Ketika BERONDONG Jatuh Cinta

Ketika BERONDONG Jatuh Cinta
Beri aku waktu


__ADS_3

”Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 3”


Author by Natalie Ernison


Usai pertemuan tak terduga antara Ead dan Daisy, Ead seakan mendapat kejutan istimewa. Sekian lama tak saling berjumpa, dan akhirnya waktu kembali mempertemukan mereka.


”Kediaman Edrick Zearch”


”Qiana, ijinkan aku untuk bersama sosok yang baru. Aku berjanji, tidak akan mengulang kesalahanku yang telah lalu..” ucap Ead, sembari memandangi album ketika sedang bersama Qiana, mendiang istri Ead.


Tak bisa dipungkiri, rasa bersalah terkadang muncul tiba-tiba. Namun, semua sudah berlalu, dan Ead juga harus tetap melanjutkan kehidupannya dengan baik. Karena pada dasarnya, seorang pria tidak akan mampu hidup seorang diri, terlebih lagi jika dia seorang duda yang pernah mengenyam pernikahan.


Knock...Knock...Knock...


Seorang asisten rumah mengetuk pintu ruang kerja Ead.


”Permisi, tuan Ead. Di depan ada tamu yang sedang mencari tuan.” Ucap si asisten rumah.


”Oke, baik. Aku akan segera datang.”


Ead pun bergegas turun ke lantai dasar untuk menemui tamu yang dimaksud.


Ketika melangkah turun, ada seorang wanita yang sedang duduk di ruang tamu kediamannya.


”Selamat malam, Edrick.” Sapa si wanita, bahkan Ead sendiri tidak mengenal wanitanya tersebut.


”Selamat malam,” balas Ead.


Wanita itu mengulurkan tangan pada Ead. ”Perkenalkan, aku Queen saudari dari mendiang Qiana.” Ucap Wanita yang mengaku adalah saudari dari Qiana.


Queen



Ead sedikit terkejut, karena Ead baru mengetahui bahwa Qiana masih memiliki saudari perempuan. Lantas, apa tujuan Queen datang ke kediaman Ead.


Akankah Queen akan menggantikan posisi Qiana? Tentu, Ead tidak semudah itu menerimanya, terlebih lagi, Ead hanya memiliki Daisy di dalam hatinya kini.


”Maaf, sebelumnya aku belum mengetahui jika Qiana memiliki saudari perempuan.” Ucap Ead canggung.


”Itu wajar, karena kami sudah terpisah sejak masih kecil. Aku adalah kakak dari Qiana, usia kami hanya selisih dua tahun saja. Ibuku adalah istri pertama dari ayah kami. Ibuku meninggal ketika melahirkan ku, dan setelah ayah menikah lagi, aku dititipkan pada nenek..--” Ucap Queen.


Setelah menjelaskan secara singkat identitasnya, Ead pun sedikit paham.


”Lantas, ada hal apa Nona Queen datang kemari?” dengan apa adanya, Ead menanyakan hal yang cukup menohok bagi Queen. Yah, memang tidak salah jika Ead menanyakan hal itu. Karena, baru sekarang Queen muncul.

__ADS_1


”Aku mendengar bahwa, kau tidak pernah lagi memikirkan wanita setelah kematian Qiana. Aku rasa, hal itu terlalu menyedihkan memang. Mengingat, masa depanmu masih cerah, dan tidak seharusnya kamu terus berada di dalam keterpurukan, bukan?”


Mendengar penjelasan dari Queen, Ead paham maksud Queen, dan tidak terlalu memikirkannya lagi.


”Itu hanya perihal waktu, tidak mudah bagi seorang pria untuk berganti wanita, meski wanitanya sudah tiada atau bahkan mereka sempat terpisah..” ucap Ead, yang sebenarnya sedang mengingat sosok Daisy di kepalanya.


”Pria ini, selain tampan, tapi juga sosok yang setia.. jauh berbeda dari apa yang kudengar selama ini.. apakah hanya karena kesalahan dimasa lalu mereka, membuat namanya sedikit tercemar..” batin Queen.


”Jangan anggap aku sebagai orang yang menekanmu, meskipun aku masih bertalian darah dengan Queen, tapi kami berbeda. Aku juga sudah sekian lama hidup sendiri, dan keluarga Smitte tidak lagi mencampuri kehidupanku. Jadi, jangan sungkan jika ada sesuatu yang ingin dibicarakan.” Ucap Queen.


Dari gelagat Queen, sepertinya Queen berniat untuk menjadi pengganti Qiana. Ah, tentu itu bukan idr bagus. Ead tidak semudah itu ditaklukkan.


Pertemuan malam itu, seakan membawa Queen ke arah yang lebih dekat dengan Ead.


***


Queen tak segan untuk mengajak Ead pergi bersama, namun Ead selalu beralasan pada Queen.


Kali ini, Ead kembali mengajak Daisy untuk pergi bersamanya. Ead bahkan rela menunggu Daisy siap pergi bersamanya. Alhasil, penantiannya pun membuahkan hasil baik.


”Maaf, aku baru pulang meeting.” Ucao Daisy yang baru keluar dari kediamannya.


Keduanya pun bergegas untuk pergi, dengan mengendarai mobil mewah milik Ead.


Daisy sempat terdiam sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya. ”Yah, silakan. Lagipula, tak ada lagi jarak yang perlu dijaga.” Balas Daisy. Ead bak ketiban durian runtuh. Ucapan dari Daisy mengandung sinyal kuat, untuk Ead melangkah lebih maju lagi.


”Terima kasih, karena sejauh ini, kau masih bersedia untuk pergi bersamaku, setelah segala hal yang telah kita lalui di masa lalu.” Ucap Ead. Sekilas menatap wajah Daisy dengan penuh senyuman.


”Semua sudah berlalu, dan terpenting kau harus bisa menjadi pria yang memiliki komitmen.”


”Aku memiliki komitmen sejak dulu, hanya saja karena kebodohanku, aku melukai hati seseorang dan mengorbankannya..” Sesal Ead.


”Sudahlah.. aku sangat mengenalmu, dan tidak perlu kau jelaskan panjang lebar, aku sudah cukup mengerti dirimu.” Ucap Daisy dengan wajah tersenyum tulus.


***


Ead mengajak Daisy untuk makan malam bersama dan berkeliling kota, untuk melepas penat mereka selama bekerja. Kebersamaan singkat itu, membuat Ead menjadi sosok yang jaih lebih baik. Yah, Ead hanya akan luluh lantah ketika bersama sosok wanita yang memang ia inginkan.


Ketika sedang berkeliling pusat perbelanjaan, Ead tanpa sengaja bertemu dengan Queen yang sedang bersama dua temannya.


”Edrick!” Sapa Queen, Ead pun membalasnya dengan senyuman tipis.


”Hei, kebetulan sekali.. bagaimana jika kita duduk minum kopi sebentar?” ucap Queen.


Ead menatap ke arah Daisy, Daisy pun mengangguk. Queen baru menyadari, jika Ead sedang bersama seorang wanita. Raut wajah Queen berubah drastis, Daisy pun menyadarinya.

__ADS_1


•••


Mereka pun bersantai di sebuah coffee shop.


”Apakah ini kekasih barumu?” tanya Queen, yang terkesan tidak sopan. Hal itu membuat Daisy kurang nyaman.


Ead sempat terdiam sejenak, pertanyaan yang sangat tiba-tiba.


”Lupakan saja, aku sudah mengerti. Karena tidak mudah bagimu untuk mencari pengganti adikku, bukan?” ketus Queen. Ead mulai tidak nyaman dengan kehadiran Queen. Namun Daisy berusaha untuk menenangkan Ead, dengan menyentuh punggung tangan Ead yang berada di bawah meja.


”Perkenalkan, aku Queen. Kakak ipar dari Edrick.” Ucap Queen, menatap tajam ke arah Daisy. Daisy pun membalasnya dengan senyuman dan memberitahukan namanya ialah Daisy.


Sepanjang kebersamaan itu, Queen hanya fokus pada Ead. Kehadiran Daisy seolah tak ada di sana, Queen tidak peduli pada Daisy.


”Sepertinya ini sudah cukup larut, aku harus segera kembali. Ayo, Daisy!” Ead dengan spontan meraih tangan Daisy. Melihat hal itu, Queen sontak berbungkam dan mulai menaruh rasa iri benci pada Daisy.


***


”Maafkan aku, karena aku tidak sengaja bertemu wanita aneh itu.” Ucap Ead, yang dimaksud ialah Queen.


”Tidak masalah, lagipula kalian masih sama-sama muda..--”


”Daisy, aku tidak suka jika kau membahas perihal usia di sini. Persetan dia adalah saudari dari Qiana, atau apapun itu.. karena aku tidak akan pernah peduli.” Tegas Ead.


”Untuk saat ini, tapi ke depannya siapa yang tahu hati seseorang..” ucap Daisy dengan wajah tersenyum.


”Aku hanya menginginkanmu.” Tegas Ead yang lagi-lagi tak bisa menahan perasaannya. Daisy berusaha untuk tetap tenang. Suasana canggung tak terelakkan lagi. Ead pun tak bisa lagi berpura-pura.



”Aku hanya menginginkanmu..” Ead spontan melepas setir, dan mengecup bibir ranum milik Daisy.


”Buktikan, bukan hanya sekadar ucapan.” Ucap Daisy, ketika melepaskan dekapan Ead.


”Yah, tentu saja, pegang ucapanku. Apakah itu tandanya, kau sudah menerimaku?” Ead terlihat antusias.


”Belum tentu. Bagiku yang sudah lebih berpengalaman darimu, itu tidak mudah. Beri aku waktu.” Ucap Daisy, kemudian melangkah keluar dari dalam mobil Ead, karena mereka sudah tiba di halaman kediaman Daisy.



”Daisy!” Seru Ead sembari melambaikan tangannya, ketika Daisy akan menutup pintu, lalu Ead pun pergi.


Melihat tingkah Ead, Daisy hanya tersenyum. Memang tidak mudah bagi Daisy untuk cepat menerima Ead. Daisy juga ingin menikmati masa-masa indahnya pendekatan, hingga berpacaran dan akhirnya menentukan pilihan. Dikarenakan, dimasa lalu pengenalannya bersama Mr. Adolf tergolong secepat kilat.


***

__ADS_1


__ADS_2