
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
Jika sejak awal pernikahan, Qianalah yang berjuang untuk terus mempertahankan bahtera rumah tangganya. Kini keadaan justru berubah terbalik, Eadrick harus berupa keras untuk dapat meyakinkan keluarga Smitte. Jika dirinya adalah suami yang bertanggung jawab, terlepas dari segala kesalahan dimasa lalunya.
~ ~ ~
“Kediaman keluarga Smitte”
Mr. Smitte duduk di samping tempat tidur Qiana, menatap puteri semata wayangnya dengan penuh penyesalan. Menyesal, jika selama ini ia hanya menuntut segalanya terlihat baik. Bahkan mengabaikan minat, maupun sesuatu yang sebenarnya menjadi keinginan dari Qiana.
“Qiana, maafkan Daddy. Daddy bukanlah ayah yang baik untukmu, Daddy hanya mementingkan kepentingan Daddy. Namun, Daddy tidak pernah mau mengerti dirimu sepenuhnya..”ucap Mr. Smitte, Qiana yang masih menutup kedua matanya. Karena saat ini kondisi Qiana masih belum membaik.
Mr. Smitte membawa sebuah album foto kenangan masa kecil Qiana bersamanya juga sang istri.
“Qiana, lihatlah! Kau begitu lucu menggemaskan di sini, dan di sini juga..” Mr. Smitte terlihat begitu antusias akan kesembuhan Qiana.
“Daddy sangat ingat, bagaimana kau menangis, jika kau mendapatkan peringkat kelas ke dua bahkan ketiga. Kau selalu menjadi kebanggaan Daddy dan Mommy. Kau yang terbaik selalu dan selamanya..” air mata pun berlinang, seraya dengan setiap ucapan yang Mr. Smitte ucapkan.
Hatinya kian hancur, saat melihat balutan perban yang menahan area lengan hingga bahu Qiana.
Menyentuh puncak kepala Qiana, dengan belaian lembut nan menenangkan. “Daddy tahu, kau adalah wanita yang kuat. Kau pasti mampu melewati masa-masa ini..” ucap Mr. Smitte setengah berbisik.
Sementara di luar pintu kamar, Mrs. Smitte sudah tak mampu lagi mengeluarkan sepatah katapun. Hanya air matalah yang menjadi ungkapan kesedihannya kini. Mereka yang selama ini hanya sibuk dengan diri sendiri, bahkan jarang memiliki waktu untuk bersama. Kini, harus melihat keadaan Qiana tak berdaya dan hanya bisa berbaring di atas tempat tidur.
“Permisi Nyonya, Tuan, di depan ada tuan Edrick.” Ucap salah seorang asisten rumah tangga.
“Apa lagi yang ingin anak itu perbuat!” Tukas Mr. Smitte, yang seketika emosi mendengar nama dari Edrick.
“Sayang, aku akan menemui Edrick. Karena walau bagaimanapun, Edrick masih menjadi suami
Qiana.” Ucap Mrs. Smitte dengan sentuhan lembut dibahu suaminya.
__ADS_1
Kemudian, melangkah menuju ruang tamu. Di sana, Edrick sedang duduk membawa seikat bunga segar, dan juga beberapa buah-buahan segar yang akan ia berikan pada Qiana.
“Selamat malam, bibi,” ucap Edrick dengan tersenyum sendu.
Mrs. Smitte melangkah mendekati Edrick, dan menepuk bahu Edrick. “Aku tidak tahu betul, bagaimana permasalahan yang sedang kalian hadapi. Namum, aku sangat percaya, kalian bisa melewati ini.”
“Yah, bibi. Aku sangat salah, aku tidak pernah menghargai wanita yang tulus padaku..” Edrick tersungkur di hadapan Mrs. Smitte.
“Edrick, hentikan! Jangan seperti ini,” Mrs. Smitte meraih wajah Edrick, air mata mulai mengalir di pipi polos mereka berdua.
“Selesaikan semuanya dengan baik, karena kau adalah kepala keluarga. Aku mempercayakan anakku sepenuhnya padamu.”
Sedang berbicara serius, Mr. smitte pun berdiri di depan anak-anak tanga di lantai dua kediaman mereka.
“Segera usir anak bajingan itu! Aku sangat muak melihatnya!” Seru Mr. Smitte dari lantai atas.
“Edrick, pergilah, tunggulah situasi sedikit membaik.”
“Baik bibi, terima kasih.” Edrick bangkit, dan melangkah pergi dari hadapan keluarga Smitte.
Selama beberapa hari, Qiana akhirnya mulai pulih dari rasa depresi beratnya. Semua berkat kasih sayang dari ayah dan ibunnya. Walau terkesan terlambat untuk memulai, namun melalui peristiwa ini, keluarga mereka terlihat semakin menyayangi satu sama lain.
Suatu saat, Mrs. Daisy berniat untuk menemui Qiana dan berupaya untuk menjelaskan segala permasalahan yang ada, tidaklah seperti apa yang Qiana bayangkan sebelumnya.
“Kediaman Rawley Family”
Mrs. Daisy terlihat murung selama beberapa hari ini, dan enggan untuk banyak bicara. Hal itu membuat raven sedikit cemas padanya.
“Mom, apakah ada sesuatu yang membuat Mommy bersedih? Apakah sudah menjadi anak yang kurang ajar pada Mommy?” Tanya Rav cemas, tatkala melihat raut wajah ibu sambungnnya terlihat bermuram durja.
Mrs.daisy tersenyum sendu, dan terlihat tidak ingin mengatakan perihal permasalahannya
pada Rav. “Rav, maafkan Mommy, jika selama ini Mommy belum menjadi ibu yang baik bagimu..” ucap Mrs. Daisy sendu, raut wajahnya terlihat begitu sedih saat mengucapkan kalimat dei kalimat pada Rav.
__ADS_1
“Mengapa Mommy mengatakan hal seperti itu, Mom? Bagiku, Mommy terbaik, setelah Daddy pergi, hanya Mommy yang aku miliki.”
“Yah, Rav. Tapi Mommmy sering kali mengecewakanmu, bahkan tidak dapat menemani Daddy lebih lama..”
“Mom, kepergian Daddy adalah takdir dari Tuhan. Mommy jangan pernah menyalahkan diri Mommy sendiri.”
Mrs. Daisy mengangguk, lalu memeluk lembut Rav.
Setelah saling berbincang lama, Mrs. Daisy secara diam-diam pergi ke kediaman keluarga Smitte. Ia tidak ingin Rav mengetahuinya terlalu dini. ia cemas, jika Rav akan kehilangan kendali diri jika mengetahui sesuatu yang vital pada Qiana.
“Mom! Mommy!” Seru Rav, yang baru saja kembali dari tempatnya bekerja, dengan membawa beberapa jenis makanan yang akan ia santap bersama sang ibu.
Namun, tak ada jawaban apapun dari Mrs. Daisy. “Kemana Mommy?” ucap Rav, lalu meletakkan barang-barang bawaannya di atas meja makan.
“Tuan muda, Nyonya besar sedang tidak ada di rumah.” Ucap salah seorang asisten rumah tangga, sembari membantu Rav merapikan seluruh barang belanjaannya.
“Lalu Mommy pergi kemana, bi?” Tanya Rav, sembari meneguk segelas air dingin sebagai pelepas dahaga.
“Nyonya besar sepertinya menyebut nama keluarga Smitte, saat sebelum pergi.”
“Keluarga Smitte? Maksud bibi, Mommy pergi ke kediaman keluarga Smitte?” Rav semakin penasaran.
Sedang berjalan menuju kamar pribadinya, Rav tanpa sengaja melihat ponsel milik ibu sambungnya tergeletak di atas meja, tepatnya di ruang tengah depan pintu kamar mereka.
“Mommy sangat teledor sekali, benda penting seperti ini lupa.” Ucap Rav, sembari meraih ponsel milik ibunya, dan tanpa sengaja melihat isi pesan yang sedang terbuka.
Saat melihat isi pesan, Rav sangat terkejut dan hanya mampu menelan salivanya.
“Qiana, maafkan aku. Aku sungguh menyesal atas apa yang terjadi padamu. Kuharap kau segera pulih, dan hari ini
aku akan pergi ke kediaman keluargamu. Aku tidak ingin kau terus berpikir, bahwa aku dan Edrick memiliki suatu hubungan..—“
“Apa yang terjadi dengan Qiana?” mengapa Qiana tinggal bersama keluarganya..?” Rav merasa sangat cemas, dan tidak sanggup jika ada masalah baru lagi yang muncul.
__ADS_1
Rav bergegas pergi menuju kediaman keluarga Qiana, dengan rasa yang tidak sabar.
***