Ketika BERONDONG Jatuh Cinta

Ketika BERONDONG Jatuh Cinta
Bukan cinta biasa


__ADS_3

“Ketika BERONDONG Jatuh Cinta 2”


Author by Natalie Ernison


Raven sangat panik, saat penyakit sang ayahnya membuat kondisi tubuh menurun drastis. Disaat yang sama, Mrs. Daisy pun jatuh pingsan, karena terlalu lelah mengurus ayahnya. Hal itu membuat Raven kebingungan, dan ia teringat bahwa masih ada Edrick yang akan selalu siap sedia membantu.


~ ~ ~


Mrs. Daisy sangat kesal akan apa yang Ead lakukan. Ead bahkan enggan untuk menganggapnya sebagai wanita yang lebih tua, dan harus dihormati.


"Usia kita tidak jauh berbeda, hanya selisih beberapa tahun." Ucap Ead, menatap mata Mrs. Daisy.


"Lebih baik kau keluar dari kamar ini!" Usir Mrs. Daisy, Ead pun melangkah keluar dan duduk di ruang tamu.


Dagup jantung Mrs. Daisy terasa memburu, tatapan mata Ead yang begitu lekat membuatnya kikuk. Sungguh sesuatu yang cukup lama tak ia rasakan, semenjak menikah dengan Mr. Adolf.


Rentang usia antara Mr. Adolf dan Mrs. Daisy memang terbilang jauh. Namun, Mrs. Daisy tak pernah mempermasalahkannya. Ia justru menyukai pria yang lebih tua, dan mereka saling mencintai.


Namun, semenjak Mr. Adolf jatuh sakit, hubungan mereka tak seromantis saat pertama menikah. Bahkan untuk memberikan kebutuhan jasmaniah, layaknya suami istri pun sudah tak lagi dapat Mr. Adolf lakukan.


Kesetiaan Mrs. Daisy sungguh tak diragukan lagi. Betapa sabarnya ia mendampingi Mr. Adolf selama perawatan.


***


"Kediaman Rawley family"


Di taman pribadi samping kediaman Rawley


Mr. Adolf duduk di atas kursi roda, sedangkan Mrs. Daisy duduk di hadapannya.


Memberikan suapan demi suapan pada sang suami. "Apakah hari ini ingin pergi berkeliling?" tanya Mrs. Daisy dengan lemah lembut.


"Tidak, kau harus beristirahat. Sepanjang hari, kau terlalu sibuk mengurusku." Ucap Mr. Adolf yang enggan untuk merepotkan sang istri.


"Sayang, kau adalah suamiku. Bagaimana mungkin aku merasa direpotkan." Balas Mrs. Daisy sembari menyentuh wajah Mr. Adolf.



"Sejak awal pernikahan kita, aku tahu kau wanita yang terlalu baik untukku. Itulah yang membuatku hampir takut menjadikanmu istri, karena aku takut aku tidak dapat membahagiakanmu." Ucap Mr. Adolf lirih.


"Dari segi usia, kita sangat jauh..—"


"Tapi aku mencintaimu. Aku tidak peduli dengan perbandingan usia kita. Apa kau takut aku menikah denganmu hanya karena harta!" Tukas Mrs. Daisy dengan wajah yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Bukan seperti itu sayang, aku tidak pernah beranggapan kau wanita seperti itu. Kekayaan keluargamu saja membuatmu tak perlu bekerja, lalu mengapa aku harus berpikir demikian."



---Kilas balik sejenak---


Mrs. Daisy terlahir dari keluarga yang sangat berkecukupan. Namun, selama hidupnya, ia merasa terlalu kesepian. Terlebih lagi, sang ayah adalah orang yang sangat sibuk. Mereka juga memiliki keturunan darah bangsawan.


Hidupnya selalu dikekang untuk dapat berbaur dengan teman-teman sebayanya. Mrs. Daisy sejak masa kecilnya sangat kesepian. Dari segi ekonomi, ia selalu tercukupi bahkan melimpah ruah. Namun, dari hal kasih sayang orang tua, ia merasa kekurangan.


Ibunya telah meninggal, sejak Mrs. Daisy mulai menempuh pendidikan tingginya. Sejak itu, ia mulai berani untuk bepergian bersama teman-teman.


Hingga suatu saat, ia bertemu dengan seorang pria tampan yang ialah dosen pengajar di salah satu kampus ternama. Pria ini hanyalah dosen yang memberikan materi selama beberapa semester, selebihnya ialah seorang pengusaha kaya.


Mrs. Daisy yang belum pernah merasakan jatuh cinta, karena hidupnya yang selalu dikekang. Melihat pria tampan, yang telah beberapa kali memberikannya perhatian, tentu saja mampu menyentuh kedalaman hatinya


"Mister! Mister Adolf!" Seru seorang gadis, dengan terengah-engah. Gadis tersebut berlari ke arah pria yang ialah Mr. Adolf.


"Yah, apakah ada yang bisa dibantu?" tanya sang pria dengan ramah dan tersenyum.


"Mister, bisakah aku meminta nomor telepon anda?" ucap sang gadis dengan berani.


Sang dosennya pun tersenyum, sambil berpikir. "Mengapa gadis kecil ini begitu berani." Pikirnya kala itu.


Namun, hanya beberapa kali pertemuan, Mr. Adolf sudah tak lagi mengajar di kampus tersebut. Pertemuan kala itu menjadi pertemuan terakhir bagi mereka.


Hingga suatu saat mereka pun saling bertemu, di sebuah taman bunga, tak jauh dari kampus tempat gadis itu berkuliah.


***


"Taman bunga xx"


"Bagaimana dengan kuliahmu? Apakah semua baik-baik saja?" tanya Mr. Adolf kala itu.


"Yah Mister, semua baik-baik saja." Balas sang gadis dengan wajah tersipu.


"Kapan, Mister akan membawaku ke keluarga Mister?" tanya sang gadis itu, dan pada saat itu hubungan mereka sudah semakin dekat saja.


"Daisy, aku bukanlah pria lajang." Tukas Mr. Adolf serius.


Yah, gadis itu ialah Mrs. Daisy.


"Ah, apa yang Mister maksud?" Daisy terheran, dan sudah memancarkan aura kemarahan.

__ADS_1


"Aku adalah pria duda, dengan satu orang anak. Anakku baru saja memasuki sekolah menengah pertama. Sementara istriku, sudah tiada lagi." Ucap Mr. Adolf dengan wajah sendu.


"Lalu?"


"Masa depanmu masih sangat panjang, dan kau adalah anak harapan orang tuamu..—"


"Anak harapan orang tua! Aku hanya dikekang, aku tidak tahan lagi. Aku pun berhak untuk bahagia!"


"Daisy tenanglah, aku hanya tidak ingin menjadi masalah."


"Masalah apa! Apa aku tidak menarik! Kita sama-sama sendiri, aku akan belajar menjadi ibu yang baik bagi anakmu Mister." Ucap Mrs. Daisy dengan terisak.


"Daisy, jangan menangis. Aku hanya tidak ingin mengambil masa depanmu."


"Mister, aku sudah dewasa. Aku bisa menjadi seorang istri. Kuliahku pun sudah selesai." Tukas Daisy dengan penuh keyakinan.


"Jika kau sudah yakin denganku, maka aku memikirkan tentang pernikahan kita secepatnya." Keduanya pun berpelukan, dan mulai merancang rencana pernikahan.


Namun, sebuah permasalahan besar pun terjadi. Pihak keluarga dari Mrs. Daisy tidak menyetujui pernikahan mereka. Dikarenakan, Mrs. Daisy baru menyelesaikan kuliahnya. Terlebih lagi ia memilih suami yang ialah soerang duda. Pernikahan mereka sangat ditentang oleh sang ayah dari Mrs. Daisy.


***


”Mansion kediaman Laurenzo family”


Mr. Lau hendak mendaratkan pukulannya pada wajah cantik Mrs. Daisy, saat ia bersama Mr. Adolf datang untuk meminta restu.


"Tuan lau, mohon untuk tidak bersikap pada wanita. Daisy tidak melakukan kesalahan apapun." Tukas Mr. Adolf menahan pukulan dari Mr. Lau, ayah dari Daisy.


Mrs. Daisy sudah terisak, ia sangat terpukul dengan apa yang sang ayah perbuat.


"Jika kau masih bersikeras untuk menikah dengan pria yang bukan dari keturunan bangsawan. Maka, keluarlah dari anggota keluarga Laurenzo!" Usir sang ayah. Daisy jatub tersungkur, dan terus terisak pilu.


"Jika karena aku, Daisy harus keluar dari keluarga ini. Maka, biar aku saja yang muncur." Tukas Mr. Adolf.


"Mengapa terlalu terburu-buru. Bawa saja anak ini bersamamu. Bahkan kehadirannya saja tidak memberikan dampak dikeluarga ini." Tukas Mr. Lau


"Tuan Lau, anda sangat keterlaluan. Bagaimana mungkin anda mengatakan hal kejam seperti ini!"


"Sudah cukup! Aku akan keluar dari mansion ini. Semoga ayah bahagia bersama selir-selir ayah!" Isak Daisy, lalu berlari keluar dari mansion.


Berlari dan terus berlari, semua benar-benar terasa menyesakkan.


Mr. Adolf pergi mengejar Daisy, hatinya pun sangat hancur saat melihat, betapa kejamnya Mr. Lau dalam memperlakukan Mrs. Daisy.

__ADS_1


***


__ADS_2