
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
~ ~ ~
Tepat dihari peneguhan kembali pernikahan Eadrick dan Qiana. Mereka harus merasakan rasa haru bahagia, juga sedih mendalam akan kenyataan pahit yang harus mereka terima. Qiana dalam keadaan tidak baik-baik saja, dan daya tahan tubuhnya turun drastic dihari peneguhan pernikahan mereka.
Dalam keadaan seperti itu, Eadrick tidak sedikitpun memiliki niat untuk menghentikan niatnya bersama Qiana. Tak ingin menyesal untuk kesekian kalinya, Eadrick pun berupaya untuk masa depan mereka.
~
~
~
Setelah acara peneguhan pernikahan sempat mendapatkan kendala, dikarenakan Qiana jatuh pinsan. Mereka tetap melanjutkan acara hingga tuntas. Qiana tetap berada didalam dekapan Ead. Ead tetap setia mendampingi Qiana, sekalipun di dalam keadaan Qiana yang sedang mengalami lemah tubuh.
Qiana langsung dibawa untuk kemoterapi ke salah satu dokter specialis. Namun, karena kondisi Qiana saat ini cukup memburuk, dokter pun menyarankan untuk terapi radiasi.
Rumah Sakit XX
“Dok, apakah istriku dapat disembuhkan?” Tanya Ead lirih.
Sang dokter pun melepaskan stetoskop yang masih melekat di bagian telinganya. Mengehla napas perlahan, mencoba untuk mengucapkan kata-kata yang menguatkan hati.
“Kemungkinan tipis untuk dapat sembuh total, Tuan. Karena, Nyonya Qiana sudah hampir stadium tiga, dan tidak dapat kami operasi begitu saja.”
“Apa.. tidak mungkin…” Ead tersungkur di hadapan sang dokter yang merawat Qiana. Air matanya tak henti menetes pilu, meratapi keadaan sang istri terkasih.
“Nyonya Qiana harus melewati proses terapi sinar proton, atau dapat disebut terapi radiasi.”
“Kumohon, lakukan yang terbaik untuk istriku dok, kumohon..” lirih Ead. Ead begitu sedih atas apa yang kini menimpa Qiana.
Seharusnya mereka merasakan indahnya memadu kasih usai peneguhan pernikahan mereka. Namun, yang harus mereka rasakan adalah suasana kesedihan yang mendalam. Karena hal itu pula, Ead masih bertahan di Negara A, dan bekerja dari jarak jauh untuk negera B yang telah membawa perubahan karir baiknya.
Selama proses terapi radiasi, maupun kemoterapi lainnya. Ead selalu siap sedia dan setia mendampingi sang istrinya. Ia bahkan bekerja sembari memantau terus kesehatan Qiana. Tak sedikit pun Ead membiarkan Qiana untuk melakukan pekerjaan lainnya. Ead ingin Qiana benar-benar pulih dari lemah tubuh yang sedang Qiana alami saat ini.
Qiana masih dirawat di rumah sakit, di sebuah ruangan VIP terjamin. Untuk itu, Mr. El ayah dari Ead pun berniat untuk mengatur rencana pemindahan kerja Ead. Mengingat kondisi kesehatan Qiana kian memburuk dan belum menemukan titik temu yang tepat dalam segala penanganannya.
“Edrick, ayah ingin fokus pada keluargamu. Untuk urusan karirmu, ayah sudah menyiapkan segalanya. Ayah sudah memikirkan yang terbaik bagimu juga cucu-cucu ayah kelak.” Ucap Mr. El menenangkan Ead yang kala itu duduk di luar ruangan rawat inap Qiana.
“Maksud ayah?”
__ADS_1
“Kau fokus saja dengan perusahaan yang ayah akan berikan padamu. Usia ayahpun sudah tak lagi sekuat dulu, semua yang ayah miliki tidak ada artinya lagi. Semua ayah serahkan padamu.”
“Yah ayah, tapi aku masih tidak dapat melakukan banyak hal bagi perusahaan ayah. Saat ini, aku hanya ingin kesembuhan bagi Qiana.” Ead menunduk sendu, hati dan pikirannya masih sangat tidak baik hingga saat ini.
“Ayah telah membuat surat warisan untukmu, dan seluruh keturunanmu kelak. Rumah yang baru saja dibangun di sisi kota A, semua untukmu bersama Qiana. Hiduplah bahagia di kota ini, dan ayah ingin menikmati hari tua di negera B.”
“Mengapa ayah menyarankanku untuk tetap tinggal di sini, sedangkan ayah ingin ke Negara B?”
“Ayah tahu, kau saat ini hanya ingin fokus dengan kesembuhan istrimu dan tidak mungkin meninggalkan kota ini.”
“Jika aku berada di sini, maka ayah pun harus tetap bersamaku, dan juga nenek.”
“Apakah tidak masalah, jika ayah tinggal bersamamu?”
“Ayah, mengapa ayah menanyakan hal ini… sudah cukup kepedihan kisah masa lalu, aku tidak ingin lagi mengingatnya. Aku hanya ingin keluarga kita hidup bahagia.”
“Terima kasih Edrick.. maafkan ayah, ayah hampir saja terlambat menemukan kalian..” sesal Mr. El.
“Sudahlah ayah, yang berlalu biarlah berlalu. Aku tidak ingin terjadi hal yang sama pada kehidupan rumah tanggaku, aku tidak ingin menyesal lagi. Aku hanya ingin kehidupan kita bahagia..” ucap Ead lirih.
Ead tak mampu menahan rasa sesak didadanya, saat ini ia hanya ingin Qiana dapat disembuhkan dari penyakit Qiana.
Setelah hampir satu minggu berada di ruang inap, Qiana akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Mereka pun langsung pergi menuju rumah kediaman terbaru milik Qiana, yang telah Mr. El persiapkan.
***
Setiba di kediaman terbaru mereka, Ead mengajak Qiana untuk berkeliling di area pekarangan rumah nan cukup luas.
Qiana saat ini masih duduk di kursi roda, karena kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk banyak melakukan pergerakan.
Seluruh anggota keluarga tidak berada di sana, hanya ada Ead dan Qiana.
“Ah, suasana di sini sangat sejuk, bukan?” ucap Ead sembari tersenyum lembut pada Qiana.
Qiana memandangi area pekarangan rumah yang terlihat begitu asri, dengan berbagai tanaman bunga-bunga segar.
“Sejak kapan kau suka merawat tanaman?” ucap Qiana heran.
“Sejak saat ini, kita akan merawat tanaman ini bersama-sama. Kelak, anak-anak kita akan bermain di pekarangan yang luas.”
Ead mendekati Qiana, meraih kedua tangan milik Qiana, mendekap lembut tubuh Qiana.
“Mulai saat ini, kau cukup menjadi istri yang baik. Tidak perlu bekerja lagi, oke!”
__ADS_1
“Tapi aku akan sangat bosan..”
Ead tersenyum, membelai wajah Qiana. “Kau boleh melakukan segala hal yang kau sukai. Tapi, aku tidak ingin kau terlalu lelah.”
Ead sebisa mungkin membuat suasana hati Qiana membaik. Memulai kisah yang baru dan kehidupan rumah tangga yang baru.
Menjelang malam, Ead sudah tak lagi mengurus pekerjaannya. Ead benar-benar fokus dan serius dengan pemulihan Qiana. Qiana pun tidak ia biarkan tidur terlalu larut malam.
Di atas kasur king size, tepatnya di kamar pribadi Ead dan Qiana.
“Aku ingin memiliki empat anak, dua perempuan dan dua laki-laki. Sepertinya, akan sangat lengkap, bukan?” ucap Ead, sembari membelai puncak hingga bahu milik Qiana.
Bersandar di bagian kepala tempat tidur, dan saling berbincang-bincang mengenai masa depan.
“Sayang, mengapa kau murung. Hei! Semua akan baik-baik saja, aku sangat yakin itu!” Ucap Ead meyakinkan Qiana.
“Edrick, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menjadi istrimu..” ucap Qiana lirih.
“Qiana, istriku sayang, semua akan baik-baik saja. Kita akan memiliki empat orang anak yang tampan, cantik dan lucu. Oke!” Ead berusaha untuk membuat Qiana merasa semangat kembali.
Mengecup puncak kepala Qiana dengan kecupan yang lembut.
“Edrick, terima kasih telah menerima keadaanku..”
Ead tersenyum dan masih berupaya meyakinkan Qiana akan hari depan yang bahagia.
“Sayang, kita sudah kembali bersama. Tidakkah, aku diberikan sesuatu yang istimewa?”
“Sesuatu yang istimewa.. apa yang kau inginkan, Edrick?” Qiana tidak mengertiakan ucapan dari Ead.
“Tentu saja malam yang indah.. untuk pendukung program empat anak..” ucap Ead pelan, dengan senyuman nakalnya.
“Edrick, kau..” Qiana begitu malu, dan tak tahu harus mengatakan apa lagi.
“Sayang, malam ini adalah malan pertama bagi kita sebagai pasangan yang baru. Lupakan segala ksiah masa lalu, dan kita mulai kembali segalanya..”
Qiana mengangguk mantaf, dan siap untuk memberikan hadiah terindah bagi suaminya, Ead.
“Yah, semuanya milikmu, suamiku..”
Perlahan, Ead merebahkan tubuh Qiana.
Keduanya bercinta dan memadu kasih layaknya pasangan yang baru saja menikah.
__ADS_1
Besar harapan Ead untuk kesembuhan Qiana, begitu pula Qiana. Walaupun, hingga saat ini mereka tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya nanti…
****