
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
~ ~ ~
Akankah hubungan Edrick dan Qiana dapat pulih kembali, dan menjadi baik adanya. Tak ada satupun dari mereka, yang mengetahui kebenaran sesungguhnya. Qiana tidak tahu, jika Edrick hingga saat ini masih belum memiliki wanita lain. Begitu pula sebaliknya dengan Edrick, ia tidak tahu jika Qiana tidak pernah melanjutkan perceraian mereka.
Hubungan mereka tidak memiliki kejelasan hingga saat ini, semua bertahan dengan ego masing-masing.
Jika saja Qiana berkata jujur tentang kelanjutan perceraian mereka, mungkin Edrick masih akan tetap berusaha. Begitu pula sebaliknya, Edrick tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Qiana bersama Rav. Kebahagiaan yang ia pikirkan selama ini memang benar adanya.
***
Negara A
Qiana kembali menjalani hari-harinya, dan bekerja untuk melanjutkan masa depannya.
Sedang fokus dengan pekerjaannya, Qiana merasakan sesak di dadanya, dan ia pun kesulitan untuk bernapas. Nyeri di area dadanya kali ini tidaklah biasa. Ia merasa sangat nyeri, juga bagian tulang-tulangnya mulai terasa sangat nyeri.
Ahk… hahh hh…
Qiana mencengkeram bagian pinggir meja kerja miliknya, dan ia terlihat begitu berkeringat. Napasnya semakin tersengal tak karuan lagi. Tubuhnya keringat dingin, dan pandangan matanya mulai terlihat kabur akibat nyeri pada kepalanya.
“Bib.ii..” panggil Qiana, namun suaranya hampir tak lagi terdengar.
Qiana sudah tak sanggup lagi menahan sesak di area dadanya, ia pun bersandar perlahan di kursi kerja miliknya, hingga kedua matanya tertutup secara perlahan.
Beberapa saat kemudian…
“Nona Qiana, belum makan sian, tapi sudah terlelap.” Ucap sang asisten rumah tangga, dan membiarkan saja Qiana berada di sana.
Menjelang sore hari, Qiana masih saja berada di ruang kerja miliknya. Masih dalam posisi tersandar dalam keadaan terlelap.
Ahh.. “Apakah semua orang belum kembali..” gumam Qiana, ia memandangi ruangan miliknya sudah mulai gelap.
Tak satupun orang-orang yang berniat untuk membangunkannya, juga menyalakan lampu di dalam ruangannya. Qiana beranjak keluar dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul. 22.05 malam.
Ayah dan ibunya baru saja tiba di rumah, Qiana masih merasa sangat lemas, langkahnya pun terasa begitu berat.
“Daddy! Mommy! Sepertinya aku merasa tidak nyaman.” Ucap Qiana sembari mendekap dirinya dan ia merasa begitu dingin.
“Kau baru terbangun, bukan? Tentu saja, kau merasa lemas karena terlalu lama tertidur.” Balas ibunnya, sembari meletakkan mantel di atas sofa.
“Kau terlalu banyak tidur sejak siang. Lebih baik, carilah kegiatan yang jauh lebih bermafaat lagi.” Timpal ayahnya acuh.
__ADS_1
Mr. Smitte terlihat masih kesal atas keputusan Qiana untuk mengakhiri hubungannya bersama Rav. Semenjak hal itu terungkap, ayah dan ibunya terlihat mulai acuh padanya.
“Dad, aku ingin ke rumah sakit sekarang.”
“Qiana, kau seharian hanya tidur di dalam ruang kerjamu. Setelah bangun, sudah selarut ini, jadi wajar saja jika kau merasa sedikit pusing. Bersihkan dirimu, maka semua akan baik-baik saja.” Tegas Mr. Smitte, lalu melangkah menuju kamarnya.
Qiana hanya terdiam, dan melangkah menuju kamar miliknya.
“Apakah semua orang begitu sibuk, sehingga tak ada lagi waktu..” ucapnya lirih, dan mencoba untuk berbaring sejenak. Berharap, jika rasa sakitnya akan pulih, jika ia beristirahat kembali.
Hari-hari berikutnya, Qiana kembali merasakan rasa sakit yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Akhirnya, Qiana memutuskan untuk pergi untuk memeriksa diri ke dokter. Karena, keluhan sakitnya sudah tak biasa lagi.
***
Rumah sakit AX
Pergi seorang diri, dan juga mengendarai mobil miliknya seorang diri. Tak ada satupun yang dapat menemaninya saat ini, termasuk keluarganya sendiri.
Setelah tiba di tempat, Qiana pun harus menunggu lama. Melihat antrian yang tidak sedikit dengan berbagai keluhan.
Beberapa jam kemudian…
Tak terasa, sudah melebihi dua jam sudah, Qiana menunggu di tempat duduk pasien antri.
Bersandar sejenak, hanya untuk mengurangi rasa lelah dan lemas tubuhnya.
“Yah, apakah aku sudah bisa masuk antrian?”
“Maaf Nyonya, Dokter sedang menangani pasien di ruang operasi bedah. Sepertinya, Dokter hari ini tidak dapat menerima konsultasi. Mungkin, dilain waktu lagi.
“Oh baiklah, terima kasih atas infonya.” Balas Qiana dengan wajah tersenyum.
Sudah menunggu beberapa jam lamanya, namun ia harus pulang tanpa ada hasil yang jelas.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Rasa nyeri di area dadanya terkadang pulih dengan sendirinya. Namun, pada saat-saat tertentu, rasa nyeri itupun datang kembali.
Sudah beberapa bulan bahkan hampir setahun lamanya, Qiana masih saja membiarkan keluhan sakitnya.
Ia beranggapan, itu hanya keluhan sakit yang biasa dan tidak akan berdampak parah di kemudian hari.
Qiana pun sudah tidak lagi mampu Manahan rasa nyeri pada area dadanya, hingga ke tulang-tulang bahkan bagian kepalanya.
Rumah sakit CX
__ADS_1
Untuk kesekian kalinya, Qiana melakukan pemeriksaan pada bagian tubuhnya. Mengatakan semua keluhannya pada salah seorang dokter spesialis organ dalam.
Hasil yang didapatkan pun tidak biasa. Qiana harus melakukan beberapa tahap pemeriksaan serius.
“Nyonya Qiana, anda terkena penyakit kanker paru-paru yang cukup serius.” Ucap sang dokter.
“Apa? Bagaimana mungkin..” Qiana sangat terkejut, dan tak tahu harus berkata apa lagi.
“Seharunya, Nyonya sudah memeriksanya dari jauh-jauh hari. Jika seperti ini, hanya operasi pembedahan dan juga beberapa alternative lainnya untuk proses pengobatan.”
Qiana terdiam sejenak, ia mengingat beberapa hal yang menjadi penyebab, kemungkinan untuk ia mendapatkan penyakit seperti yang sedang ia alami saat ini.
“Jika Nyonya siap, maka kita bisa merencakan proses opearsi bedah. Namun, tentu dengan beberapa risiko yang kumungkinan terjadi.”
“Mungkin, aku akan terlebih dahulu memilih kemoterapi.” Ucap Qiana lirih, dan masih sangat syok atas apa yang baru saja ia dengarkan.
Qiana pulang dengan pilu hati, seakan semuanya terasa begitu hampa, dan ada rasa putus asa di dirinya saat ini.
***
Pasca pemeriksaan, Qiana kerap kali murung, bahkan berat badannya pun turun drastic hanya dalam jangka waktu beberapa minggu.
Tak ada kesempatan baginya untuk mengatakan yang sebenarnya, pada kedua orang tuanya. Semua orang begitu sibuk, terlebih lagi, ayah dan ibunya sedang dalam keadaan penurunan pendapatan.
Qiana tidak ingin menambah beban pikiran keluarganya, hanya karena keadaannya. Alhasil, Qiana memutuskan untuk tetap diam. Daya tahan tubuhnya kian menurun, saat ayah dan ibunya kerap kali bertengkar hanya karena permasalahan kecil. Terkadang, Qiana pun mendapatkan dampak dari pertengkaran ayah dan ibunya.
Kondisi Qiana setiap harinya kian memburuk, kondisi daya tahan tubuh menurun. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan selalu ia tutupi dengan make up tipis.
“Ruangan kantor milik Qiana”
Qiana sudah tak lagi berada di kediaman keluarganya untuk bekerja. Ia kini, berada di kantor miliknya sendiri.
Hal itu membuatnya lebih leluasa untuk melakukan kemoterapi. Saat Qiana tak sempat untuk pergi ke dokter, Qiana bisa memanngil dokter untuk melakukan proses kemoterapi melalui suntikan infus.
Terlambat beberapa waktu saja, akan menyebabkan dampak yang besar pada kondisi daya tahan tubuh Qiana.
Hingga saat ini, Qiana benar-benar berjalan seorang diri tanpa ada satupun yang mempedulikannya. Hal itu, menyebabkan sakitnya terasa semakin bertambah. Sakit secara fisik dan juga secara jiwa raganya.
Drrttt….. satu panggilan baru…
Meraih ponselnya, dan berusaha untuk berbicara perlahan, dalam keadaan sedang kemoterapi.
“Selamat siang Qiana, apakah kau masih mengenal suaraku?”
“Kau…” Qiana terkejut saat menerima panggilan dari seseorang, yang mampu membuatnya terdiam hingga tak tahu harus mengeluarkan kalimat apa lagi.
__ADS_1
****