Ketika BERONDONG Jatuh Cinta

Ketika BERONDONG Jatuh Cinta
Adakah sedikit cinta untukku


__ADS_3

“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta”


Author by Natalie Ernison


Raven terus mencari keberadaan Qiana, namun tak juga menemukannya.


“Qiana, angkatlah!” Raven berusaha untuk menelepon Qiana, namun tak ada jawaban.


“Aku harus mencarimu kemana lagi, Qiana.. kumohon jangan menambah rasa cemasku lagi…” Raven terus menangisi keadaan mereka saat ini, terlebih lagi Qiana. Raven tidak akan pernah suka melihat wanita yang sangat berharga baginya, terluka dengan begitu sakitnya.


Terus mencoba, dan akhirnya ada jawaban dari panggilannya. Ternyata Qiana sedang bersama Fanderz, saudara sepupu laki-lakinya.


Raven pun bergegas menuju alamat lokasi yang telah Fanderz katakan padanya.


”Qiana, kuharap kau baik-baik saja..” Raven begitu mencemaskan Qiana saat ini.


***


“Kediaman Fanderz Smitte”


Sebuah minimalis milik pribadi Fanderz.


Bergegas keluar dari mobil miliknya, dan segera menemui Qiana dengan membawa beberapa makanan sehat.


“Kak Raven, tolong jaga kak Qiana, aku akan pergi ke tempat rapat. Ini sangat mendadak!” Ucap Fanderz yang sedang terburu-buru untuk mengejar waktu rapat pentingnya bersama para pengusaha.


Saat baru saja memasuki sebuah kamar tamu, hati Raven semakin geram melihat keadaan Qiana saat ini. Qiana terlihat pucat, dan hanya duduk lemah di atas tempat tidur.


“Makanlah sesuatu untuk mengisi tenagamu, karena seorang Qiana adalah wanita yang hebat, bukan?” Raven mencoba menghibur hati Qiana.


“Ayo, bukalah mulutmu, sebelum aku mengabadikan seorang bayi besar yang sangat malas makan.” Kekeh Raven sembari terus menghibur hati Qiana. Qiana pun akhirnya tersenyum melihat tingkah konyol Raven dihadapannya.


“Raven aku bukan anak kecil lagi, aku bisa menyantapnya sendiri.”


“Stop! Kali ini, biarkan pelayan Raven Rawley melayanimu dengan sepenuh hati.” Keduanya pun bercanda.



“Raven, aku tahu kau hanya ingin menghiburku. Aku tahu, betapa kecewanya hatimu saat ini pada ibumu dan sahabatmu..”


Qiana tahu apa yang sebenarnya Raven alami, namun ia mengabaikannya.


“Besok aku akan pulang ke rumah keluarga Zearch.”

__ADS_1


Senyuman diwajah Raven seketika meredup, ia begitu tidak suka dengan keadaan Qiana. Namun ia pun harus sadar dengan status mereka saat ini.


“Baiklah, namun aku akan terlebih dahulu menemanimu memeriksa kandungan, oke.”


“Ah, kau benar! Aku belum pernah memeriksa kandunganku.”


“Yah, besok pagi-pagi aku akan datang kemari untukmu, dan calon bayi diperutmu.”


Raven berusaha untuk tetap bersikap layaknya seorang sahabat, sekalipun hatinya saat ini sangat hancur. Tidak ada lagi yang dapat ia perbuat selain melakukan hal ini pada Qiana.


Keesokan harinya…


“Kakak akan membawa kak Qiana pergi ke rumah sakit?”


“Yah Fanderz, dan akan mengantarkan Qiana kembali pada suaminya.” Balas Raven dengan senyuman.


“Kak Raven, kuharap kakak tidak berbuat hal lebih dari ini!” Peringat Fanderz. Raven hanya membalasnya dengan senyuman.


“Rav, aku sudah siap.”


“Oke, let’s go!” Raven membantu Qiana membawa beberapa barang lainnya.


Keduanya pun pergi menuju sebuah rumah sakit untuk memeriksa kandungan. Qiana pergi bersama Raven dan bukan bersama suaminya. Tentu saja itu adalah hal yang begitu menyedihkan baginya, karena harus pria lain yang pergi menemaninya untuk memeriksa kandungan.


“Raven, anakku pasti sangat menyukaimu kelak. Kau sudah sangat banyak membantu.”


“Yah Qiana, kau harus sehat dan menjadi istri juga ibu yang jauh lebih kuat.” Ucap Raven menyemangati Qiana.


“Terima kasih atas segalanya, kau sangat baik tak pernah berubah.”


“Itu adalah hal yang wajar dilakukan oleh seorang sahabat, bukan?” Raven menatap dalam ke arah mata Qiana, Qiana memalingkan wajahnya, tak ingin membalas tatapan Raven terlalu lama.


“Aku tidak akan kalah, aku akan berusaha.”


Raven hanya mengangguk, saat Qiana turun dari mobil miliknya, air mata Raven menetes begitu saja.


“Apa yang kupikirkan, Qiana tidak akan mungkin dapat kumiliki. Aku benar-benar bodoh..” Raven tertawa didalam luka batin dan hatinya.


Raven menjadi pribadi yang lebih sensitif semenjak kematian ibunya, disusul oleh ayahnya dan juga kehilang orang-orang yang selama ini sangat ia cintai.


Kala Raven terpuruk, tak satupun orang yang dapat memberikannya penghiburan, ia bangkit seorang diri. Sehingga karena itulah, Raven tak ingin lagi kehilangan Qiana, dan melihat luka lebih banyak lagi.


***

__ADS_1


“Kediaman Eadrick Zearch”


Sepulangnya dari kediaman Fanderz, dilihatnya Edrick sedang duduk menonton televisi.


Edrick memperhatikan penampilan baru Qiana yang terlihat semakin trendi. “Sekarang, kau lebih senang berdandan dan berpakaian mahal.” Ucap Edrick, seakan memancing pertengkaran.


“Yah, aku harus lebih menikmati hidupku. Sehingga suamiku betah di rumah bersamaku.” Balas Qiana dengan wajah tersenyum. Tak peduli seberapa besar luka yang telah Edrick lakukan, Qiana masih tetap berharap akan perubahan dari Edrick.



Edrick tersenyum miring, sembari menuangkan air ke dalam gelas miliknya.


“Tidak hanya itu, bahkan juga untuk menarik perhatian pria lain dan menemanimu pergi berbelanja, bukan?” ketus Edrick.


Qiana berusaha menahan emosinya, dan terus merapikan seluruh barang belanjaannya. “Besok, jangan lupa periksa kandungan bersama pria lajang. Mungkin, pria yang mampu memberikanmu kenikmatan di atas ranjang.” Ketus Edrick, lalu melangkah pergi dari hadapan Qiana.


Menghela napas perlahan dan menahan rasa ingin membalas ucapan Edrick. Seakan sudah terbiasa dengan ucapan Edrick, Qiana justru beranggapan bahwa Edrick sudah mulai memperhatikan dirinya. Walaupun harus melalui kalimat yang cukup menohok dan juga melukai perasaannya.


Qiana ingin memulai kisah baru di dalam rumah tangganya, terlebih lagi saat ini mereka hanya tinggal berdua. Nenek Ze kini tinggal bersama saudaranya di luar kota, dan membiarkan Edrick bersama Qiana tinggal berdua di kediaman mereka.


Qiana memasakkan makanan kesukaan Edrick, ia belajar resep masakan dari nenek Ze.


Saat sedang berada di meja makan bersama, Edrick cukup heran dengan kemampuan memasak Qiana. “Apakah rasanya cocok denganmu?”


“Cukup baik untuk seorang pemula. Apakah, pujianku sudah cukup, dan bisakah aku fokus untuk menikmati makananku?” Ucapan Edrick lagi-lagi membungkam Qiana untuk tidak banyak bicara padanya saat sedang makan.


“Yah, tentu saja.” Balas Qiana dengan wajah tersenyum. Edrick masih saja bersikap acuh padanya.


Akan tetapi, ada beberapa hal yang membuat Qiana sedikit lega. Edrick kini pulang lebih awal, dan mulai berbicara dengannya jika akan pergi kemanapun. Namun, Edrick masih tidur terpisah dengannya.


Bagi Qiana, hal itupun sudah cukup membahagiakan. Sekarang, Qiana harus benar-benar membuat Edrick merasa semakin nyaman hidup bersama dengannya.


“Malam ini aku akan pulang terlambat, karena ada pertemuan dengan klien dari luar negeri.” Ucap Edrick, sembari merapikan dasi miliknya.


“Bawalah pakaian ganti, dan sempatkan diri untuk membersihkan tubuh. Aku sudah memasukan pakaian tambahan, dan cara mengenakan dasi harus lebih rapi lagi.” Qiana membantu Edrick untuk merapikan dasi miliknya.


“Terima kasih, aku akan pergi.” Edrick bergegas pergi.


Qiana ingin sekali menerima kecupan sebelum Edrick pergi, seperti pasangan muda pada umumnya. Namun Qiana harus lebih bersabar lagi, karena ini adalah awal dari pemulihan hubungannya bersama Edrick.


Setelah beberapa minggu kemudian…


Edrick pergi tanpa mengatakan sepatah katapun pada Qiana, ia terlihat begitu serius dan bergegas.berkali-kali menatap layar ponsel miliknya sembari menikmati sarapan. Qiana yang terus saja memperhatikanya pun sudah mulai menaruh perasaan curiga. Entah apa yang kini terjadi pada suaminya, pikirnya.

__ADS_1


****


__ADS_2