Ketika BERONDONG Jatuh Cinta

Ketika BERONDONG Jatuh Cinta
Kenyataan yang berat


__ADS_3

Setalah pertemuan tak terduga dengan ayahnya, Mr. Lau, Daisy kembali merasakan tekanan yang sudah beberapa tahun terakhir tak ia rasakan lagi.


Entah mengapa, Mr. Lau seakan tidak menyukai sosok Edrick, dan sama seperti saat Daisy bersama mendiang Mr. Adolf dulu.


Suatu malam, Mr. Lau mengajak Daisy untuk bertemu dan makan malam bersama si ibu sambung juga saudara dari istri kedua ayahnya.


• • •


”Mansion Kediaman Keluarga Laurenzo”


Setelah sekian tahun lamanya, Daisy akhirnya menginjakkan kakinya di kediaman keluarganya.


”Aku pikir, Adolf akan selalu membahagiakanmu, tapi nyatanya dia cepat dipanggil yang Kuasa. Oleh sebab itu, aku sebagai ayah kandungmu, tidak mungkin membiarkanmu hidup sesuka hati.” Ucap Mr. Lau menasihati Daisy.


”Semua yang daddy lakukan, adalah demi kebaikanmu, Daisy.” Timpal Mrs. Lau, si ibu sambungan dari Daisy.


”Usiaku sudah cukup dewasa, jadi kalian tidak perlu repot-repot untuk mengurusi kehidupanku. Apapun pilihanku, itu sudah melalui pertimbangan yang matang.” Tegas Daisy.


”Kau sombong sekali, Daisy. Sampai kapanpun kau tetap putriku, dan selama daddy masih hidup, kau tetap putri daddy.”


”Lalu, selama beberapa tahun ini, daddy kemana saja? Bukankah daddy terus mengabaikanku? Bahkan sejak aku masih remaja, daddy hanya menuntutku untuk sempurna.”


”Itu semua demi kebaikanmu, Daisy. Lihat! Akibat kau menikah dengan duda itu, hidupmu masih begini-begini saja, bukan?”


”Aku sudah memiliki pencapaianku sendiri, apakah daddy sebegitu tidak memandang hal itu?”


”Itu sangat jauh, Daisy! Seharusnya, kau sudah menjadi seorang pimpinan besar, bukan hanya manager kecil.”


”Maaf saja, jika aku tidak bisa mencapai kriteria, daddy. Aku punya pilihan hidupku sendiri, sudah cukup daddy bersikap seperti ini!” Daisy bangkit dari tempat duduknya, dan berniat untuk pergi dari hadapan ayahnya.



”Putra pertama dari keluarga Sowyer akan segera tiba. Daddy sudah mengatur mengenai pertunangan kalian.”


”What? Daddy selalu bertindak sesuka hati, bahkan tidak pernah mengkomunikasikan terlebih dulu. Aku bukan anak kemarin sore lagi, daddy!” Tegas Daisy dan tidak peduli dengan perjodohan itu.


”Daisy! Hentikan, kau harus tetap menerima perjodohan ini! Masa depanmu akan jauh lebih baik bersama putra Sowyer!” Tegas Mr. Lau, namun Daisy tetap melanjutkan langkahnya.


Akan tetapi, ketika tiba di pintu utama, keluarga Sowyer sudah tiba di sana. Sangat tidak sopan, jika Daisy pergi begitu saja.


”Kau akan sangat mengecewakan daddy, jika kau tetap pergi, Daisy. Sudah cukup, selama beberapa tahun ini daddy menahan amarah dihidupnya.” Ucap Mrs. Lau, yang berdiri di belakang Daisy.

__ADS_1


Mrs. Lau



• • •


Ruang makan keluarga.


Keluarga Laurenzo dan keluarga Sowyer pun duduk berhadapan di meja makan keluarga.


”Seperti yang sudah kita bicarakan bersama, Daisy ialah seorang wanita yang sudah pernah menikah sebelumnya. Apakah, sungguh tidak masalah, jika perjodohan ini tetap kita lanjutkan?” tanya Mr. Lau seakan merendah untuk meroket.


Mr. Sawyer, ayah dari Band Sawyer pun terkekeh mendengar ucapan dari Mr. Lau.


”Tuan Lau, anda sangat lihai membuka perbincangan. Sudah kukatakan sejak awal, putraku sudah mengetahui semuanya dan bagi Band itu tidak menjadi persoalan. Bukankah begitu, Band?” ucap Mr. Sawyer.


”Yah, paman. Kurasa, hal itu tidak perlu kita bicarakan lagi, karena hanya akan membuka kesedihan bagi nona Daisy.” Timpal Band dengan wajah tersenyum.


”Aku hanya ingin kita semua terbuka, tak ada yang perlu ditutup-tutupi.” Ucap Mr. Lau.


”Saat berada di perkuliahan, aku cukup mengenal Nona Daisy. Namun nyatanya, baru sekarang jodoh berpihak pada kami.” Ucap Band tulus. Sepertinya, Band benar-benar menyukai Daisy.


Sementara kedua belah keluarga saling berbincang, Daisy hanya diam saja sedari tadi.


Setelah menyelesaikan makan malam bersama diantara dua keluarga. Band pun mengajak Daisy untuk bersantai di tepi kolam, kediaman keluarga Laurenzo.


• • •


”Aku sedikit terlambat selangkah, akhirnya kau menikah dengan dosen itu.” Ucap Band, sembari tersenyum lucu dengan kisah mereka.


”Apa yang membuatmu tertarik untuk melaksanakan perjodohan ini? Bukankah, kau tahu risiko yang akan kau hadapi?”


”Risiko seperti apa, yang Nona Daisy maksud?”


”Aku sudah pernah menikah dengan seorang duda beranak satu dan juga sudah berusia dewasa kala itu. Sedangkan dirimu, adalah seorang pria single yang tentu saja digandrungi oleh banyak gadis.” Ucap Daisy, sembari menggoyangkan kedua kakinya yang sedang berada di air kolam.


“Bukankau setiap orang berhak untuk memilih kebahagiaannya masing-masing? Aku pun begitu.”


”Lalu, apakau kau yakin jika perasaan itu sama ada padaku?” ucapan Daisy membuat Band paham, jika Daisy masih belum menaruh rasa padanya.


“Rasa suka, nyaman dan cinta akan hadir seiring berjalannya waktu. Aku yakin, di usiamu yang sekarang, kau tidak memiliki waktu lagi untuk bermain-main cinta. Jadi, dapat dipastikan, kelak kau akan mampu menerimaku di hatimu.”

__ADS_1


”Kau memang pria yang sangat percaya diri, Tuan Band.” Balas Daisy dengan tersenyum kecil.


”Seorang pria sejati haruslah memiliki ketetapan hati. Ketika aku memilih untuk mengiyakan perjodohan ini, maka aku harus benar-benar bertanggung jawab dengan pilihan itu. Mungkin terdengar konyol, karena seakan aku terlalu bergantung dengan pilihan orang tua. Namun, setiap orang tua, tentu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Hanya saja, terkadang cara mereka kurang tepat dan sulit untuk dipahami.” Ucap Band.


Band Sawyer



Daisy terdiam dan merenungkan apa yang baru saja Band ucapkan.


”Aku tahu betul, bagaimana paman Lau mendidikmu di keluarga ini. Hal itu dilakukan, karena pola asuh dari generasi ke generasi yang harus menjaga martabat keluarga. Karena, meskipun kita sudah dewasa, bagi orang tua, kita tetaplah putra-putri kecil mereka.” Ucap Band, seketika itulah suasana berubah sendu.


”Lalu, bagaimana jika ada sosok pria lain yang juga saat ini dekat denganku? Apakah kau akan tetap maju?”


”Nona Daisy, sebelum aku memilih untuk melanjutkan perjodohan ini, tentu aku tidak asal bertindak. Aku pastinya akan mencari tahu, siapa wanita yang kelak bersamaku.”


Ternyata, Band sudah mengetahui, jika Daisy saat ini dekat dengan Edrick. Namun, bagi Band itu hanyalah perihal waktu saja.


”Nona Daisy, pengalaman akan membuat seseorang jauh lebih berhati-hati untuk memilih segala sesuatu. Aku yakin, Nona Daisy ialah tipe wanita yang akan mempertimbangkan segala sesuatu itu.” Band menepuk bahu Daisy sembari tersenyum lembut.


Malam ini, Daisy sudah cukup membuka pemikiran barunya. Akankah Daisy mulai mempertimbangkan, siapa pria yang benar-benar tepat untuk masa depannya?


Edrick ataukah Band Sawyer?


• • •


Keesokan harinya...


Daisy masih berada di mansion kediaman keluarganya.


Mrs. Lau mengajak Daisy untuk bicara dari hati ke hati.


”Mommy minta maaf padamu, karena selama ini mommy kurang memerhatikan dirimu. Tapi, satu hal yang perlu kau ketahui, daddy dan mommy hanya ingin terbaik bagimu, Daisy. Kau tahu, daddy sudah kerap kali mengalami sakit mendadak, dan semua dimulai ketika kau memilih untuk menikah dengan Adolf beberapa tahun lalu.” Ucap Mrs. Lau, mendengar hal itu Daisy cukup terkejut.


”Daddy tidak ingin kau menjadi wanita yang lemah, dilain sisi kau adalah keturunan bangsawan keluarga Laurenzo. Lalu, bagaimana mungkin seorang putri hidup sesuka hati? Semua tentu ada aturan yang berlaku, bukan?” Jelas Mrs. Lau.


”Tapi daddy selalu bersikap dingin dan keras padaku.. tanpa berniat untuk bicara dari hati ke hati. Bagiamana mungkin aku dapat mengerti, tanpa adanya pengakuan.”


”Daisy, kau tetap putri pewaris pertama di keluarga ini, dan mommy tidak akan memungkiri hal itu. Mommy juga tidak akan mengambil hak istimewa itu darimu, sekalipun saudaramu adalah putra satu-satunya dari ayahmu. Kau harus pikirkan matang-matang semua keputusanmu.”


Daisy benar-benar dilanda rasa dilema, antara hidup dengan kehidupannya sendiri, ataukah tetap berada di lingkungan keluarganya. Ada banyak hal yang harus Daisy pertimbangkan.

__ADS_1


***


__ADS_2