
Pelukan pemuda itu benar-benar terasa hangat, seharusnya Krisan membalasnya kan? Tapi tidak, wanita itu mengenyitkan keningnya kesal,"Tolong lepas..." ucapnya.
Rain melepaskan pelukannya, kemudian memasang wajah menyedihkan,"Aku kedinginan, karena itu menggesekkan badan agar terasa lebih hangat..." alasannya agar tidak diusir.
Krisan menghela napas kasar, "Kamu tidak membawa pakaian?" tanyanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Rain.
"Bagaimana jika kita tidur bersama saling menghangatkan diri," pintanya penuh harap, ingin segera mengembalikan anak yang belum sempat mereka miliki.
"Tidak bisa, kamu tidur di sofa. Aku tidur di kamar..." ucap Krisan memaksakan dirinya tersenyum.
Kriuk...
Perut mereka berdua berbunyi hampir bersamaan, saling melirik. "Ayo kita makan..." Krisan menghela napas kasar.
***
Harum aroma mie instan tercium, kala satu persatu mangkuk terisi. Sendok dan garpu telah disiapkannya, kecap manis diisi diatas salah satu mangkuk.
"Ini untukmu..." kesalnya.
"Masih ingat aku menyukai mie instan manis? Lain kali aku akan melayanimu, bagaikan seorang ratu. Aku berjanji," ucapnya mulai meniup mie yang diberi sedikit kecap.
"Kenapa ingin melayaniku? Ini hanya mie," tanya Krisan.
"Karena aku mencintaimu," jawaban dari mulut itu begitu lancar tersenyum.
"Mencintaiku... jangan bergurau..." Krisan tertawa, lebih tepatnya berpura-pura tertawa. Jika Dara telah hadir dalam kehidupan Rain semua akan berubah. Dirinya hanya wanita yang tidak dicintai, apapun yang dikatakan Rain sekarang tidak akan ada artinya.
"Aku bersungguh-sungguh, sejak awal aku hanya mencintaimu..." ucapnya tersenyum.
***
20 tahun yang lalu...
"Ayah..." teriaknya memegangi kaki sang ayah.
"Ibuk pegang dia!! Aku akan bekerja di kota!!" ucapnya mendorong putra tunggalnya.
"Randy, sudah!! Ayahmu harus pergi bekerja..." Sang nenek membantu cucu kecilnya bangkit, memeluknya erat.
"Randy sayang ayah!! Jangan pergi!! Randy sayang ayah!!" teriaknya menangis lirih.
"Sayang!? Kamu menyayangi ayah!? Kalau begitu biarkan ayah pergi!! Kamu itu anak laki-laki!! Jangan hanya asal bicara, sayang!! Tapi cuma jadi benalu!!" bentak sang ayah yang emosi akibat istrinya yang menuntut untuk bercerai. Meninggalkannya untuk menikahi duda beranak dua yang jauh lebih kaya.
__ADS_1
"Randy masih kecil, jangan bicara begitu..." ucap sang nenek yang merupakan ibu dari ayahnya.
"Aagghh...anak sial!!" pria itu berteriak, tetap pergi membawa kopernya.
"Nenek," sang anak terisak, memeluk tubuh renta satu-satunya orang masih yang mengharapkannya ada.
"Dengar! Randy itu laki-laki, jangan menangis, jangan cengeng, ada nenek disini..." ucapnya mengelus pelan rambut cucunya.
Anak yang hanya dapat mengangguk, sembari masih sesegukan. Membalas pelukan sang nenek yang telah renta. Usia? Bahkan sang nenek telah berusia 80 tahun. Kini harus mencari kayu bakar, menanam singkong untuk menghidupi cucunya.
Sepasang orang tua yang meninggalkan Randy, anak mereka, mencari jalannya masing-masing. Hanya satu tahun, hanya satu tahun dirinya hidup berdua dengan sang nenek di bawah garis kemiskinan.
Tangan kecilnya telah cekatan memegang sabit, maupun menggali tanah, berusaha mencabut singkong. Walaupun sulit...
Seorang nenek yang tengah mencabut singkong dengan cucunya. Matahari bersinar terik kala itu, tangan renta yang sudah terlalu lelah. Pandangan matanya tiba-tiba berkunang, mencoba untuk duduk di dipan samping rumah.
"Randy dada nenek sakit, tolong buatkan air gula hangat..." ucapnya, menatap tangan kecil sang cucu tengah memegangi sabit guna membersihkan rumput liar, di kebun kecil samping rumah mereka.
Randy mengangguk, meletakkan sabitnya, membuatkan air gula, serta mengambil minyak angin dan minyak urut untuk sang nenek. Satu-satunya yang dimilikinya.
Namun, kala dirinya kembali, sang nenek yang awalnya duduk kini telah berbaring di atas dipan kecil samping rumah yang terbuat dari bambu.
"Nenek..." ucapnya menatap wajah sang nenek yang tiba-tiba pucat pasi, membantunya duduk guna meminum air gula.
"Ne...ne...nenek tau... nenek juga..." kata-kata terakhirnya, sebelum dadanya bertambah sesak.
Anak itu berlari,"Tolong!! Tolong!!" panggilnya putus asa, sembari menangis mencari perhatian tetangga, agar sang nenek dapat tetap hidup, mendapatkan pertolongan.
Beberapa tetangga, hendak memindahkan sang nenek ke dalam mobil pickup, guna dibawa ke puskesmas terdekat, namun napas itu terhenti. Pada akhirnya tangan renta itu tidak kuat lagi. Meninggalkan sang cucunya seorang diri, anak yang tidak memiliki orang tua, tidak memiliki apapun.
"Nenek..." lirihnya dalam tangisan, tidak memiliki seseorang yang mengasihinya lagi.
Pemakaman yang dibantu warga sekitar, menghubungi ayahnya? Bahkan alamat atau nomor telepon yang dapat dihubungi pun, dirinya tidak mengetahui. Handphone? Saat itu phoncell belum ada, komunikasi melalui surat juga sulit.
Hingga ada kalanya sang anak diam dalam kamar almarhum sang nenek. Mendengar perdebatan para paman dan bibinya, yang tinggal satu desa dengan mereka.
Perdebatan, pembagian warisan rumah. Rumah itu akan dijual? Lalu dirinya harus tinggal dimana? Tidak ada yang peduli padanya kecuali almarhum sang nenek.
Lemari pakaian dibongkar tangan kecilnya, menghapus air matanya, berharap mendapatkan alamat sang ibu yang telah menikah lagi. Air mata Randy mengalir mungkin ini saatnya bertemu kembali dengan ibunya. Dan benar saja, alamat baru dalam surat perceraian ditatapnya.
Sang anak yang akhirnya memiliki kesempatan untuk meraih hidup lebih baik.
***
__ADS_1
Sudah diduga olehnya beberapa minggu setelah kematian sang nenek dirinya diusir, oleh paman-paman dan bibinya. Rumah itu akan dijual, bekal yang diberikan padanya? Hanya sekitar 200.000 rupiah.
Tidaklah mengapa, setelah ini dirinya akan bertemu dengan sang ibu. Itulah yang ada difikirkannya usai menaiki angkutan umum yang menuju ke arah kota.
Matanya menatap ke arah jendela mobil angkutan umum yang melaju. Ayah pergi karena tidak ingin aku mengatakan aku menyayanginya... nenek juga, pergi saat aku mengatakan menyayangi nenek, apa perasaan tidak boleh dikatakan... batinnya, meneteskan air mata, tidak menemukan tempat untuk pulang.
Alamat yang cukup jauh, berada di pusat kota. Randy mulai berjalan turun, menggedong sebuah tas ransel besar.
Tang...tang ...tang...
Pintu gerbang besar rumah itu diketuknya,"Ibu!!" panggilnya berkali-kali.
Hingga seorang ART keluar,"Cari siapa?" tanyanya.
"Apa bu Melani ada!? Saya anaknya," jawabnya.
"Cari nyonya!? Sebentar saya panggilkan," sang ART kembali berjalan masuk.
Dengan sabar sang anak menunggu, makan sebungkus roti mengganjal perutnya. Hingga sang ART akhirnya keluar juga. Bersama ibunya, sosok yang memalingkan wajah, pergi meninggalkannya menaiki mobil mewah dahulu.
"Ibu...." panggil Randy, berjalan mendekat, berharap sang ibu juga merindukannya, namun dirinya yang hendak memeluk, didorong.
"Bukannya hak asuh sudah aku serahkan pada ayahmu!? Pergi!! Sebelum Ari (suami sang ibu) datang!!" ucapnya menarik lengan putranya.
"Aku menyayangi ibu..." sang anak menangis lirih, berusaha memegangi tangan ibunya.
"Kalau kamu menyayangi ibu, kamu akan pergi jauh!! Tidak menggangu kehidupan ibu lagi!!"bentaknya, mendorong tubuh putranya, di depan gerbang. Menguncinya tanpa menoleh sedikitpun.
Randy mulai bangkit berjalan seorang diri meninggalkan sang ibu yang enggan menganggapnya ada.
Guk...guk...guk...
Suara *njing tetangga terdengar di kompleks perumahan elite itu. Tanpa disadarinya terlepas, berlari mengigit kakinya.
"Aaa...aaa...ibu tolong!!" tangisannya menjerit, berusaha melepaskan gigitan sang *njing.
Warga yang berada disana mengerubuni, menolongnya. Namun tidak dengan Melani yang menatap semua dari dalam rumahnya.
"Nyonya, anak itu..." kata-kata sang ART yang iba disela.
"Biarkan saja, dia bukan anakku. Dia anak ayahnya..." ucapnya tersenyum sinis acuh, memasuki rumah besar yang ditempatinya.
"I...ibu..." tangisan sang anak lirih, mengepalkan tangannya. Menatap kepergian ibunya.
__ADS_1
Bersambung