
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
Sekian lama tidak saling bertemu dengan bidadari tak bersayapnya, Eadrick sungguh kalap saat dipertemukan kembali. Eadrick tak mampu menahan dirinya untuk tidak menyentuh Mrs. Daisy. Penampilan Mrs. Daisy pun selalu terlihat menarik dan sedikit memperlihat lekuk tubuh seksi miliknya.
~ ~ ~
Raven sangat murka, saat melihat Eadrick memeluk dan mengecup bibir ibu sambungnya. Hal yang terlebih lagi membuatnya sangat marah ialah, ia tidak pernah tahu apa yang selama ini telah terjadi dan semua yang telah ia pendam sendiri.
“Bajingannn!”
Bugh!
Raven menghantam wajah tampan Ead dengan dua kali pukulan tangannya. Mencengkeram kerah leher baju milik Ead.
“Kau kejam Edrick! Kau rebut semua wanita yang begitu berharga didalam hidupku!” Pekik Raven dengan bibirnya yang gemetar menahan segala amarah dihatinya.
“Kupikir kita sahabat, tapi ternyata aku salah menilaimu. Kau hanya seorang bajingan!”
Bugh!
Raven menghantam bagian kepala Ead hingga mengeluarkan darah dari ujung tulang jari-jari punggung tangannya.
“Raven! Hentikan saying!” Ucap Mrs. Daisy lirih, Qiana pun turut menahan tubuh Raven.
Ead hanya terdiam tanpa kata, Ead tidak akan pernah membalas pukulan Raven sahabat terbaiknya.
“Maafkan aku Raven..” lirih Ead, sembari menahan rasa nyeri pada area wajahnya akibat tinjuan tangan dari Raven.
“Pergi! Pergi kau dari sini! Kau hanya sampah!” Pekik Raven dengan berlinangan air mata.
Ead bangkit dari tempat ia tersungkur, lalu melangkah dengan tertatih.
“Qiana! Lihatlah! Pria sampah ini tidak pantas untukmu, bukan!” Ucap Raven.
“Raven, cukup..” isak Qiana saat itu.
“Aku tahu segalanya, aku tahu hubungan kalian dan smeua yang terjadi di tepi danau kala itu. Aku diam, karena aku tidak ingin merusak persahabatan kita. Namun, aku sangat bodoh! Aku bodoh karena telah mempercayai manusia sampah sepertimu, Edrick!”
Eadrick mulai menyadari suatu hal, Raven sudah salah paham padanya. Namun, semua pun sudah terlambat untuk memberi penjelasan. Kemarahan Raven pun sudah benar-benar memuncak.
“Pergi! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!” Pekik Raven.
“Raven, maafkan mommy..” isak Mrs. Daisy.
Raven masih gemetar dan tak henti menangis. Ia pun pergi dari hadapan semua orang. Begitu pula dengan Ead yang sudah pergi menjauh.
Semua sudah hancur berantakan tak tersisa lagi. Raven sudah tak lagi mempercayai Ead sebagai seorang sahabat. Luka hatinya sungguh cukup membuatnya melupakan segala kenangan perjuangan mereka saat masih bersama.
***
Usai kejadian menegangkan pada malam itu, Raven lebih sering berada di apartemen miliknya saat pulang bekerja.
Mrs. Daisy berada di kediaman megah mereka bersama para asisten rumah tangga. Raven sangat ingin melupakan segalannya, walau begitu sulit sangat tidak mudah baginya. Berawal dari kesalah pahaman, hingga berakhir dengan pertengkaran hebat mereka.
Di sebuah kamar mewah, miliknya bersama mendiang Mr. Adolf. Menatap sebuah foto berbingkai, size 20R dengan berlinangan air mata.
“Sayang, maafkan aku.. aku belum bisa menjadi seorang ibu yang tepat bagi Raven..” isaknya kian pecah, saat mengingat semua pengorbanan cintanya saat bersama Mr. Adolf.
__ADS_1
Drttt… dering dan getar ponsel milik Mrs. Daisy
Sebuah panggilan masuk, dari seorang sahabat lamanya. “Ke luar pulau..” ucap Mrs. Daisy sembari menyeka air matanya.
Yah, seorang teman mengajaknya untuk bepergian ke suatu tempat, tepatnya di luar pulau. Bertepatan dengan keadaan keluarganya yang sedang goncang. Sepertinya, Mrs. Daisy harus pergi untuk menenangkan dirinya ke suatu tempat.
Mrs. Daisy mulai menyiapkan segala keperluannya saat di luar pulau. Tak lupa ia menyiapkan segala kebutuhan Raven. Dimulai dari pakaian kantor yang akan ia kenakan selama beberapa hari ke depan.
Sebagai seorang ibu sambung, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk membantu mengurus segala kebutuhan Raven.
“Nyonya, apakah Nyonya aka pergi tanpa menunggu tuan Raven?” tanya seorang asisten rumah tangga keluarga Rawley.
Mrs. Daisy tersenyum sendu, “yah. Aku sudah menyiapkan segalanya, dan juga sudah meneleponnya.” balas Mrs. Daisy lalu bergegas untuk segera menuju pemberangkatan utamanya bersama para rekan-rekan.
Mrs. Daisy pergi untuk menenangkan perasaannya, dan akan segera kembali dalam waktu yang tidak lama.
***
Berbeda dengan Ead yang kini justru sedang dalam masa keterpurukan dan kehancurannya.
Kehilangan seorang sahabat baik yang selama ini selalu setiap menjadi sosok terbaik dalam susah maupun senangnya. Dari awal Ead meniti karir, hingga kini ia sudah mulai menikmati segala hasil kerja kerasnya.
Tak hanya kehilangan para sahabat baiknya, ia pun kehilangan sosok bidadari tak bersayapnya. Kehilangan Mrs. Daisy yang sangat ia cintai dan inginkan. Sosok wanita keibuan yang selalu membuat Ead bersemangat menjalani hari-harinya, dan juga mampu membuat Ead menggila seketika.
“Perusahaan BX”
Hah! Ead melonggarkan dasi miliknya, membuka sedikit kancing kemeja yang ia kenakan. Bersandar di kursi kerja miliknya, sembari memandangi langit-langit di dalam ruangan kerjanya.
Memijat bagian puncak kepalanya, dengan sedikit jambakan. Menghela napas kasar, dan kembali ke posisi duduk awalnya.
“Nona Caren, sejak kapan Nona di sini?” ucap Ead heran.
Caren pun duduk di kursi yang berada di hadapan Ead. “Aku berniat untuk memberikan berkas-berkas baru. Namun, aku melihat pintu ruanganmu terbuka, lalu aku putuskan untuk mengejutkanmu.”
“Ah, benarkah! Mengapa aku bisa lupa menutup ruanganku,” kekeh Ead, dan mulai melihat isi dari berkas yang telah Caren bawakan untuknya.
“Wajahmu sanggat kelelahan, dan penuh dengan tekanan, Edrick.” Tukas Caren secara tiba-tiba. Hal itu membuat Ead tersadar, bahwa sudah beberapa bulan ini ia tak lagi memperhatikan penampilannya yang dulu super rapi.
Kini, Ead hanya fokus dengan pekerjaan. Terkadang, waktu tidurnya pun sangat kurang. Namun, tak dapat disembunyikan, penampilan maupun raut wajahnya terlihat begitu kelelahan.
“Akhir pekan, aku ingin pergi ke pantai bersama beberapa teman. Apa kau ingin bergabung?” Caren menawarkan.
Caren
“Tidak, Nona Caren. Aku ingin menghabiskan waktu istirahatku.” balas Ead menolak secara lembut dan sopan.
“Oh, baiklah Edrcik. Aku akan kembali bekerja.” Ucap Caren, lalu kembali menuju ruangan kerjanya.
Ia menyadari, bahwa Ead bukanlah pria yang gampangan dapat dekat dengan wanita mana saja. Namun, hal itu justru membuat Caren semakin giat untuk mengejar Ead.
Sepanjang hari hingga malam, Ead hanya menghabisi waktunya dengan bekerja dan membuat program terbaru. Melelahkan memang, namun semua harus ia jalani dengan baik.
***
Ead berniat untuk pulang ke kediamannya, namun malam ini pikirannya semakin kacau saja. Tanpa sengaja ia melewati sebuah bar, lalu menghentikan motor sport miliknya hanya untuk bersantai sejenak.
__ADS_1
Area kota BX
Ead memasuki bar mewah yang ia kunjungi, memesan beberapa minuman yang beralkohol tinggi.
Segelas, dua gelas berikutnya dan rasanya masih kurang puas juga. Ead akhirnya ambruk di sisi meja. Ia mencoba untuk tetap bangkit, melangkah menuju sebuah sofa sisi ruangan.
Kepalanya sangat pening pada malam ini, dan merogoh ponsel miliknya. Karena penglihatanya sudah mulai tidak biasa, akibat efek dari minuman yang ia konsumsi malam ini. Ead menekan asal layar ponsel miliknya, hingga akhirnya berhasil seseorang.
Panggilan itu tertuju pada Qiana, wanita yang selalu menantinya.
“Edrick! Mengapa begitu berisik, hei! Kau di mana?” Ucap Qiana dari balik panggilan, dengan anda sedikit cemas.
“Aku di bar AX, jalan..--” balas Ead dengan nada bicara yang tidak seperti biasanya, dan jga napasnya yang sudah mulai terengah.
Ead kehilangan setengah dari kesadarannya, dan bayangan wajah Mrs. Daisy kini memenuhi pikirannya. Hal itu pula semakin membuat Ead kacau.
Selang bebeapa menit setelah memanggil seseorang…
Qiana tiba bersama salah seorang supir pribadinnya.
“Edrick! Apa yang terjadi padamu!” Pekik Qiana, lalu melangkah menuju Ead.
Qiana sangat cemas juga marah atas apanya yang kini terjadi pada Ead. Ia bahkan sempat memarahi seorang pelayan Bar. Pelayan tersebut berkata, bahwa Ead telah mengonsumsi minuman dengan kadar alkhohol tinggi, juga ada seseorang yang dengan sengaja memasukkan cairan tambahan. Hal itu mampu membuat Ead berada dalam imajinasi liarnya, ditambau keadaannya sedang sangat kacau.
“Paman, tolong papah Edrick menuju mobil.”
Seorang supir bersama beberapa orang membantu memapah tubuh Ead menuju mobil milik Qiana.
“Tolong bawa kendaraan Edrick ke arah apartemenku!” Pinta Qiana penuh rasa panik.
Mereka pun bergegas menuju apartemen kediaman Qiana, bersama sang supir.
***
“Gedung Apartemen BX”
“Paman silakan kembali, biarkan Edrick di sini.”
“Baik Nona Qiana.” ucap sang supir, lalu pergi meninggalkan Qiana.
Ead sudah berada di atas tempat tidur, kamar tamu di apartemen kediaman Qiana. Qiana membantu Ead melepaskan sepatu, kaus kaki miliknya. Meski telah kecewa berat atas apa yang telah terjadi antara dirinya dan Ead, juga seluruh kenyataan pilunya. Qiana tetap saja memiliki hati yang tulus pada Ead, bahkan tanpa banyak berpikir ia langsung menuju lokasi tempat Ead berada.
Duduk di samping tubuh Ead, dan menatap wajah tampan pria yang telah membuatnya mencintai hingga terluka dalam.
“Daisy!” gumam Ead secara tiba-tiba, lalu meraih pergelangan tangan milik Qiana. Qiana sangat terkejut atas apa yang baru saja dengarkan.
Ead membuka kedua mata sayupnya, yang masih berada dibawah pengaruh alkhohol.
“Daisy! Mengapa kau membenciku dan mengabaikanku? Apa kau tahu seberapa menderitanya aku selama ini?”Ucap Ead, lalu menarik paksa kedua tangan Qiana, hingga memeluk tubuhnya.
Qiana hanya terdiam tanpa kata, antara menikmati pelukan dan sentuhan tangan dari pria kecintaannya. Namun disisi lain, Qiana sangat terluka dengan panggilan nama yang tidak tepat.
Ahk! Qiana memekik, Ead me**nd*h tubuhnya lalu mulai mencum**nya dengan cukup memaksa dan sedikit kasar.
Ahk! “Edrick…” air mata Qiana menetes pilu, menerima segala sentuhan kasar dan juga racauan Ead yang terus memanggil nama Mrs. Daisy.
Harghk! Ahhk…. napas panjang Qiana, Ead mulai membuatnya tak henti-hentinya mengeluarkan suara nakal dan juga sedikit rasa sakit di dalam kenikmatan…
Tangan kukuh berurat milik Ead mulai menjelajahi segala area tubuh sensitive milik Qiana...
__ADS_1
****