
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
Eadrick kembali berhadapan dengan kenyataan yang memilukan hidupnya. Ia harus kehilangan pekerjaannya, akibat perbuatan dari keluarga Smitte. Belum sempat mengajak Qiana untuk memperbaiki semuanya, kini hubungan mereka pun semakin menjauh.
Tanpa ada kata perceraian, mereka pun berpisah begitu saja. Namun, Eadrick bertekad untuk memperbaiki semua kesalahannya, dan berniat untuk membangun karirnya kembali.
***
“Ead, ada suatu rahasia besar yang harus kau ketahui.” Ucap Nenek Ze pada Ead.
“Apa yang ingin nenek katakana?”
“Sebenarnya kau memiliki ayah yang masih hidup.” Mendengar ucapan sang nenek, Ead terkejut dan tidak menyangka akan datangnya hari ini.
“Nenek, bukankah ayah dan ibu sudah tiada lagi?”
Nenek Ze menggeleng sendu, dan terlihat cukup sedih. “Maafkan nenek, namun kenyataan akan kisah kedua orang tuamu sungguh teramat sangat pilu.”
“Apakah ayahku seorang bajing*n nek?” Tanya Ead lagi.
Nenek Ze hanya diam, dan enggan untuk mengungkit luka lama yang selama ini ia simpan rapi. “Kenyataan tentang ayah dan ibumu sangat perih, Ead..” ucap nenek Ze lirih.
“Apakah ibu meninggal karena ayah, Nek?” Ead meraih kedua tangan sang nenek.
Nenek Ze sungguh tak ingin mengatakan hal duka ini pada Ead.
“Saat ini, belum saatnya nenek mengatakan hal ini padamu. Sebaiknya, kau fokus dengan karir yang saat ini kau usahakan.”
Ead terlihat tidak terlalu peduli, karena ia bahkan sudah sangat terbiasa dengan ketidakadaan kedua orang tuanya. Bahkan setelah mendapatkan gambaran mengenai kedua orang tuanya, Ead sudah merasa cukup tahu dulu.
………
Sudah cukup lama Ead mencari pekerjaan, namun juga menemukannya. Hingga suatu saat, Rav menolong Ead untuk menemukan pekerjaan baru, namun Ead harus pergi ke luar negeri untuk menyalurkan kecerdasan pengetahun yang ia miliki saat ini.
Ead pun setuju atas ide yang Rav berikan, Rav memberikan banyak dukungan materi bagi Ead selama kepindahan mereka keluar negeri.
Tak butuh waktu yang lama, Ead pun pergi bersama sang neneknya. Pergi untuk mengadu nasib ke negera lain. Berharap, jika ia memiliki cukup kemampuan untuk merebut kembali istrinya.
***
Menjelang penerbangannya bersama sang nenek, Ead masih berbincang dengan Rav sahabat baiknya. Hubungan mereka kembali membaik, seperti dulu kala.
“Ead, aku hanya dapat membantu seperti apa yang masih bisa kulakukan untukmu. “
“Terima kasih Rav, aku akan segera kembali, setelah aku memiliki cukup kemampuan.”
“Tentu saja, kau harus kembali dan menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab.”
“Raven, terima kasih atas segala bantuanmu, pada nenek juga Edrick.” Ucap Nenek Ze, sembari memberikan Rav sebuah pelukan.
“Yah, nenek. Aku akan menunggu kedatangan kalian kembali.”
Setelah saling berbincang, Ead bersama Nenek Ze pun bergegas pergi ke Negara B.
***
__ADS_1
Sementara itu, Qiana kini tinggal bersama kedua orang tuanya.
“Kediaman keluarga Smitte”
Mrs. Daisy datang berkunjung ke temoat kediaman keluarga Smitte bersama Rav di sisinya.
Kedatangan mereka di sambut baik oleh keluarga Smitte, kecuali Mrs. Smitte karena kesalah pahaman yang harus ia saksikan.
“Apa yang membuat kalian datang kemari?” ketus Mrs. Smitte.
“Sayang, mengapa kau bicara seperti itu? Kau tahu bukan, bagaimana keluarga Rawley membantu bisnisku.” Timpal Mr. Smitte.
“Maaf, Nonya Smiite, sepertinya anda telah salah paham padaku. Seharusnya, Qiana yang mengatakan segalanya pada anda.” Ketus Mrs. Daisy.
“Apa yang sedang terjadi di sini? Mengapa Qiana?” tukas Mr. Smitte.
Qiana hanya terdiam, ia bahkan belum mengatakan hal apapun pada keluarganya, mengenai kebenaran hubungannya bersama Ead.
“Qiana, jujurlah! Kejujuranmu akan membuat keadaan jauh lebih baik, bukan diam seperti ini.” Timpal Rav, Rav pun sudah mampu melepaskan juga melupan sosok Qiana dihatinya.
Setelah mengetahui segala kebenaran yang ada, tentu saja tak ada yang perlu ia harapkan lagi. Rav bahkan sudah menemukan wanita dalam hidupnya, dan masih dalam proses pendekatan.
Qiana masih terdiam tanpa kata. “Qiana, apa yang sebenarnya terjadi di sini? Mommy harus mempercayakan yang mana lagi?”
Qiana beranjak, dan berdiri di hadapan semua orang yang ada di sana.
“Yah, aku memang belum pernah mengatakan hal apapun pada kalian semua. Maafkan aku, Mommy, Daddy. Aku memang sangat egois dengan hidupku, aku bahkan harus memaksakan pria untuk mencintaiku!” Tukas Qiana penuh emosional.
“Qiana, apa yang kau katakana!” Ucap Mr. Smitte terkejut mendengar pernyataan dari Qiana.
“Yah, selama ini akulah yang bersikeras untuk mengejar Edrick, dan tentang kehamilanku, sungguh diluar kendalinya. Akulah yang bersalah, memaksakan cintaku, jadi Daddy jangan pernah merendahkan Edrick.”
“Negara B?” Qiana menyesali sikap acuhnya pada Ead.
“Edrick sudah mulai menyadari perasaannya padamu, dan semua yang kau lihat hanyalah kesalah pahaman. Edrick adalah sahabat baikku, jadi aku tidak akan membiarkan siapapun menginjak-injak harga dirinya. Termasuk keluarga ini!”
“Rav,” Mrs. Daisy menahan perkataan Rav, tak ingin terjadi pertikaian kembali.
“Aku sungguh tidak mengerti situasi ini.” Ucap Mr. Smitte.
“Tentang kenyataan status social Edrick, jangan pernah menyesal paman Smitte, karena telah berhasil menghancurkan kerja keras Edrick. Justru orang yang akan sangat mampu menghancurkan semua perusahaan paman.”
“Raven, hentikan!” Mrs. Daisy menaikan nada bicaranya pada Rav, dihadapan semua orang.
“Apa yang bisa dilakukan Edrick padaku?”
“Edrick adalah anak semata wayang dari Tuan Zearchberd, pemilik dari perusahaan yang keluarga Smitte kelola.” Tukas Rav, lalu melanglah keluar dari kediaman keluarga Smitte.
“Qiana, jelaskan pada Daddy, apa yang terjadi di sini?”
“Tuan Smiite, Nyonya Smitte, kurasa sudah cukup jelas kedatangan kami kemari. Untuk anda, Nyonya Smitte, jangan pernah berpikir hal lain, atas apa yang anda lihat sekilas. Edrick sudah pergi jauh, selamat kalian berhasil menghancurkan kehidupannya di sini.” Tukas Mrs. Daisy lalu pergi begitu saja.
Qiana duduk tersungkur dalam segala penyesalannya.
“Mengapa… mengapa kalian melakukan hal ini pada suamiku..” ucap Qiana lirih.
“Bukankah kau pun sangat membenci Edrick, mengapa baru sekarang kau bersikap seolah kau peduli?”
__ADS_1
“Daddy, tapi aku tidak pernah meminta kalian menghancurkan karirnya! Kalian kejam!” Qiana berlari ke kamarnya.
Mr. Smitte hanya meratap atas apa yang telah ia perbuat, bahkan juga telah memisahkan Qiana dari Edrick. Disaat Edrick sudah mencintai Qiana, keadaan pun tak dapat ia kendalikan seperti sedia kala lagi. Kini, mereka hanya mampu menanti kebaikan hati dari keluarga Zearchberd.
***
Mengenai kisah hidup Ead, sebenarnya nenek Ze sempat menelepon Rav mengenai kebenarannya. Tak ingin permasalahan semakin terus berlanjut, dan sangat berharap segera pulih kembali seperti sedia kala.
Kilas balik sejenak...
Rav saat itu sedang mengerjakan beberapa laporan proyek milik ayahnya, yang saat ini sudah ia kelola.
Drrttt…
“Selamat malam cucu Nenek. Nenek ingin bicara padamu, bisa?” Nenek Ze.
Melihat isi pesan dari Nenek Ze, Rav bergegas untuk menelepon Nenek Zed an meminta penjelasan maksud dari isi pesan tersebut.
Nenek Ze: “Hallo sayang, nenek merindukanmu..”
Raven: “Terima kasih sudah merindukanku, nek..—“
Nenek Ze: “Nenek ingin bicara hal penting dan perlu kau sampaikan pada keluarga yang sungguh amat keterlaluan itu!”
Raven: “Siapa yang nenek maksud?” Rav heran dan semakin penasaran.
Nenek Ze: “Kepergian kami karena..---“
Nenek Ze pun menceritakan segalanya pada Rav, latar belakang kepergian mereka dan juga kenyataan identitas dari Edrick sebenarnya. Rav pun berjanji untuk mengatakan apa yang Nenek sampaikan pada malam itu…
***
Negara B
Karenaa kemampuan maupun kecerdasan yang Ead miliki, hal itu juga membantunya cepat mendapatkan pekerjaan. Menguasai beberapa jenis bahasa di beberapa Negara, tentu saja menjadi nilai jual dirinya.
Saat ini, Ead masih proses membangun karir dan terus menabung, juga mulai belajar menanam saham di perusahaan ternama di Negara tersebut.
“Ead, hari ini nenek akan pergi ke suatu tempat. Makanan sudah nenek siapkan, sayang.” Seru nenek Ze yang akan bersiap-siap pergi.
“Baiklah nek, cepat kembali nek..” balas Ead yang masih saja sibuk dengan layar laptop miliknya.
Nenek Ze pergi bersama salah seorang rekan, pergi ke suatu toko buah. Tidak hanya buah-buahan, juga jenis barang lainnya.
**
Sisi kota B
Sedang asyik memilih beberapa item barang, juga bahan makanan bagi cucu kesayangannya.
Seseorang memanggil namanya, dan meraih tangan nenek Ze.
“Ibu!” ucap seorang pria dengan keadaan sedang bertumpu pada sebuah tongkat. Sepertinya, pria itu terlihat tidak sempurna, mengalami cacat tubuh
.
“Kau..” Nenek Ze terkejut akan sosok pria yang memanggilnya dengan sebutan “Ibu...”
__ADS_1
*****