
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta”
Author by Natalie Ernison
Pada akhirnya, Eadrick mengakui kehamilan Qiana dan bermaksud untuk menikahi Qiana. Namun, saat Eadrick akan mengatakan niat baiknya, justru ia harus menerima perlakuan dan penghinaan dari pihak keluarga Smitte.
Meski begitu, Eadrick pun menikahi Qiana. Perihal hubungan satu malam mereka pada malam itu, Qiana menyimpan dan menutup rapat. Baginya, cukup itu menjadi rahasia antara dirinya bersama Eadrick. Bahkan pada Raven pun, Qiana tidak menceritakan secara penuh kronologis cinta satu malam mereka.
***
Mengingat usia kehamilan Qiana sudah menginjak usia satu bulan lebih. Edrick pun harus segara menikahi Qiana, sebelum perut Qiana membuncit.
Pernihan mereka dilaksanakan secara tertutup, hanya dihadirri oleh orang-orang terdekat mereka. Tidak semua orang mengetahui mengenai pernikahan Edrick dan Qiana.
~Wedding Day~
“Anda sangat menarik, Nona Qiana.” Puji salah seorang penata rias.
Qiana tak hentinya tersenyum bahagia, berlenggok di depan cermin berukuran besar. Ia sangat bangga dengan gaun pengantin mewah yang sedang ia kenakan. Impiannya menjadi seorang Nyonya Zearch pun tercapai. Meski harus melalui kisah penuh luka, kini ia akan menjadi istri sah bagi Edrick.
Akankkah pernikahan ini menjadi awal
kebahagian bagi Edrick dan Qiana…
Mereka mengadakan pernikahan di tepi pantai, dengan design mewah. Meski pernikahan ini meimbulkan kemarahan pada pihak keluarga Smitte, pada akhirnya pun takdir berpihak pada kedua mempelai pengantin.
Di hadapan seluruh tamu undangan dan juga keluarga. Edrick dan Qiana mengucapkan janji suci mereka, sembari bertukar cincin. Air mata haru bahagia dari Qiana seakan tak henti menetes. Semua seperti mimpi baginya, sungguh luar biasa, sebelum Edrick membisikan beberapa kata di telinganya.
Edrick mendekati daun telinga Qiana, dan membisikan kata-kata yang cukup membuat Qiana terdiam tak berdaya.
“Jangan pernah berpikir aku akan memperlakukan sebagai seorang istri. Karena kau, semuanya menjadi sangat buruk.” Bisik Edrick. Qiana yang awalnya selalu meampilka senyuman, kini berubah datar.
Qiana hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhnya. Ucapan Edrick sangat menusuk hingga relung hatinya terdalam. Sekuat mungkin, Qiana berusaha untuk tidak menangis. Walau akhirnya ia harus menangis. Sementara itu, orang-orang beranggapan Qiana sedang menangis haru bahagia, seperti saat mereka sedang mengucapkan janji suci pernikahan.
Sepangjang acara resepsi pernikahan, Qiana sudah tidak seceria awal acara. Hanya beberapa kata-kata saja, sudah cukup mampu menghancurkan hatinya.
***
“Hotel XX”
Setelah melaksanakan acara pernikahan, Qiana bersama Edrick pergi menuju sebuah hotel mewah. Sebagai tempat untuk memadu kasih bagi kedua pengantin baru.
Edrick hanya duduk di samping tempat tidur king size, sembari menyeruput coklat hangat miliknya. Qiana sudah berada di atas tempat tidur, menantikan reaksi dari pria yang baru saja menjadi suaminya.
__ADS_1
“Sampai kapan kau akan duduk di sana?” ucap Qiana, memecahkan keheningan.
“Sampai kau berhenti menatapku dan berharap aku menikmati malam pertama.” Balas Edrick. Lagi-lagi, ucapan dari mulut Edrick berhasil membuat luka baru di hati Qiana.
“Edrick, sampai kapan kau akan marah padaku! Aku tahu, kau masih marah, karena aku tidak meresponmu dengan baik pada saat kau datang melamarku, bukan?” ucap Qianna dengan nada setengah tertawa.
Ucapan Qiana sekedar pencair suasana, Qiana berharap Edrick akan luluh dengan guyonannya.
“Tidurlah lebih awal, ingat bayi yang sedang berada didalam kandunganmu. Jangan sampai, ada drama baru setelah pernikahan ini.” Ketus Edrick, lalu melangkah ke luar dari kamar yang sedang mereka tempati.
“Kau aka kemana Edrick! Ini adalah malam pernikahan kita, mengapa kau pergi seenak hatimu!” Seru Qiana dengan nada sedikit marah.
“Malam pernikahan tanpa cinta! Yah, itulah tepatnya. Kau menginginkan ayah bagi bayimu, maka ku kabulkan. Tapi jangan bermimpi aku akan menjadikanmu ratuku!”
“Edrick… mengapa ucapamu begitu kejam..” Qiana menatap Edrick yang akan segera pergi dari hadapannya.
“Besok kita akan pergi ke rumah nenek. Kau akan menjadi Nyonya Zearch di keluargaku. Kau harus membantu nenek di rumah.” Edrick berbalik, meraih selimut dan berbaring membelakangi Qiana.
Dimalam pertama pernikahan mereka, Edrick dan Qiana sudah mengawalinya dengan pertengkaran. Edrick sungguh belum mampu melupakan sosok Mrs. Daisy di hidupnya.
***
Setelah beberapa minggu kemudian…
“Kediaman keluarga Zearch”
Di meja makan bersama.
“Bagaimana, apakah makan malam ini terasa berbeda?” ucap nenek Ze menatap Edrick dengan penuh senyuman.
Edrick tersenyum sembari mengangguk. “Yah, sangat lezat.” Balas Edrick. Mendengar hal itu, Qiana pun tersenyum. Karena makan malam ini, Qianalah yang memasakkan bagi mereka bertiga.
“Tentu saja, jika seorang istri yang penuh cinta. Tentu akan memasak bagi suaminya penuh cinta pula. Bukan begitu, Qiana?”
Qiana tersenyum canggung, dan tidak memiliki nyali untuk menatap ke arah Edrick.
“Ia nek..” balas Qiana kemudian menunduk.
Usia makan malam bersama, Qiana berniat untuk membereskan segala peralatan makan mereka.
“Cukup! Kau sebaiknya naik ke atas dan beristirahatlah. Besok kau akan bekerja.” Ucap nenek Ze lembut.
“Tapi nek, aku bisa melakukannya.”
__ADS_1
“Nenek, biarkan Qiana melakukannya. Qiana harus banyak belajar, dia sekarang sudah menjadi istri seorang pria sederhana.” Timpal Edrick.
Qiana segera membereskan apa yang baru saja ia ingin kerjakan. “Baiklah, terima kasih sudah membantu.” Ucap nenek Ze.
Hari demi hari, Qiana lalui dengan baik. Meskipun, hingga saat ini Edrick tidak pernah berhubungan itim dengannya. Edrick selalu sibuk mengurus pekerjaannya, dan juga posisinya yang baru saja menerima promosi terbaik dari sang direktur.
Edrick bahkan tidak tidur satu tempat tidur dengan Qiana. Setiap malam, Edrick tidur di kasur bagian bawah. Qiana sebenarnya terluka dengan semua sikap Edrick padanya.
Suatu seketika, nenek Ze mengetuk pintu kamar mereka. Dengan spontan, Edrick langsung berada di kasur yang sama bersama dengan Qiana.
Pada kesempatan lainnya, mereka terkadang berkunjung ke kediaman keluarga Smitte. Sandiwara keduanya pun kembali terjadi, seolah terlihat sebagai pasangan bahagia. Itulah yang terjadi selama ini.
Pada suatu malam…
“Aku merasa, pernikahan ini sangat konyol. Aku bahkan menikah dengan wanita yang tidak pernah aku cintai. Sementara wanita yang sangat kucintai, tidak bisa aku dapatkan. Semua karena pernikahan konyol ini.” Keluh Edrick, saat Qiana sedang merapikan pakaian kerja miliknya.
“Apakah kau benar-benar masih belum mampu melupakan bibi Daisy?” Balas Qiana dengan hati pilu.
“Tentu saja, hanya Daisy wanita yang sangat kucintai. Aku pun tidak tahu, entah sampai kapan aku akan bertahan hidup dengan wanita yang tidak pernah aku cintai.”
Qiana hampir saja menjatuhkan seluruh pakaian yang ada di tangannya. Namun, ini bukanlah pertama baginya. Karena sejak awal, Edrick memang selalu mengucapkan kalimat menyakitkan.
“Apakah aku tidak ada dihatimu, walau sedikit saja?” balas Qiana sembari melangkah ke arah Edrick, dan merangkak ke atas tempat tidur milik Edrick yang biasa Edrick gunakan.
Edrick menatap Qiana, dan tersenyum miring.
“Pertanyaan ini seharusnya tidak perlu kau utarakan lagi, tentu saja jawabannya seperti apa yang kau pikirkan.”
“Edrick, aku istrimu, bukan patung pajanganmu!” Tukas Qiana. Qiana merangkak ke ats tubuh Edrick, dan mengecup bibir Edrick.
“Apa yang kau lakukan! Wanita tidak tahu malu!” Edrick mendorong wajah Qiana darinya, dan beranjak dari sana.
“Edrick bajingan! Aku istrimu, sedangkan bibi Daisy hanyalah wanita yang sudah mulai tua. Aku jauh lebih baik darinya!”
“Cukup! Jangan pernah bandingkan derajatmu dengan Daisy. Bagiku, Daisy jauh lebih anggun. Daisy tidak pernah mengemis cinta dari lelaki, sedangkan kau.. kau sangat murahan.”
“Edrick!”
“Malam ini, aku akann tidur di kamar sebelah. Aku tidak tahan denganmu.” Tukas Edrick lalu melangkah ke luar.
“Edrick…” ucap Qiana dengan bibir bergetar, air mata pilu menetes deras di pipi mulusnya.
__ADS_1
Tindakan agresifnya pun tidak membuat Edrick tertarik.
****