Ketika BERONDONG Jatuh Cinta

Ketika BERONDONG Jatuh Cinta
Terluka untuk kesekian kalinya


__ADS_3

”Ketika BERONDONG Jatuh Cinta”


Author by Natalie Ernison


Bukan waktu yang singkat bagi Qiana untuk dapat menyelami kepribadian suaminya, Eadrick. Berkali-kali Qiana mencoba, demikianlah banyaknya Eadrick membuat luka dihidupnya. Rasa hampir menyerahpun sudah datang berkali-kali, namun rasa cintanya yang tidak biasa mampu menutupi rasa sakit itu.


~  ~  ~


Penuh dengan kecemasan, dan masih menantikan kepulangan suaminya dengan resah gelisah tak menentu. Berjalan ke depan, dan kembali lagi ke ruang tamu.  Begitulah Qiana malam ini, Edrick tak kunjung pulang.


Drrrttt… My Husband memanggil…


Saat melihat nama di layar ponselnya, Qiana segera mengangkatnya dengan rasa tidak sabar.


“Aku akan pulang besok pagi, ada pertemuan mendadak. Istirahatlah..—“ setelah mengatakan tentang ketidak pulangannya, Edrick pun mengakhiri panggilan.


Qiana menghela napas lega, walau hanya sekadar memberi kabar. Hal itu sudah sangat cukup baginya, dan untuk tiba ke titik inipun bukanlah perkara mudah baginya.


Hari-hari berikutnya…


Qiana bangun  lebih awal, dan menyiapkan sarapan kesukaan suaminya. Selama proses memasak, Qiana tak henti bersenandung ria, perasaannya sungguh sangat bahagia pagi ini. melihat Edrick yang sudah mulai memperhatikannya, tentu saja Qiana sangat bahagia. Usahanya tidaklah sia-sia, sekalipun sudah banyak air mata duka yang harus ia lewati selama ini.


Selesai menyiapkan sarapan, Qiana juga menyiapkan segala kebutuhan Edrick, hingga tak lupa menyiapkan bekal.


“Aku sudah menyiapkan bekal, jika kau tidak sempat keluar untuk mencari makan siang.” Ucap Qiana, sembari menyiapkan beberapa wadah ke dalam tas bekal.


Edrick hanya mengangguk menaikan sebelah alisnya, dan melanjutkan sarapannya.


Qiana pun sembari sesekali  melihat layar laptop miliknya, dan saat ia hendak menuju ruang tengah. Edrick terlihat begitu sibuk dengan ponsel miliknya sendiri, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


Tak ada maksud untuk mencari tahu secara berlebihan, namun hati kecil Qiana seakan begitu penasaran dengan isi ponsel milik suaminya. Sangat kebetulan, layar ponsel milik Edrick masih menyala dan belum terkunci.


Mata Qiana menatap ke arah layar ponsel milik suaminya, dan ia pun melihat isi pesan Edrick dengan nomor tanpa nama.


“Siang ini aku akan menemuimu ke kediamanmu, usai makan siang. Tunggu aku Daisy..”


Itulah isi pesan yang sempat Qiana baca sekilas, ada nama Daisy diakhir pesan.


“Hari ini aku akan pulang lebih lama, aku akan pergi menemui seorang klien.” Ucap Edrick dari arah toilet. Qiana berpura-pura sedang melap meja makan.


“Yah, jika semua urusanmu sudah selesai, lekaslah kembali.” Balas Qiana dengan tangannya yang gemetar, sembari menggenggam sebuah kain lap.


Edrick pun pergi bekerja dengan mengendarai mobil miliknya.

__ADS_1


“Kupikir kau sudah menyerah, tapi mengapa kau sangat tega. Ah, aku harus memastikannya.” Qiana sudah sangat tidak sabar untuk kembali mengikuti kepergian Edrick.


Meraih ponsel miliknya, dan menelepon Fanderz. “Fanderz, siang ini tolong temani aku untuk mengikuti Edrick..—“


Qiana kembali dilanda gelisah, dan ia ingin  benar-benar memastikan kebenarannya. Tak ingin salah paham dengan apa yang baru saja ia lihat.


***


“Perusahaan AX”


Edrick bekerja seperti biasanya, namun ia juga memiliki janji khusus bersama Mrs.  Daisy.


“Aku sudah berusaha,  dan hari ini aku akan memastikan segalanya.” Tukas Edrick melalui panggilannya pada MRs. Daisy.


Ahk.. “Apa yang kupikirkan selama ini! mengapa, aku baru menyedari sekarang..” Edrick bergumam sendiri sembari mengerjakan segala laporan miliknya.


Suara ketukan pintu, dan seseorang memasuki ruangan kerja miliknya.


“Permisi tuan Edrick, siang ini rapat dengan klien dibatalkan karena klien kita sedang berhalangan hadir. Jadi, anda bisa pulang lebih awal.” Ucap salah seorang sekretaris direktur utama.


“Baiklah, Nona Caren, terima kasih.” Balas Edrick ramah.


“Yah tuan Edrick, kau memang selalu menarik setiap saat.” Ucap Nona Caren, yang kini menjabat sebagai sekretaris direktur utama.


Itulah yang saat ini Edrick alami, ia terlalu focus dengan kisahnya yang begitu rumit. Sehingga membuatnya menutup hati pada sesuatu yang lain.


Setelah menjelang siang, Edrick membereskan segala pekerjaannya, dan seperti janjinnya. Ia akan menemui Mrs. Daisy untuk membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.


Sementara disisi lainnya…


***


Area kota AX


“Kak Qiana, kau yakin akan tetap mengikuti suamimu?”


“Tentu saja, kau cukup duduk manis di dalam mobil. Biar aku saja yang ke samping halaman itu.”  Ucap Qiana, sembari terus memperhatikan pergerakan suaminya.


Qiana kali ini sudah  hampir kehabisan akal dan rasa sabarnya. Mungkinkah, Qiana akan segera menyerah dengan segala perjuangan pada Edrick...


“Fanderz, tolong temani aku ke sana.”


Fanderz pun mendampingi Qiana untuk pergi menuju area kediaman kedua keluarga Rawley.

__ADS_1


Tangan Qiana gemetar sembari mencekeram erat tali tas selempang miliknya. “Kak Qiana!” Fanderz menahan tubuh Qiana yang hampir jatuh terhuyung.


“Fanderz, kumohon jangan katakana pada siapapun, apapun yang akan kita saksikan hari ini.”


“Kak Qiana, tenanglah. Atau perlu aku yang menghajar kak Edrick!” Fanderz terlihat sangat emosi melihat keadaan saudara perempuannya saat ini.


Qiana menggeleng tanpa tak sekata dengan Fanderz. “Tidak, ini masalah keluargaku. Kau harus belajar untuk tetap tenang menahan dirimu.”


Keadaan halaman yang cukup sunyi, dan ada anak tangga menuju lantai atas. Qiana melangkah dengan tubuh lemasnya, bersama Fanderz yang selalu setia menemaninya.


Baru saja Qiana menunjukkan kepalanya dan melihat ke area terbuka, tepatnya teras samping rumah milik keluarga Rawley.


Ahh! Napas Qiana terasa tercekat, saat dilihatnya Edrick sedang berluutut di hadapan Mrs. Daisy, dan Mrs. Daisy pun sedang menyentuh wajah Edrick menggunakan kedua telapak tangannya.


“Edrick! Bibi Daisy!” Seru Qiana, ia sungguh tidak menyangka jika hari ini akan tiba.


“Qiana!” Mrs. Daisy dan Edrick berdiri secara bersamaan.


“Kenapa, kenapa kalian begitu kejam padaku! Kenapa kalian begitu kejam!” Jerit Qiana dengan berlinangan air mata pilu.


“Kak Edrick mengapa kakak sangat tega pada kak Qiana! Kaka Qiana sedang mengandung, dan kakak bermain dengan wanita lain!”


Fanderz hendak melangkah ke arah Edrick untuk memberi perhitungan.


“Fanderz ini bukan urusanmu!”


“Tapi kak!”


“Kau sebaiknya turun sekarang! Turun!” Bentak Qiana, Fanderz sangat menurut pada Qiana, dan pergi dengan terpaksa.


“Qiana ini tidak seperti yang kau bayangkan.”  Ucap Mrs. Daisy mencoba menjelaskan.


“Diam! Dasar kau ular busuk! Kalian berdua benar-benar sampah busuk!” Qiana sangat kecewa dan begitu marah atas apa yang harus ia saksikan hari ini.


“Kau Edrick! Tidakkah kau memiliki perasaan cinta padaku walau sedikit saja.. aku lelah dengan semua ini, aku sangat lelah..” isak Qiana, sembari mengeluarkan sebuah pisau tajam dari dalam  tas miliknya.


“Qiana, apa yang kau pikirkan! Jangan lakukan  hal aneh” Peringat Edrick yang mulai panik.


“Diam kau! Lebih baik aku mati di sini!” racau Qiana yang sudah tak karuan lagi.


“Jangan mendekat! Aku tidak sudi kau menyetuhku!”


***

__ADS_1


__ADS_2