadi di sini!” Mr. Smitte terlihat sedang menahan amarahnya.
“Paman, mohon tenanglah! Kak Qiana sedang lemah, dan tidak bisa menerima kata-kata yang menyakitinya!” Peringat Fanderz.
“Kau sudah menyelesaikan pendidikan strata duamu, lalu sudah merasa berhak menggurui pamanmu ini!” Tukas Mr. Smitte dengan gaya angkuhnya.
“Sayang, sudahlah, tenanglah.” Mrs. Smitte membujuk.
Seorang dokter pun tiba, dengan membawa beberapa berkas untuk kepulangan Qiana.
“Maaf mengganggu, Tuan dan Nyonya. Aku hanya ingin memberikan berkas mengenai kepulangan Nyonya Qiana. Mohon bagi Nyonya Qiana, agar lebih menjaga kandungannya, jika sudah akan berisi kembali.”
“Nyonya Qiana baru saja mengalami keguguran, dan juga bagian tulang lengannya mengalami cedera serius.”
“Cedera!” Mr. Smitte pun melotot.
“Ah, yah Tuan Smitte. Nyonya Qiana untuk semetara harus mengenakan Arm sling.”
Mr. Smitte menatap ke arah Edrick dengan tatapan penuh amarah. Namun karena melihat kondisi Qiana, ia pun berusaha untuk menahannya.
“Malam ini, aku akan membawa anakku pergi.”
Qiana pun dibawa ke tempat kediaman keluarga Smitte. Selama beranjak dari ranjang pasien, Qiana harus duduk di atas kursi roda. Dengan keadaan lengan hingga bahunya terlilit perban arm sling.
Tak banyak bicara dan hanya terus diam selama perjalanan kembali. Edrick juga turut mendampingi Qiana kembali ke kediaman keluarganya.
***
“Kediaman keluarga Smitte”
__ADS_1
“Bibi, bawa Qiana ke kamarnya!” Titah Mr. Smitte pada salah seorang suster yang akan mengurus Qiana.
“Sekarang, katakan apa yang telah kau perbuat pada anakku!” Bentak Mr. Smitte.
Edrick berlutut di hadapan keluarga Qiana dengan segala kerendahan hatinya.
“Akulah yang menyebabkan semuanya, akulah yang telah membuat Qiana hingga seperti saat ini.” Ucap Edrick dengan segala penyesalannya.
“Kau!” Mr. Smitte hampir saja menendangi wajah Edrick.
“Paman! Hentikan! Jangan gegabah paman! Tolong tenanglah sedikit saja paman. Ingat jantung paman.” Fanderz yang berusaha menenangkann keadaan.
“Kak Qiana terjatuh dari anak-anak tangga, karena salah paham. Semua hanyalah kesalah pahaman, paman, bibi! Jadi tolong, kalian harus dengarkan yang sebenarnya! Sudah cukup luka batin kak Qiana selama ini.”
“Kak Qiana sangat bahagia hidup bersama kak Edrick, dan untuk mencapai keharmonisanpun mereka harus melalui jalan yang tidak mudah!”
“Kau anak kecil tahu apa tentang rumah tangga Qiana!”
“Aku memang belum menikah, tapi aku melihat orang tuaku, mereka yang mengajariku mendidikku!” Tegas Fanderz.
Mr. Semitte mulai sedikit tenang, namun ia masih belum bisa menerima kenyataan yang sedang menimpa anak semata wayangnya.
“Edrick, aku ingin kau bercerai dengan anakku.” Ucap Mr. Smitte, membuat orang-orang yang berada di sana terperangah.
Edrick mengangkat wajahnya, dan kembali memohon pada Mr. Smitte.
“Paman, kumohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya!” Edrick memohon, sembari berlinangan air mata. Mr. Smitte hanya terdiam dengan segala egonya.
“Mungkin selama ini, aku kurang mempedulikan kebahagiaan anakku. Sehingga anakku satu-satunya harus mengalami berbagai peristiwa menyakitkan dalam hidupnya. Kali ini, aku ingin kau meninggalkan anakku. Aku sudah tahu, semua hal yang telah terjadi diantara kalian.” Mr. Smitte melangkah meninggalkan Edrick.
Sungguh situasi yang tidak seharusnya Fanderz saksikan. Fanderz mengulurkan tangannya pada Edrick.
“Biarkan keluarga ini tenang kak..” Ucap Fanderz.
Edrick bangkit, dan berdiri. “Paman! Bibi! Aku tidak akan menceraikan Qiana sampai kapanpun!” Seru Edrick, hal itu membuat langkah kaki Mr. Smitte terhenti, namun ia enggan untuk membalasnya.
Edrick harus bisa meyakinkan keluarga Smitte, bahwa ia akan menjadi suami yang jauh lebih baik lagi bagi Qiana.
****
__ADS_1