
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
~ ~ ~
Sisi Kota B
Nenek Ze terdiam, saat melihat seorang pria dengan memegang sebuah tongkat sebagai tumpuan berdirinya, dan memanggil nenek Ze dengan sebutan “Ibu”.
“Kau..” ucap Nenek Ze, dengan bibir gemetar.
“Bu.. tunggu bu..” panggil si pria yang masih terlihat segar, tidak terlalu tua.
“Apa lagi yang kau inginkan, Jehezkiel?” ketus Nenek Ze, yang terlihat tidak menyukai pria bernama Jehezkiel.
“Aku sangat merindukanmu, Bu… maafkan aku bu..” ucap si pria dengan nada memohon, bahkan salah seorang pria bertubuh tinggi, yang ialah pengawal dari pria berama Jehezkiel.
Mendekatinya, dan menopang langkahnya agar tidak terjatuh.
“Apa yang terjadi padamu, El?” Tanya Nenek Ze heran, dan hati Nenek Ze luluh kembali saat melihat pria bernama Jehezkiel tidak sesempurna dulu.
“Ini mungkin hukuman untukku, bu.. aku sudah mencari ibu, namun aku tidak mampu menemukan keberadaanmu, bu..”
“Tidak ada hal yang perlu kita bicarakan!” Nenek Ze bergegas pergi.
“Bu! Ibu!” seru pria bernama Jehezkeil. Namun, Nenek Ze tidak menghiraukannya bahkan pergi begitu saja.
Karena ingin mengejar, Mr. Jehezkiel pun terjatuh dari tumpuan tempatnya berdiri saat itu.
“Tuan, tenanglah, mungkin Nyonya Ze butuh waktu, tuan.” Ucap salah seorang pelayannya, yang khusus mengurus segala keperluan pribadinya.
***
“Mansion kediaman Jehezkiel Zearchberd”
Mr. Jehezkiel Zearchberd atau Mr. El adalah ayah kandung dari Edrick, yang sudah puluhan tahun terpisah. Terlalu banyak duka masa lalu yang belum terungkapkan.
Bahkan selama puluhan tahun, Mr. Jehezkiel sudah mengalami kelumpuhan separuh betisnya. Hal itu membuat langkahnya tidak sempurna, dan ia dinyatakan cacat tubuh, akibat dari kecelakaan yang menimpanya puluhan tahun yang lalu.
Usai berjumpa dengan Nenek Ze, Mr. El terus meratapi kesedihannya sepanjang hari hingga menjelang malam.
“Tuan, utamakan kesehatan tuan. Jangan seperti ini, Tuan..” ucap cemas sang pelayan pribadinya.
“Tapi aku tidak harus bagaimana.. hidupku sudah seperti ini, mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan untukku..” ucapnya lirih dan masih saja meratapi kesedihannya.
Tak tahan melihat sang tuan terlihat menyedihkan, beberapa pengawal mansionnya juga asisten pribadinya berinisiatif untuk mencari keberadaan Nenek Ze. Berharap, hal ini akan mengobati luka batin Mr. El, tentunya dengan segala rasa bersalahnya selama ini.
Terpuruk sendiri, kehilangan orang-orang yang sangat ia cintai, bahkan berada di dalam rasa bersalah selama puluhan tahun lamanya. Semua sungguh terasa menyesakkan di hati.
Setelah satu hari penuh, mereka pun akhirnya mendapatkan keberadaan dari Nenek Ze.
Mr. El sedang duduk menikmati danau yang berada di area belakang mansion kediamannya. Tempat favorite untuk mencari insprirasi, dan menenangkan pikiran.
Dikarenakan keadaannya sudah tidak memungkinkan lagi untuk banyak beraktivitas di luar, Mr. El pun sebatas memantau statistic saham maupun kemajuan beberapa perusahaan miliknya.
Menatap sebuah bingkai foto seorang wanita cantik. Menyentuh bagian kaca penghalang album foto wanita tersebut.
“Rebeca, maafkan aku.. aku sekarang sedang menanggung hukuman masa lalu kita..” ucap Mr. El dengan meneteskan air matanya, mendekap bingkai foto wanita yang bernama Rabeca. Bersandar di kursi santainya, sembari memejamkan kedua matanya perlahan.
“Permisi tuan El, “ ucap salah seorang asisten pribadinya.
“Maaf tuan, tapi kami menemukan info penting mengenai keluarga Nyonya Ze.”
“Apa maksudnya?” Mr. El menautkan kedua keningnya, menatap sang asisten.
“Nyonya Ze tinggal bersama seorang pemuda bernama Eadrick Zearch, Tuan El.” Ucap sang asisten, sembari menyodorkan iPad miliknya, dan terdapat bebepa foto Nenek Ze saat bersama Ead.
“”Eadrick Zearch, nama belakangnya hampir sama dengan namaku.” Mr. El kembali memperhatikan foto tersebut secara saksama.
__ADS_1
“Suatu kali, kami sempat mendengar bahwa Nyonya Ze menyebutnya dengan sebutan cucu, tuan.”
“Cucu.. apakah pemuda ini..” Mr. El bergegas untuk meraih tongkat miliknya, dan berniat untuk melangkah pergi.
“Tuan, Tuan tenanglah.. perhatikan langkah anda, Tuanku.”
“Tidak! Aku harus segera mencari tahu kebenarannya.” Mr. El berniat untuk datang berkunjung ke tempat kediaman Nenek Ze bersama dengan Ead.
***
Mendengar bahwa Nenek Ze bersama seorang pemuda, dan memanggilnya dengan sebutan cucu. Hal itu sontak membuat Mr. El tak sabar untuk segera menemui Nenek Ze.
“Aku berharap pertemuan ini menjawab segala kegelisahanku selama ini..” ucap Mr. El sendu.
“Tuan, sepertinya ini adalah kediamaan keluarga Nyonya Ze!” Ucap sang asistennya sembari memberhentikan mobil milik mereka di depan deretan rumah minimalis.
Salah seorang dari dalam mobil berjalan ke luar dan mencari informasi mengenai nomor rumah milik Nenek Ze. Mereka akhirnya menemuka nomor rumah milik Nenek Ze. Sebuah motor sport berwarna hitam kecoklatan terparkir di depan rumah.
Mereka melangkah menuju kediaman, yang hanya terhalang pagar mencapai permukaan dada orang dewasa.
***
“Kediaman Nenek Ze dan Eadrick”
Berkali-kali menekan bel rumah, dan akhirnya seorang wanita paruh baya membukakan pintu bagi mereka.
“Selamat malam, Bu.” Ucap Mr. El yang sudah berdiri di depan pagar.
“Pergilah Jehezkiel! Aku sedang sibuk!” Usir Nenek Ne.
“Bu, kumohon bu.. ijinkan aku untuk bicara pada Ibu..” seru Mr. El dengan suaranya yang begitu terdengar lirih.
Nenek Ze kekeh tidak ingin membukakan pintu, dan Ead yang masih dalam perjalanan dinas ke luar kota. Sehingga ayah kandungnya pun belum bisa menemuinya untuk sementara waktu.
Tak hanya sekali, dua kali bahkan berkali-kali Mr. El datang berkunjung, namun hasilnya pun tetap sama.
***
*****************
~Kilas balik sejenak…
Seorang pria tampan dan terlahir dari keluarga serba berkecukupan bahkan berkelimpahan, itulah Jehezkiel Zearchberd. Putra tunggal dari Mr. Zearcberd yang terkenal dengan segala kekayaannya.
Hal itu membuat seorang pemuda bernama Jehezkiel menjadi seorang pria bajing*n. Ia bahkan bisa meniduri beberapa wanita dalam satu kali dua puluh empat jam. Pandai merayu, dan membujuk wanita-wanita sehingga bertekuk lutut dihadapannya.
“Katakan, jika kau mencitaiku..” ucap Jehezkiel pada seorang wanita lugu dan belum pernah menjalin hubungan dengan pria manapun.
“Yah, aku mencintaimu kak Jehezkiel.” Ucap wanita cantik bernama Rebeca.
“Buktikan, jika kau sungguh mencintaiku.”
“Bukti? Apa yang dapat kulakukan, kak?” Rebeca bingung, dan tak tahu harus melakukan hal apa bagi kekasihnya. Ia bahkan tidak pernah tahu kebenaran pribadi Jehezkiel/Mr. El.
“Tentu saja, dengan…” Mr. El membelai araa tubuh milik Rebeca.
“Tidak kak, bukan ini yang kuninginkan.”
Rebeca terlihat menolak tindakan dari Mr. El
***
Usai kejadian itu, keduanya tak saling berkomunikasi selama beberapa waktu. Namun, karena mulut manis Mr. El sungguh piawai meray, akhirnya Rebeca sedikit tergoda.
Awalnya, terjadi beberapa kali penolakan. Namun, Mr. El memberikan sedikit tindakan ******sensor******
Rebeca pun luluh, dan Mr. El berhasil membawanya ke dalam jurang dalam.
Sekali melakukan, lalu dua kali, tiga kali hingga akhirnya mengandung seorang calon bayi hasil buah cinta mereka.
__ADS_1
Setelah mengetahui tentang kehamilan Rabeca, Mr. El tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Rebeca harus menanggunng kehamilannya sendiri, hal itupun akhirnya diketahui oleh Nenek Ze, ibunya.
“Kediaman keluarga Ze”
“Rebeca, mengapa kau terlihat lebih berisi, dan juga sering pucat. Apakah kau sakit, sayang?” Tanya Nenek saat itu.
“Bu, aku hamil.. maafkan aku…” ucap Rebeca lirih, anak yang dikandungnya ialah Edrick kecil.
“Apa? Rebeca kau…” Nenek Ze terdiam kaku, tak sanggup atas kenyataan menimpa anak bungsunya.
“Ampun bu… ampun..” Rebeca terisak hingga berlutut dan memeluk kedua kaki Nenek Ze.
“Rebeca, maafkan ibu.. mungkin ibu kurang memberikanmu kasih sayang dan didikan yang layak..” sesal Nenek Ze
.
“Katakan pada ibu, siapa yang menghamilimu nak?” Nenek Ze memeluk Rebeca dengan sentuhan lembut.
“Kak Jehezkiellah kekasihku, dan ayah dari anakku bu.” Ucap Rebeca dengan gugup dan takut.
“Ibu akan bicara pada keluarganya.”
“Tidak bu, jangan bu…” Rebeca menahan niatan ibunya.
“Dia harus bertanggung jawab, Rebeca..”
Rebeca menggeleng, dan berusaha meyakinkan ibunya agar tidak terlibat lebih jauh.
“Kak Jehezkiel akan segera menikahiku bu. Ibu tenanglah..” ucap Rebeca yang sedang berbohong.
***
Mr. El sudah tak lagi mempedulikannya, dan suatu saat Rebeca pun melihat Mr. El sedang bersama seorang wanita muda.
Di area kota B
Kota yang saat ini Nenek Zed an Ead tempati.
Rebeca sedang pergi ke sebuah kantor tempat ia bekerja biasanya dengan keadaan hamil muda. Ia tak sengaja bertemu dengan Jehezkiel sedang dirangkul oleh seorang wanita, setelah sekian lama tidak memberikan kabar berita.
Rebeca sadar diri, dan tak ingin lebih lagi membuat hidupnya terluka. Rebeca bersikap acuh, dan tetap melangkah menjauh, walau jauh dalam lubuk hatinya sangat hancur tak karuan lagi.
Tak hanya sekali, bahkan kesekian kalinya mereka bertemu kembali. Jehezkiel akhirnya menyapa Rebeca dan Rebeca pun mengatakan segalanya pada Mr. El. Rebeca tak ingin lagi membahas mengenai wanita yang bersama Mr. El, ia hanya peduli status bayi dalam kandungannya akan memiliki seorang ayah, walau harus menelan lara hati mendalam.
Mr. El membawa Rebeca untuk datang ke mansion kediaman mereka.
***
“Masion keluarga Zearchberd”
Menatap penampilan Rebeca dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Aku curiga, jangan-jangan kaulah yang dengan sengaja naik ke atas ranjang anakku. Agar kau dapat masuk ke dalam keluargaku, bukan?” ketus Ibu Mr. El.
“Mom, tolong jaga bicara Mommy.” Timpal Mr. El.
“Jehezkiel! Kau adalah putra pewaris keluarga ini! jika seleramu seperti ini, akan jadi apa generasi penerus kita!”
Kala itu, Mr. El hanya memiliki seorang ibu yang sangat angkuh.
“Kau bahkan hamil! Sungguh wanita memalukan!” Ketus ibu Mr. El.
“Aku akan menikahinya, Mom.. setelah itu, semua akan aman dari isu-isu yang ada…” Mr. El berbisik pada ibunya, dan Rebeca mendengar segalanya.
Ia hanya bisa mengelus dada, hal ini sangat menyakitkan.
“Sayang, ibu berjanji, kau akan memiliki seorang ayah.. tak peduli seberapa sakit hidup kita di depan kelak..” Rebeca membelai perutnya yang mulai membuncit.
******
__ADS_1