Ketika BERONDONG Jatuh Cinta

Ketika BERONDONG Jatuh Cinta
S2 - Tak mampu melupakanmu


__ADS_3

“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”


Author by Natalie Ernison


~ ~ ~


Ead hanya menganggap semuanya adalah pekerjaan, tak ada hal yang lebih istimewa, selain keluarganya sendiri, bahkan Nona Shyne ia anggap sebatas rekan kerja terbaik baginya.


****


Negara A


Qiana telah resmi menjadi tunangan bagi Raven, dan ada hal yang selama ini tidak ada satupun mengetahui tentang dirinya. Sesuatu yang hanya Qiana saja mengetahuinya, ia tak ingin orang lain ikut campur dalam permasalahannya.


Di sebuah taman, samping halaman kediamannya keluarga Smitte. Qiana duduk dengan layar laptop yang menyala.


“Apa yang sudah kuperbuat..” ucap Qiana sembari meletakkan kepalanya di atas mejanya.


Drrttt… Raven memanggil…


Qiana enggan untuk menyambut panggilan dari Raven, dan hanya mengabaikannya saja.


Setelah beberapa waktu kemudian…


“Permisi Nona Qiana, ada tuan Raven sedang mencari Nona.” Ucap salah seorang asisten rumah kediamannya.


“Raven? Yah, persilakan saja dia masuk kemari!” Balas Qiana, dan kembali fokus dengan layar laptop miliknya.


Sedang fokus, Raven pun sudah tiba di hadapannya dengan wajah tersenyum.


“Sayang, mengapa tidak mengangkat panggilan dariku? Apakah, kau terlalu sibuk?” ucap Raven yang baru saja tiba di area taman halaman kediamannya.


“Aku sedang fokus dengan pekerjaanku, maaf,” sesal Qiana, meskipun ia harus berbohong pada Raven.


“Baiklah, yang terpenting kau baik-baik saja. Itupun sudah sangat cukup bagiku.” Raven duduk di samping Qiana, sembari merangkul Qiana dengan penuh kasih.


“Kurasa, sudah saatnya makan siang. Come on!” Ajak Qiana, lalu beranjak dari tempat duduknya.


Keduanya beranjak menuju ruang makan, dan duduk berhadapan di meja makan yang berukuran untuk empat orang saja. Semua makanan telah tersedia di sana, dan siap untuk disantap.


“Akhir pekan, apakah kau memiliki waktu luang?” Tanya Raven disela makan siang mereka.


Qiana melanjutkan makannya, sembari memikirkan jawaban yang tepat untuk ia utarakan. “Mungkin, aku harus melihat jadwalku kembali.” Ucap Qiana.


“Baiklah, sayang. Kurasa, kita harus bicara..”


Qiana terdiam saat mendengar ucapan dari Raven. Ia menyadari, bahwa hubungan keduanya terasa begitu hampa seakan tak cinta.


“Maaf, jika aku tidak bisa membuatmu selalu jatuh cinta. Seperti saat, kau bersama Edrick.”

__ADS_1


“Kau tidak perlu mengatakannya, karena selamanya kau tidak akan bisa seperti Edrick. Bahkan, tidak ada satupun manusia yang dapat menyamai manusia lainnya, sekalipun seorang anak kembar.” Ketus Qiana.


Raven hanya terdiam, dan berusaha untuk kembali melanjutkan makan siang miliknya. Suasana sudah tidak lagi baik, dan mampu mengurangi nafsu makan.


“Akhir pekan, aku akan menjemputmu.”


Qiana hanya diam, tak ada balasan atas pernyataan dari Rav.


~ ~ ~


Hubungan yang mereka bangun terasa sangat kosong, cinta hanya ada pada satu pihak saja. Sedangkan, satu pihak lainnya masih bimbang dengan perasaannya sendiri. Yah, Qiana masih bimbang dengan pilihannya, ia memilih Rav hanya atas dasar kasihan. Tak ada cinta dihatinya bagi Rav.


Rav berkali-kaki meyakinkan Qiana, bahwa ia akan mampu membahagiakan Qiana. Namun, pada kenyataannya, Qiana masih tak mampu melupakan Edrick. Pertunangan mereka pun hanya atas dasar pelampiasan perasaan. Qiana hanya berusaha untuk melupakan sosok Edrick, dengan cara membuka hatinya bagi Rav.


Walau, pada akhirnya perasaan Qiana ternyata tak mampu ia berikan pada Rav. Semenjak, Qiana mendengar berita dari Edrick. Bahwa Edrick sudah memiliki kekasih baru, ia pun benar-benar sudah menyerah dengan perasaannya. Dalam keterpurukannya, Rav selalu hadir dan meyakinkannya.


Pada akhir pekan, Rav mengajak Qiana untuk pergi ke sebuah tempat wisata terbaik di kota A.


Berusaha membawa Qiana ke suasana baru, dan berharap cinta itu akan tumbuh dihati Qiana.


Duduk bersampingan, dan menikmati suasana sejuknya danau yang berada di hadapan mereka saat ini.


“Qiana, apakah kau pernah merindukanku?” ucap Rav dengan pandangan mata yang penuh kehampaan.


“Mengapa kau bertanya seperti itu?”


“Kau terlalu banyak memikirkan sesuatu yang belum pasti.”


“Qiana, apakah kau bermaksud untuk mengatkan tentang hubungan kita?”


“Menurutmu?” Qiana membalas ucapan Rav dengan nada yang santai.


“Qiana apakah kau berpikir, hubungan ini adalah hal biasa?”


“Aku tidak pernah mengatakannya! Kau terlalu banyak berkhayal!”


“Qiana! Ingat! Kau adalah tunanganku, dan kita akan segera menikah.”


“Lalu, jika seperti itu! Apakah kau bisa bersikap sesuka hatimu?”


“Qiana, aku hanya ingin kau bahagia!”


“Tapi, aku tidak pernah mencintaimu. Kita sudah sepakat, bukan! Jika, setelah pertunangan berlangsung dan aku masih belum memiliki perasaan padamu. Kita harus akhiri semua ini.”


“Qiana, apakah tidak ada sedikit pun perasaanmu untukku..”


“Maafkan aku Rav, aku tidak mencintaimu dan aku tidak mampu memberikanmu harapan melebihi ini..” Ucap Qiana lirih.


“Bisakah aku meminta perpanjangan waktu lagi?” pinta Rav lirih, sembari menyentuh wajah Qiana, menatap Qiana dengan sangat lekat.

__ADS_1


“Maaf Rav, aku tidak bisa.. sudah cukup sandiwara ini.” Qiana beranjak dari tempat duduknya, berdiri menghadap danau.


Rav terdiam, meratapi dirinya yang tidak mampu membuat seorang Qiana jatuh cinta padanya.


“Kita akhiri cukup sampai di sini. Aku akan bicara pada keluargaku, aku tidak akan pernah menyalahkanmu dalam hubungan ini.”


“Baiklah Qiana, terima kasih atas segalanya..”


Hubungan yang selama ini mereka bangun, bukanlah atas dasar cinta. Namun, Rav ingin mencoba untuk membahagiakan Qiana dengan kasih sayang dan cintanya.


Kini, Qiana sudah tidak mampu lagi menjalani hubungan sandiwara mereka. Rav pun sudah tidak dapat memaksakan perasaannya pada Qiana.


***


“Kediaman keluarga Smitte”


Tepatnya di dalam kamar milik Qiana.


Duduk, sembari memandangi foto pernikahannya saat bersama Edrick. Sebuah bingkai berukuran mini, ia simpan di dalam laci lemari miliknya.


“Edrick, ternyata aku tidak mampu melupakanmu.. apa yang harus aku lakukan..” ucap Qiana lirih.


Sebuah map berisikan lembaran kertas surat perceraiannya dengan Edrick. Selama ini, Qiana tidak pernah melanjutkan proses perceraiannya bersama Edrick. Surat perceraian yang telah Edrick tanda tangani pun, tidak pernah ia berikan ke pengadilan.


Qiana menyimpan segalanya sendiri, tak ada yang mengetahui hal ini.


“Aku sudah berusaha, tapi mengapa aku justru semakin tersiksa..” isak Qiana, lalu mendekap bingkai foto pernikahannya bersama dengan Edrick.


Qiana mengira, bahwa Edrick telah bersama wanita lain. Namun, pada kenyataannya Edrick masih sendiri, dan tak satupun wanita yang mampu merebut hatinya.


***


Sementara di sisi lainnya, diwaktu bersamaan.


Tepatnya di Negara B.


Edrick pun sedang mengalami kegundahan hati yang cukup mendalam.


Ia terus teringat akan sosok Qiana, wanita yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya. Bahkan hingga saat ini masih menjadi istrinya, namun Edrick tidak mengetahui hal itu.


Sesuatu yang tidak pernah Qiana ungkapkan pada siapapun, termasuk pada keluarganya sendiri. Mengingat kondisi keluarganya yang tidak selalu bisa memahami keadaan rumah tangganya, bahkan pribadinya sendiri tidak selalu dapat dimengerti.


Sungguh tidak mudah bagi Qiana untuk dapat melupakan sosok Edrick dari hidupnya. Pria yang telah pernah memberikannya calon bayi, walau ia pun harus kehilangan. Berbagai cara sudah Qiana lakukan, bahkan sempat mencoba untuk membangun hubungan bersama pria lain.


Semakin ia mencoba untuk melupakan, maka semakin sakit pula perasaannya. Mencoba untuk menaruh rasa benci, namun Qiana bukanlah pribadi yang mampu melakukan hal itu.


Akankah hubungan mereka dapat pulih kembali, dan menjadi baik adanya…


****

__ADS_1


__ADS_2