
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
~ ~ ~
Keputusan Eadrick untuk kembali merajut kisah cintanya bersama Qiana, bukanlah hal main-main. Ia sudah sangat yakin dengan pilihannya, dan akan segera menjadikan Qiana istri satu untuk selamanya, memulai kisah cinta mereka yang sempat terputus.
.
.
.
“Edrick, sebenarnya aku belum pernah melanjutkan perceraian kita..” ucap Qiana disela tangisannya.
Ead tersenyum lembut, mengusap setiap tetesan demi tetesan air mata Qiana. “Yah, aku sudah mengetahuinya, aku sudah mencari tahu semuanya saat aku berada di Negara B. itulah keyakinanku untuk kembali kemari.”
“Edrick, kau..” Qiana terkejut, dan baru menyadari hal itu.
“Benar istriku. Ayahku sudah menemui kedua orang tuamu. Kita akan segera melangsungkan kembali peneguhan pernikahan kita. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu.” Ead mengecup puncak kepala Qiana dengan penuh ketulusan.
Ead benar-benar memberikan kejutan yang luar biasa pada Qiana, hal yang memang tidak akan pernah Qiana bayangkan sebelumnya.
“Edrick..” Qiana menelusupkan wajahnya ke dalam dekapan Ead. Rasa haru bahagianya malam ini lengkap sudah.
Ead ingin mengadakan kembali acara peneguhan pernikahan mereka. Ingin memulai segalanya dengan baik, dan penuh kebahagiaan.
****
Tanpa sepengetahuan Qiana, Ead telah mempertemukan kedua belah pihak keluarga mereka. Sebagai bentuk kejutan istimewanya pada Qiana, berharap Qiana akan bahagia dengan hal itu.
Segala persiapan acara peneguhan kembali pernikahan antara Qiana dan Ead pun telah dilakukan dengan sangat baik. Keduanya seakan sedang menghadapi acara pernikahan pertama penuh cinta, dan tentu saja berbeda dari beberapa tahun yang lalu.
Suatu ketika, Qiana tidak memberikan kabar pada Ead. Ia bahkan tidak berada di rumah toko miliknya, maupun kediaman keluarganya. Ead sangat mencemaskan kepergian Qiana, ia takut terjadi sesuatu hal pada Qiana.
Tanpa persetujuan dari Qiana, Ead pergi menuju ruangan kerja milik Qiana. Karena berhubung, Qiana menitipkan kunci ruangannya pada salah seorang kepercayaan di sana.
Rumah Toko Qiana
“Bisakah, kau memberiku kunci ruangan dari istriku?” ucap Ead.
“Yah, tentu saja tuan Edrick.” Salah seorang kepercayaan Qiana pun memberikan kunci pada Ead.
Ead segera membuka ruangan kerja milik Qiana, ada pintu lagi di sana, dan itu adalah ruangan pribadi Qiana untuk beristirahat. Ead memandangi area sekitar ruangan pribadi milik Qiana. Ia heran, dengan segala barang-barang Qiana hampir memenuhi ruangan tersebut.
“Apakah Qiana benar-benar berpindah tempat di sini?” ucap Ead, dan iseng-iseng membuka beberapa laci lemari.
Merasa, ia juga berhak atas barang-barang milik Qiana, karena ia adalah suami sah bagi Qiana, pikirnya kala itu.
Sebuah bingkai foto berukuran mini, berisikan gambar pernikahannya bersama Qiana pada saat beberapa tahun yang telah lalu. Sebuah senyuman pun tergambar jelas di wajah Ead. Ia bahagia, karena Qiana masih menyimpan foto kenangan mereka, meskipun Ead telah banyak berbuat kesalahan pada Qiana.
Satu per satu ia buka, dan sebuah amplop yang berlambangkan sebuah rumah sakit yang sangat ia kenali.
Perlahan membuka isi dari amplop tersebut, dan sebuah lembaran surat pemeriksaan atas nama Qiana Smitte terpampang di sana. Saat mulai membacakannya, pupil mata Ead membesar.
“Apa ini?” gumam Ead terkejut, tangannya gemetar saat membaca isi dari surat pemeriksaan tersebut.
__ADS_1
Tak hanya satu surat, melainkan beberapa bahkan cukup banyak surat pemberitahuan setiap melakukan pemeriksaan.
“Qiana, mengapa kau menyembunyikan hal ini dariku..” Ead meneteskan air matanya, saat ia baru saja mengetahui kenyataan pilu kehidupan Qiana.
Ead segera membawa seluruh lembaran pemeriksaan itu, memuatnya ke dalam tas runsel miliknya. Ia tak tahu harus kemana, namun satu-satunya tujuan utama ialah menemui keluarga besar Qiana.
“Tuan Edrick, apakah sudah selesai beristurahat?” Tanya salah seorang pegawai.
“Yah, kurasa cukup. Apakah, Qiana tidak pernah mengatakan hal apapun pada kalian?” Tanya Ead serius.
“Tidak tuan, Nyonya Qiana hanya mengurus perihal pekerjaan.”
“Oh, baiklah. Terima kasih.” Ead pun bergegas untuk pergi menuju kediaman keluarga Smitte.
***
Hati maupun pikiran Ead sangat tidak tenang saat ini. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Acara peneguhan pernikahan akan segera dilaksanakan, namun Ead harus menerima berita buruk dari istrinya.
“Kediaman keluarga Smitte”
Dengan tergesa-gesa, Ead masuk ke dalam kediaman keluarga Smitte. Tak lupa membawa semua laporan pemeriksaan milik Qiana selama ini.
Setiba di sana, kedua orang tua mereka sudah duduk di dalam ruangan keluarga, bahkan Qiana.
“Selamat siang semuanya!” Ucap Ead dengan tergesa-gesa. Sorot matanya langsung tertuju pada Qiana, Qiana tersenyum padanya.
“Edrick, duduklah nak. Kami sedang membicarakan acara peneguhan pernikahan kalian.”
Mendengar ucapan dari ayahnya, Mr. El, niat hati Ead ingin membicarakan perihal penyakit Qiana pun terbungkam begitu saja. Ead tidak mungkin mengatakan berita buruk, di tengah perbincangan bahagia kedua keluarganya.
Duduk bersampingan bersama Qiana, dan seluruh keluarga besar Smitte dan Zearchberd.
“Yah paman, semua yang berlalu biarlah berlalu. Aku hanya ingin menatap dan mambangun masa depanku bersama Qiana.” Ucap Ead, sembari meraih tangan milik Qiana.
“Besok adalah gladi bersih acara peneguhan pernikahan kami. Mohon bantuan dari ayah, paman dan bibi.” Ucap Ead.
Qiana hanya terdiam sejak awal pembicaraan keluarga. Ead sudah tahu apa yang Qiana pikirkan saat ini, namun Ead tidak menghiraukan lagi hal itu. Ead hanya peduli akan masa depan mereka, apapun yang akan terjadi dikemudian harinya.
****
Hotel AXX
Acara gladi bersih persiapan peneguhan pernikahan Edrick dan Qiana.
Semua orang sibuk dengan dekorasi tempat yang akan menjadi lokasi sacral bagi Qiana dan Ead. Qiana turut hadir dalam segala persiapan, dan ia terlihat begitu cemas. Karena sangat cemas, Qiana lupa untuk mengkonsumsi obat penghilang rasa sakitnya, juga kemoterapinya.
Saat menjelang hari peneguhan pernikahan mereka, Qiana jatuh pinsan, dan dari mulutnya mengeluarkan batuk darah. Hal itu membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Bertepatan dengan kedua belah pihak keluarga juga berada di sana.
“Nyonya Qiana! Tuan, Nyonya! Tolong!” Teriak beberapa orang yang ada di area tempat penyelenggaraan acara mereka.
Orang yang pertama berlari ke arah mereka adalah Ead. Ead langsung mengangkat tubuh lemah Qiana, lalu segera membawa Qiana menuju rumah sakit terdekat. Seluruh anggota keluarga pun sangat cemas dan terkejut atas kejadian yang sedang menimpa Qiana saat ini.
Acara peneguhan pernikahan Qiana dan Ead diadakan di sebuah hotel berbintang, dan juga jarak rumah sakit tak jauh dari lokasi. Beruntung, Qiana cepat ditangani oleh beberapa dokter specialis penyakit dalam.
***
Rumah sakit XX
__ADS_1
Semua panik dan cemas. Terlebih lai Ead, Ead sangat terpukul atas kejadian menimpa Qiana.
Saat semua orang sedang cemas menantikan pemberitahuan dari salah seorang dokter yang menangani Qiana. Akhirnya, dokter yang ditunggupun tiba di antara mereka.
“Dokter, bagaimana keadaan istriku?” ucap Ead tergesa-gesa.
“Nyonya Qiana adalah pasien yang biasa memeriksa perkembangannya kemari. Juga kerap kali melakukan kemoterapi di sini.”
“Kemoterapi?” timpal Mr. El bersamaan dengan Mrs. Smitte.
“Yah, tuan-tuan dan Nyonya-nyonya. Nyonya Qiana mengidap penyakit kanker paru-paru stadium dua, menuju stadium tiga, jika tidak segera ditangani dan mengalami perkembangan.”
“Apa! Tidak mungkin!” Mrs. Smitte tersungkur dihadapan sang dokter yang merawat Qiana.
“Mengapa kami tidak pernah mengetahuinya! Mengapa…” isak Mrs. Smitte histeris.
“Saat ini Nyonya Qiana sedang kemoterapi, dan dapat kembali pada malam hari nanti.”
Mendengar pernyataan dari sang dokter, semua yang berada di sana semakin panik.
Terlebih lagi Ead, Ead sangat bersedih, menjelang hari bahagia mereka, Qiana harus mengalami hal ini.
Setelah melakukan kemoterapi, Qiana sudah dapat dibawa kembali menuju hotel tempat mereka akan mengadakan peneguhan pernikahan. Tak banyak pertanyaan, mereka tidak ingin membuat kondisi kesehatan Qiana semakin memburuk lagi.
***
Hotel AXX
Di sebuah kamar yang akan Qiana dan Ead tempati. Keluarga Smitte dan Zearchberd berkumpul di sana.
Qiana terus menangisi keadaannya, dan ketidak jujurannya selama ini.
“Maafkan aku, Mommy, Daddy, Paman El, Nenek Ze, dan Edrick. Aku belum berani jujur pada kalian semua.. dan aku bahkan menghancurkan acara besok…” sesal Qiana sembari terus menangisi keadaan mereka.
“Tidak ada yang akan menyalahkanmu, sayang.. apapun keadaannya, besok kita akan tetap melaksanakan peneguhan pernikahan kita..” ucap Ead lirih, sembari mengusap air mata Qiana.
“Edrick.. maafkan aku, aku tidak bisa menjadi istri yang dapat membahagiakanmuh..” ucap Qiana lirih, sembari menahan rasa sakit pada tubuhnya.
“Tidak, kau adalah wanita terbaik bagiku. Besok kita akan tetap mengadakan acara pernikahan kita. Untuk saat ini, kau istrahatlah. Oke!”
Ead sebisa mungkin membujuk Qiana, agar memilki lebih semangat untuk bertahan hidup. Seluruh anggota keluarganya pun turut mendukung untuk kesehatan Qiana.
~ ~ ~ ~ ~
Dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, Qiana didandani layaknya seorang mempelai pengantin wanita. Suasana acara yang dipenuhi dengan derai ari mata.
Bertepatan dengan acara peneguhan kembali pernikahan mereka, Qiana tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya. Seluruh tulang-tulangnya terasa begitu nyeri, juga bagian kepalanya.
“Mommy, aku tidak bisa melanjutkan ini..” isak Qiana sepanjang acara dimulai.
Ead terus bersamanya, bahkan saat Qiana harus duduk di atas kursi roda, dan juga peneguhan kembali janji pernikahan. Qiana tak mampu membendung haru bahagianya, namun juga rasa sakit pada seluruh anggota tubuhnya.
“Edrick… aku tidak sanggup lagi.. maafkan aku, jika aku mengecewakanmu..” ucap Qiana lirih, dan tiba-tiba terjatuh di tengah para tamu undangan, yang ialah anggota keluarga besar mereka.
“Qiana!” Ead histeris, Qiana sudah tak lagi bergerak.
“Qiana, kau pasti akan baik-baik saja.. Qiana…” Ead menangis meraung-raung mendapati Qiana menutup kedua matanya.
__ADS_1
****