
“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”
Author by Natalie Ernison
Akibat tindakan Raven, Edrick harus merasakan sakitnya tusukan pada bagian perutnya.perut Edrick banyak mengeluarkan darah segar, namun Edrick tak melakukan hal apapun. Edrick seperti pasrah dengan hidupnya, dan tak ingin melakukan hal lainnya.
Perlahan, Edrick menghela napas berat, dan kedua matanya pun terpejam setelahnya.
***
“Kediaman Eadrick Zearch”
Ahk!
“Bagaimana aku bisa berada di sini..” Ead membuka metanya perlahan, dan kini ia sudah terbaring di atas tempat tidur miliknya, tepatnya di kediamannya bersama sang nenek.
“Silakan minum obatnya, Tuan Edrick!” Ucap sang dokter khusus yang sedang menangani Ead.
“Siapa yang meminta kalian kemari?” Tanya Ead heran.
“Tuan Raven yang meminta kami,” jawab sang dokter, juga seorang perawat yang khusus membantu membalut luka pada bagian perut Ead.
Ead tersenyum sendu, ia tahu bahwa Rav masih menyayanginya sebagai seorang sahabat. Meskipun, saat ini Rav masih sangat kecewa atas semua kenyataan yang harus ia terima. Sementara itu, Rav pun sudah sangat siap untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Ead. Ia siap ata segala risiko yang harus ia terima.
Selama berhari-hari, Ead hanya dirawat oleh perawat yang telah Rav kirimkan secara khusus padanya. Namun, Ead tidak memiliki sedikit pun untuk melaporkan tindakan Rav padanya, bahkan untuk memenjarakan Rav.
Ead memahami, bagaimana perasaan Rav saat ini. Rav berada dalam titik terberat didalam hidupnya. Bahkan ada banyak hal yang tidak terungkapkan di antara mereka berdua. Segala kesalah pahaman terjadi begitu saja, tanpa adanya kesempatan untuk saling berbicara dari hati ke hati.
***
“Kedimanan keluarga Rawley”
“Raven! Makanlah, sejak pagi kau hanya di kamar saja!”Seru Mrs. Daisy sembari terus mengetuk pintu kamar milik Rav.
Mrs. Daisy memutar gagang pintu kamar pribadi milik Rav, dan pintu pun terbuka. “Raven!” panggilnya lagi.
Rav sedang duduk di sisi pojok kamar miliknya, mendekap tubuhnya sendiri, dan terus menangis. Rav terlihat sangat menyedihkan saat ini.
“Mommy, apa yang harus aku lakukan!” Isak Rav, dan terlihat semakin menyedihkan saat ini.
“Apa yang terjadi padamu, Nak.. katakan sayang..” Mrs. Daisy menyentuh wajah Rav menggunakan kedua tangannya.
“Apakah Mommy akan meninggalkanku setelah ini…” rengek Rav, dan ia terus saja menangis di pelukan ibu sambungnya.
“Yah, sayang… katakana..” Mrs. Daisy semakin cemas saja.
“Aku.. aku sudah menusuk Edrick menggunakan pisau, Mom. Malam itu, aku sangat tidak karuan..” ucap Rav dengan ekspresi yang panik dan terlihat semakin kacau.
“Ya Tuhan, Rav.. mengapa kau melakukan hal itu, sayang.. mengapa?”
“Aku saat itu sedang kacau dan marah. Dan aku, aku telah melakukannya, Mom..” Rav terus menangis di dalam pelukan sang ibu sambung.
Mrs. Daisy berupaya untuk memberi ketenangan pada Rav, namun Rav masih belum mampu untuk tenang saat ini.
“Mommy berjanji, akan membuat situasi menjadi lebih baik lagi. Tenanglah sayang, oke.” Kembali memeluk Rav, sebagai penenang bagi Rav.
Setelah mengatakan yang sebenarnya, Mrs. Daisy mengajak Rav untuk menemui Edrick.
Hendak menyelesaikan segalanya secara baik.
Rav masih sangat syok atas apa yang telah ia perbuat pada Ead, kini semua sudah terjadi. Mrs. Daisy ingin mereka saling bicara satu sama lain.
__ADS_1
***
Mrs. Daisy bersama Rav pergi menemui Ead yang sedang di rawat di kediamannya. Di sana sudah ada Nenek Ze, nenek dari Ead.
“Kediaman Eadrick Zearch”
“Nenek!” Rav mendekap Nenek Ze, dan berlutut di kaki Nenek Ze.
“Raven, apa yang kau lakukan, Nenek tidak suka hal seperti ini..” Nenek Ze meraih wajah Rav dengan sentuhan lembut.
Sedangkan Mrs. Daisy berbicara pada Ead berdua, secara pribadi di sebuah halaman samping kediammannya.
“Edrick, aku tahu, anakku bersalah. Tapi kumohon padamu, berilah Rav kesempatan untuk memperbaikinya. Jangan buat rav merasakan dinginnya jeruji besi..” Mrs. Daisy memohon dengan sangat pada Ead.
“Apa yang bibi katakan, aku bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukan semua itu.” Jawab Ead dengan wajah sendunya.
“Sungguh Edrick?”
Ead mengangguk mantap, dan terlihat mulai membaik.
“Aku sangat menyayangi Raven sampai kapanpun. Aku sangat ingin berbicara banyak padanya, menjelaskan segalanya dari awal..” ucap Ead lirih.
“Aku pun sama Ead..” ucap seseorang dari balik tembok, yang ialah Rav.
Rav melangkah ke arah Ead bersama Nenek Ze.
“Edrick!” Rav memeluk Ead yang sedang duduk di kursi. Suasana haru biru pun tak dapat mereka hentikan.
“Kalian berbicaralah, Nenek dan bibi Daisy akan pergi sebentar.” Ucap Nenek Ze.
“Raven, terima kasih atas segala perawatan darimu. Semua sangat berarti untukku.” Ucap Ead sendu.
“Rav, maafkan aku.. aku pantas dihukum. Aku siap bertanggung jawab untuk segalanya..” Rav menyesali perbuatannya.
“Tidak Rav, akulah yang keterlaluan. Aku bahkan tidak mampu memahami perasaan sahabatku sendiri. Aku terlalu egois dengan ambisiku sendiri. Aku sangat menyesal Rav..” Ead tak mampu menahan kesedihan dan penyesalannya.
“Saat aku bertemu dengan Qiana di tepi danau, aku sebenarnya ingin mengatakan tentang perasaanmu padanya. Namun, aku pun tidak tahu, jika Qiana menyukaiku. Jujur, aku saat itu sangat menginginkan bibi Daisy. Bibi Daisy adalah wanita yang sangat baik, aku sangat ingin memiliki seorang ibu seperti bibi Daisy.”
”Aku terus berusaha untuk mendapatkan perhatiannya, namun bibi Daisy terus menolakku. Bibi Daisy sangat mencintai ayahmu sampai kapanpun. Lalu, kejadian malam ulang tahunmu itu, adalah kesalahanku..” Ead menceritakan segalanya dengan gemetar, dan berlinangan air mata.
Rav hanya mampu menerimanya dengan air mata pilu. Rav baru menyadari kenyataan sesungguhnya, Rav sudah banyak menyimpan dendam maupun benci tanpa tahu kebenaran yang pasti.
“Ead, aku sangat bodoh, bukan? Aku hanya percaya dengan apa yang kulihat sekilas, tanpa tahu kebenarannya.. aku sangat bodoh..” sesal Rav.
“Tidak Rav, kau tidak salah. Tidak ada yang perlu disalahkan. Kita hanya tidak memiliki waktu untuk saling menjelaskan. Aku pun terlalu egois dengan diriku, aku tidak berniat untuk memberikanmu penjelasan. Kau adalah sahabat terbaikku, Rav.. aku sungguh sangat takut, jika harus kehilangan orang-orang terbaik didalam hidupku..”
“Edrick, mengapa harus melalui peristiwa ini kita baru saling bicara..”
“Mungkin sudah saatnya kita berpikir lebih dewasa lagi. Aku pun sudah mulai menyadari tentang perasaanku pada Qiana. Namun, semua hancur dan kacau karena kesalah pahaman. Semua pun salahku, aku tidak pernah menghargainya..”
“Aku akan membantumu untuk kembali pada Qiana, kalian pantas bahagia, Ead.”
“Terima kasih , Rav.”
Hari yang melegakan bagi kedua sahabat ini, segala kesalah pahaman pun terungkap dengan baik. Saat ini, Ead hanya harus memikirkan bagaimana agar ia dapat memenangkan kembaki hati Qiana juga keluarga Qiana.
……..
__ADS_1
“Edrick, terima kasih atas segalanya, aku sangat bahagia atas pulihnya hubunganmu bersama Raven.” Ucap Mrs. Daisy dengan perasaan yang sangat lega.
“Yah, bibi. Sudah cukup semua luka air mata selama ini. Aku ingin memulai segalanya dengan baik.” Ucap Ead.
Mrs. Daisy pun menyentuh bagian bahu Ead dan posisi setengah memeluk, layaknya ibu dan anak. Sungguh tak ada rasa yang lain bagi Mrs. Daisy pada Ead.
Namun, saat yang tidak tepat, seseorang pun melihat semua yang terjadi di sana.
“Ternyata Qiana benar, kalian memang memiliki hubungan yang khusus.” Ucap Mrs. Smitte, ibu dari Qiana.
Mra. Smitte datang berkunjung, berniat untuk menemui Ead, namun saat ia datang, ia melihat yang yang justru melahirkan kesalah pahaman lagi.
“Bibi, ini tidak seperti yang bibi pikirkan.” Ucap Ead terkejut, dan masih berusaha untuk berjalan lancer, dampak nyeri pada bagian perutnya, pasca luka tusukan dari Rav.
“Cukup Edrick, ini terakhir kalinya kau menyakiti anak kami.” Mrs. Smitte pergi begitu saja.
“Edrick, katakana apa yang sebenarnya!” Ucap Mrs. Daisy.
“Bibi tenanglah. Biar aku saja yang menyelesaikan segalanya. Akulah penyebab semua ini.”
Ead berniat untuk menyatakan tentang kebenaran yang sesungguhnya pada keluarga Smitte.
***
Namun, sungguh sayang, keluarga Smitte sudah menutup pintu bagi Ead. Bahkan Ead pun harus dipecat dari pekerjaannya, semua adalah perintah keluarga Smitte. Ead bahkan belum sempat mengatakan tentang kebenaran sebenarnya.
Perusahaan tempat Ead bekerja, adalah perusahaan yang juga di kelola oleh keluarga Smitte. Sebagai orang-orang yang memiliki derajat juga jabatan yang tinggi, sungguh sangat mudah bagi mereka untuk melakukan segalanya.
Sedangkan Ead hanyalah seorang pria yang masih dalam proses membangun karirnya.
Sebuah surat pemberhentian resmi di kirimkan pada Ead, dan Ead resmi tidak lagi bekerja di sana.
“Aku sangat menyesal atas hal ini, namun aku hanya menjalankan perintah dari petinggi, juga atasanku..—“
Isi pesan singkat dari seseorang yang merupakan senior Ead di tempat ia bekerja. Semuanya sudah terlampau berat, dan Ead tidak memiliki harga diri untuk bertemu dengan keluarga Smitte.
Sebagai seorang pria, ini adalah hal yang sangat rendah baginya. Pihak wanita telah menyingkirkannya dari kehidupan Qiana, bahkan pekerjaan pun hilang begitu saja.
Ead kini hanya berada di kediamannya, sembari terus berusaha untuk mencari lowongan pekerjaan baru, yang sungguh amat sulit ia dapatkan lagi.
“Edrick, kau hari ini tidak bekerja?” Tanya Nenek Ze, saat melihat Ead hanya duduk dengan layar laptop yang masih menyala.
“Tidak nek, sudah tidak lagi.” Balas Ead dengan wajah tersenyum.
“Apa maksudmu?” Nenek Ze duduk di samping Ead.
Sebuah surat berlogo perusahaan tempat Ead bekerja, Nenek Ze mulai membaca isi demi isi surat resmi tersebut. Usai membaca, Nenek Ze menatap ke arah Ead.
“Tidak masalah, Nek. Cucu nenek ini akan terus berusaha mencari pekerjaan baru. Aku tidak akan membiarkan nenek bekerja lagi..” ucap Ead sendu.
“Edrick, kau sudah melakukan bagian terbaik dalam hidupmu. Nenek sangat bangga padamu..” Nenek Ze memeluk Ead.
“Maafkan aku nek, sungguh maaf..” Ead terisak di pelukan sang nenek.
Saat ini, hanya Nenek Ze yang mampu menerima keterpurukan Ead, dan segala kejatuhannya. Saat Ead harus merasakan pahitnya hidup, dan bahkan kehilangan segalanya.
Hanya Nenek Ze yang selalu memberikan Ead penguatan, tanpa ayah dan ibu sejak masa kecilnya. Semua sudah biasa bagi Ead, walau terkadang Ead pun merindukan kehadiran sosok orang tua..
****
__ADS_1