Ketika BERONDONG Jatuh Cinta

Ketika BERONDONG Jatuh Cinta
S2 - Tak ingin berpaling darimu lagi


__ADS_3

“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”


Author by Natalie Ernison


~ ~ ~


Qiana harus melewati proses kemoterapi, sebagai proses pengobatan untuk sakit yang sedang dideritanya. Ia melakukannya seorang diri, tanpa ada keluarga yang mendampinginya, dan hanya bersama dokter juga perawat yang merawatnya.


Sebuah panggilan pun kembali membuyarkan fokusnya saat ini. suara seseorang yang sangat ia kenal dan membuat Qiana merasa sedikit nyaman dengan suara yang sedang berbicara padanya.


“Kau…” ucap Qiana sendu.


“Kuharap, kau baik-baik saja. Sebelum aku bertanya lebih banyak lagi. Apakah, ada hal yang kau sembunyikan dariku?”


“Aku…”


Ahk… Qiana menjatuhkan ponsel miliknya, ia terkejut dengan suntikan dari sang dokter. Ia lupa, jika ia akan segera melakukan kemoterapi.


“Mohon, fokus Nona. Karena, Nona harus lebih tenang selama kemoterapi.” Ucap sang dokter.


“Baik dok, tolong ponselku dok!”


Salah seorang perawat meraih ponsel milik Qiana, namun panggilan sudah berakhir.


Efek dari kemoterapi, juga obat-obatan yang ia konsumsi, membuat Qiana mengantuk dan harus beristirahat dengan baik.


Sejak saat panggilan itu, Qiana sudah tak lagi mengingatnya. Terlalu banyak hal yang harus ia kerjakan, ditambah lagi dampak daya tahan tubuh yang harus ia rasakan. Hal itu pula membuatnya tidak mampu banyak mengingat dan berpikir terlalu keras lagi.


***


Negara B


“Kediaman Nenek Ze dan Edrick Zearch”


“Qiana..” ucap Ead, dengan hati yang tidak tenang.


Ia baru saja menelepon Qiana, namun tiba-tiba saja ia mendengar percakapan singkat antara Qiana dan seseorang yang Qiana panggil “Dokter”. Setelahnya, panggilan berakhir, dikarenakan ponsel milik Qiana kehabisan daya.


“Nek, aku harus kembali ke kota A.” Ucap Ead pada nenek Ze.


“Untuk apa Edrick? Bukankah, keluargamu semuanya berada di sini!”


“Sepertinya, aku harus memperbaiki sesuatu yang sudah seharusnya aku perbaiki.”


“Apa yang kau maksud?”


“Aku akan menemui Qiana.”


“Qiana? Kau lupa, bagaimana keluarga Smitte memperlakukan kita. Bahkan, Qiana sendiri pun sudah bersama Raven!” Tegas nenek Ze.

__ADS_1


“Aku tahu nek. Tapi, semua yang terjadi tidak seperti apa yang kita lihat.”


“Edrick, nenek memang sangat bangga, jika cucu nenek menjadi pria yang bertanggung jawab, dan mau memperbaiki segalanya. Tapi, cucu nenek tidak boleh bodoh karena cinta.”


“Akan jauh lebih bodoh, jika aku menyia-nyiakan seseorang yang sudah banyak berkorban untukku. Aku akan sangat menyesal, jika tidak memperbaiki semuanya.”


“Edrick, nenek memang tidak tahu apa yang saat ini sedang terjadi antara kau dan Qiana. Namun, apapun pilihanmu, nenek akan selalu mendukung, selama itu baik untukmu.”


“Terima kasih nek, maafkan aku nek jika pilihanku membuat nenek kecewa.”


“Tidak sayang, nenek tidak akan seperti itu. Nenek yakin, kau lebih tahu yang mana membuatmu bahagia.”


Edrick memeluk nenek Ze, ia sangat bersyukur memiliki satu anggota keluarga yang selalu memberikannya semangat dukungan. Sekalipun ia tidak memiliki orang tua yang selalu peduli padanya, namun ia masih memiliki nenek Ze yang justru sangat menyayanginya.


Semenjak ia sempat berbicara dengan Qiana, Edrick pun berencana untuk kembali menemui Qiana. Ia sangat yakin dengan pilihannya untuk kembali menemui Qiana.


***


Edrick sudah menghadirkan seorang kerabat dekat, untuk menemani nenek Ze selama ia pergi.


Negara A


Sudah cukup lama rasanya, Edrick tidak menginjak tanah tempat ia bertumbuh kembang, bersama segala kisah suka duka hidupnya. Kini saatnya bagi Edrick untuk memulai ksiah yang baru.


“Kediaman keluarga Smitte”


Edrick memberanikan diri untuk datang menemui keluarga Smitte. Apapun risiko yang ia dapatkan, ia sudah tidak memikirkannya lagi.


Tiba dengan mobil yang cukup mewah, tak lupa juga semua barang yang ia kenakan adalah barang-barang bermerek berkualitas. Perubahan hidup yang cukup jauh dari kehidupan lamanya.


Keluar dari dalam mobil mewah miliknya, dan melangkah menuju pintu utama kediaman keluarga Smitte. Kedatangannya pun disambut hangat oleh beberapa asisten rumah tangga.


“Tuan Edrick!” Ucap para asisten rumah kediaman keluarga Smitte.


“Tuan Edrick, tuan terlihat sangat berbeda dan semakin tampan saja.” Ucap salah seorang asisten rumah tangga.


Ead hanya membalasnya dengan senyuman. “Terima kasih atas pujian kalian. Bisakah aku bertemu dengan Nona Qiana Smitte?” Tanya Ead tanpa ingin basa basi lagi.


“Nona Qiana, sudah tidak berada di tempat ini lagi tuan. Nona Qiana sudah memiliki tempat kerja yang baru.


“Oh benarkah? Di mana aku bisa menemui Qiana?”


“Ini alamat kantor terbaru Nona Qiana, tuan.” Salah seorang dari mereka segera memberikan alamat kantor tempat Qiana bekerja saat ini.


“Baik, terima kasih. Ini untuk makan siang kalian!” Ead memberikan beberapa paper bag yang berisikan makanan bagi seluruh asisten rumah kediaman keluarga Smitte.


“Terima kasih tuan Edrick yang tampan.” Ucap para asisten.


“Sangat disayangkan, Nona Qiana memilih untuk berpisah dari pria sesempurna tuan Edrick.” Ucap beberapa pekerja di sana.

__ADS_1


“Yah benar, tuan Edrick sangat tampan, sopan dan baik hati. Terlebih lagi, sudah terlihat sangat sukses, bukan?”


Mereka saling membicarakan mengenai kehidupan rumah tangga sang majikan mereka. Seakan begitu menyayangkan perpisahan antara Qiana dan Ead.


***


Tak butuh waktu lama, Ead pun menemukan kantor tempat Qiana bekerja saat ini.


Ia datang secara tiba-tiba, ia ingin memberikan kejutan pada Qiana, juga ada banyak pertanyaan yang sudah bertumpuk di pikirannya.


Rumah Toko Qiana


Ead tiba di sana sebagai tamu, dan ingin bertemu dengan Qiana. Ia disambut oleh salah seorang pegawai tempat rumah toko milik kepunyaan dari Qiana.


“Apakah Nona Qiana ada?” Tanya Ead sembari membuka kacamata hitam miliknya, pada salah seorang pegawai


.


“Nyonya Qiana sedang bersama salah seorang dokter di dalam ruangan atas, tuan.” Jawab sang pegawai.


“Aku adalah suaminya, bisakah aku langsung menemuinya?”


“Suami?” beberapa pegawai yang berada di sana cukup heran, namun tetap mempersilakan Ead masuk.


Ead langsung melangkah perlahan, menaiki anak-anak tangga. Ia pun tiba di depan sebuah ruangan, sebuah papan nama “Qiana Smitte” terpampang di depan pintu masuk ruangan kerja milik Qiana.


Senyuman Ead sudah terlihat jelas, da nada rasa tak sabar untuk menemui Qiana.


Setelah menunggu selama beberapa saat, seorang dokter pria muncul dari balik pintu. Ead memberikannya sebuah senyuman, ia tidak tahu apapun yang telah terjadi. Namun, ia hanya berpikir positif mengenai dokter dan juga Qiana.


Dengan seikat bunga, juga sebuah cincin yang telah ia siapkan. Meski pernah gagal sebelumnya, dan mendapati Qiana sedang bersama Rav. Hal itu tak membuat Ead patah semangat. Ia yakin, jika Qiana tidak sepenuhnya melupakan dirinya.


Tak ada hal yang tidak mungkin selama benar-benar memiliki niat yang baik untuk hubungan mereka ke depannya. Meski harus melewati kisah yang tidak menyenangkan, air mata luka. Hal itu pulalah yang menjadi alasan Ead untuk berupaya mempertahankan hubungan rumah tangganya bersama Qiana.


Ead masuk secara tiba-tiba, saat itu Qiana sedang duduk dengan keadaan tangannya terbalit perban tipis, pasca kemoterapi.


“Qiana!” Panggil Ead dengan semua persiapannya.



“Edrick!” Qiana hampir saja melepaskan gelas dari tangannya, saat ia sedang minum air mineral.


Ead berlutut di hadapannya, dengan menyodorkan sebuah kotak berwarna navy, lalu membukanya. Sebuah cincin berlian mewah pun terlihat siap untuk dikenakan.


“Edrick, apa yang kau lakukan..” Qiana tak mampu menahan haru, juga rasa terkejutnya. Ia tidak pernah membayangkan, jika akan tiba waktu yang indah ini.



“Qiana! Qiana!” Ead melepaskan bunga juga kotak cincin dari tangannya. Ia meraih tubuh lemah Qiana yang tiba-tiba jatuh terhuyung.

__ADS_1


****


__ADS_2