
Sarah terdiam sejenak, tidak mengerti dengan kata-kata Santoso. Semarah apapun, sang ayah selalu memanjakan dan menyayanginya.
Tapi sekarang bukan anak?
"Tanyakan sendiri pada ibumu. Mengapa Irwan begitu setia padanya? Mengapa rela melakukan banyak kejahatan demi kalian? Mungkin karena hal yang mereka sebut dengan cinta tulus dan suci..." cibir Santoso.
"A...apa maksud ayah?" tanya Sarah terbata-bata, dengan mata memerah, tanda tangisan yang tertahan."Apa maksud ayah!?" wanita itu tiba-tiba berteriak, mengulang pertanyaannya, menarik kerah pakaian Santoso.
"Kamu sudah dewasa, lebih sering berada di rumah daripada aku. Fikirkan sendiri..." ucapnya menepis tangan Sarah, berjalan ke arah petugas kepolisian, ingin kembali ke sel yang akan menahannya selama beberapa bulan.
Wanita itu terdiam, duduk di lantai. Suara erotis yang pernah terdengar kala Irwan dan Morena membawanya berlibur di villa teringat. Ibu yang hanya membawanya, tidak membawa Willy. Jemari tangannya mengepal, dirinya tidak mungkin anak dari seorang supir.
"Aku anak Santoso... bukan supir k*parat! Ayahku bernama Santoso!!" teriaknya menangis, sesekali tertawa seorang diri.
Terbiasa hidup bagaikan seorang putri, menginginkan hal yang terbaik. Kini dirinya harus menerima kenyataan, bukan raja atau perdana menteri, ayahnya hanya seorang kusir.
Hal yang benar-benar gila baginya, wanita itu mulai melangkah entah kemana, bagaikan kehilangan pijakan. Jemari tangannya mengepal, tidak dapat menerima kenyataan di hadapannya.
Menyetir mobilnya dalam kecepatan sedang, menuju rumahnya. Angin menerpa rambutnya, tidak adakah kebaikan yang tersisa di hatinya? Tidak, wanita yang masih menganggap dirinya adalah pemeran utama.
Dunia yang sejatinya tidak memiliki peran utama, semua menjalani peran rangkap. Memiliki kehidupan masing-masing, Sarah mengepalkan tangannya, mencengkram stir mobilnya dalam keegoisannya.
Masih mengira hanya dirinya yang pantas bahagia. Tidak boleh ada kebahagiaan untuk orang lain. Semua yang terbaik adalah miliknya.
Tapi..."Ayah..." gumamnya, mengingat orang yang menjadi panutannya, kebanggaan dalam hidupnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi, hanya Santoso ayahnya, tidak akan ada orang lain termasuk Irwan yang hanya seorang supir.
Kasih sayang dari Irwan? Memang didapatkannya, kala Santoso terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Kasih sayang yang dianggapnya wajar bagi supir yang bekerja pada keluarganya. Tapi anak pria br*ngsek itu!? Tidak, Irwan bukan ayahnya."Supir sialan!!" teriaknya, mulai menginjak pedal gasnya dalam-dalam.
__ADS_1
Hingga tangisannya terhenti menatap kediamannya. Pintu dibukakan oleh security, kediaman yang dimiliki oleh Santoso.
Matanya menelisik mencari keberadaan sang supir pribadi. Hingga langkahnya terhenti, seorang remaja tengah belajar dengan buku tulis dan pena di tangannya. Mencari jawaban pada buku paket.
Santoso lebih mengakui anak ini daripada dirinya? Matanya menatap penuh ego ke arah Wawan."Anak sialan!!" bentaknya murka tanpa sebab, menjambak rambut sang remaja.
Wawan menatap ke arah Sarah. Kakak beda ibu? Semua sudah dijelaskan oleh Ina, namun mengapa orang yang memiliki darah yang sama dengannya ini menyerangnya?
Jemari tangannya mengepal penuh iri dan dengki, hidup tanpa kasih sayang seorang Irwan, yang hanya mencintai wanita ini. Hingga...
"Lepas!!" bentak Willy mendorong Sarah, menjadi penengah, menarik Wawan ke belakang punggungnya.
Wawan mulai menangis, menatap punggung orang yang membelanya. Tidak memiliki hubungan darah? Tapi mengapa orang ini lebih peduli dari pada Sarah yang memiliki hubungan darah dengannya.
"Kakak..." ucapnya untuk pertama kali, memegang ujung kaos yang dikenakan Willy. Saudara? Inikah rasanya memiliki seorang kakak.
"Adik? Wawan juga adikmu, tapi kenapa kamu menyerangnya. Ayah menikah dengan ibunya, berarti dia sekarang juga adikku!!" Willy menghela napas kasar, melindungi ibu dan anak ini, selama Santoso mendekam di penjara menjadi pesan ayahnya.
"Willy!!" bentak Sarah pada pemuda di hadapannya.
"Willy? Memang panggilan sewajarnya, kamu tidak pernah menghormatiku sebagai seorang kakak. Berapa kali dalam hidupmu kamu memanggilku sebagai kakak!? Hampir tidak pernah kan?" Mata pemuda itu memerah, wajahnya tersenyum, namun pelupuk matanya di penuhi air, bagaikan bendungan yang menahan air mata itu mengalir.
Seorang adik yang disayanginya dengan sepenuh hati. Dirinya mengalah sekali tidaklah mengapa, dua kali juga tidaklah mengapa. Namun sekarang? Ini sudah keterlaluan baginya, jika menentang ibu dan adiknya merupakan sebuah dosa maka itu akan dilakukan olehnya.
Mengapa bisa terjadi hal seperti ini? Entahlah...
Terlalu menyakitkan baginya, harus memanfaatkan wanita yang dicintainya. Kini Santoso berpihak padanya, mendapatkan restu sang ayah sudah cukup untuknya.
__ADS_1
"Wawan, apa kamu mau tinggal denganku sementara, sampai ayah keluar dari penjara. Hanya beberapa bulan..." pintanya tidak ingin Ina dan Wawan dilukai, mengusap pucuk kepala sang remaja.
"Willy!?" bentak Sarah kembali, menarik tangan sang kakak. Mengapa jadi seperti ini? Willy yang selalu membela kepentingannya. Mengapa berpihak pada anak seorang supir?
"Tadi pagi Irwan ingin meracuni mantan istrinya sendiri. Aku memergokinya, daripada mengurusi apa yang aku lakukan. Lebih baik nasehati ayahmu..." Willy menatap tajam, tatapan yang terasa dingin, menarik tangan Wawan. Hendak membantunya berkemas.
"Dia bukan ayahku...dia bukan ayahku...dia bukan ayahku..." bisik Sarah tiba-tiba dengan tatapan kosong, air matanya mengalir. Pria seperti Irwan tidak mungkin ayahnya, itulah yang diketahuinya.
Melangkah kembali, dirinya merasa malu dan sakit. Mungkin jika Irwan mati maka semua akan berakhir. Ya ... semua akan berakhir, Santoso akan mengakui dan menyayanginya. Willy akan berpihak padanya.
Air mata yang telah kering, berganti dengan tatapan kosong. Mata yang dipenuhi dengan kabut, tidak mengetahui yang benar maupun salah.
Terbiasa hidup bermartabat, pernah memiliki jabatan di bidang politik. Dipuja dan dipuji semua orang, kini semua terhapus dalam dua jam. Hanya karena darah Irwan yang mengalir dalam tubuhnya.
Sarah mulai melangkah menuju kamar yang kini ditempati Santoso. Ina sudah tidak berada di sana, mungkin sudah berada di dalam mobil Willy.
Kamar kosong yang digledahnya. Dan benar saja, surat hasil tes DNA ditemukannya. Suara tawa bercampur air mata terdengar. Wanita yang berlutut di lantai, menitikkan air matanya tiada henti.
Jika saja Irwan tidak ada, semua akan kembali seperti semula, itulah harapan, tanpa berlandaskan logika.
Tidak memiliki apapun, Rain? Semuanya tidak penting lagi baginya. Mengembalikan segalanya adalah prioritasnya. Wanita yang berjalan menuju dapur, tujuannya? Entahlah...
Foto keluarga sempurna yang terpajang di ruang tamu terlihat. Keluarga yang benar-benar bahagia, dengan dirinya yang tersenyum diantara Santoso, Morena, dan Willy. Masa-masa itu akan kembali jika Irwan tidak ada.
Seorang wanita yang melangkah menuju dapur, tidak mengindahkan pelayan yang tengah memasak. Mengambil sebuah pisau daging yang tajam.
Apa yang harus dilakukannya? Iblis tidak berbisik pada orang kesulitan, karena setiap orang memiliki kesulitan dalam hidup. Iblis hanya akan berbisik pada orang yang putus asa...
__ADS_1
Bersambung