
Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
~ ~ ~
Usai acara peneguhan kembali pernikahan Qiana dan Eadrick. Mereka pun langsung menempati kediaman baru, dan melangsungkan acara pribadi mereka. Bulan madu yang selama ini tertunda selama beberapa tahun.
“Kediaman Keluarga Eadrick dan Qiana”
Layaknya seorang istri pada umumnya, Qiana bangun pagi-pagi, menyiapkan sarapan bagi suaminya. Mempersiapkan pakaian kerja yang akan Ead kenakan.
Sedang asyik bersenandung, sembari memotong buah-buahan segar. Dua pasangan tangan melingkar di pinggang Qiana, dan sebuah kecupan lembut mendarat di antara leher jenjang miliknya.
“Pagi begini sudah sibuk, sayang?” ucap Ead sembari terus melingkarkan kedua tangannya di pinggang milik Qiana.
“Tentu saja aku harus memastikan makanan sehat bagi suamiku,” balas Qiana, lalu membalikkan tubuhnya. Menyentuh lembut wajah baru bangun tidur Ead.
“Berikan suamimu kecupan selamat pagi,” goda Ead dengan senyuman nakalnya.
“Suamiku, istrimu sedang sibuk. Bisakah kita tunda hingga menjelang malam hari?” balas Qiana dengan senyuman menawannya.
Ead tiba-tiba mengangkat tubuh Qiana, dan meletakkannya di atas lemari kayu yang hanya setinggi lutut.
Ahk! “Edrick!” Qiana memekik terkejut dengan tindakan Ead pagi ini.
“Aku sudah memintanya dengan cara baik-baik, tapi diabaikan. Apa boleh buat, aku akan merebutnya!” Kekeh Ead, lalu mengecup bibir Qiana, dan mendekap erat tubuh Qiana.
Setelahnya, keduanya saling menatap dan tersenyum lembut.
“Aku sangat mencintaimu, Qiana Zearch..” ucap Ead, lalu mengecup kening Qiana.
“Terima kasih, suamiku. Aku pun sangat mencintaimu..” ucap Qiana dengan raut wajah yang sangat bahagia.
Pria yang sekian lama ia dambakan, kini bersikap romantic dan selalu hangat. Tentu saja, hal itu telah menambah sekian persen semangat hidupnya.
Setelah menikmati masa-masa bulan madu selama beberapa hari, Ead pun harus kembali bekerja mengurus perusahaan milik ayahnya yang telah diwariskan padanya. Tidak hanya itu saja, Ead pun sudah mendapatkan posisi yang bagus di perusahaan yang selama ini menjadi tempatnya membangun karir awal.
Qiana menghantar kepergian Ead yang akan segera bergegas pergi bekerja.
“Hari ini aku akan pulang sore hari, jika terlalu lelah, kau tak perlu mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak. Karena siang ini, asisten rumah tangga akan segera tiba.” Ucap Ead berpesan, dan mengecup kening Qiana.
“Baiklah, hari ini aku akan fokus dengan desainku. I love you..”
Ead pun bergegas pergi, sementara itu Qiana berada di rumah dan bekerja dari rumah. Dikarenakan Qiana yang tidak mampu untuk tetap berdiam diri tanpa kegiatan apapun.
Sedang asyik membuat gambar desain barunya, Qiana kembali merasakan nyeri di area dada hingga kepalanya. Nyeri yang sangat luar biasa, dan mambuatnya mual karena rasa sakit yang teramat sangat.
Hahh ahh…
Qiana menahan rasa nyeri itu, dan susah payah menjangkau kotak obat miliknya. Dengan tangan yang gemetar, Qiana melahap semua obat-obatan miliknya juga obat pereda rasa sakit.
Setelah mengkonsumsi obat, Qiana merasa mulai mengantuk dan tak mampu lagi menahan ngantuknya, hingga akhirnya tertidur pulas dengan segala rasa sakitnya.
.
__ADS_1
.
.
Baru saja membuka kedua matanya, Qiana sudah bereda di atas tempat tidur yang berada di dalam kamar miliknya dan Ead suaminya.
“Apakah kau baik-baik saja?” ucap Ead sembari membantu Qiana untuk terbangun kembali.
“Sayang, ini sudah jam berapa?” Qiana terlihat panik, saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul.20.40
“Sayang, maafkan aku, aku tidak bisa menemanimu makan malam,” sesal Qiana dengan wajah pucatnya.
“Tidak masalah, kita bisa makan setelah kau terbangun.” Balas Ead lalu memeluk Qiana.
“Maksudmu, kau belum makan malam hingga saat ini?”
Ead menggeleng, lalu mengecup kening Qiana. “Tidak perlu cemas, aku hanya ingin makan bersama istriku.”
“Ah, baiklah, aku akan siapkan..”
Sehhttt….
“Tidak perlu sayang, asisten rumah sudah menyediakannya, oke!”
“Yah sayang, aku akan membersihkan diri dan berganti pakaian terlebih dahulu.”
“Baikklah sayang.”
Ead merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur, ia sebenarnya sejak siang hari sudah terjaga di samping Qiana. Usai Qiana dikabarkan tertidur di ruang kerjanya, Ead pun bergegas pulang.
Ead tak ingin mengatakan hal-hal yang mampu membuat Qiana bersedih. Keadaan Qiana pun tidak semakin baik-baik saja usai pernikahan mereka. Ead menyimpan rasa sedihnya, ia tak ingin terlihat bersedih dihadapan Qiana.
“Tentu saja, semua baik-baik saja. Aku juga sudah makan siang di kantor.”
“OH syukurlah, aku cemas jika kau belum makan siang hari ini.”
“Tak ada yang perlu dicemaskan sayang, karena aku..”
Ahkk! Qiana mencengkeram area dada hinga perutnya, rasa sakit itu kembali lagi.
“Qiana! Qiana! Apa yang terjadi!” Ead panik, saat mendapati Qiana hampir tersungkur kehilangan keseimbangan tubuhnya.
“Sayang, ini sangat menyakitkan..” ucap Qiana meneteskan air matanya, akibat rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
“Kita akan ke rumah sakit sekarang!” Ead mengangkat tubuh Qiana, membawa Qiana menuju rumah sakit.
Ead terlihat begitu tergesa-gesa,dan pergi bersama salah seorang supir pribadi mereka.
“Sayang, tahanlah.. semua akan baik-baik saja..” Ucap Ead sepanjang perjalanan.
Sementara itu, Qiana menatapnya dengan tatapan sayup, menahan rasa sakit pada area tubuhnya.
***
Rumah sakit AXX
Qiana bergegas dilarikan ke rumah sakit terdekat. Segala peralatan medis memenuhi tubuhnya, Ead hanya mampu menahan diri untuk bersabar menantikan hasil pemeriksaan kembali Qiana.
__ADS_1
Malam hingga keesokan harinya, Ead terus menunggu. Pihak keluarga Smitte dan keluarganya pun datang bezok. Namun, Ead masih terlihat tibak baik-baik saja, dan seorang dokter mengajaknya untuk bertemu secara pribadi.
Ruang dokter XX
Duduk berhadapan dengan salah seorang dokter specialis.
“Maaf untuk mengatakan hal ini, tuan Edrick. Tapi, aku hanya ingin memberitahukan bahwa keadaan Nyonya Qiana semakin memburuk.”
Ead hanya berusaha untuk tetap tegas, dan ia juga tak tahu harus menjawab apa lagi.
“Apakah, tidak ada tindakan lain dok? Aku akan membayar berapapun biayanya!” Ead terus memohon pada sang dokter. Namun, keadaan Qiana memang semakin memburuk.
“Penyakit Nyonya Qiana, sudah berada di stadium akhir, dan kita hanya bisa berharap akan keajaiban dari Tuhan.”
Ead menunduk, menangisi keadaan yang harus mereka hadapi kini.
“Kami hanya bisa memberikan perawatan sebisa kami, tuan. Selebihnya, kita hanya bisa berdoa.”
“Baiklah dokter, terima kasih..”
Keluar dari ruangan dokter, Ead bingung dengan tindakan yang akan ia lanjutkan setelah ini. Ia pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi, semua memang sangat menyesakkan.
Melihat semua peralatan medis yang melekat pada tubuh istrinya, Ead sungguh tidak sanggup lagi. Setelah lebih dari seminggu berada di rumah sakit, Ead pun memutuskan untuk membawa Qiana pulang kembali, dan melakukan rawat jalan.
***
“Area taman kediaman keluarga Edrick dan Qiana”
Mereka kini, berada di kediaman mereka. Ead benar-benar menjadikan Qina ratu di rumah, semua ia yang melayani. Lebih banyak berbincang-bincang berdua, menikmati masa-masa bersama hingga tiba waktunya Qiana mulai merasakan rasa sakit lagi.
Duduk di kursi roda, dengan ditemani buku gambar yang biasa Qiana lakukan saat membuat pola desain.
“Edrick, aku sangat bahagia.. terima kasih untuk segala kasih sayangmu..”
Ead hanya mampu mengangguk, dan menyapuh air matanya sendiri. “Yah, sayang, apapun akan kulakukan untukmu..”
“Mengapa menangis sayang.. kita sudah bahagia hingga saat ini.. aku mencintaimu..” ucap Qiana, sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
“Qiana! Qiana… jangan tinggalkan aku…” isak Ead.
Qiana tersenyum untuk terakhir kalinya, dan dalam keadaan sedang membelai wajah Ead. Air matanya menetes, seraya kedua matanya juga perlahan tertutup.
“Qiana… Qiana!!” Ead berteriak histeris, saat mendapati Qiana telah pergi untuk selamanya, dan saat dalam pelukannya.
Semua kisah cinta mereka, dibawa mati oleh Qiana. Meskipun tidak mudah bagi Qiana untuk bertahan dengan kisah pilunya, dan akhirnya memilih untuk menerima Ead kembali. Semua ia lakukan karena cinta, dan tanpa beban sedikitpun dihatinya.
Tidak semua kisah cinta harus berakhir indah sebagaimana mestinya yang orang-orang impikan. Karena, setiap orang tentu memiliki kisah cintanya sendiri dan berbeda dari yang lain.
Sama halnya dengan kisah cinta Qiana dan Edrick yang pada akhirnya berakhir dengan perpisahan.
Tiada perpisahan tidak menyisakan luka, terutama pada dua pasang insan yang harus dipisahkan oleh sang maha kuasa.
Selepas kepergian Qiana, Ead hanya hidup dalam kesendiriannya, masih belum memikirkan untuk mencari pasangan yang baru. Ia berpikir ingin menjadi pria yang menjaga kisah cinta abadi peninggalan dari mendiang istrinya, Qiana.
***
Terima kasih untuk seluruh pembaca karya-karya saya, salam hangat dariku,
__ADS_1
“Natalie Ernison”💐☺️