
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
Rav bergegas pergi menuju kediaman keluarga Qiana, dengan rasa yang tidak sabar. Pergi dengan mengendarai mobil miliknya. Dengan perasaan penuh resah gelisah tak menentu.
***
“Edrcik, aku bersumpah akan memberikanmu pelajaran berharga, jika terjadi sesuatu pada Qiana.” Rav terus bergumam sepanjang perjalanan menuju kediaman Qiana.
Saat melewati tokok buah segar, Rav berhenti hanya untuk membelikan buah-buah segar bagi Qiana.
Menempuh perjalanan selama beberapa menit, Rav pun tiba di kediaman keluarga Smitte.
“Kediaman Keluarga Smitte”
Tiba dengan membawa buah-buahan segar, dan bertemu langsung dengan kedua orang tua dari Qiana.
“Raven!” Sapa Mr. Smitte ramah. Tentu saja ramah, Karena Raven berasal dari keluarga yang berkecukupan, dan berbeda dengan Edrick.
“Selamat malam, paman Smitte. Maaf baru bisa berkunjung sekarang.”
“Yah Raven. Paman tahu, kau adalah pria yang sangat sibuk sekarang.”
“Sedikit sibuk paman. Kedatanganku, ingin bertemu dengan Qiana. Aku mendengar kabar, jika Qiana sedang sakit.”
Raut wajah Mr. Smitte terlihat berubah, kala mendengar kalimat pertanyaan dari Rav.
“Kemarilah!” Mr. Smitte menuntun Rav, menuju kamar tempat Qiana sedang dirawat.
…..
“Qiana, Edrick mencarimu.” Ucap Mr. Smitte, dan kala itu Qiana sedang bersama Mrs. Daisy.
“Mommy, Qiana!” Balas Rav heran.
Mereka kini berkumpul di dalam kamar pribadi Qiana.
“Hai Raven, terima kasih sudah berkunjung kemari,” ucap Qiana dengan tersenyum lembut.
Mata Rav menajam, saat melihat balutan arm sling menutupi area lengan milih Qiana.
“Qiana, apa yang terjadi padamu?” Rav melangkah mendekati Qiana dengan hati penuh kecemasan.
“Ini hanya luka kecil, Rav” ucap Qiana pelan.
Mr. Smitte hanya menghela napas panjang, sembari menepuk bahu Rav.
“Kalian berbincanglah, dan terima kasih Nyonya Daisy, sudah datang berkunjung.”
“Yah, Tuan Smiite.”
Kini hanya tersisa Rav, Qiana beserta Mrs. Daisy yang berada di dalam kamar milik Qiana.
__ADS_1
“Mommy, Qiana! Cepat katakana padaku, apa yang sebenarnya terjadi di sini! Mengapa Qiana seperti ini?” pertanyaan beruntun dari Rav membuat Mrs. Daisy kewalahan menjawab.
Saat Mrs. Daisy hendak mengucapkan sebuah kalimat, Qiana menahannya. “Bibi, biar aku saja yang bicara.” Ucap Qiana menyentuh pergelangan tangan Mrs. Daisy.
“Aku terjatuh dari anak-anak tangga, saat..—“ Qiana menceritakan seluruh kejadian sesungguhnya, dan semua karena kesalah pahamanya dengan Edrick dan Mrs. Daisy.
“Qiana, lalu apa yang ingin kau pertahankan. Ah, maksudku, maaf..” Rav berusaha menahan amarahnya malam ini.
“Rav, maafkan Mommy. Mommy juga bersalah dalam hal ini..”
“Bibi, cukup. Semua bukan salah bibi, semua adalah kesalahanku. Aku yang membuat Edrick seperti ini. aku yang memaksakan perasaanku pada pria yang tidak pernah mencintaiku. Rav, kau jangan salahkan Edrick dalam hal ini.”
“Mengapa Mommy menyembunyikan semua ini dariku? Ah, baiklah, cukup. Qiana lebih baik kau beristirahat.”
“Yah, Rav. Terima kasih atas segalanya.”
Rav kembali dari kediaman Qiana, dan berniat untuk mencari keberadaan Edrick. Rav sangat marah, dan tak tahu harus bicara apa lagi. Ia pulang bersama ibu sambungnya, Mrs. Daisy. Tak ada percakapan selama dalam perjalanan pulang.
***
“Kediaman Keluarga Rawley”
Tepat di halaman kediaman keluarganya, Edrick menghentikan mobil miliknya.
“Rav, maafkan Mommy..” isak Mrs. Daisy yang dilanda arsa bersalah.
“Mengapa Mommy harus meminta maaf untuk kesalahan yang bukan Mommy lakukan! Setelah mengenal Edrick, Mommy menjadi begitu lemah! Aku benci Mommy yang seperti ini..” ketus Rav menahan rasa sesaknya.
“Rav, Mommy memang sudah bersalah. Jika kau ingin membenci Mommy, silakan Rav. Mommy akan rela hati.”
Mrs. Daisy membuka pintu mobil dan keluar dengan hati yang pilu.
Rav tiba-tiba memutar balikkan setir mobil miliknya. “Rav! Kau ingin kemana! Rav!” Seru Mrs. Daisy. Namun, Rav tak ingin lagi mendengarkan ibu sambungnya.
***
Arghk! Rav berteriak saat sedang menyetir mobil miliknya, memukul setir mobil miliknya.
“Mengapa kalian semua begitu kejam!” Ucap Rav dengan berlinangan air mata. Rasa sedih begitu memenuhi hati dan pikirannya saat ini. semua orang seakan pergi satu per satu dari kehidupannya.
Meraih ponsel miliknya, dan memanggil seseorang di sana.
“Di mana kau saat ini..—“ ucap rav, setelahnya meletakkan ponsel ke dalam kantung, dan melaju dengan kecepatan penuh.
Rav sudah cukup kacau malam ini, dan ia berniat untuk kembali menemui Edrick. Yah, ia baru saja memanggil ke nomor ponsel milik Edrick. Kembali melaju dengan kecepatan tinggi, dan akhirnya tiba di area gedung kediaman Edrick.
Rav membanting pintu mobil miliknya, dan melangkah cepat menuju gedung kediaman Edrick. Sebuah gedung biasa, pemberian dari perusahaan tempat Edrick bekerja.
Berjalan menuju pintu kediaman milik Edrick. Edrick sudah berdiri menyambut kedatangan Rav.
“Raven..—“ ucap Edrick dengan wajah tersenyum.
Bugh!
__ADS_1
Rav memukul keras wajah Edrick.
Satu dua tiga…
Pukulan bertubi-tubi menghantam wajah tampan Edrick.
“Kenapa kau sangat bajing*n, Edrick!” Raven menarik kerah leher baju milik Edrick.
“Raven tenanglah, bicaralah,” ucap Edrick yang sudah terlihat mengeluarkan darah dari hidungnya.
“Mengapa kau rebut semua orang-orang yang sangat kucintai! Mengapa kau hancurkan aku seperti ini! Mommy Daisy adalah wanita yang sangat peduli padaku, tapi kau rebut!” Ucap Rav, dengan tangan yang gemetar.
“Rav, maafkan aku.. aku sungguh sangat menyesal dengan semua kesalahanku. Aku tidak akan mengulanginya.”
“Kau keterlaluan Edrick! Bahkan anakmu sendiri mati karena ulahmu!” Rav sangat marah, namun Edrick hanya mampu menangis menyesali segala kesalahan-kesalahannya.
“Yah Raven, aku tahu aku sangat bersalah. Tapi aku berjanji akan memperbaiki segalanya..” ucap Edrick lirih.
“Omong kosong! Kau sangat omong kosong Edrick!”
“Kau pun egois dengan dirimu, seharusnya kau pikirkan segalanya! Kau merebut Mommy dariku, jika Mommy pergi dariku, aku hanya akan sendiri! Dan semua karena kau!”
Melihat sebilah pisau tergeletak di samping meja, Rav meraih pisau tersebut.
“Rav, tenangkan dirimu, jangan ambil langkah gegabah Raven!” Edrick mencoba untuk menenangkan Raven, namun Rav sudah terlanjut membenci Edrick.
“Aku sangat muak dan sangat membencimu!”
Ahk!
Edrick mematung, menahan rasa sakit pada bagian perutnya. Sebuah pisau sudah menusuk bagian perutnya, dan Edrick pun terjatuh.
Melihat darah mengalir dari area permukaan kulit Edrick, Rav terdiam kaku. Ia tidak menyangka akan melakukan hal ini pada Edrick.
“Edrick, aku..” Rav gemetar dan pergi dari hadapan Edrick.
Sementara itu, Edrick masih menahan rasa sakitnya kali ini.
“Apakah ini akhir hidupku, Tuhan…” Edrick duduk bersandar di samping lemari dalam ruangan kediamannya.
Ahkk!
“Ini sangat sakit, Rav.. maafkan aku..” Edrick terdiam sendiri, tak ada yang ia lakukan lagi.
Sementara itu,
***
“Apa yang sudah kulakukan!” Rav panik dan bingung malam ini.
Rav menghubungi dokter khusus, untuk menolong Edrick. Namun, Raven tak ingin bertemu dengan Edrick. Rav hanya menanti saat-saat anggota keamanan/ polisi menangkapnya, atas apa yang telah ia perbuat pada Edrick.
Menyesal pun sudah tak ada lagi gunanya, dan kini nasiblah yang akan menentukan segalanya.
__ADS_1
****