
Cafe yang tidak begitu besar, alunan suara gitar akustik terdengar. Harum aroma kopi menyeruak."Jadi tuan ingin membicarakan apa?" tanyanya, setelah minuman dihidangkan waiter.
"Kamu tau alasan aku ingin bunuh diri?" Sakha menghela napas kasar, meminum sedikit kopi hangat di hadapannya.
"Karena ingin menyusul almarhum ibu dan putramu yang entah masih hidup atau tidak," jawaban dari Krisan menghela napas kasar meminum Vietnam ice coffee di hadapannya.
Sakha mengangguk kemudian tersenyum,"Kamu seorang yatim-piatu, aku menyukai sifatmu, bagaimana jika kamu menganggapku sebagai ayahmu?"
Krisan menghela napas kasar, menatap ke arah Sakha,"Orang tuaku meninggal karena kecelakaan pesawat. Seluruh warisan keluargaku dikuasai oleh sekretaris ayahku, yang memanfaatkanku dengan meminta tandatangan seorang gadis kecil yatim-piatu. Semenjak itu aku tidak percaya pada siapapun lagi,"
"Hanya pada satu orang, ayah, ibu, saudara, teman... itulah dia bagiku. Walau bagaimanapun dia pernah melukaiku, dia tetap segalanya..." ucapnya menahan tawanya berpura-pura tidak melihat. Rain mengenakan pakaian perempuan, duduk di dekat mereka, memasang telinganya baik-baik berusaha mendengarkan ayahnya yang ingin merebut Krisan darinya, namun masih saja sulit mendengar pembicaraan mereka.
"Pemuda tidak beradab itu?" tanya Sakha pada Krisan, melirik ke arah Rain pura-pura tidak melihat kehadiran pemuda itu.
Krisan mengangguk,"Dia satu-satunya anggota keluargaku. Karena itu aku ingin dia bahagia bersama wanita lain yang dicintainya. Sedangkan aku akan berusaha menemukan cinta yang lain. Cukup pria sederhana yang mencintaiku..." jawabnya.
Sakha ikut tersenyum, tertawa kecil,"Sebenarnya, tujuan utamaku ingin bicara denganmu untuk hal ini. Aku ingin mencarikan calon istri untuk putraku Randy. Walaupun dia belum aku temukan hingga sekarang. Tapi seperti katamu tidak masalah mempersiapkan masa depannya saat sudah pulang nanti,"
Mode judesnya berubah, radar mencari calon suami yang baik seakan terlihat. Krisan mulai tersenyum malu-malu seakan baru pertama kali berhadapan dengan calon mertuanya,"Aku sudah berkali-kali mengikuti kencan buta tapi selalu gagal. Jika aku boleh tau, Randy sebelum menghilang tipikal orang yang bagaimana?" tanyanya, menyelipkan rambutnya pada telinganya. Memperlihatkan aura gadis manis baik hati yang menyengat.
Rain mengepalkan tangannya, menatap dari jauh Krisan yang tersenyum canggung pada ayahnya. Ini kali keduanya, dirinya mengikuti wanita itu bertemu pria lain. Haruskah dirinya menggoda Krisan di tempat tidur sebelum berhasil mengambil hatinya? Membuatnya hamil hingga mau tidak mau kembali menikah?
"Dasar bandot tua, sukanya mencari daun muda. Entah istri dan anaknya sudah ada berapa sekarang, sampai-sampai dia melupakanku..." komat-kamit mulut Rain bergumam penuh rasa kesal.
Sakha terlihat tersenyum, meminum kopinya bagaikan menunjukkan aura maskulin pria matang. Sial, benar-benar sial! Kenapa setelah sekian tahun ayahnya tetap saja tampan? Walaupun tidak mendengar percakapan mereka dengan jelas, namun dapat dipastikan istri dan ayahnya saling menggoda.
"Randy? Ketika masih kecil dia tampan, pintar di bidang olahraga, di bidang akademik saat berusia 8 tahun kecerdasannya setara anak sekolah menengah pertama. Aku sampai bingung dimana harus meletakkan piala piagam penghargaannya yang menumpuk dulu. Di puji-puji semua orang, mempunyai etika dan rasa hormat pada yang lebih tua, jika saja tidak menghilang, mungkin dia sudah aku jadikan sebagai pemimpin perusahaan..." ucapnya tertawa, membicarakan kelebihan putra kebanggaannya.
__ADS_1
"Benar-benar tipeku. Jika Randy sudah pulang kabari aku," Krisan ikut tertawa, dapat dibayangkan olehnya, pemuda rupawan, pandai di bidang olahraga, memiliki kemampuan akademik yang tinggi. Namun sejenak tawanya terhenti, imajinasi tentang visual Randy terbentuk. Rain yang tengah bermain basket di lapangan SMU, mengedipkan sebelah matanya padanya.
Kenapa jadi Rain!? Tidak, orang yang pandai di bidang olahraga dan akademi ada banyak, bukan hanya si br*ngsek yang mengkhianati istrinya. Menghamili direktur tempatnya bekerja... batinnya.
Komat-kamit mulut itu bergumam bagaikan kutukan, pemuda berpakaian wanita itu mengepalkan tangannya. Tidak rela ayahnya berakhir dengan istrinya. Menatap mereka tertawa bersama, Rain tahu, banyak takdir seseorang yang akan melenceng. Tapi kenapa harus ayahnya berakhir dengan istrinya?
Hingga pemuda itu, memutuskan kembali ke mobil, menatap Sakha yang memanggil waiter hendak membayar.
Berlari dengan cepat, melepaskan wig dan pakaian yang dibelinya dekat hotel, di dalam mobil. Menggati kembali pakaiannya dengan setelah jas.
Mobil berharga fantastis itu terlihat bergoyang-goyang dari jauh, bagaikan terdapat pasangan mesum di dalamnya. Krisan yang kembali ke tempat parkir bersama Sakha menipiskan bibir menahan tawanya.
"Dia sedang ganti baju..." Krisan tertegun.
"Untunglah putraku Randy selalu pintar menjaga citranya. Dia tidak akan pernah berbuat sebodoh dan sekonyol itu. Dia pria pintar, dan tangguh," ucapnya tertawa menatap mobil Rain. Bahkan ada beberapa orang yang lewat juga menatap aneh pada mobil tersebut.
"Aku akan lebih berusaha mencari Randy, jika aku menemukannya, aku akan mengenalkannya denganmu. Dan pastikan jauhi orang yang kamu sebut sebagai ayah, ibu, saudara, sahabatmu. Dia aneh..." lanjutnya.
Tok...tok...tok...
Kaca jendela mobil diketuknya, dengan senyuman antusias Rain yang telah mengenakan stelan jas rapi membuka jendelanya.
Wajah Krisan terlihat, menghela napas kasar. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya.
"Menunggumu, aku selalu menunggumu disini. Walaupun kamu pergi dengan pria lain, walaupun sudah menyakiti hatiku berkali-kali, aku akan tetap menunggumu..." jawabnya, wajah rupawan itu terlihat sendu. Bagaikan kekasih yang menunggu pasangannya tengah berselingkuh dengan pria lain. Menunggu dengan mempercayai, tidak ada niatan menyusul, benar-benar akting yang sempurna.
Krisan membuka pintu mobil, duduk di sebelah Rain,"Resleting celanamu terbuka,"
__ADS_1
Rain segera menarik resletingnya,"Maaf, tadi aku sempat ke toilet," ucapnya gelagapan.
"Mobilmu tadi bergoyang, ada baju wanita yang berceceran di kursi penumpang bagian belakang. Kamu tadi sedang berhubungan layaknya suami-istri dengan wanita lain?" tanyanya menahan tawa.
"Aku menyusulmu!! Memangnya kenapa!? Aku adalah pacarmu!" ucapnya bersungut-sungut kesal.
"Rain, kita sudah sama-sama dewasa, kamu akan mencintai wanita lain, begitu juga aku akan mencintai pria lain. Jadi..." kata-kata Krisan yang sebenarnya juga menyakiti dirinya sendiri dipotong.
"Hentikan!! Jangan katakan itu lagi!! Kamu ingin meninggalkanku kan? Sama seperti semua orang, meninggalkanku untuk kebahagiaan mereka sendiri..." setetes air mata Rain mengalir di pipinya.
"Kamu boleh pergi, jika itu membuatmu bahagia," lanjutnya.
Dirinya dalam kondisi emosional saat ini. Tidak ingin melepaskan Krisan, tapi istrinya selalu mengatakan tentang perpisahan. Kenapa harus berpisah?
Tapi tanpa di duga, Krisan mencium keningnya, menghapus air matanya. "Aku mencintaimu, tapi tidak ingin bersamamu..." ucapnya.
Rain meraih tengkuknya, mencium bibirnya mencari rasa kasih disana. Hingga ciuman itu dilepaskannya sesaat,"Aku ingin bersamamu, tidak pernah ingin terpisah denganmu..." bisiknya, kembali menahan tengkuk Krisan melanjutkan bibirnya yang tidak pernah puas mencari rasa kasih di sana.
Air mata Krisan mengalir, dirinya sungguh merindukan Rain. Namun, tidak ingin takdir buruk kembali terulang dalam kehidupannya.
***
Seorang wanita cantik berdiri di depan sebuah kamar apartemen. Mencari investor adalah tujuannya, sekaligus mencari calon suami.
Profil seorang pemuda yang diberikan ayahnya sungguh sempurna. Komisaris dari beberapa perusahaan besar, memiliki hotel dan berbagai aset bergerak bernilai tinggi. Cerdas dengan yang wajah rupawan.
"Rupanya dia bukan waiter?" gumam Dara, membawa sebotol anggur kelas tinggi dalam paperbagnya. Menunggu di depan apartemen milik Rain.
__ADS_1
Pemuda sempurna yang pantas untuk dimiliki seorang Dara. Wanita karier cantik dan sukses...
Bersambung